Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Aku Harus Bertemu Dia


__ADS_3

Melvin memasuki rumah Reska dengan berbagai belanjaan yang dibelinya tadi, Mika juga masih betah ada di tempat Reska itu.


Tiga hari sudah mereka berada di sana, keadaan keluarga Reska memang dirasa menyedihkan bagi Melvin dan Mika.


"Apa saja itu?" tanya Mika.


"Ini sembako, kebutuhan sehari-hari saja."


Mika mengangguk, sesaat kemudian Reska tampak keluar dari kamarnya dan turut duduk bersama dengan mereka.


Keadaan ibu Reska memang sudah membaik, benar kata Bianca jika sakitnya itu karena terlalu merindukan Reska.


"Pak, ini berlebihan," ucap Reska


"Tidak ada yang berlebihan, keluarga kamu akan selalu membutuhkan ini setiap hari."


"Tapi ...."


"Sudahlah Reska, jangan mempermasalahkan ini, biarkan saja kalau memang Melvin mau melakukannya," sela Mika.


Reska diam, ia sempat melirik keluarganya sesaat, biarkan saja tidak perlu ada yang dibuat malu, bukankah hidup mereka memang membutuhkan bantuan.


"Apa anak saya masih bisa bekerja di sana?"


"Tentu saja bisa, saya sudah katakan itu pada Reska," ucap Melvin.


Reska sedikit tersenyum, ia mengusap tangan ibunya itu, alasan Reska bertahan bekerja dengan Bianca adalah karena kebaikan mereka.


Dan sekarang Bianca mendapatkan suami yang sebaik Melvin, tentu saja Reska merasa turut bersyukur atas hal itu.


"Saya sedang berusaha memperbaiki semuanya, termasuk juga Bianca," ucap Melvin.


"Saya sudah katakan pada Reska untuk pulang saja dan cari kerja disini, tapi dia tidak mau dan tetap keras ingin bertahan disana, bahkan meski sekarang keadaan sudah tidak memungkinkan."


"Semua memang hilang Bu, tempat usaha mertua saya memang rusak tak tersisa, tapi akan selalu ada jalan mengembalikannya lagi, dan sekarang kami masih mengusahakan itu."


Reska menunduk, jika memang harapan untuk kembali bangkit itu ada, tidak ada salahnya Reska menunggu.


Reska belum tentu bisa mendapatkan pengganti tempat kerja yang senyaman kemarin, dan apa pun mau bagaimana pun Reksa akan menunggu sampai semua kembali.


"Reska, kamu mau tinggal disini selama menunggu?" tanya Mika.


"Aku akan kembali, aku akan membantu untuk memperbaiki semuanya, tapi aku hanya punya tenaga untuk melakukannya."


Mika mengangguk, tentu saja ia paham dengan kalimat itu, tapi meski begitu Mika tetap senang mendengarnya.


Keprdulian Reska tentu harus dihargai, dia berusaha bertahan dan mempertahankan apa yang memang membuatnya nyaman.


"Permisi."


Mereka menoleh bersamaan, Reska segera bangkit untuk menyambut tamunya itu.


"Aldi, ayo masuk," ucap Reska.


Lelaki itu mengangguk dan turut masuk, ia mengangguk hormat pada mereka semua, sampai matanya terhenti pada sosok Melvin.


Sama hal dengan Aldi, Melvin juga menatapnya heran, sampai akhirnya keduanya tersenyum dan langsung berjabat tangan.

__ADS_1


"Apa kabar kau?" tanya Melvin.


"Tentu saja baik, bagaimana sebaliknya?"


Melihat keduanya seperti itu, tentu membuat mereka bingung sendiri, terutama Mika, dari mana mereka saling mengenal.


"Melvin," panggil Mika.


Melvin menoleh, ia mengangguk paham dan dengan segera memperkenalkan Aldi pada Mika.


"Dia teman ku dulu, kita sempat berteman beberapa saat."


"Bagaimana bisa, bukankah kamu selalu ada di luar?"


"Ya begitulah memang, tapi memang itu kenyataannya, aku pun tidak mengerti."


Aldi tersenyum mendengar kalimat Melvin, itu memang benar adanya, pertemuan mereka memang tidak sengaja dan tak ada yang menyangka jika mereka akan berteman.


"Jadi, ada hubungan apa dengan Reska?" tanya Melvin.


Aldi melirik Reska di sana, bukankah itu juga yang ingin dipertanyakan pada Melvin sekarang.


"Dia calon menantu saya."


Melvin dan Mika saling lirik, jawaban yang sangat jelas dan terlalu mudah dimengerti.


"Kau akan menikahinya?" tanya Melvin.


"Aku menunggu dia mau," ucap Aldi.


"Aku hanya belum siap saja," ucap Reska.


Tentu Reska paham dengan tatapan Melvin, tapi mau bagaimana lagi kalau memang Reska belum mau untuk itu.


"Baiklah, itu urusan kalian saja," ucap Melvin.


Mereka berbincang, keseriusan yang sempat terjadi tadi sudah tidak ada lagi sejak kedatangan Aldi.


Lelaki itu membuat suasana menjadi lebih santai, meski perbahasan tentang hal yang sama, tapi sekarang terasa lebih tenang lagi.


"Aku bahkan tidak tahu Istri mu," ucap Aldi.


"Dia cantik sekali, dia baik hati, sederhana, ah yang jelas dia istimewa."


"Benarkah, apa dia bisa mengalahkan keistimewaan Reska?"


Melvin mengernyit seraya melirik Reska, apa maskudnya, kenapa harus membandingkan mereka berdua, jelas saja berbeda.


Mereka tertawa bersamaan, jelas saja itu terasa konyol, bukankah mereka memiliki penilaian tersendiri.


"Ya aku paham, Reska hanya istimewa menurut ku."


"Aahh kenapa kau pertanyakan padaku."


Aldi sedikit tertawa, biarkan saja yang penting mereka bisa merasa senang saat ini.


Mika menggeleng, ia memilih pergi untuk menikmati waktu terakhirnya berada di sana, karena nanti malam mereka akan kembali ke kota besar yang tak lagi sejuk.

__ADS_1


"Ibu mau istirahat?" tanya Reska.


"Iya."


Reska membantunya bangkit dan membawanya ke kamar, mereka benar-benar bubar untuk melanjutkan aktivitasnya sendiri.


Tertinggal Melvin dan Aldi di sana, mereka masih asyik berbincang dengan topik yang tak jelas arahnya.


"Kapan kalian pulang?" tanya Aldi.


"Nanti malam."


"Ah kenapa buru-buru sekali?"


"Kita disini sudah tiga hari, harus berapa lama lagi, masih banyak urusan disana yang tertunda."


Aldi mengangguk paham, pengusaha seperti Melvin pastilah memiliki segudang kesibukan yang tak bisa digantikan.


Melvin membuka ponselnya, kesal sekali ia dengan jaringan yang buruk terus menerus.


"Bagaimana dengan pekerjaan mu sekarang?" tanya Melvin.


"Itulah, aku baru saja kehilangan pekerjaan ku dua hari lalu."


"Bagaimana bisa, apa alasannya?"


"Perusahaan nyaris bangkrut."


Melvin mengangguk paham, itu hal biasa, pasti Aldi termasuk orang yang diberhentikan secara paksa.


Aldi tersenyum seraya menggeleng, bisa apa dia jika statusnya hanya karyawan biasa, tidak punya hak untuk membela diri.


"Kau mau bekerja di tempat ku?"


"Jangan bercanda."


Melvin menggeleng, bagaimana bisa bercanda soal pekerjaan, semua haruslah serius.


"Ini serius, tidak akan ada tawaran kedua kalinya."


"Tentu saja aku mau, bagaimana bisa aku berhenti bekerja, bisa-bisa Reska meninggalkan ku."


Melvin sedikit tertawa, bersamaan dengan itu Reska tampak datang, wanita itu mendelik saat Aldi tersenyum padanya.


Jelas saja sikap itu membuat Melvin semakin terbahak, kasihan sekali Aldi, apa Reska termasuk wanita galak.


"Serius, Vin."


"Bisa, ikut saja dengan ku."


"Ah tawaran yang bagus, aku juga merasa harus bertemu dengan Istri mu."


"Jangan berani meningku ku."


Aldi berdecak seraya meninju lengan Melvin pelan, buruk sekali kalimatnya itu, bagaimana bisa Aldi seperti itu jika cintanya hanya untuk Reska.


Melvin melihat sekitar, ia teringat Mika, kemana wanita itu pergi, ini sudah cukup lama tapi tak kunjung kembali.

__ADS_1


__ADS_2