Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Aku Rindu


__ADS_3

Bianca terusik dari tidurnya, berulang kali ia merasakan gangguan di pipinya.


Matanya perlahan terbuka, lampu ruangan yang menyala membuat penglihatannya semakin kacau.


"Ibu," panggil Bianca pelan.


Tak ada jawaban, dengan mata yang setengah terpejam, Bianca duduk.


"Aku sudah matikan lampunya tadi," ucap Bianca pelan.


"Aku mengganggu tidur mu?"


Bianca menoleh, ia memejamkan matanya kuat, itu suara yang dinantikannya sejak tadi.


"Good Night."


Bianca tersenyum saat akhirnya ia bisa melihat Melvin, secepat kilat ia turun dan memeluk lelaki itu dengan eratnya.


"Ah aku gak bisa nafas sama sekali," ucap Melvin.


"Biarkan saja, lama sekali kamu pergi, aku bosa menunggu mu disini."


Melvin sedikit tertawa, benarkah seperti itu, tapi memang itu juga yang dirasakan Melvin selama di rumah Reska.


"Aku minta maaf, kamu harus tahu kalau Mama suka banget berada disana, Mama yang buat kita tinggal lama disana."


Bianca menggeleng, terserah saja mau alasan apa, Bianca tidak mau tahu yang jelas Bianca sangat merindukan suaminya itu.


Melvin mengangkat tubuh kecil Bianca, membawanya berbaring di kasur sana.


"Jam berapa ini?" tanya Bianca melepaskan pelukannya.


"Jam dua malam."


Bianca mengernyit, kenapa harus pulang larut malam, apa tidak bisa besok pagi saja.


"Kenapa, kamu tidak suka aku pulang?"


Bianca mendengus kesal, bagaimana mungkin seperti itu, sudah sejak kemarin Bianca menunggu kepulangannya.


"Bii, aku merasa kasihan sekali dengan kehidupan Reska."


"Kenapa dengan dia?"


Melvin berpindah berbaring di samping Bianca, menatap lurus langit-langit kamarnya dengan fikiran yang kembali mengingat kondisi keluarga Reska.


"Aku rasa hidup mereka sangat memprihatinkan, jauh sekali dari kata cukup."


"Benarkah, tapi Reska tidak pernah cerita apa pun soal keluarganya."


"Aku dan Mama melihatnya sendiri, dan aku rasa itu sangat buruk."


Bianca diam, sayang sekali ia tidak ikut kemarin, kalau saja ikut pasti bisa tahu juga seperti apa yang dimaksud Melvin saat ini.


Melvin menoleh, ia memeluk Bianca dan mencium pipinya berulang kali, tingkah itu membuat Bianca tertawa.


"Rindu sekali aku padamu," ucap Melvin.


"Kamu pasti tidak ada teman tidur."


Melvin mengangguk pasti, itu memang benar, bagaimana mungkin Melvin tidur dengan mamanya sampai memeluknya seperti Bianca.

__ADS_1


"Kamu mau tidur lagi?" tanya Melvin.


"Kenapa, kamu mau makan, mau minum?"


Melvin menggeleng, sudah malam untuk itu, lagi pula Melvin sudah mendapatkan itu sewaktu di jalan tadi.


Bianca membalas pelukannya, tidak ada guling juga tidak masalah kalau ada Melvin.


"Kamu sedang lelah?" tanya Melvin.


"Aku rasa kamu yang lelah."


"Aku tidak lelah."


"Heemm, tidak lelah, lalu?"


Melvin tersenyum, lalu apa lagi, apa Melvin harus mengatakan semuanya dengan jelas.


Bianca mengangguk, secepat kilat Melvin bangkit dan mematikan lampunya, ia kembali dengan sengaja langsung menimpa tubuh Bianca.


"Sakit ih."


"Biarkan saja," ucap Melvin yang kemudian menciumnya hangat.


Siapa yang akan menghalangi mereka saat ini, jika sampai ada maka orang itu telah melanggar etika.


 


"Tidurlah dulu disini, besok baru temui Ibu Kostnya, siapa tahu masih ada kamar yang kosong," ucap Reska.


Aldi mengangguk setuju, siang sebentar lagi akan datang, lagi pula mereka sudah izin pada satpam di depan sana.


Aldi dan Reska memang kembali lagi bersama dengan Melvin, itu keputusan bersama dan tidak ada yang merasa keberatan sama sekali.


"Iya, aku disini sejak aku mendapatkan pekerjaan itu."


"Senyaman itu?"


"Tentu saja, pemilik Kostnya baik, orang-orang yang menghuni tempat ini juga baik-baik."


Aldi mengangguk, baguslah kalau seperti itu, tapi Aldi sempat berfikir jika Reska diberikan tempat tinggal oleh pemimpin tempat kerjanya.


"Aldi, kamu serius mau bekerja di tempat Pak Melvin?"


"Tentu saja, aku tidak mungkin jadi pengangguran, kamu pasti akan semakin menolak ku."


Reska sedikit tersenyum, mungkin saja itu akan benar terjadi, tapi semoga saja tidak karena Reska sadar jika dirinya juga masih berjuang untuk hidup.


"Kalau aku sukses disini, apa kamu mau menikah dengan ku?"


"Aku belum tahu."


Aldi mengangguk, baiklah tidak perlu membahas itu sekarang, lagi pula Aldi belum tentu bekerja di tempat Melvin.


Reska menghidangkan minuman dan makanan ringan untuk Aldi, mungkin mereka akan menghabiskan malamnya tanpa tidur.


"Kalau kamu mau tidur, tidur saja aku tidak apa-apa."


"Tidak, aku tidak terlalu mengantuk juga."


"Sepanjang jalan kamu sudah tidur, Reska."

__ADS_1


Reska mengangguk dengan sedikit tertawa, itu memang benar adanya, jadi wajar saja jika sekarang ngantuknya sudah tak lagi ada.


"Aku tidak sabar ingin bertemu Istri Pak Melvin."


"Kenapa memangnya?"


"Penasaran saja, wanita seperti apa yang beruntung mendapakan lelaki sukses seperti dia."


Reska mengangguk, itu memang benar, Bianca pasti menjadi sangat beruntung karena mendapatkan Melvin.


Kehidupan mereka yang jauh berbanding terbalik, tentu saja menjadi titik fokus pertamanya.


"Apa dia cantik?"


"Bianca cantik, dia baik, dan memang good attitude, jempolan."


"Kamu dengan sama dia?"


Reska mengangguk pasti, sebagai atasannya Bianca memang bersahabat dengan semua pekerjanya.


Sama dengan Mayang sang Ibu, Bianca memang seperti bersaing dalam menjadi baik, mereka begitu tidak memiliki cela dimata karyawannya.


"Mereka bukan orang kaya, tapi mereka mampu berbagi seperti orang kaya."


"Benarkah?"


"Pokoknya, aku dan yang lain menganggap mereka begitu sempurna, tidak ada cela sama sekali."


Aldi mengangguk saja, mungkin Reska bicara seperti itu karena mereka adalah bosnya.


Entahlah apa penilaian Aldi akan sama seperti mereka, atau mungkin akan sebaliknya.


"Ayo minum, aku hanya ada cemilan itu saja, jadi nikmati saja yang ada."


"Tidak masalah, terimakasih."


Reska mengangguk, Aldi meneguk minumnya dan menikmati cemilannya, keduanya tetap asyik berbincang.


Hingga lama waktu terlewati, mereka jenuh dengan pembahasannya, posisi mereka juga sudah tak karuan.


Hingga keduanya berbaring dan tertidur juga, niat menghabiskan malam tanpa tidur ternyata gagal, karena saat pagi nyaris datang dua pasang mata itu justru terpejam.


 


Tangan Melvin tak henti mengusap punggung Bianca, tubuh kecil itu berada tepat diatas tubuhnya.


"Perkembangan bagus, kamu nakal sekarang," ucap Melvin.


"Aku mengikuti mu juga."


Melvin tersenyum, ia mencium pundak Bianca lama.


"Sebentar lagi, Ibu pasti panggil aku, aku harus segera mandi."


"Diamlah sebentar lagi, aku masih ingin memeluk mu."


Bianca sedikit bergerak, jika saja Melvin datang lebih awal lagi, mungkik mereka bisa melakukannya berulang kali.


"Bii, bagaimana dengan tawaran bulan madunya?"


"Aku tidak mau itu sekarang, tidak bisakah kita bicarakan setelah masalah Ibu selesai?"

__ADS_1


"Tentu saja bisa, jangan khawatir tanpa perlu pergi jauh, kita tetap bisa melakukan ini."


Keduanya tersenyum, Bianca mengangkat kepalanya menatap Melvin, semoga saja mereka bisa tetap sebaik saat ini untuk selamanya.


__ADS_2