
Ketika pagi datang Melvin terbangun dari tidurnya, tangannya terangkat meraba sampingnya.
"Bii."
Melvin membuka setengah matanya, tidak ada Bianca di sana, Melvin lantas duduk dan melihat sekitar.
"Bii, Bianca."
Tak ada jawaban, Melvin mengusap wajahnya, kemana Bianca, sudah hilang saja.
"Bii, kamu lagi mandi?"
Melvin turun dan membuka pintu kamar mandi, tidak ada juga Bianca di sana, mungkin saja Bianca sedang menyiapkan sarapan.
"Baiklah, lebih baik aku mandi saja."
Melvin masuk dan sibuk sesaat di dalam sana, tapi ia kembali keluar dengan sedikit tergesa, rupanya Melvin hanya mencuci mukanya saja.
"Bii, kemana dia, mana mungkin pergi sendirian saja."
Melvin mengeringkan wajahnya, ia berfikir jika Bianca pergi ke rumah sakit untuk menemui Mayang lagi.
"Bisa sekali dia pergi tanpa pamit seperti itu."
Melvin menyimpan handuk kecilnya di pundak, dan membuka lemari pakaiannya.
"Aaaa ...."
"Aaah ...."
Melvin turut berteriak saat Bianca menjerit di sana.
"Selamat pagi," teriak Bianca seraya memeluk Melvin.
Melvin hanya diam saja, ia masih kaget karena teriakan Bianca, wanita itu diam di dalam lemari bajunya.
"Apa kamu terkejut, dan apa kamu akan marah."
Bianca melepaskan pelukannya, dan menjauh dengan melompat-lompat, Melvin diam keheranan melihat tingkah Bianca.
"Bukankah aku cantik, lihatlah ini, aku akan terlihat berbeda sekarang."
Melvin menelan ludahnya, ia sangat tidak mengerti dengan apa yang dilakukan istrinya itu, Bianca naik ke kasur, ia kembali melompat di sana.
Melvin mulai tersenyum saat Bianca diam, dan sibuk mengeluarkan tangannya, Bianca memakai kemeja Bian, tubuh kecil itu mampu ditutupi oleh kemeja tersebut, tangannya pun sampai tak terlihat kareka bajunya yang kepanjangan.
"Aku tidak perlu memakai rok lagi, aku tinggal pakai ini, dan sudah seperti stelan ku sehari-hari, rok pendek selutut."
Bianca merentangkan tangannya, ia berputar asal, Melvin semakin tersenyum, bisa sekali Bianca terfikir untuk memakainya.
"Bukankah ini bagus?"
Melvin menggeleng dan berjalan mendekat, Bianca tersenyum dan kembali dengan tingkahnya, ia melompat berputar dengan tangan yang terlentang, kini tangan itu telah tertutupi baju lagi.
"Ini akan mempermudah aktivitas ku."
"Bii, apa-apaan kamu ini."
Bianca tak mendengar, ia asyik dengan tingkahnya sendiri, sibuk dengan baju yang kebesaran itu.
"Bianca."
Melvin menahan pingganggnya dan memangkunya, nyaris saja Bianca jatuh jika tidak cepat berpegang pada pundak Melvin.
"Apa yang kamu lakukan?"
Bianca menoleh, ia sedikit tertawa karena merasa lebih tinggi dari Melvin.
"Apa kamu salah makan, kenapa kamu jadi pendek seperti ini."
Bianca meluruskan kepala Melvin dengan dadanya, padahal biasanya Bianca yang ada di bawa dada Melvin, tapi sekarang justru kebalikannya.
"Tidak sopan kamu ya."
__ADS_1
Melvin menurunkannya dan memeluknya erat, berani sekali ia mengatai dirinya seperti itu.
"Kamu yang salah makan, pendek."
Bianca kembali tertawa, ia membalas pelukan Melvin, baiklah Bianca memang pendek, tapi meski pendek, pesonanya tetap mampu meluluhan pengusaha muda yang sukses.
"Melvin, Bianca, ayo makan."
Keduanya menoleh, perlahan mereka melepaskan pelukan masing-masing.
"Ada apa, kenapa kalian teriak-teriak?"
Keduanya saling lirik dan sama-sama tersenyum, hingga panggilan Mika kembali di dengarnya.
"Sana kamu duluan kesana," ucap Bianca.
"Kenapa aku, kamu saja dulu, aku belum mandi, belum ganti baju."
"Aku juga belum mandi, aku baru mencoba baju kamu saja."
Melvin mengernyit, menyebalkan sekali wanita itu, bagaimana kalau nanti bajunya malah bau.
"Sana."
Bianca sedikit mendorong Melvin hingga berbalik arah.
"Melvin, Bianca."
"Iya, Mama," ucap Melvin.
"Ayo cepat."
"Iya."
Melvin turut menarik Bianca mendekati pintu, ia membuka kuncinya, tapi Bianca segera berdiri menghalangi pintu itu.
"Ngapain?" tanya Melvin.
"Kamu duluan saja, aku belum selesai."
"Tidak, kamu saja dulu."
"Apa sih, Bii, awas ah."
Melvin menarik Bianca menjauh, ia membuka pintunya dan tersenyum melihat Mika di sana.
"Kalian kenapa?"
Melvin melirik Bianca, wanita itu tampak bersembunyi di balik pintu, Melvin dan Mika jadi bingung melihatnya.
"Apa, ayo makan."
"Kamu duluan saja."
"Gak kita sama-sama, ayo cepat, Sayang."
Melvin menariknya, tapi Bianca dengan kuat menahan diri.
"Apa sih, Bii?"
Melvin mengernyit, melihat bibir Bianca yang berucap tanpa suara.
"Apa?"
Bianca mengulangnya tetap tanpa suara, tapi kali ini Melvin mengerti, ia melirik Mika di sana dan tersenyum.
"Apa?" tanya Mika.
"Mama, mau tahu?"
"Apa sih kalian ini?"
"Bianca, belum pakai celana, dan kita akan makan belakangan nanti, bye."
__ADS_1
Melvin menutup kembali pintu itu dengan cepat, menguncinya lagi dari dalam sana.
"Aaaa," jerit Bianca.
Mika menutup mulutnya, menahan senyumannya, kenapa harus mengatakan itu padanya, Mika menggeleng dan berlalu meninggalkan tempatnya.
"Gak, gak, aku gak mau," teriak Bianca.
"Kamu yang memulai, jadi kamu tidak boleh menolak."
Melvin menurunkannya, ia menahan Bianca yang mencoba lari.
"Gak, nanti saja malam."
Melvin tersenyum seraya menggeleng, semalam Bianca sudah menolaknya, dan kemarin juga gagal melakukannya, jadi sekarang harus berhasil.
"Bii, diam."
Melvin mendorong Bianca hingga terjengkang, baju setutut itu telah naik menyingkap pahanya.
Bianca tersenyum dan menarik selimut untuk menutupinya, Melvin menghembuskan nafasnya sekaligus seraya menatap Bianca.
"Apa, enak saja lihat-lihat."
Melvin menggeleng, ia menarik selimutnya dan begitu saja menimpa tubuh Bianca, menutup kembali selimutnya, dan sibuk dibaliknya.
Bianca tertawa dengan sesekali menjerit asal, pergerakan mereka terlihat seperti sedang ribut, kerap kali terdengar nada kesal dari Melvin, tapi itu justru mengembalikan tawa Bianca.
"Mana mereka?" tanya Deva.
"Di kamar, biarkan saja mereka dengan kesibukannya, kita tidak perlu mengganggunya."
"Kita hanya akan sarapan saja."
"Tapi mereka menginginkan hal lain."
"Hal lain apa?"
Mika tak menjawab, ia hanya diam menatap Deva dengan senyuman penuh di bibirnya.
"Oh, baiklah, silahkan saja."
Deva turut tersenyum, keduanya lantas menikmati sarapannya hanya berdua saja, tanpa Bianca dan Melvin.
"Mama, mau ke Rumah Sakit lagi?"
"Iya, tentu saja, kasihan Bu Mayang tidak ada yang menemani disana."
"Nanti makan siang, kalau sempat Papa kesana."
"Boleh saja, Papa kan belum kesana."
Deva mengangguk, ia akan sempatkan untuk datang meski hanya sebentar saja.
"Melvin, kapan akan mulai kerja?"
"Mana tahu, pasti semaunya dialah."
Deva kembali mengangguk, tapi meski begitu Deva tidak akan memaksanya untuk segera kembali ke Kantor.
"Kenapa memangnya?"
"Papa, mau kirim dia ke Malaysia."
"Kenapa, ada masalah?"
"Tidak, ada proyek baru disana, dan harus segera diurus, Papa tidak bisa kesana karena disini juga masih banyak yang harus diurus."
Mika mengangguk, sepertinya Melvin tidak akan menolak untuk pergi, Melvin bisa sekalian ajak Bianca dan itu bisa sekalian mereka berbulan madu.
Mika tersenyum, ia setuju dengan pemikirannya sendiri, semoga saja saat pulang nanti, bisa memberinya kabar baik soal calon cucunya.
__ADS_1
"Mama, kenapa?"