
Di tempat kejadian, Mayang memang tak sadarkan diri dengan luka di wajah, tangan, dan kakinya.
Mika dan Deva juga ada di sana, mereka menjaga Mayang seraya mengawasi sekitarnya.
"Mana Bianca dan Melvin," tanya Deva.
"Mereka mungkin sedang di jalan, tunggu saja dulu."
"Tadi ada temannya Bianca, dimana dia?"
"Di depan sana, dia sedang berusaha membantu."
Deva mengangguk, api memang masih menyala, dan team damkar sedang berusaha mematikannya.
"Ibu," jerit Bianca.
Melvin menahan Bianca yang hendak mendekati api, itu langkah salah, dan Bianca hanya akan celaka.
"Bukan seperti ini, Bii."
"Lepas, lepaas," jerit Bianca histeris.
"Bianca, kita sudah sampai, tenang dulu."
Bianca menatap Melvin, kenapa lelaki itu terasa mengjengkelkan sekali saat ini, Bianca berontak agar bisa melepaskan diri.
"Bii, kalau kamu seperti ini, hanya akan membuat keadaan semakin sulit, sabar dulu, kita akan temui Ibu."
"Aca."
Keduanya menoleh, Melvin mengernyit melihat Sintio ada di sana, perlahan ia melepaskan tahanannya terhadap Bianca, secepat kilat Bianca memeluk lelaki jadi-jadian itu.
"Sabar, Ca."
"Ibu mana, dimana Ibu?"
"Di belakang, ada di warung warga."
Bianca melepaskan pelukannya, ia segera pergi meninggalkan keduanya.
"Ca."
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Melvin.
Sintio menoleh, ia menunjukan kantong yang dibawanya, Sintio habis belanja kue di sana sesaat sebelum toko terbakar.
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya dari listrik, tadi aku mendengar ledakan sebelum api keluar."
Melvin diam, benarkah seperti itu, tapi sudahlah, bukankah di sana sudah ada polisi, mereka akan bisa menjawab semuanya.
"Aku harus susul Bianca."
Sintio mengangguk dan membiarkan Melvin pergi, ia mencari warung yang sempat di katakan Sintio tadi.
"Ibu bangun," teriak Bianca.
Melvin melirik satu warung, ia mendengar suara Bianca di sana, dengan cepat Melvin memasukinya.
"Bii, permisi, Bianca."
Melvin melihat mereka semua, ia terdiam melihat Mayang yang tak sadarkan diri, dengan beberapa luka itu.
"Ibu, bangun, Bu."
"Kenapa hanya diam disini, bawa ke Rumah Sakit," ucap Melvin.
Tak ada yang menjawab, entah apa yang ada di dalam fikiran mereka semua sehingga membiarkan Mayang seperti itu.
__ADS_1
"Bii, biar aku bawa Ibu ke mobil."
Bianca tak menjawab, ia juga membiarkan Melvin membawanya, itu memang sudah seharusnya dilakukan.
Mereka bangkit dan menyusul Melvin, langkah Melvin yang begitu cepat, membuat mereka harus sedikit berlari.
"Aca, kalian mau kemana?" tanya Sintio.
Melvin lurus saja tanpa menjawab, begitu juga dengan Deva dan Mika, tapi tidak dengan Bianca, ia terhenti saat matanya melihat sosok Tiara.
"Tiara, aku minta maaf, aku tidak mengundang mu, aku hanya ...."
"Diam," sela Tiara.
Mereka berbicara dengan nada pelan, Melvin menunduk sesaat, meski pelan tapi Melvin bisa mendengarnya dengan baik.
"Dengar aku baik-baik, aku biarkan pernikahan ini terjadi, bukan karena aku sudah rela dengan semuanya."
"Apa maksud kamu?"
"Maksud aku, aku akan biarkan kamu memiliki Melvin untuk sesaat, karena setelah pernikahan ini selesai, kamu hanya akan merasakan penderitaan, bahkan luka terdalamnya akan kamu rasakan."
Bianca mengepalkan kedua tangannya, kalimat Tiara yang mendadak terngiang di ingatannya, membuat Bianca mendadak kesal.
Bianca justru mendorong Tiara begitu saja, tentu hal itu membuat Sintio kaget.
"Aca."
"Kurang ajar kamu!" bentak Bianca pada Tiara.
Sintio sempat melirik Tiara sekilas, ia menahan Bianca yang hendak mendekati Tiara.
"Ca, kamu kenapa?"
"Kurang ajar, lepas, aku harus buat dia mengerti dengan kesalahannya."
"Kesalahan apa, Ca, kamu kenapa, tenang dulu."
Merespon sikap Bianca yang seperti itu, Tiara hanya diam menatapnya dengan sedikit senyuman.
"Lepas aku bilang."
Bianca mendorong Sintio, ia dengan cepat menghampiri Tiara dan menjambaknya kasar.
"Kamu yang melakukan ini semua, kamu yang buat Ibu celaka!" bentak Bianca.
Tiara mendorongnya kuat hingga nyaris membuat Bianca terjatuh, ia tersenyum seraya mendekati Bianca.
"Bisa sekali kamu bicara seperti itu padaku."
Bianca diam, ia benar-benar tak bisa menjaga fikirannya, tak bisa mengontrol dirinya sendiri saat ini.
"Apa kamu gila, bisa sekali bicara seperti itu padaku?"
"Tutup mulut mu, aku fikir aku akan percaya padamu?"
__ADS_1
Tiara mengangguk, ia mengangkat tangannya mengusap kepala Bianca, tapi seketika itu Bianca menepisnya kasar.
"Oke, terserah saja kamu berfikir seperti apa sekarang, tapi yang harus kamu tahu, aku memang senang dengan keadaan ini."
Plakk ....
Tiara memejamkan matanya seraya menyentuh pipinya, tamparan Bianca cukup menyakitinya.
"Aca, kenapa kamu ini?" tanya Sintio.
Bukan menjawab, Bianca justru menyeret Tiara mendekati api di sana.
"Aca," panggil Sintio.
"Ada apa ini?" tanya Melvin.
Sintio menoleh, kemana saja lelaki itu, lambat sekali gerakannya.
"Cepat pisahkan mereka, Aca tiba-tiba saja marah dan menampar Tiara, jangan sampai dia melakukan hal buruk lainnya."
Melvin menatap tingkah Bianca di sana, wanita itu mengabaikan halangan orang di dekatnya agar tidak mendekati api.
"Bodoh sekali, cepat sana, kamu mau Istri mu itu celaka."
Melvin menoleh sekilas dan berlari menyusul Bianca, ia berdiri di hadapannya Bianca dengan menahan pundaknya.
"Kamu mau kemana, kenapa kamu malah disini?"
Bianca menatap Melvin beberapa saat, apa lelaki itu akan membela Tiara sekarang, dia pasti ingin menyelamatkan Tiara.
"Bii, ayo ke Rumah Sakit."
"Kamu mau membelanya sekarang?"
Melvin mengernyit, ia melirik Tiara di samping Bianca, jujur saja Melvin baru sadar dengan keberadaan wanita itu.
"Lihatlah kelakuan Istrimu ini, dia ingin membunuh ku sekarang."
"Bii ...."
"Kamu diam," sela Bianca.
"Bii, kita gak ada waktu untuk ini, kamu kenapa sih, Ibu kamu masuk Rumah Sakit, ayo kita kesana."
"Dia memang sudah gila, dia lebih memilih mencelakai ku dari pada menolong Ibunya."
"Diam," jerit Bianca.
Ia mendorong Tiara begitu saja, refleks Melvin menahan wanita itu dan menjauhkannya agar tak mendekati api.
"Bianca, apa-apaan kamu ini?" tanya Melvin kesal.
Bianca diam menatap keduanya bergantian, ia juga melihat Melvin yang setengah memeluk Tiara.
"Aca," panggil Sintio.
Bianca menggeleng, fikirannya semakin tak terarah, entah fikiran mana yang harus diikutinya.
"Dia menuduh ku yang membuat kekacauan ini, apa dia sudah gila?"
"Diam kamu, bukankah kamu yang menjanjikan kekacauan dalam hidup ku, semua ini pasti ulah kamu."
"Hebat sekali pemikiran kamu, apa kamu sudah siap malu jika tuduhan mu itu salah."
"Aku tidak ...."
"Bianca, cukup," sela Melvin.
Ia tak habis fikir kenapa Bianca bisa berfikir seperti itu, seharusnya Bianca fokus saja terhadap Mayang.
__ADS_1
"Iya, aku memang gila, Istri mu memang gila sekarang, kamu bisa bersama dia kalau kamu mau."
Bianca berlalu begitu saja, tanpa perduli dengan panggilan Melvin dan Sintio, kepergian Bianca cukup bisa membuat Tiara tersenyum, dan merasa menang.