Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Dalam Kegamangan


__ADS_3

Batin Kinanthi terus meronta-ronta, atas perasaan yang semakin mengobrak-abrik seluruh penjuru hatinya. Diam-diam ia jatuh cinta pada tuannya sendiri. Disaat yang bersamaan ia tak ingin terjebak dalam kehidupan yang tengah dijalaninya. Terlebih dengan status keberadaannya yang cuma sekedar pion semata.


Ditimang-timang gantungan kunci yang diberikan sang tuan tadi siang. Bentuk separuh hati terlihat seperti sengaja dipatah secara paksa. Apa maksudnya? Dan taman itu, bukan seperti sifat Tuan Nabastala yang doyan menanam bunga, apalagi merawatnya. Atau semua itu ada hubungannya dengan si Luna mantannya itu?


Ah ... kenapa akhir-akhir ini permasalahan begitu demen menyambangi kehidupannya? Baru juga lepas dari Mayang yang begitu menyebalkan, sekarang datang permasalahan yang lebih pelik lagi.


Eh, tunggu dulu. Ngomongin soal Mayang, kapan dia kira-kira boleh pulang dari rumah sakit? Hampir-hampir Kinanthi lupa dengan jelmaan anak nenek sihir yang satu itu.


Kinanthi terus membolak-balik tubuh di atas kasur empuknya. Netranya enggan terpejam. Jarum jam beker di atas nakas menunjukkan pukul 11.30, sudah larut malam.


Rasa haus pun tiba-tiba menyerang tenggorokannya. Dan sialnya lagi, persediaan air minum di atas nakas pun tinggal sedikit dan sudah diteguknya beberapa jam yang lalu. Terpaksa ia menuruni anak tangga untuk mengambil air minum.


Suasana lantai bawah terlihat remang-remang, membuat bulu kuduk Kinanthi jadi berdiri.


“Argh ....” Tiba-tiba suara pekikan terdengar, membuyarkan konsentrasi langkahnya.


“Jangan-jangan itu suara maling.” Kinanthi mulai berpikiran yang bukan-bukan, “eh, tunggu dulu, ngapain maling memekik?”


BRAK!


Dentuman keras terdengar dari arah kamar nyonya. Ia bingung harus berbuat apa. Datang menolongnya, bisa-bisa ia terancam bahaya. Tidak menolong, bagaimana kalau nyonya tak terselamatkan. Kinanthi mengacak-acak rambutnya. Bingung.


Minta tolong bi Idah. Ah, jangan! Ia juga seorang perempuan, mana mungkin bisa mengatasi masalah kekerasan. Langkahnya berbalik arah segera menuju kamar Tuan Nabastala. Diketuknya pintu pelan-pelan. Mana mungkin terdengar. Ketukan kedua sedikit lebih keras.


Klik. Pintu terbuka. Kinanthi langsung nyelonong masuk tanpa menunggu diizinkan oleh tuannya.


“Tuan, Tuan!” Kinanthi gugup harus bagaimana mengawali ceritanya.


Tuan Nabastala melihat kepanikan dari tubuh Kinanthi yang bergetar. Diambilnya segelas air minum, dan meyodorkan pada Kinanthi, “Minum dulu gih, biar tenang,” kata sang Tuan.


“Terima kasih.”


Tangan kanan Kinanthi menerima gelas yang diberikan Tuan Nabastala, sedang tangan kirinya memberikan gelas kosong yang tadi dibawa dari kamarnya sendiri yang segera diterima lelaki gagah itu dan diletakkan di atas meja.


“Tuan! Tadi tanpa sengaja Kinan mendengar suara aneh dari kamar nyonya.” Kinanthi mulai bercerita, “seperti suara memekik kesakitan. Kinan takut nyonya kenapa-napa.”


“Hanya itu?”


Singkat tanggapan sang Tuan menunjukkan tanpa adanya kekhawatiran. Dasar orang nggak punya perasaan.


“Tuan nggak takut nyonya kenapa-napa?”


“Justru karena aku tahu dia sedang kenapa-napa, makanya aku nggak khawatir.”


“Tuan bisa bilang sesantai itu?”


“Kamu bilang itu urusan batin orang dewasa.”


“Hah. Tetapi ini berbeda, Tuan?”


“Apanya yang berbeda?”


“Sudah Kinan bilang, suara pekikan nyonya terdengar sangat keras.”

__ADS_1


“Ya ... mungkin saja sodokannya juga semakin keras.”


Wajah Kinanthi seketika memerah padam mendengar kalimat yang baru saja didengarnya. Otak tuannya itu sedang dijejali pikiran mesum.


“Nggak percaya?” tanya Tuan Nabastala kemudian, “kalau nggak percaya ayo kita buktikan sekarang!” imbuhnya.


Kinanthi tak bisa membayangkan jika ucapan sang tuan terbukti kebenarannya. Ia akan merasa malu tak tanggung-tanggung. Sebelum semua itu terjadi mending Kinanthi kembali ke kamarnya saja.


“Kalau begitu menurut Tuan, ada baiknya Kinan kembali ke kamar saja.”


“Nggak jadi mergokin mereka?”


Kinanthi tak bisa menghindari tatapan elang lelaki yang masih berdiri di hadapannya itu. Semua adonan rasa bercampur melebur jadi satu. Pahit, asam, asin, juga pedasnya sindiran membuat tubuhnya berdiri kaku. Ia kesulitan untuk beranjak.


“Malam ini kamu tidur di sini. Tak perlu memergoki mereka. Biar kuajari dari mana asal pekikan keras itu berasal.”


Terpancar seringai iblis dari wajah tampan dengan senyum mesra menyungging. Melihat gelagat tak beres itu Kinanthi melangkah mundur.


“Tuan mau ngapain?”


“Ngajarin kamu memekik.”


“Kinan nggak mau, Tuan!” Tubuh mungil itu meronta dari dekapan Tuan Nabastala yang telah meraih tubuhnya.


“Kalau begitu, aku ajarin kamu mendesah saja. Gimana?”


Ini bagaimana ya Tuhan, Kinan tak bisa mengelak lagi. Ia bersungut-sungut kesal atas apa yang tengah mengungkungnya. Berharap tiba-tiba ada malaikat tersesat yang datang menolongnya. Namun, sepertinya terasa mustahil.


“Kamu tahu? Pertemuan selalu melahirkan kebahagian-kebahagiaan yang tak terduga seperti ini misalnya.”


••••


Ranjang besar berukuran king size itu berderit-derit atas pergumulan hebat yang tak diinginkan Kinanthi. Ia terus mengelak, berontak. Namun, hampir saja kejantanan itu meraih liang surgawinya, Kinanthi meringis menggigit bibirnya. Tangis yang sedari tadi telah pecah kini semakin membuncah, suara sesenggukan terdengar gaduh.


“Tuan,” lirih Kinanthi disela-sela aktivitas sang Tuan menjelajahi lekuk tubuh mulusnya.


“Hem.”


“Tuan.” Kinanthi kembali memanggil.


Wajah penuh gairah itu merangsek, mensejajari wajah Kinanthi. “Kenapa?”


“Kinan nggak tahan, Tuan!”


“Tahan sebentar lagi, ya,” bisik sang Tuan sembari tangan nakalnya membelai-belai pipi Kinanthi.


“Bukan. Bukan itu maksud Kinan, Tuan.”


“Terus?”


“Kinan sudah nggak tahan, kebelet BAB.”


Gubrak. Seketika lenyap sudah gairah Tuan Nabastala yang telah meledak bagai dentuman trafo listrik kelebihan muatan beban. Sunggingan senyumnya jelas-jelas terlihat hambar.

__ADS_1


Reaksi yang tak biasa, mungkin semacam rasa muak dari raut wajah Tuan Nabastala langsung dimanfaatkan Kinanthi. Disambarnya selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. Ia bergegas ke luar, berlari menuju kamarnya sendiri.


Bibir Kinanthi melengkung lebar, merasa menang bisa dengan gampang mengecoh tuannya. Tetapi ia sendiri lupa kalau pakaiannya masih berserakan di kamar Tuan Nabastala. Dan, selimut yang tengah dipakainya?


Aiyah ... lagi-lagi Kinanthi telah berbuat ceroboh.


••••


Pukul 03.00 dini hari. Sebuah ketukan pintu membuat Kinanthi terjaga dari tidurnya. Siapa juga yang kurang kerjaan, begitu yang terlintas di pikirannya.


“Siapa?” tanyanya sebelum membuka pintu.


Karena hal itu termasuk tak biasa, dini hari ada yang mengetuk pintu kamarnya. Ia harus waspada.


“Buka!” perintah suara tak asing dari luar.


Kinanthi memutar anak kunci, meraih gagang pintu. Di luar sudah berdiri Tuan Nabastala dengan mengenakan piyama sedikit kedodoran.


Dasar Kinanthi, bibirnya langsung melengkung. Tawanya berderai.


“Kenapa? Lucu?”


“Lumayan,” jawab Kinanthi sambil menutup bibirnya. “Tuan ngapain ke sini?” tanyanya kemudian.


“Mau tidur sama kamu.”


“Ya ampun, Tuan! Nggak bisa ya, membiarkan Kinan sedikit bebas gitu?”


“Sepertinya saat ini nggak mungkin lagi. Nggak tahu kalau besok. Lagian Mayang lusa juga sudah pulang. Cucu nenek sihir itu pasti bakal mengganggu.” Keluhan yang terdengar nyata di telinga Kinanthi.


“Masuk. Tapi nggak boleh raba-raba Kinan lagi,” ingatnya sambil mencebik.


Anggukan kepala sebagai tanda persetujuan. Kedua insan itu terlelap dalam seranjang. Menghabiskan sisa waktu istirahatnya di balik selimut masing-masing tanpa adegan apa pun.


Jam beker yang biasa membangunkan Kinanthi jam 06.00 pagi, tak diindahkan. Hingga mentari menerobos ventilasi kamar, keduanya masih terbuai dalam mimpi-mimpi.


Jam tujuh lebih sekian menit, Tuan Nabastala terbangun. Didapati gadis mungil di sampingnya masih bergelung dalam selimut tebalnya. Wajah poloh penuh kedamaian terhampar di sana.


“Pagi Kinan!” sapa Tuan Nabastala ketika melihat Kinanthi tengah menggeliat.


“Ehm, pagi juga.”


Gadis itu kembali memejam. Dirasakannya kecupan lembut mendarat di keningnya. Kecupan yang selalu mendebarkan dada Kinanthi.


“Cepetan bangun, gih. Nanti keduluan bi Idah yang masuk kamar aku,” ingat tuannya.


Bagai menghindari ledakan bom yang siap menghancurkan tubuhnya menjadi berkeping-keping, Kinanthi langsung melesat. Membuka pintu dengan kasar dan membantingnya.


Sesampainya di kamar Tuan Nabastala, ruang kamar sudah tertata rapi. Ranjangnya sudah berganti seprai. Begitu pun dengan lantainya, sudah kinclong. Segesit itukah tangan bi Idah?


“Ngapain bengong di situ?” tanya bi Idah yang keluar dari kamar mandi.


Bibir Kinanthi jadi tergagap, otaknya bekerja keras untuk menemukan kalimat yang tepat harus menjawab apa. Pasti bi Idah sudah berpikiran macam-macam sekarang tentangnya. Apalagi pakaiannya yang berserakan di kamar Tuan Nabastala bisa jadi bukti konkret dugaan bi Idah. Sehingga Kinanthi tak bisa menyanggah lagi.

__ADS_1


Ih ....


Dasar Tuan Nabastala!


__ADS_2