Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Itu Sudah Seharusnya


__ADS_3

"Maaf, tapi aku tidak bisa."


Mereka mengangguk bersamaan, Bianca tetap saja menolak tawaran itu, Bianca tetap ingin menjaga Mayang.


"Sudahlah, tidak perlu bahas ini sekarang, aku saja belum bicara sama Papa," ucap Melvin.


"Kami hanya mau membahagiakan kalian saja," ucap Mika.


"Sudahlah, kita akan bahagia dengan cara kita sendiri, sekarang lupakan soal bulan madu, dan katakan bagaimana keadaan Ibu," ucap Melvin.


"Ibu sudah baik-baik saja, jangan khawatir, sebentar lagi juga boleh pulang."


"Kapan?" tanya Bianca.


"Sabar saja dulu," sahut Mika.


Bianca mengangguk, tentu saja ia tidak sabar karena bertahan di rumah sakit seperti itu pastilah tidak enak.


Mereka berbincang beberapa hal, termasuk urusan dengan para pekerja Mayang, dan tentu saja Bianca pasti akan membantu soal itu.


 ----


Marten terlihat berlarian kesana-kemari, bahkan meski banyak pelanggan yang di sana, anak kecil itu sama sekali tidak perduli.


"Mana Marten?" tanya Rasya.


"Ada di depan, Pak."


"Di depan, dia sedang mengganggu pelanggan?"


"Tidak, dia sedang menunggu kedatangan Mamanya."


Rasya mengangkat kedua alisnya sekilas, ia menggeleng dan berlalu begitu saja, mungkin hari ini Bianca tidak akan datang.


Rasya mencari sosok putranya itu, entah dimana bocah kecil itu sekarang, banyaknya orang di sana cukup menyulitkan Rasya untuk melihat Marten.


"Mama," jerit Marten.


Rasya seketika menoleh, ia menghembuskan nafasnya sekaligus dan langsung menghampiri Marten.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Rasya menggendongnya.


"Mama?"


"Mama tidak datang hari ini, mungkin besok atau lusa, sabarlah.'


Marten menggeleng, ekspresinya berubah masam, merasa kalimat papanya bukanlah yang diinginkannya.


Rasya tersenyum seraya mengacak rambut Marten, sesulit itu Marten untuk melupakan Bianca, lalu bagaimana kalau nanti Bian memiliki anak sendiri.


"Kita makan ya, kamu belum makan."


"Aku mau makan sama Mama."


"Kalau ada memang bisa, tapi kalau gak ada, perut kamu yang justru akan sakit nantinya."


Marten mengerucutkan bibirnya, sepertinya anak itu semakin kesal saja dengan ocehan lelaki yang menggedongnya.


"Sudahlah, tidak perlu marah, kau terlalu menggemaskan jika seperti ini."


Rasya tersenyum, ia membawa Marten kembali ke dapur, biarkan anak itu memilih makanannya sendiri saja.

__ADS_1


"Mau apa kamu?"


"Gak mau," ucap Marten menutup mulut.


"Makanlah, banyak pilihan kamu bebas memilih."


Marten hanya menggeleng saja tanpa menurunkan tangannya, ia sudah jelas mengatakan jika ingin Bianca bukan makan.


Rasya mengangguk, ia mengambil piring dan mengisinya sesuai pilihan sendiri, biarkan saja mungkin Rasya akan sedikit memaksa Marten untuk makan.


"Mama akan marah kalau kamu tidak makan, saat nanti dia datang, dia akan marah karena perut mu sakit akibat tidak makan."


"Bohong."


"Kok bohong, tidak ada kebohongan, ayo makan."


Rasya mendudukan Marten dan menyimpan piringnya, Rasya turut duduk dan mulai menyuapi Marten.


"Bianca akan sibuk sekarang Pak, bukankah dia sudah menikah?"


Rasya menoleh, itu memang benar adanya, dan Rasya harus membuat Marten mau mengerti dengan itu.


"Mungkin Bapak memang harus segera mencari Ibu yang sebenarnya untuk anak Bapak."


"Tidak semudah itu."


"Bisa saja, asal jangan terlalu banyak memilih juga."


Rasya tersenyum, entahlah, tapi sampai saat ini Rasya belum terlalu fokus untuk hal itu.


Biarkan saja semua berjalan perlahan, lagi pula Rasya masih bisa mengurus putranya itu sendiri saja.


 


"Kita kemana dulu sekarang?" tanya Melvin.


"Aku rasa, rumah Sarah lebih dekat dari sini."


Melvin mengangguk, terserah saja karena Melvin memang tidak tahu mereka semua.


Saat ini Bianca dan Melvin memang akan menemui pekerja Mayang yang tentu saja dirugikan, mereka akan berbicara dengan sebaik mungkin untuk solusi terbaiknya.


"Kemana kita?" tanya Melvin setelah mobil melaju.


"Di lampu merah ke tiga, kita ambil kiri."


"Oke."


Bianca mengangguk, tak ada perbincangan, mereka fokus dengan fikiran masing-masing.


Bianca merasa khawatir dengan mereka semua, entah tuntutan seperti apa yang akan mereka lontarkan pada Binaca nanti.


"Apa yang ini?" tanya Melvin.


Bianca melihat sekitar, ia mengangguk, rumah Sarah memang ada di pinggir jalan sehingga tidak sulit untuk ditemukan.


"Kita keluar."


"Aku takut."


"Kenapa takut, kita datang untuk niat yang baik, mereka pasti akan menerima kita dengan baik juga."

__ADS_1


Bianca menghela nafasnya, keduanya lantas keluar dan menekan bel rumah Sarah.


Itu adalah bangunan kost, dan memang dijaga satpam juga.


"Selamat siang, Pak, kami kamu bertemu Sarah," ucap Melvin.


"Oh iya silahkan, ada dilantai 2 kamarnya paling ujung dari kanan."


"Baik, terimakasih."


Gerbang dibuka, Melvin dan Bianca segera menuju kamar Sarah sesuai dengan petunjuk satpam itu.


Tidak sulit, mereka sampai dan segera mengetuk pintu kamarnya, tak berselang lama juga Sarah membika pintunya.


"Sarah," ucap Bianca.


"Silahkan masuk."


Keduanya masuk, mereka dipersilahkan duduk, ruangan itu memang cukup nyaman meski pun sempit.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Melvin.


"Sudah lebih baik, jangan khawatir."


"Kamu tidak sampai dirawat di Rumah Sakit?" tanya Bianca.


"Tidak."


Bianca mengangguk, syukurlah kalau memang tidak, itu artinya keadaan Sarah tidak terlalu buruk.


Melvin memberikan beberapa bingkisan untuk Sarah, mungkin itu bisa sedikit membantu kebutuhan sehari-harinya.


"Terimakasih," ucap Sarah.


"Semoga bermanfaat, kamu masih harus kontrol?" tanya Melvin.


"Baru tadi pagi, dan sepertinya aku hanya harus menghabiskan obatnya saja, setelah itu seharusnya sudah selesai."


"Sarah, aku minta maaf, aku tidak tahu kalau akan kejadian seperti ini."


Sarah mengangguk seraya tersenyum, apa yang harus dikatakannya, bukankah itu yang namanya musibah.


Tidak ada yang mau hal buruk itu terjadi, jadi tidak ada juga yang bisa salahkan, semua memang sudah ditentukan keharusannya.


"Bagaimana keadaan Bu Mayang, maaf aku belum sempat menengoknya."


"Jangan fikirkan itu, fikirkan keadaan mu sendiri, Ibu sudah ada yang merawat," ucap Bianca.


"Mungkin lusa aku akan temui Bu Mayang, aku harus tahu juga keadaannya."


Bianca mengangguk, terserah saja itu hak Sarah sendiri, yang terpenting kesehatan Sarah pulih terlebih dahulu.


Mereka berbincang banyak hal, termasuk juga kelanjutan pekerjaan Sarah, dan tentu saja Melvin menjamin jika Sarah masih akan tetap bekerja dengan Mayang.


"Aku belum bisa tentukan waktunya," ucap Bianca.


"Semoga saja tidak terlalu lama, karena aku akan sangat kesulitan menjalani hidup kalau tidak bekerja."


"Tentu saja, kami akan berusaha secepat mungkin dan sebaik mungkin, kami sedang bicarakan semuanya, hanya saja belum mendapatkan keputusan terbaiknya," sahut Melvin.


Sarah mengangguk, ia memang perantau, dan sejak awal kedatangannya, toko kue Mayang memang menjadi tempat satu-satunya bekerja.

__ADS_1


Sarah merasa tidak ingin kehilangan pekerjaannya sampai sekarang, meski keadaannya seperti itu tapi Sarah tetap berharap pekerjaannya masih bisa sama.


__ADS_2