Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Harus Jelas


__ADS_3

"Apa itu benar?" tanya Mika.


"Tentu saja, dia memang sangat menjengkelkan," sahut Aldi.


Reska begitu kesal dengan Aldi, tapi kekesalan itu justru menjadi lelucon bagi mereka.


Mereka tertawa bersama menanggapi kekesalan Reska, sejak tadi kumpul keluarga itu terasa manis dengan canda tawa yang hadir.


Kringg ....


Melvin seketika menoleh saat mendengar deting ponsel Bianca, wanita itu juga meliriknya setelah melihat layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Melvin.


"Marten."


Mereka diam, Mayang seketika gelisah saat mendengar nama itu.


Kenapa harus menghubungi Bianca sekarang, bukankah itu waktu yang salah.


"Siapa Marten, ayo jawab," ucap Deva.


Bianca mengangguk, ia lantas menjawab panggilan video tersebut.


"Mamaa," jerit Marten.


Deva yang berniat kembali berbincang dengan Aldi itu seketika menatap Bianca, teriakan itu terdengar jelas oleh telinganya.


"Mama, aku mau temui Mama, apa Mama ada di rumah, aku akan kesana bersama Papa."


Bianca merapatkan bibirnya, melihat mereka semua bergantian, tatapan heran dan penuh curiga mulai dirasakan Bianca.


Melvin segera menghampiri Bianca, meraih ponselnya dan melihat Marten di sana.


"Ah, Melvin, aku minta maaf," ucap Rasya.


"Papa, ayo kita temui Mama," teriak Marten.


Melvin melirik kedua orang tuanya di sana, entah apa yang difikirkan mereka saat ini, tapi apa pun itu tentu akan ada penjelasannya.


"Kalian datang saja, sebentar aku kirimkan alamatnya," ucap Melvin.


"Oke, terimakasih bayak."


"Oke, bye Marten."


"Mama."


Melvin memutus sambungannya begitu saja, berkutat sesaat dengan ponselnya dan mengembalikannya pada Bianca.


Mayang melihat ekspresi dua orang itu, pasti mereka sudah slaah fikir tentang apa yang didengarnya saat ini.


"Dia ...."


"Mama," sela Deva.


"Ini sebenarnya ...."


"Kamu punya Anak?" tanya Mika.


Bianca mengangkat kedua alisnya, itu pemikiran yang memang tidak bisa diingkari.


Melvin mengangguk seraya mengusap pundak Bianca, bukankah ini juga pernah dialami Melvin dulu.


"Papa, aku ...."


"Kapan mereka sampai?" tanya Deva.

__ADS_1


"Sabarlah dulu, mereka akan datang karena aku sudah kirimkan alamatnya," ucap Melvin.


Bianca diam, ia melirik Mayang sekilas, pasti yang mereka berdua fikirkan saat ini sama adanya.


Bianca memang tidak pernah bercerita tentang itu pada mereka, tapi kapan waktu untuknya bicara bukankah awal kebersamaan mereka sudah kacau.


"Papa ke kamar dulu," ucap Deva seraya berlalu.


"Papa," panggil Melvin.


Bianca melirik Mika, apa wanita itu juga akan pergi sekarang, tidak bisakah mereka mendengarkan Bianca dulu.


"Baiklah, kalian lanjutkan saja perbincangannya, semoga bahagia."


Mika turut pergi menyusul Deva, Bianca menunduk, ah apa semua akan semakin berantakan kali ini.


Melvin kembali mengusap pundak Bianca, orang tuanya memiliki sifat yang tak jauh berbeda dengan Melvin.


Sudah seharusnya Bianca yakin kalau semua akan tetap baik-baik saja, mereka hanya sedikit tidak mengerti dan malas untuk bertanya.


"Melvin, aku ...."


"Kita tunggu saja mereka datang, jangan berfikir hal lain, mereka tidak tahu apa-apa jadi biarkan dulu mereka dengan fikirannya saat ini."


Mayang mengangguk setuju, Mayang yang tahu semua ceritanya tentu saja yakin jika Bianca tidaklah bersalah.


Tidak ada kebohongan dari mereka selama ini, Bianca memanglah Bianca tidak ada anak atau pun mantan suami.


"Siapa dia?" tanya Aldi.


"Diamlah, kenapa kau ikut banyak bertanya," ucap Reska.


"Berhentilah marah-marah, apa kau tidak lelah?" tanya Aldi.


Reska mendelik, ia memang pernah mendengar nama Marten dan Rasya sebelumnya.


"Aku akan menunggu mereka di depan," ucap Bianca.


"Silahkan saja, kabari kalau mereka sudah sampai," sahut Melvin.


Bianca mengangguk seraya berlalu meninggalkan mereka semua, Melvin menghela nafasnya panjang.


Apa dia harus menyusul orang tuanya, mungkin saja sedikit penjelasan dibutuhkan sebelum pembuktian.


"Aku permisi sebentar," ucap Melvin.


"Kamu mau kemana?" tanya Mayang.


"Aku harus temui mereka dulu, kasihan Bianca kalau harus mendapatkan pemikiran buruk tentang sesuatu yang belum jelas."


Mayang tersenyum, kemudian mengangguk, biarkan saja mereka dengan langkahnya sendiri-sendiri selagi itu masih bisa mempernaiki semuanya.


Melvin menepuk bahu Aldi seraya berjalan melewatinya, lelaki itu mengangguk saja tanpa berkata apa pun.


"Apa kita akan tetap disini?" tanya Aldi.


"Kau saja, aku mau pulang."


"Kenapa kalian selalu saja ribut?" tanya Mayang.


Reska menggeleng, entahlah Aldi memang selalu menyebalkan, itulah yang membuat Reska selalu berfikir beribu kali untuk menerima Aldi.


Bianca duduk di kursi luar sana, harusnya memang ponselnya ditinggal di kamar tadi, sehingga saat Marten menggahubunginya tidak perlu dijawab.


"Sudahlah, pusing juga harus memikirkan itu, biarkan saja aku tidak memiliki kesalahan apa pun."


Bianca mengangguk, itu memang benar jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkannya.

__ADS_1


Tiidd ....


Bianca menoleh, ia bangkit seraya tersenyum, Marten berlari memasuki halaman rumahnya dan segera memeluk Bianca.


"Aaa apa kabar kamu?" tanya Bianca menciumnya berulang kali.


"Kenapa Mama tidak menemui ku lama sekali?"


"Ah maafkan Mama, tapi akhir-akhir ini memang sangat sibuk."


Marten mengerucutkan bibirnya, menggemaskan sekali bocah itu.


Rasya menghampiri, Bianca mengangguk hormat padanya.


"Maaf jika aku mengganggu mu."


"Tidak sama sekali, aku sedang berkumpul dengan semua keluarga."


"Benarkah, itu artinya aku sangat mengganggu, apa mereka salah paham atau bahkan marah padamu?"


"Sedikit saja, mereka pasti akan mengerti setelah bertemu."


Rasya mengangguk, semoga saja karena memang tidak ada niat buruk untuk kedatangannya kali ini.


"Ayo masuk, ada Ibu di dalam."


"Oke."


Rasya mengikuti langkah Bianca, kembali menemui mereka di sana, Bianca sedikit bingung karena Melvin tidak ada di sana.


"Bu, apa kabar?" tanya Rasya.


"Baik."


Rasya berjabatan juga dengan Aldi dan Reska di sana, ia lantas duduk setelah dipersilahkan oleh Bianca.


"Aku temui Melvin dulu," ucap Bianca.


"Oke," ucap Rasya.


Bianca berlalu dengan membawa Marten juga, ia menuju kamar Deva dan Mika karena Melvin pasti ada di sana.


"Mama, aku belum makan."


"Kenapa, kamu mau perut mu sakit, kenapa nakal sekali kamu?"


"Aku mau makan sama Mama."


Langkah Bianca terhenti saat berpapasan dengan tiga orang itu, Bianc menatap ketiganya bergantian.


"Mama, siapa mereka."


Bianca mengangguk pelan, Mika dan Deva tampak menatap Marten di pangkuan Bianca saat ini.


"Coba salam sama mereka," ucap Bianca.


Marten menurut, ia salam pada ketiganya bergantian, Melvin sekilas mengusap kepala Marten.


"Dia Marten, dia bukan anak ku, aku belum pernah menikah sebelumnya," ucap Bianca.


"Apa itu bisa dipercaya?" tanya Deva


Bianca menelan ludahnya, jadi mereka tidak mempercayainya, dan apa Melvin tidak membantu untuk menjelaskannya.


"Mana Bapaknya?" tanya Mika.


"Pak Rasya di bawah, ada bersama Ibu dan yang lainnya."

__ADS_1


Mika mengangguk saja tanpa berkata lagi, Bianca menghembuskan nafasnya perlahan, apa Bianca akan terusir begitu saja.


__ADS_2