
*Untuk seseorang di masa depan ....
Terima kasih.
Jika engkau tetap rela menyesatkan diri pada belantara hati ini seorang, Sayang!!
Untuk kamu. Iya, kamu!!
Terima kasih.
Pembaca yang sengaja memilih cerita ini, semoga nestapa tidak sedang meringkusmu dalam kemenyerahan. Percaya! Jika selalu ada cinta ditiap nelangsa*.
**Selamat membaca, semoga menyukainya.
♥♥♥**
Di sebuah perbelanjaan elite di kawasan Kemang-Jakarta Selatan, swastamita telah menepi berganti malam yang muram. Seiring rinai gerimis di wajah seorang gadis belia yang baru saja tertimpa musibah.
“Tuan! Saya mohon,” pinta gadis itu lirih. Mengiba pada seorang laki-laki yang sedang berdiri jemawa di hadapannya. Kira-kira berusia akhir dua puluhan.
Laki-laki yang dipanggil Tuan bergeming, dengan gestur acuh tak acuh. Ia seorang yang tidak kurus dan tidak pula gemuk, menggambarkan contoh pemilik tubuh laki-laki ideal.
Lekukan perut six-pack miliknya terlihat jelas di balik t-shirt ketat yang tengah dipakai. Sedangkan tangan kokohnya menjambak kasar rambut gadis belia yang sedang memohon-mohon kepadanya.
Musibah memang bisa menimpa siapa saja, kapan saja dan di mana saja tanpa terkecuali. Tak ada yang bisa menolak atau pun mengelak dari kehendak Sang Maha Pemilik Kehendak. Termasuk Kinanthi—nama gadis belia yang tengah meringis kesakitan tersebut.
••••
Kinanthi gadis kelahiran kota Patria, Blitar. Memang baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota megapolitan Jakarta, sekitar seminggu yang lalu. Anita—sahabat baiknya—yang juga tinggal sekampung, mengajaknya mengadu nasib ke kota. Tentu saja dengan senang bukan kepalang Kinanthi menerima ajakan tersebut. Meskipun kehidupan di kota Jakarta, masih benar-benar perawan untuk dijamah gadis belia semacam dirinya.
Kesuksesan fisik yang ditampilkan sahabatnya itulah yang membuatnya tergiur setengah mati. Bayangkan saja! Perempuan kampung mana yang tidak akan tergiur, jika melihat Anita itu yang dulunya dekil, kulitnya kusam, rambut jagungnya selalu dikucir ekor kuda, dan pakaiannya persis gembel ngesot di pasar Bangle, kawasan Sumberingin, Blitar.
Sekarang! Beh, jangan tanya! Baru tujuh bulan di Jakarta, wajah Anita jadi kinclong. Hingga beredar rumor, lalat saja nggak berani nempel, takut kepeleset katanya. Rambutnya yang dulu sering dikucir ekor kuda, kini lurus panjang tergerai. Anita—dia juga sudah bisa beli motor matic meskipun second.
Pemandangan semacam itulah yang membuat iman Kinanthi goyah, dan akhirnya dengan suka rela mengekor sahabatnya. Yang menurutnya itu juga sebuah kesempatan baik untuk merubah nasib keluarganya.
Anita menyarankan salah satu toko parfum lokal ternama, yang letaknya cuma berbeda lantai dengan tempatnya bekerja. Tentu saja Kinanthi menyambut semua saran tersebut dengan senang hati.
Berhubung persyaratan untuk mendaftar pun tidak terlalu rumit. Menurutnya ia memiliki beberapa kriteria yang dibutuhkan, meskipun kurang pada poin pengalaman. Kalau cuma soal pengalaman, ia pasti bisa belajar dan beradaptasi dengan baik tentunya. Begitulah janjinya pada diri sendiri.
Dan, sore itu menjelang berangkat kerja, seolah menjadi firasat kalau bakal terjadi sesuatu. Dengan sedikit tergesa ia meninggalkan kontrakan yang disewa berdua bersama sahabatnya. Sesampainya di pertigaan pertama ketika siap naik bus Transjakarta, ia baru menyadari kalau ID card kerjanya tertinggal.
“Sial! Dasar pelupa!” makinya menggerutu.
Seharusnya ia sadar, bukannya malah menggerutu. Jika Tuhan masih mau berbaik hati mengingatkannya. Coba apa jadinya, misalkan sudah sampai di tempat kerja, dan baru menyadari ID kerjanya tertinggal. Masih juga kurang bersyukur?
Langkahnya berbalik arah, bergegas pulang untuk mengambil ID card-nya. Ketika hendak membuka pintu, tiba-tiba seekor cicak kurang kerjaan, eh, tepatnya kurang ajar menjatuhkan diri di pipi mulus miliknya.
“Dasar cicak buntung! Bisa-bisanya mencari kesempatan,” gerutunya. Membuatnya semakin bertambah dongkol.
__ADS_1
Bagaimana nggak dongkol, padahal Kinanthi mendamba ciuman pertamanya dijamah oleh laki-laki yang dicintainya. Lah ini, malah disosor cicak yang membuatnya melonjak-lonjak. Bikin geli lagi. Membuat si cicak pun melompat lari karena tahu sang perawan tak menyukai kehadirannya.
Hal semacam itu dalam mitos orang Jawa sering disebut-sebut pamali atau bahasa kasarnya sial. Tetapi bagi Kinanthi, ia gadis belia yang tumbuh di zaman modern mana peduli.
••••
Kini, dipandanginya langit Jakarta. Di atas sana terlihat beberapa bintang membentuk konfigurasi kesukaannya, rasi bintang Aquila yang merupakan seekor elang pembawa petir Zeus dalam mitologi Yunani yang lamat-lamat mulai tertutup gumpalan awan besar. Mungkin saja sebentar lagi akan turun hujan. Maklum, musim pancaroba sedang terjadi.
Pergantian musim yang menyebabkan perubahan suhu dan kelembapan udara cukup ekstrem, hingga hawa dingin pun terasa menelusup pori-pori. Semakin dieratkannya jaket yang tengah dikenakan, kakinya kembali melangkah memasuki surganya mall para konglomerat tempat di mana ia sedang bekerja.
Netranya melirik sekilas jam tangan Relox imitasi melingkar di pergelangan. Tepat pukul 19.15. Dan itu artinya ia sudah terlambat lima belas menit.
Menyebalkan. Padahal ia sudah mati-matian menghafal rute perjalanan dari kontrakan. Namun, tetap saja tersesat ketika sudah memasuki kawasan mall elite itu sendiri.
“Gila. Manusia macam apa coba yang punya ide bikin mall seluas kampung.” Kinanthi lagi-lagi menggerutu, seiring langkahnya yang tergesa.
“Kenapa juga harus pakai lupa?” Bibirnya melontarkan kata-kata serupa gumaman.
Hatinya merasa semakin jengkel, mengingat ia masih dalam masa-masa uji kelayakan bekerja. Persis onderdil mobil saja yang juga harus lulus uji sebelum diedarkan. Mana bisa ia disamakan? Kinanthi itu perawan lugu, usia juga baru menginjak sembilan belas tahun tamatan SMA. Jiwanya sama sekali belum terkontaminasi peliknya urusan semesta.
Langkah kaki kian melebar, pikirannya terus menjalar kemana-mana. Bagaimana caranya cepat tiba dan tidak dimarahi si bos pemilik toko. Kalau sampai bosnya marah besar, terus ia dipecat, tamat sudah riwayat perjuangannya. Padahal ia belum menghasilkan apa-apa.
BRUK.
“Si—”
Semesta seolah sedang membercandainya. Tanpa sengaja ia menabrak seorang laki-laki berwajah tampan. Pokoknya super tampan yang nggak bakal capek dipandangi selama tujuh tanjakan. Membius pandangannya sekian detik. Umpatan yang hendak terlempar pun mengambang di udara. Laki-laki itu sedang menjinjing paper bag berukuran sedang.
Mana mungkin berbuat salah tak akan menimbulkan masalah? Kinanthi merasa bingung tak karuan. Lekas-lekas dipungutinya benda-benda pecah yang berserakan itu.
“Maaf. Benar-benar maaf, Tuan. Saya sungguh tidak sengaja.”
Kinanthi buru-buru meminta maaf sambil membungkukkan badan. Ia menyadari kalau sudah berbuat salah, seraya berniat menyerahkan pecahan barang-barang yang sudah dipungutinya tanpa berpikir itu masih berguna atau tidak.
Laki-laki tampan pemilik wajah blasteran tersebut melangkah mendekati Kinanthi. Berdiri tegap dengan aura kemarahan terpancar jelas dari caranya memandang. Sorot pandangan matanya terlihat melotot tajam. Dijambaknya rambut Kinanthi yang tergerai, sontak membuat gadis itu memekik kesakitan.
“Agrhh ....”
“Mata kamu di mana, hah? Nggak dipakai?” hardik laki-laki itu kasar, matanya semakin menukik tajam, menghujam kedalaman manik Kinanthi.
Membuat tubuh mungil kurang dari 157 cm itu bergeser mundur. Mencoba melepaskan jambakan pada rambutnya sekaligus menghindari tatapan penuh emosi yang terasa menembus ulu hatinya.
“Maafkan saya, Tuan! Saya sungguh tidak sengaja, tadi sedang terburu-buru,” jelasnya kembali.
Laki-laki itu tidak menghiraukan.
Tangannya justru semakin erat mencengkeram, memperlihatkan ketidak sukaannya dengan sikap Kinanthi yang sengaja menghindari pandangannya.
“Arghh! Sakit, Tuan!” Gadis belia itu semakin mengiba.
__ADS_1
Tetapi laki-laki kasar di hadapannya tak peduli. Berpaling ke kanan tanpa melepas jambakan, menoleh seseorang yang mungkin bawahannya, jika ditilik dari caranya berdiri sigap di belakang lelaki brengsek itu.
“Tan, cariin gunting!”
Setiap kalimat yang lolos dari bibir lelaki itu menandakan ia seorang pemimpin. Iya, pemimpin diktator. Kata-katanya menggema, berintonasi tegas terbiasa menyuruh.
Laki-laki yang dipanggil Tan, entah namanya Tantan atau malah Setan langsung mengangguk, “Siap, Bos.”
Langkah kaki terdengar berderap menjauh meninggalkan kerumunan sebentar kemudian lenyap, seiring tubuh yang menghilang pula di antara riuhnya kerumunan penonton. Maklum saja, Mega Mall merupakan surganya perbelanjaan bagi kaum konglomerat yang memiliki harta bejibun tak habis tujuh turunan kalau tidak digunakan. Dan kali ini ada tontonan gratis jarang terjadi.
Dalam sekejap, laki-laki yang tadi dipanggil Tan telah kembali sambil menyerahkan sebuah gunting yang terlihat mengkilat dan masih terbungkus rapi dalam vakum bag berwarna transparan.
Lelaki itu menerima gunting yang dimintanya dan menyobek bungkusnya dengan kasar.
“Gunting ini yang akan menelanjangi tubuhmu, menjadikan tontonan bagi mereka dan foto-foto seronokmu akan tersebar kemana-mana? Atau—” Lelaki itu menjeda kalimatnya, menghirup napas perlahan, kemudian mengembuskan kembali; pelan. “Atau ... kamu hanya perlu ganti rugi harga barang yang sudah hancur itu dua kali lipat.”
Nada bicara lelaki itu penuh tekanan, bagai dentuman ultimatum untuk Kinanthi. Dadanya berdetak kencang seiring irama terasa nyeri.
Dimain-mainkannya gunting di samping telinga Kinanthi. Tanpa peduli, di belakangnya ada berapa pasang mata yang tengah menyaksikan, mungkin saja bisa turut andil merusak reputasi si lelaki.
Anehnya, justru mereka yang berada di mall elite itu tak ada yang peduli, membuat Kinanthi tak habis berfikir. Masa iya, ada orang yang sedang membahayakan nyawanya dibiarkan begitu saja. Malah pak satpam juga ikutan jadi penonton di pojokan paling belakang. Seperti konspirasi gila saja.
Kinanthi semakin menunduk, bingung harus menjawab ucapan lelaki itu. Ia semakin tak berani menatap mata elang yang terus menatapnya intens, seperti hendak menjadikan tubuhnya sebagai santapan makan malam.
“Berapa harga yang harus saya ganti, Tuan?” tanya Kinanthi lirih memberanikan diri. Suaranya hampir tak terdengar.
“Gajimu sepuluh tahun kerja di sini, tak bakal cukup,” jawab lelaki itu dengan suara ketus.
“Hah?”
Wajah Kinanthi mendongak. Matanya membelalak.
“Kenapa, tak sanggup?”
Kinanthi kembali menunduk, air mata yang sedari tadi ditahan-tahannya akhirnya luruh sudah.
“Saya akan tetap berusaha menggantinya, Tuan?” Kinanthi terus berusaha meyakinkan.
“Sampai kapan? Sampai seorang Nabastala Narendra beruban? Ciuh,” ejek lelaki itu dengan pongahnya.
Kinanthi berfikir sejenak. Mereka-reka, apa yang sebaiknya ia lakukan.
“Saya siap menjadi budak Anda, Tuan,” kata Kinanthi akhirnya.
Hahakk ....
Tawa lelaki itu meledak seketika, begitu nyaring. Rasa-rasanya mampu merobek genderang telinga sesiapa yang tengah mendengarnya. Membuat Kinanthi semakin terhina, harga dirinya terinjak-injak.
“Memang kamu masih perawan?” tanya lelaki itu sambil menyipitkan matanya; menyelidik.
__ADS_1
Sebuah anggukan lemah sebagai jawaban, seiring air matanya yang semakin tumpah berderai.
Jakarta kota megapolitan tempat para pengadu nasib mencoba keberuntungan hidup. Namun, sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Kinanthi yang tersandung masalah akibat kecerobohannya sendiri. Dunia baru sedang menunggu ia singgahi.