
Malam pertemuan itu benar-benar terjadi, keluarga Melvin telah ada di rumah Bianca saat ini, sudah tersedia juga suguan ditengah mereka.
"Silahkan, dinikmati lebih dulu makanannya."
Mereka mengangguk merespon ucapan Mayang, Bianca terlihat begitu gelisah, sejak perbincangannya pagi itu, Mayang memang belum lagi bicara dengannya.
"Maaf, Bu, kedatangan kami mungkin memang dirasa terburu-buru, tapi kami hanya memenuhi permintaan putra kami," ucap Deva.
Mayang tersenyum dan mengangguk, tentu saja ia paham, karena keberadaan dirinya di depan mereka saat ini, adalah mengikuti permintaan putrinya juga.
"Ibu, sudah tahu tujuan kami?" tanya Deva.
"Bianca, sudah cerita semuanya."
"Iya, memang itu tujuan kami, Melvin memang begitu serius dengan Bianca, dan sekarang semoga saja kita bisa segera memenuhi permintaan mereka."
Mayang melirik Bianca, kalimat apa yang harus dikatakannya, Mayang masih tidak rela Bianca menikah.
"Barang kali, ada yang mau Ibu sampaikan pada Melvin," ucap Mika.
Mayang menoleh sesaat, lantas berpindah menatap Melvin, lelaki itu tak berpaling sedikit pun juga meski mendapatkan tatapan dari Mayang.
"Bianca, putri saya satu-satunya, setelah kepergian Suami saya, hanya Bianca yang saya punya, dan jujur saya masih tidak bisa rela melihat dia menikah."
Deva dan Mika melirik Melvin bersamaan, mungkin itu juga yang akan mereka katakan jika memiliki anak perempuan.
"Bianca juga baru 19 tahun, saya belum bisa percaya kalau dia bisa menjadi Istri yang baik buat Melvin nantinya."
Mereka tetap diam, bukankah itu yang mereka inginkan, mereka ingin tahu apa saja yang ada dalam fikiran Mayang.
"Bianca, memang anak baik, dia tidak banyak tingkah, teman-temannya pun baik, tapi perihal pernikahan, saya tidak bisa melepaskannya begitu saja."
"Tentu saja, kami mengerti dengan itu, dan kami juga sudah bahas ini bersama dengan Melvin, namun sepertinya, Melvin tetap yakin dengan keputusannya, dia yakin terhadap wanita pilihannya," jelas Deva.
"Ibu, tidak akan kehilangan Bianca meski dia telah menikah dengan ku, kalau memang Ibu mau kita tinggal disini setelah menikah, aku tidak masalah, aku tidak akan jauhkan Ibu dari Bianca."
Bianca melirik Deva dan Mika di sana, kalimat Melvin telah merubah ekspresi mereka, dan Bianca yakin jika mereka keberatan Melvin tinggal di rumah kecil seperti rumahnya.
"Ibu, bisa tetap jaga Bianca, dia akan tetap ada bersama Ibu, aku tidak akan memisahkan kalian."
"Rumah saya hanya rumah sempit seperti ini, tidak ada apa pun disini, dan pasti tidak akan bisa membuat kamu nyaman."
"Tidak, aku tidak akan mempermasalahkan itu, aku hanya ingin bersama Bianca, selebihnya aku akan ikuti seperti apa keharusannya."
Mayang diam, itu memang keinginannya, dengan begitu Mayang bisa tahu seperti apa perlakuan Melvin pada Bianca.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang berubah, aku janji, Bianca akan tetap jadi putri Ibu, tapi di luar itu pasti Ibu mengerti jika Bianca sudah menjadi Istri ku."
"Ibu, kalau memang Ibu gak bisa terima, tidak perlu memaksakan, aku tidak apa-apa, dan kita bisa menunggu sampai Ibu mau menerima," sela Bianca.
Melvin mengangguk, meski sebenarnya ia tidak berharap Mayang mengiyakan kalimat Bianca, Melvin tetap ingin pernikahan itu terjadi.
"Bu, saya bukan ingin membanggakan anak saya, tapi saya berani jamin, apa yang dikatakannya selalu bisa dibuktikannya, sekali pun itu tentang cintanya," ucap Mika.
"Saya bisa melihat itu, tapi perasaan saya yang memiliki anak perempuan, tidak sama seperti kalian yang memiliki anak laki-laki."
"Iya, saya mengerti itu, tapi tidak ada salahnya jika kita percaya pada anak kita sendiri, Bianca memang masih 19 tahun, tapi bukankah diumur itu Bianca sudah mengerti seperti apa tanggung jawab."
Mayang tak menjawab, ia diam memikirkan semuanya, ini memang terlalu cepat, tapi Mayang juga tak mau terjadi hal buruk pada Bianca jika terlalu lama bebas dengan Melvin.
"Bagaimana, Bu?" tanya Deva.
Mayang menoleh, ia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Deva.
"Kami akan selalu ingatkan Melvin untuk tanggung jawab pada ucapannya, dan kami sanggup berjanji jika Melvin akan mampu membuktikannya."
"Apa yang bisa saya lakukan, saya tidak mungkin menghalangi kebahagiaan anak saya sendiri."
Bianca menoleh, Mayang tersenyum seraya mengusap kepala Bianca, bukankah Melvin setuju untuk tinggal bersamanya setelah menikah, paling tidak sampai Mayang bisa benar-benar rela melepaskan Bianca.
"Silahkan saja, Ibu restui kalian."
Bianca mengangkat kedua alisnya, benarkah itu, apa telinganya tidak salah dengar.
"Apakah ini benar?" tanya Melvin.
"Tapi kalian tinggal disini setelah menikah, kamu bisa bawa anak saya pergi, setelah saya bisa percaya sepenuhnya sama kamu."
Melvin mengangguk setuju, itu bukan masalah baginya, Melvin akan tinggal bersana dengan Mayang.
"Begini, sebenarnya, Melvin sudah pilihkan tanggal untuk niat baiknya itu, Bu," ucap Deva.
"Kapan memangnya?"
"Katanya, Melvin ingin menikah saat hari ulang tahun Bianca."
Bianca seketika melirik Melvin, apa harus secepat itu, hari ulang tahunnya adalah akhir bulan tersebut.
"Melvin."
"Aku sudah bilang, aku tidak bisa diam di tempat, Bii."
__ADS_1
"Ya tapi ...."
"Aku hanya perlu persetujuan kalian, selebihnya akan aku urus sendiri."
"Kamu tidak perlu khawatir, Melvin memang selalu seperti itu kalau memang sudah jadi kemauannya," ucap Mika.
"Tapi itu hanya tinggal sebentar lagi."
"Itu keinginan ku, kalau memang tidak bisa terpenuhi sebelum tanggal tersebut, aku akan cari waktu lain, tapi sekarang aku yakin kalau aku bisa."
Bianca mengernyit, ia lantas melirik Mayang, Bianca tidak tahu apa saja yang harus diurus dalam pernikahan.
"Kalau kamu mau, dan kamu percaya, kamu ikuti saja," ucap Mayang.
"Tapi Ibu gimana?"
Mayang tersenyum seraya menggeleng, tidak akan ada habisnya jika mengikuti pemikiran Mayang, lagi pula kebahagiaan Bianca adalah yang utama.
"Jadi, Ibu setuju?" tanya Deva.
"Saya tidak bisa menolak, silahkan saja kalau memang itu yang terbaiknya."
Deva tersenyum, ia melirik istri dan anaknya, itu jawaban yang mereka inginkan, dan Mayang sudah mengatakannya.
Kedatangan Tiara telah menghentikan perbincangan Sintio dan beberapa temannya, mereka bisa melihat Tiara lagi malam ini.
"Ra, kamu dari mana saja?" tanya Dela.
"Tidak, aku ada di rumah saja."
"Kenapa kamu tidak pernah datang, kontak kamu juga tidak pernah aktif?"
"Ponsel ku rusak, dan aku juga sedang tidak enak badan kemarin."
"Ya ampun, tapi sekarang sudah baik-baik saja kan?"
Tiara mengangguk, tentu saja bukankah sekarang sudah bisa mereka lihat lagi.
"Ayo duduk, Ra," ucap Sintio.
"Kapan pernikahan Bianca dan Melvin?"
Mereka semua saling lirik, kenapa jadi pertanyaan itu yang terlontar, dan jujur saja mereka tidak mengharapkan Tiara bertanya tentang hal seperti itu.
__ADS_1