
Bianca terlihat menemani Mayang di ruangan rawatnya, tangisnya tak kunjung terhenti sejak sampai di Rumah Sakit.
"Bu, Ibu dengar aku kan, Bu?"
Sejak tadi pula, Mayang tak sadarkan diri, semua lukanya sudah diobat, luka di kakinya yang terbilang parah, karena memang itu luka bakar.
"Ibu, ayo bangun."
Mayang sedikit bergerak, perlahan matanya mulai terbuka, Bianca tersenyum seraya bangkit dari duduknya.
"Bianca," ucap Mayang pelan.
Bianca mengangguk dan memeluk sang ibu, Mayang tersenyum seraya mengusap kepalanya.
"Ibu, kenapa bisa Ibu seperti ini?"
"Kejadiannya terlalu cepat, Ibu terlambar menghindar."
Bianca melepaskan pelukannya, tapi bersyukur karena Mayang bisa tetap selamat.
"Semuanya habis?"
Bianca mengangguk, apa yang bisa diselamatkan dari apa sebesar itu.
"Usaha kita hilang."
"Diamlah Bu, jangan fikirkan itu, kita bisa membuatnya lagi nanti."
Bianca kembali duduk seraya menggenggam tangan Mayang, sekarang yang paling penting adalah keselamatan dan kesehatan Mayang, selebihnya bisa mereka fikirkan nanti.
"Ibu, aku minta maaf karena sudah mengabaikan telepon Ibu."
"Kenapa seperti itu?"
"Tadi aku .... Tadi Melvin sedang ...."
Bianca merapatkan bibirnya, bagaimana cara menjelaskannya, Bianca ingin jujur tapi rasanya malu sekali.
Mayang tersenyum, tangannya terangkat mengusap lembut pipi Bianca.
"Kamu harus nurut sama Suami kamu, jangan membantahnya sama sekali, kamu hanya punya Ibu dan mereka, kalau Ibu tidak ada, maka hanya mereka yang akan jadi penggantinya, kamu harus selalu baik pada Suami kamu karena kebaikan itu akan kembali sama kamu."
"Ibu jangan bicara seperti itu, kita akan selalu sama-sama."
"Iya, Ibu hanya mengingatkan saja, kamu harus nurut sama Suami kamu, jangan membuatnya marah apa lagi kecewa."
Bianca mengangguk, ia mencium punggung tangan Mayang cukup lama.
"Sekarang, dimana dia?"
Bianca menggeleng, sejak berpisah tadi, Bianca memang belum melihat Melvin lagi.
"Kamu mengabaikannya?"
"Dia sudah menolak panggilan Ibu, dia membuat ku terlambat menemui Ibu, dia sudah salah."
"Bianca, kamu gak boleh seperti itu, Ibu sudah bilang kamu harus jadi Istri yang baik."
"Tapi dia ...."
__ADS_1
"Suutt."
Bianca diam, tak berselang lama, pintu ruangan terbuka, dan memang Melvin yang memasukinya.
"Bu, Ibu sudah sadar."
Melvin salam pada Mayang, ia sempat melihat luka-luka Mayang, dan melirik Bianca.
"Bii, kamu gak apa-apa?"
Bianca diam saja, bukankah Bianca sudah bicara pada Mayang, dan mungkin saja Mayang mengerti dengan kekesalan Bianca terhadap Melvin.
"Jangan seperti itu, Sayang" ucap Mayang.
"Kamu marah sama aku, Bii, kamu marah karena Tiara, atau karena bicara aku yang keras sama kamu, aku minta maaf, aku gak bermaksud buruk atas itu."
Bianca tak bergeming, apa pun itu, Bianca tetap kesal padanya, semua hanya membuat Bianca kesal saja.
"Bianca, orang yang tidak suka dengan kebersamaan kalian dan kebahagiaan kalian, akan senang jika melihat kalian bermasalah, kamu tidak boleh seperti ini, kalian harus buktikan kalau kebersamaan dan kebahagiaan kalian adalah yang semestinya."
"Aku gak apa-apa, Bu," ucap Bianca.
"Kalau gak apa-apa, kamu harus jawab Suami kamu, kamu salah kalau seperti itu."
Bianca kembali diam, jadi sekarang dirinya yang disalahkan, kenapa Mayang justru membela orang lain dari pada anaknya sendiri.
"Bii, aku minta maaf."
Tetap tak ada jawaban, Melvin hanya mengangguk saja, biar saja mungkin memang Bianca sedang marah padanya.
"Permisi."
Mereka menoleh, ada polisi yang memasuki ruangan bersama dengan Sintio, Bianca seketika bangkit saat melihat terakhir ada Tiara yang turut masuk.
Melvin menggenggam tangan Bianca saat hendak menghampiri mereka, meski Bianca menolaknya, tapi Melvin tetap menahannya.
"Bagaimana, Pak?" tanya Mayang.
"Api sudah padam, Bu, dan dari hasil penelusuran, memang kejadiannya berasal dari konsleting listrik, ini murni kecelakaan dan bukan karena kesengajaan."
Bianca menyipitkan matanya, ia perlahan menunduk seraya memejamkan matanya.
"Bagaimana dengan pekerja saya?"
"Mereka selamat, dan memang mengalami luka, sama seperti Ibu."
"Mereka di Rumah Sakit sekarang?"
"Tidak, mereka memilih pulang ke rumahnya masing-masing."
Mayang mengangguk, syukurlah kalau seperti itu, Mayang akan menemui mereka setelah sehat nanti.
"Kalau begitu saya permisi, Bu, semoga lekas sembuh."
"Amin, terimakasih banyak, Pak."
Polisi mengangguk dan kembali pergi meninggalkan mereka semua, Sintio terlihat menghampiri Mayang.
"Ibu, apa kabar?"
__ADS_1
"Baik, harus baik-baik saja."
Keduanya tersenyum bersamaan, tentu Sintio senang mendengarnya, meski ia melihat jika Mayang berbaring lemah.
Bianca melirik Tiara yang masih bertahan di tempatnya, wanita itu tersenyum, senyuman yang memang membuat Bianca kesal.
"Bii, sudahlah," ucap Melvin pelan.
Bianca menarik tangannya paksa, ia lantas berjalan mendekati Tiara, dua orang di belakang sana turut memperhatikan.
"Mau mendorong ku lagi, atau mau memaki ku lagi?" tanya Tiara santai.
Bianca diam menatapnya, Melvin menggeleng dan menghampiri keduanya.
"Kenapa diam, kamu dengar kalau kejadian itu murni kecelakaan, alasan apa lagi untuk kamu menyalahkan aku?"
"Aku minta maaf, aku memang bersalah."
Tiara tersenyum acuh, ia berpaling sesaat, baguslah kalau wanita itu mau mengakui kesalahannya.
"Tiara, aku minta maaf, kamu bisa balik marah sama aku kalau kamu mau, kamu bisa tampar aku juga kalau kamu mau."
Tiara mengangguk, tentu saja ia sangat ingin melakukannya, tapi tidak, Tiara tidak akan menambah penderitaannya sekarang, Tiara akan membuat panjang penderitaan Bianca selama ia masih bersama Melvin.
"Ayo lakukan, kamu mau tampar aku, tampar saja."
Bianca menarik tangan Tiara, tapi Melvin menjuhkannya saat itu juga, Melvin meminta Tiara untuk keluar saja.
"Kenapa jadi aku diusir?"
"Tidak ada yang mengusir mu, tapi sebaiknya memang begitu, tidak boleh terlalu banyak orang disini."
"Benarkah?"
Melvin diam, sesaat kemudian ia berpaling karena Tiara yang terus saja menatapnya.
"Bu, aku pamit ya, nanti aku balik lagi kalau santai," ucap Sintio.
"Tidak masalah, terimakasih."
Sintio mengangguk dan menghampiri tiga orang itu, sebelum ada keributan lagi di sana, sebaiknya memang mereka pergi.
"Ra, ayo pulang."
"Oke, aku akan pulang, lagi pula gak enak lama-lama di Rumah Sakit."
"Ya sudah, sana pulang," ucap Melvin.
"Bianca, kamu tidak mau memeluk ku terlebih dahulu, bukankah aku tidak bersalah, jadi kamu tidak perlu membenci ku."
Melvin segera menarik Bianca ke belakangnya, tidak perlu ada pelukan apa pun, Tiara hanya akan memperpanas keadaan.
"Pulang saja, ini sudah selesai, Bianca juga sudah minta maaf sama kamu," ucap Melvin.
Tiara mengangguk, ia tersenyum seraya mengangkat kedua alisnya sekilas, baiklah kalau memang seperti itu.
"Ayo, Sin."
Sintio mengangguk, ia lantas pamit pada dua orang itu, dan pergi bersama dengan Tiara.
__ADS_1
"Bii ...."
Bianca kembali menghampiri Mayang, tanpa perduli dengan kalimat yang akan dikatakan Melvin.