
Bianca tersenyum, betapa manis wajah yang ditatapnya saat ini, begitu dekat, dan Bianca menyukai jarak mereka saat ini.
Melvin kini sudah kembali berbaring dengan setengah menimpanya, tatapan kuat itu, membuat Bianca semakin dag dig dug tak karuan.
"Tidak perlu seperti ini," ucap Melvin pelan.
Bianca berpaling, Melvin pasti mampu merasakan detakan hebat di jantungnya, tidak bisa, Bianca tidak bisa untuk tetap tenang.
"Hey, aku ini Suami mu, kenapa kamu seperti ketakutan seperti ini?"
Melvin menyentuh pipi Bianca, dan menghadapkannya lagi, Bianca berusaha tersenyum setenang mungkin, meski itu cukup sulit.
"Aku sudah bilang, santai saja."
Melvin menarik baju Bianca ke samping, hingga memperlihatkan pundaknya, Melvin mengecupnya lembut, kini tak hanya detak jantung Bianca yang tak terkontrol, nafasnya pun mulai memburu, tubuhnya terasa mendadak panas dingin tak karuan.
"Wangi sekali," ucap Melvin pelan.
Bianca sedikit bergerak, merasakan kecupan Melvin yang semakin bergerak ke lehernya.
"Atur nafas mu dengan baik," bisik Melvin.
Bianca memejamkan matanya, Melvin tidak seperti itu waktu semalam, karena semalam Bianca masih bisa sedikit lebih tenang, tapi sekarang tidak sama sekali.
Melvin menatap wajah Bianca, ia tersenyum saat mata itu kembali terbuka, Melvin melepaskan kancing baju Bianca satu demi satu tanpa memalingkan pandangannya.
"Aku ...."
Tidak mau mendengar penolakan apa pun, Melvin seketika mengecup bibir Bianca, ********** lembut, yang harus dilakukan Bianca saat ini hanya mengontrol dirinya sendiri, bukan untuk banyak bicara.
Tangan Melvin menelusup ke punggung Bianca, melepaskan kain kecil yang menjadi penutup bagian tubuh itu.
Drrrttt .... Drrrttt
Suara getaran ponsel itu mampu mereka dengar, tapi dengan sengaja mereka mengabaikannya, tangan Bianca terangkat untuk mempermudah Melvin melepaskan bajunya.
Beberapa gerakan itu, telah berhasil membuat setengah tubuh Bianca bersih dari helaian kain tersebut.
"Tidak bisakah lebih tenang lagi?"
"Tidak."
Melvin tersenyum, biarkan saja mungkin perlahan kontrolnya akan berubah, Melvin menciumi wajah Bianca, mencumbu habis setengah badan itu.
Kriingg ....
Gerakan Melvin terhenti, Bianca meraih ponselnya, ada panggilan dari Mayang, dengan kesal Melvin merebutnya dan mematikannya asal.
"Sayang ...."
"Jangan membuat ku gila sendiri."
Bianca diam, Melvin mematikan total ponsel Bianca dan melemparnya ke sofa sana.
"Aku minta maaf."
Melvin tak perduli, ia kembali melanjutkan aktivitasnya di tubuh Bianca, tidak ada siapa pun di rumah itu, jadi tidak perlu ada yang mengganggunya.
Detik hingga menit berlalu, Bianca mulai tenggelam dalam cumbuan lelakinya, Melvin masuk ke balik selimut, bergerak semaunya di bawah sana, membuat Bianca semakin menggelijang.
__ADS_1
"Bibi, Bi," teriak Mika.
Mbak rumah segera menghampiri, teriakan Mika cukup membuatnya kaget.
"Ada apa Bu?"
"Mana Melvin dan Bianca?"
"Mereka di atas, tadi setelah makan, mereka kembali ke kamar."
Mika diam, mungkin saja apa yang terlintas difikirannya benar, tapi mau bagaimana lagi Mika tidak bisa diam saja.
"Ada apa, Bu?"
"Saya harus panggil mereka sekarang."
Mika berlalu tanpa menunggu jawaban, ia berlari menaiki tangga sesuai kecepatan yang dimampunya.
"Aaa ...."
Bianca meremas kuat punak Melvin, dengan mata terpejam Bianca berusaha menahan suaranya agar tak keluar terlalu keras.
"Sss sudah cukup."
"Suuttt, tahan dulu," bisik Melvin.
Bianca merapatkan bibirnya, memeluk Melvin dengan eratnya, jadi seperti itu rasanya.
"Bianca, Melvin," panggil Mika seraya menggedor pintu.
Keduanya menoleh bersamaan, perlahan Bianca melepaskan pelukannya.
"Bianca, Melvin, kalian dengar Mama, cepat keluar."
"Bianca, Melvin."
"Mama apaan sih, bukannya tadi pergi," omel Melvin.
Bianca segera membungkam Melvin, tidak sopan sekali bicaranya itu.
"Melvin, apa pun yang sedang kalian lakukan, hentikan saja, cepat keluar."
Melvin kembali berdecak, ia memukul kesal kepala ranjang di depannya, dan seketika bangun.
"Aaw .... sss sakit, kamu ini."
Melvin diam sesaat menatap Bianca, sudah terlanjur kesal, Melvin meraih celana pendeknya dan memakainya cepat.
"Jangan marah, sabar dulu, mungkin memang penting makanya seperti itu."
Melvin tak perduli, ia turun dan membuka pintu, Bianca duduk perlahan dengan mempertahankan selimut agar tetap menutupi tubuhnya.
"Apa sih Mama ini?"
Mika memperhatikam Melvin dari atas sampai bawah, ia juga melirik Bianca di sana, memang benar apa yang sempat terlintas difikirannya.
"Ada apa, kenapa diam, tadi saja berisik?"
"Toko kue Bu Mayang kebakaran."
__ADS_1
Melvin mengernyit, mendengar kalimat itu Bianca yang semula bersandar, seketika menegapkan tubuhnya, kalimat macam apa itu.
"Ayo cepat, Mama tidak bisa tenangkan Bu Mayang, dia juga terluka disana, bawa Bianca kesana."
Melvin melirik Bianca, saat keadaan seperti itu bagaimana bisa buru-buru.
"Cepat Melvin, jangan lama-lama, kalian harus segera kesana."
Mika berlalu begitu saja, Melvin mengusap wajahnya, sungguh keadaan membuatnya prustasi sendiri, Melvin harus menahan hasrat dalam jiwanya yang sudah mencapai puncak.
"Ibu," teriak Bianca.
Melvin tersentak mendengarnya, ia segera menutup pintu dan menghampiri Bianca.
"Bii, sabar dulu, kita akan kesana."
"Ibu, Ibu kenapa, kenapa dia?"
Bianca menangis begitu saja, bukan soal toko yang terbakar, tapi Bianca panik karena Mayang yang terluka.
"Sabar dulu, jangan seperti ini, kita akan kesana."
"Ibu."
"Sutt, kalau kamu seperti ini, kita akan lama kesananya."
Melvin memeluk Bianca, mengusap kepalanya seraya menciumnya juga.
"Ibu."
"Iya Bii, kita kesana, tenang dulu, sekarang pakai dulu pakaian kamu ya, kita akan langsung kesana, Mama pasti jaga Ibu disana."
Bianca tak menjawab, ia hanya menangis saja, tanpa bisa berkata apa pun, apa yang harus difikirkannya sekarang jika ia mendengar Mayang terluka di sana.
"Diam dulu Bii."
Tak ada respon, Bianca hanya bertahan dengan tangisnya, ingin sekali Bianca marah pada Melvin sekarang, jika saja tadi ia membiarkan Bianca menjawab panggilan Mayang, Bianca pasti sudah pergi sejak tadi.
"Kamu rapi-rapi dulu ya, baru kita kesana, jangan seperti ini, kamu hanya memperlambat langkah saja, biar aku bawakan baju kamu, sabar."
Melvin melepaskan pelukannya dan berlalu membawakan baju, keduanya sama-sama bersiap untuk pergi ke tempat Mayang.
"Hati-hati jalannya."
Bianca tak perduli dengan itu, ia berjalan keluar kamar dengan tergesa, fikirannya sekarang hanya berada di samping Mayang.
"Bii, Sayang."
Melvin menggeleng, ia meraih ponselnya dan segera menyusul.
"Bii, Bianca."
"Ada apa Den, kenapa Non Bianca menangis?"
Melvin menoleh dan hanya menggeleng saja, tak ada waktu untuk bicara, Melvin harus menyusul Bianca agar tak salah langkah.
"Bii, mobil aku disini."
Melvin berdecak, Bianca terus saja melangkah tanpa mendengarkannya, ia segera memasuki mobil dan menyusul Bianca.
__ADS_1
"Bii, ayo masuk."
Bianca menoleh, ia lantas masuk dan terdiam duduk dengan penuh kegelisahan.