
Bising deru kendaraan dan juga klakson mobil saling bersahutan, mendominasi setiap pendengaran yang sedang melintasi kawasan Mampang Prapatan, tepatnya di Jl. Kemang Raya. Padahal jam pulang kerja masih kisaran dua jam lagi. Namun, kemacetan sudah mengular sekitar satu kilometer panjangnya.
Berdasarkan pengamatan sementara, kemacetan terjadi di perempatan depan lampu merah McDonald's. Disinyalir akibat ulah para pengendara yang tidak bertanggung jawab memarkir sembarangan di badan jalan.
Kinanthi berada di antara salah satu mobil yang sedang terjebak kemacetan tersebut mulai merasa tak nyaman.
Namun, bagi Tuan Nabastala yang tengah duduk di belakang kemudi justru merasa sebaliknya. Ia menikmati kemacetan yang sedang dialaminya karena bisa berlama-lama duduk bersama Kinanthi tanpa ada yang mengganggu.
Alunan musik bergenre pop slow melantun dari audio yang terpasang di kabin kendaraan. Lirik lagu cinta selalu berhasil mencuri hati para pendengarnya seperti Tuan Nabastala salah satunya. Ia mengangguk-angguk sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya pada setir kendaraan yang tengah dipegangnya. Bibirnya ikut menyanyi mengikuti lirik lagu.
“Kuharap semua ini bukan sekedar harapan
Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan
Biarkan ‘ku menjaganya sampai berkerut
Dan putih rambutnya jadi saksi cintaku padanya
Tak main-main hatiku
Apa pun rintangannya kuingin bersama dia” lirik lagu pembuka yang berjudul ‘Kumau Dia’ dibawakan oleh vokalis ‘Andmesh’ yang memulai debut karirnya dari ajang pencarian bakat RS di salah satu stasiun televisi swasta.
Suara yang terdengar mengalun merdu membuat Tuan Nabastala semakin tenggelam dalam syahdunya aroma jatuh cinta.
“Tumben lagi ngebucin?” celetuk Kinanthi membuyarkan penghayatan lagu yang sedang didengarkan sang tuan.
“Emang kamu, nggak?” Tuan Nabastala balik bertanya tanpa ekspresi.
“Ditanya malah balik tanya. Dasar Kutu Kecoak,” umpat Kinanthi persis suara lebah mendengung.
“Lagi sakit gigi? Ngomong kek orang berkumur.”
Kinanthi melengos, memandang ke luar mobil. Di trotoar tak jauh dari mobil yang sedang dinaikinya, sepasang anak SMA; ditilik dari seragam yang tengah dikenakan berjalan beriringan, bergandengan tangan. Oh, so sweet!
“Ah, dasar bocah.” Lagi-lagi Kinanthi bergumam, “masih juga pakai seragam udah pacaran.”
“Emang kamu dulu nggak pernah pacaran?”
Tak ada jawaban dari bibir Kinanthi, ia lebih suka memandangi sang tuan yang mulai fokus melajukan kendaraan dengan pelan-pelan. Begitu tampan.
“Tuan, kita mau ke mana, sih?” tanya Kinanthi mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin terlibat lebih jauh membicarakan urusan perasaan yang belum tentu ada ujungnya.
“Cafe La Viyu.”
“La Viyu?” Kinanthi mengulang nama yang disebutkan sang tuan. Sepertinya nama itu pernah didengarnya, tetapi entah kapan persisnya. Ia tak mampu mengingat secara detail.
Hampir dua puluh menit keduanya terdiam, fokus dengan pandangan masing-masing. Kinanthi mengingat tugas yang telah diembankan untuknya. Ia menjadi pendamping Tuan Nabastala yang hendak menemui kedua sahabatnya--Ehzan dan Mahika.
“Ingat! Jangan banyak tingkah.” Kalimat yang terus terngiang di telinga Kinanthi. Membuatnya berusaha ekstra hati-hati. Seiring rasa was-was yang menyelubungi.
Seperti apakah kedua sosok sahabatnya itu?
••••
Di lantai sembilan, pada rooftop cafe La Viyu yang ternyata pernah dikunjungi Tuan Nabastala bersama Kinanthi beberapa waktu lalu. Ketika bertemu dengan yang katanya klien dan ternyata mantan pacarnya Tuan Nabastala sendiri. Pantas saja ketika sang tuan menyebutkan kata ‘La Viyu’ kedengarannya begitu familier.
Tuan Nabastala memilih tempat itu selain karena view-nya yang memang menarik, juga suasana santai bisa menghilangkan kepenatan di akhir pekan.
__ADS_1
Pertemuan yang mengharukan bagi sahabat yang lama tak bertemu. Keduanya saling berpelukan melepas rindu kemudian tertawa dengan renyahnya sambil bercanda.
“Kenalin, ini Kinan.” Tuan Nabastala memperkenalkan Kinanthi pada kedua sahabatnya.
“Hei, Kinan! Gue Mahika.”
Laki-laki bernama Mahika mengulurkan tangannya yang segera disambut uluran tangan Kinanthi. Keduanya berjabat tangan.
“Kinan,” sahut Kinanthi menyebut namanya.
“Ehzan.”
Sahabat Tuan Nabastala yang satunya menyebut nama dan berjabat tangan dengan Kinanthi.
“Kinan,” balas Kinanthi sambil tersenyum.
Sahabat Tuan Nabastala yang keduanya adalah cowok-cowok ganteng itu pun duduk di sebuah meja persegi panjang diikuti Tuan Nabastala dan Kinanthi pun menyusul.
Kini, di hadapan mereka terhidang beberapa jenis minuman yang dipilih sesuai selera masing-masing. Sang tuan dengan minuman dingin bersoda dan mango coconut smoothie sengaja dipesankan special untuk Kinanthi. Ehzan dan Mahika memilih memesan cocktail.
Dan yang lebih mengejutkan bagi Kinanthi, ternyata tempat di mana Tuan Nabastala tengah berbincang dengan kedua sahabatnya itu telah dikontrak dalam jangka panjang. Pantas saja dia bisa bebas keluar masuk cafe La Viyu sesuka hati.
Kinanthi tahu tentang hal itu dari dua pelayan yang sedang berkasak-kusuk sewaktu ia melintas di samping mereka sehabis dari toilet.
“Enak ya, jadi orang kaya itu, apa-apa bisa di beli. Bahkan waktu kita juga dibeli sama mereka.” Pelayan yang berambut pirang kecokelatan terdengar seperti sedang mengeluh.
“Hust! Jangan bilang begitu! Seharusnya kita merasa senang hati, sudah bisa kerja seperti ini. Belum tentu orang lain seberuntung kita.” Temannya menimpali. “Nanti kalau ada yang dengar bisa berbahaya,” imbuhnya lagi.
“Tapi emang kenyataan, ‘kan? Masa iya, cafe dikontrak cuma buat nongkrong. Kalau buat kerja itu hal umum. Gimana coba sama pasangannya, apa iya dikontrak juga?”
Keduanya tersenyum-senyum kegelian. Kehadiran Kinanthi yang hendak lewat langsung membuat mereka terdiam, terus bubar dari rumpian yang kurang bermutu itu.
“Bagaimana perkembangan Mega Proyek Ambisier yang tendernya lu menangin waktu itu?” Lelaki yang tadi memperkenalkan diri pada Kinanthi bernama Mahika memulai perbincangan. “Dengar-dengar sudah separuh jalan?” Dari raut wajahnya kentara begitu antusias menunggu jawaban.
“Ya begitulah, perkiraan rampung bulan September tahun depan,” jawab sang tuan sambil meneguk minuman dingin bersoda di hadapannya.
“Gila, bisa secepat itu?” Giliran sahabatnya bernama Ehzan yang terlihat lebih dewasa berkomentar.
“Semua berkat kalian. Hingga proyek itu bisa terlaksana dengan sangat baik. Tanpa kalian, siapalah gue.”
Kinanthi yang tak mengerti arah pembicaraan cuma mendengarkan saja.
Kalau diamati lebih jauh lagi, isi perbincangan mereka terlihat seperti kolega bisnis yang saling percaya terhadap satu sama lain. Bahkan di saat sesantai itu, yang dibahas masih juga berkaitan dengan pekerjaan.
Sedang asyik-asyiknya berbincang, seorang pelayan datang menghampiri. Berkata pelan di samping Ehzan yang baru saja berkomentar, “Tuan, pesanan Anda sudah datang.”
“Suruh dia menunggu.”
“Baik, Tuan. Saya permisi dulu.” Pelayan dengan pakaian serba minim itu pun berlalu.
Suasana mendadak lengang, saling pandang satu sama lain. Hingga Tuan Nabastala berseloroh memecah hening, “Kebiasaan lu nggak pernah berubah. Pantas aja ngajak ke sini, eh, ternyata—”
Mendengar hal itu, Mahika menyemburkan tawanya. “Buruan gih, samperin sana! Ntar ada yang nyamber kapok,” selorohnya.
“Sorry ya, Bro! Gue cabut dulu.” Dengan raut malu-malu Ehzan segera meninggalkan kedua sahabatnya
Anggukan kepala keduanya sebagai jawaban. “Hati-hati, jangan lupa pakai helm pengaman!” teriak Mahika.
__ADS_1
Tak didengarnya nasehat itu, karena langkah kaki yang terlanjur menjauh. Kinanthi terus memandangi kepergian Ehzan yang kemudian menghampiri seorang cewek.
“Anita,” panggil Kinanthi sambil berdiri. Penglihatannya tidak mungkin salah.
“Kinan, kamu kenapa?” Sang tuan merasa aneh melihat tingkah Kinanthi yang mulai terlihat norak.
“Kinan melihat Anita, Tuan.”
“Anita? Anita siapa?”
“Sahabat Kinan, perempuan yang waktu itu kebetulan ketemu di sini,” jelasnya.
“Jadi?” Kedua sahabat itu saling pandang.
“Jadi kenapa, Tuan?” Kinanthi memandangi keduanya bergantian.
••••
“Nggak mungkin, nggak mungkin.” Kinanthi terus-terusan tak percaya dengan penjelasan sang tuan.
“Terserah kamu, ya begitulah keadaannya.” Tuan Nabastala menyerah untuk menjelaskan lebih jauh lagi.
Ingatan Kinanthi kembali pada rekam jejak beberapa tahun silam, Anita yang dikenalnya adalah perempuan yang baik hati dan penyayang. Dia pula yang sudah menolongnya sewaktu kedua orang tuanya terjerat masalah lintah darat.
Anita ikut membantunya bekerja serabutan demi melunasi hutang beserta bunga si lintah darat yang kian hari semakin menjerat. Kinanthi juga ingat, ketika preman kampung yang datang menagih hutang melihat kemolekan tubuhnya, lantas bernegosiasi dengan kedua orang tuanya.
“Bocah ini keknya boleh juga jadi pengganti bayar hutang,” kata si preman sambil memegangi bulu jenggotnya yang tumbuh tak terawat.
Mendengar hal itu, Anita yang sedang berdiri di sampingnya menolak mentah-mentah. Apa pun yang akan terjadi Kinanthi tak boleh menyerah. Apalagi menyerahkan tubuhnya demi melunasi hutang kedua orang tuanya.
Namun sekarang, apa penjelasan dari penglihatannya itu?
“Tuan, boleh nggak Kinan tanya sesuatu?”
Tuan Nabastala memandang Kinanthi dengan kernyit di dahi.
“Aiyoh, boleh nggak?” tanya Kinanthi kembali memastikan.
Mahika yang duduk di seberang meja serta merta menyahut, “Kalau Nabas nggak mau jawab, tanya ke aku aja. Mungkin aku bisa bantu jawab.” Dengan kepala mengangguk-angguk, sebagai pertanda ia serius dengan kalimatnya.
“Tetapi—” Kinanthi ragu, tak melanjutkan kalimatnya.
“Mau pulang atau tetap membahas sahabatmu yang aneh itu?”
Kinanthi melongo mendapati kelakuan sang tuan yang selalu menjengkelkan. Terkadang baik, terkadang membuatnya bikin garuk-garuk kepala.
Setelah berpamitan pada Mahika yang masih ingin berlama-lama menikmati panorama indahnya semesta, Kinanthi berlari mengekor langkah tuannya.
Setibanya di lobi, matanya kembali tercengang dengan apa yang dilihatnya. Anita bergelayut manja pada tubuh lelaki yang baru saja berkenalan dengannya. Iya, lelaki itu Ehzan sahabat sang tuan.
“Jadi, cerita Tuan tentang Anita yang bisa dipakai itu nggak bohong?” tanyanya lirih seperti hendak bertanya pada dirinya sendiri.
“Noh, masih juga nggak percaya?”
Pandangan Tuan Nabastala menatap lurus ke arah Anita yang terus melenggok dengan kaki jenjangnya. Tangannya tetap bergelayut pada lelaki yang berjalan mensejajarinya.
“Jadi, waktu itu bukan kebetulan bertemu? Terus maksudnya pesanan?”
__ADS_1
“Kamu sudah cukup dewasa untuk menyimpulkan.”
Dunia memang selalu dengan kerahasiaan yang tak pernah bisa ditebak oleh siapa saja. Kinanthi yang selalu memuji-muji Anita kalau hidupnya lebih beruntung darinya, kini baru disadari hidupnya justru lebih beruntung darinya.