Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Kita Akan Sama-sama


__ADS_3

Malam kali ini tiba-tiba saja hujan turun, itu berbeda dari biasanya dimana langit yang selalu bertabur bintang.


Bianca memilih diam di balkon kamarnya, berdiri di samping pagar sana seraya menikmati hembusan angin yang begitu dingin.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Bianca melirik tangan yang melingkar di pinggangnya, ia tersenyum seraya menoleh.


"Tidak pakai jaket juga, kamu mau masuk angin?"


"Gak akan, aku baru juga keluar, kamu dari mana?"


"Dari ruangan Papa."


"Kenapa?"


Melvin diam, tubuh itu diputar menghadapnya, Bianca hanya tersenyum tanpa menolaknya.


"Papa sudah bilang lagi kalau aku harus pergi secepatnya."


Bianca mengangguk, itu sudah pasti, dan seharusnya memang mereka tahu tentang itu.


"Aku sudah katakan kalau aku akan pergi setelah semua selesai."


"Dan itu terlalu lama, kamu tidak bisa seperti ini memikirkan diri sendiri."


"Kenapa aku memikirkan diri sendiri, jelas saja tidak."


"Kalau kamu seperti ini, kamu menjadikan aku dsn Ibu sebagai penghalang langkah kamu, dan semakin lama itu akan jadi beban buat orang tua mu."


Tak ada jawaban, bagaimana bisa Bianca berfikir seperti itu, bukankah Melvin tetap ada juga untuk mereka.


Semua bukan sekedar alasan, Melvin memilih tetap ada juga untuk memastikan mereka baik-baik saja.


"Berapa lama kamu disana kalau kamu pergi?"


"Aku gak tahu, yang jelas bukan waktu yang sebentar."


Bianca mengangguk, entah seperti apa kehidupan Melvin sebelum menikah dengannya, tapi pasti semua soal bisnis.


Bagaimana bisa Melvin merubah semua itu secara mendadak, semua butuh penyesuaian agar hasilnya juga seimbang.


"Kamu mau ikut saja, aku akan pergi kalau kamu ikut dengan ku."


"Nanti aku disana ngapain, aku hanya diam saja nunggu kamu selesai kerja, aku pasti bosan."


"Tapi bukankah itu seharusnya, memangnya kamu mau apa, kamu mau ikut kerja?"


Bianca tersenyum seraya menggeleng, mana mengerti Bianca dengan pekerjaan kantoran seperti itu.


Melvin berdecak, itu bukan jawaban sama sekali, ia mendekap tubuh mungil itu, mereka baru saja menikah kenapa harus sudah berpisah lagi.


"Kamu seharusnya ikut kemana Suami kamu pergi, kalau memang dia meminta mu ikut."


"Tapi terkadang Suami juga harus mengerti keadaan Istrinya itu sendiri, Melvin kalau Mama jadi Ibu, apa kamu bisa meninggalkan dia sendiri?"


"Tapi Ibu juga ada Mama, ada Papa dan mereka akan membantu Ibu."


Bianca diam, itu sudah pasti benar, tapi sudah jelas juga jika orang tua Melvin bukan orang yang sehari-hari hanya santai di rumah saja.

__ADS_1


Kesibukan mereka tidak sebanding dengan Mayang, apa lagi sekarang tidak ada lagi kegiatan di toko, sehingga Mayang hanya diam saja di rumah.


"Sampai kesibukan Ibu kembali saja, setelah itu aku akan ikut kemana pun kamu pergi."


"Jadi, aku yang harus menunggu?"


"Bukankah itu tidak akan lama, hanya sebentar saja, dan setelah itu kita akan selalu sama-sama."


Bianca membalas pelukan Melvin, tapi hanya satu detik saja karena Melvin segera melepaskannya.


Melvin mengangguk dan berlalu, tentu saja itu membuat Bianca merasa bersalah, tapi untuk saat ini Bianca hanya ingin bersama Mayang.


"Masuk Bii, anginnya gak bagus."


"Iya."


Bianca menghembuskan nafasnya berat, apa maaf bisa memperbaiki keadaan ini, Bianca benar-benar tidak ingin pergi kemana pun.


Bianca menggeleng, sesaat ia menatap guyuran air hujan itu, hingga ia berjalan memasuki kamar menyusul Melvin.


"Bii, masuk."


Bianca menggeleng, ia melihat Melvin yang sudah berbaring di sana, posisinya memang membelakanginya sehingga ia tak melihat kedatangan Bianca.


"Melvin, kamu marah?"


"Melvin Melvin."


Bianca tersenyum sekilas, ia turut berbaring dan memeluk Melvin dari belakang.


"Kamu marah sama aku?"


"Aku gak bisa tidur kalau kamu kayak gini, kamu gak ngerti maksud aku?"


Melvin tak menjawab, apa yang harus dimengertinya, biarkan saja Bianca dengan keinginannya dan Melvin dengan keinginannya juga.


Bianca bangun, duduk bersandar pada kepala ranjangnya, apa mereka harus ribut sekarang.


"Kapan kamu pergi."


"Besok juga aku pergi kalau kamu mau aku pergi."


"Bukan gitu, ih kamu ini."


Melvin menoleh, ia tersenyum melihat wajah cemberut Bianca.


Melvin menariknya dan memeluknya, ia memang kesal karena Bianca tidak mau nurut padanya.


"Lusa aku pergi."


"Kenapa gak Papa saja yang pergi?"


"Sejak ada, bisnis disana memang aku yang urus."


Bianca diam, memang apa salahnya kalau Deva yang membantunya terlebih dahulu, bukankah mereka sama-sama mengerti tentang bisnis.


"Sudahlah, tidak usah dibahas, mending mamu tidur karena ini sudah malam."


"Tapi aku gak ikut."

__ADS_1


"Iya, terserah kamu saja, ayo tidur yang benar sekarang."


 


Mayang berjalan perlahan dengan membawa handuk kecil di tangannya.


"Ini pakai ini, kenapa malah kesini sudah tahu hujan."


"Tadinya cuma lewat, tapi ternyata lampunya nyala, ya sudah aku mampir," ucap Sintio.


"Iya, baru pulang tadi siang, kemarin kan tidur di rumah Melvin."


Sintio mengangguk, baguslah kalau mereka akur, hubungan besan memang harus baik agar pernikahan itu juga baik-baik.


Sintio menggeser bingkisan yang dibawanya itu, ia sempat mampir tadi di warung pinggir jalan tadi.


"Apa ini?" tanya Mayang.


"Mie tek-tek, tadi aku beli di depan, Ibu makan dulu mumpung masih hangat, enak lagi hujan gini."


"Kamu ini repot-repot sekali."


Mayang menggeleng, ia lantas pergi ke dapur untuk membawa alat makanannya.


Sintio membuka ponselnya, ia tak ragu menghubungi Bianca meski sudah malam, meski mungkin kalau Bianca sedang apa dan apa dengan Melvin.


"Mana lagi ini bocah."


"Siapa?" tanya Mayang yang kembali.


Sintio menoleh, ia tersenyum dan mengaku jika sedang menghubungi Bianca.


Mayang menggeleng, untuk apa juga seperti itu, hari sudah malam mungkin saja Bianca sudah tidur.


"Ih kemana ya dia, sombong sekali gak jawab panggilan aku."


"Mungkin dia sudah tidur, atau bisa saja sendang kumpul sama yang lain."


"Ih sombong sekali mentang-mentang sudah punya keluarga baru."


Mayang hanya tersenyum saja menanggapinya, bukankah itu bagus, itu artinya Bianca diterima dengan baik oleh mereka.


"Bu, aku tadi lewat toko kue, kayaknya lagi dibangun ya?"


"Iya, sudah mulai dibangun sejak kemarin."


"Waaaah, aku bisa belanja-belanja lagi disana kalau benar."


Mayang mengangguk, tentu saja dan Mayang juga sudah tidak sabar untuk bisa kembali pada kesibukannya.


Sintio menyimpan ponselnya, Bianca tetap tak menjawab panggilannya satu pun, mungkin benar wanita itu sedang sibuk dengan keluarga barunya.


"Ayo makan sama-sama, ini banyak loh."


"Ah siap Bu, soal makan aku juaranya."


Mayang mengangguk, keduanya bersamaan menikmati mie yang dibawa Sintio itu.


Memang enak, hangat sekali disaat tubuh merasa dingin karena hujan di luar sana yang tak kunjung berhenti.

__ADS_1


__ADS_2