
“*Atau, kamu memang sengaja mencelakai, Mayang?” tanya Tuan Nabastala tiba-tiba.
“Apa? Tuan masih waras*?”
Pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di telinga Kinanthi sepanjang hari. Ia tak menyangka jika tuannya akan berprasangka sekejam itu, apalagi tanpa bukti. Lagian tujuannya apa coba, sampai punya niatan super gendeng semacam itu terhadap Mayang? Sungguh keterlaluan!
Mana mungkin gadis imut sepertinya punya nyali berniat jahat mencelakai. Bahkan membunuh kecoak nakal yang berkeliaran di lantai dapur mencuri sisa-sisa makanan saja ia tak berani.
Tuan Nabastala memang tak berperikemanusiaan tega-teganya menuduhnya begitu. Untung saja Kinanthi sudah hafal plus minus dari sifat sang tuan, jadi ya ... sudahlah. Anggap saja pertanyaannya itu dengungan lebah tersesat.
Dengan berbesar hati Kinanthi memaafkan. Meski tak berarti sifat berbesar hatinya itu akan disambut baik oleh orang lain.
Hampir seharian pasca operasi, Mayang belum juga siuman. Ia masih tergolek di atas ranjang pada sebuah ruangan khusus. Sesuai prosedur penanganan rumah sakit tidak ada yang boleh memasuki ruangan tersebut, terkecuali dokter dan perawat khusus yang menangani.
Pihak keluarga hanya bisa menempelkan mukanya mengintip melalui kaca bening pada dinding untuk melihat pasien. Di depan ruangan, Kinanthi berjalan mondar-mandir. Ia hanya seorang diri.
Tuan Nabastala dan nyonya sudah pulang semenjak operasi selesai. Sedangkan pak Herman entah ke mana. Kinanthi tak berani bertanya ini itu. Ia tahu pikiran pak Herman sedang kacau, jadi ia memilih diam saja.
“Kinan!”
Kehadiran pak Herman yang entah sejak kapan tak disadari Kinanthi, laki-laki bergestur tegap itu sudah berdiri di belakangnya dengan wajah begitu masai. Di tangannya menggenggam dua botol air mineral.
“Ee.”
Sebotol air mineral disodorkan ke arahnya.
“Terima kasih, Pak.”
Tanpa menjawab, tanpa pula anggukan kepala sebagai isyarat jawaban ‘iya’, pak Herman hanya diam dengan wajah kusutnya ditekuk. Seorang ayah yang cemas, takut kehilangan cahaya hidupnya.
“Sebaiknya Bapak duduk saja,” saran Kinanthi dengan suara lembutnya.
Dibimbing tangan pak Herman menuju tempat duduk di samping tembok, tak ada penolakan. Kinanthi pun turut serta duduk di sampingnya.
Beberapa saat keduanya tenggelam dalam keheningan. Sesekali terdengar embusan napas pak Herman begitu berat penuh tekanan muatan batin.
“Maafkan Kinan, Pak,” lirih Kinanthi memecah sunyi.
“Soal maaf memaafkan bukan hal penting lagi, Kinan. Yang terpenting sekarang Mayang lekas siuman.”
Kinanthi mengerti, meminta pak Herman memaafkannya bukanlah hal mudah. Namun, ia harus menjelaskan kalau dirinya sungguh tak bermaksud mencelakai Mayang. Tapi bagaimana caranya?
“Boleh Kinan tanya sesuatu, Pak?” Dengan penuh kehati-hatian Kinan hendak bertanya.
“Apa?”
“Bapak tahu kalau Mayang sedang hamil?”
Pak Herman memandang lekat Kinanthi. Wajahnya memerah padam menahan amarah, kedua tangannya terlihat mengepal.
“Maafkan, Kinan. Tidak seharusnya bertanya seperti itu.”
Lagi-lagi Kinanthi meminta maaf, ia takut setengah mati melihat perubahan sikap pada diri pak Herman yang terus mengepalkan tinjunya erat dengan gigi gemeletuk. Kinanthi kembali menahan diri, dan syukurnya dari arah pintu segera keluar seorang perawat seusia Mayang, buru-buru Kinanthi menghampiri.
“Apakah pasien sudah siuman?” tanyanya sopan.
“Oh, maaf.” Sang perawat tersenyum, “kami lupa memberitahu, bahwa pasien sudah siuman kira-kira sepuluh menit yang lalu.”
Mendengar hal itu perasaan Kinanthi lega seketika. Pandangannya beradu dengan tatapan netra pak Herman yang tadi ikut menghampiri perawat yang menjaga Mayang dengan tersenyum. Mayang pasti akan cepat sembuh, doa Kinanthi dalam hati.
“Terus bagaimana kondisi putri saya sekarang, Sus?” Pak Herman menimpali.
“Sudah lebih baik, sebentar lagi akan di pindah ke ruang rawat.”
“Terima kasih, Sus.” Kinanthi dan pak Herman berucap bersamaan.
“Baik. Kalau begitu permisi dulu.”
__ADS_1
Kami memandangi punggung sang perawat yang semakin menjauh. Amarah pak Herman sepertinya telah mereda.
“Tuan dan nyonya mereka harus segera tahu kabar ini,” gumam Kinanthi, “ah ... tapi sayang.” Ia mengerucutkan bibirnya pertanda kecewa.
“Kenapa?”
Pak Herman yang melihat perubahan mimik muka Kinanthi tentu saja merasa heran. Aneh itu bocah. Sudah ngedumel sendiri tiba-tiba manyun begitu saja.
“Kinanthi nggak bawa ponsel.”
“Ponsel kamu ke mana?”
“Lah, Bapak ini! Ponsel Kinan ‘kan Bapak sita,” gerundel Kinanthi.
“Kan sudah dibeliin yang baru sama Tuan?”
“Mana berani Kinan pakai.”
Pak Herman hampir saja tawanya meledak, kalau tidak segera ingat putrinya sedang tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit.
“Kamu itu bodoh atau apa sih?”
Kinanthi tak menjawab, ia memilih menjauh dari pak Herman kembali duduk pada bangku tunggu. Kenapa semua orang di sekelilingnya selalu bilang ia bodoh. Apa memang dirinya sebodoh itu? Sebenarnya ia tak merasa kalau begitu bodoh. Hanya saja, terkadang ia memang seperti yang orang-orang katakan.
••••
Kinanthi menghempaskan pantatnya pada kursi ruang makan. Ia duduk di hadapan bi Idah yang tengah membereskan piring-piring kotor bekas makan malam.
“Kok sepi, Bi? Mereka pada ke mana?”
Tak menjawab, bibi cuma menggeleng sambil mengakat piring-piring kotor. Aneh, pikir Kinanthi.
Segera ia bergegas menuju kamarnya di lantai atas. Menanjaki anak tangga satu per satu sambil menghitung. Sengaja ia lakukan demi menghalau kepenatan pikiran yang tengah menderanya. Setibanya di depan kamar, dilihat pintunya sedang terbuka. Aneh.
“Siapa yang tengah berada di dalam?” pikirnya segera berlari masuk.
Tak menyangka sang tuan tengah berada di dalam kamar, ia sedang duduk di pinggiran ranjang berseprai motif bunga-bunga mawar warna pink kesukaannya. Tuan Nabastala terlihat murung.
“Kok sudah pulang?” tanya sang tuan pelan.
“Lah, tadi yang nyuruh Kinan pulang juga siapa? Dibela-belain ngirim supir buat jemput segala,” gerutu Kinanthi.
“Maksudnya, kok cepat banget sampai di rumah, Non Kinan! Paham?”
“Hah?”
Kinanthi sengaja menggacak-acak rambutnya, menahan rasa malu yang sudah nggak ketulungan lagi. Ingin rasanya segera berlari menjauh, tetapi kakinya terasa berat untuk melangkah.
“Gimana keadaan, Mayang?”
Segera disadari sang tuan atas kecanggungan yang tengah dirasakan Kinanthi, maka ia pun mencoba mengalihkan obrolan.
“Tadi sudah siuman, terus kata dokter, belum boleh diajak berbicara terlalu lama. Jadi ... Kinan belum melihat keadaan Mayang, karena pak Herman tidak mengizinkan.”
“Oh.”
Sebuah jawaban yang meluncur dengan mudahnya membentuk bulatan pada bibir, terdengar paling menyebalkan bagi kaum wanita seperti Kinanthi. Sudah panjang kali lebar sama dengan luasnya samudera cinta salah satu sinetron di televisi swasta, ia menjelaskan. Dan tanggapan yang diberikan cuma ‘oh’. Oh my God!
“Nggak capek apa berdiri terus?” ledek sang tuan.
Oh Tuhan, ingin rasanya Kinanthi menenggelamkan lelaki yang sedang duduk di hadapannya itu ke dalam bak mandi, biar dia megap-megap kayak ikan kekurangan napas. Sepertinya ‘kan seru? Memikirkan hal itu tiba-tiba bibir Kinanthi melengkung dengan sendirinya.
“Kenapa senyam-senyum?”
“Kinan capek mau mandi dulu.” Tentu saja Kinanthi sedang berbohong. Mana mungkin berani jujur. Bisa-bisa ia dicincang dijadiin perkedel goreng.
“Jangan lama-lama!”
__ADS_1
“Tuan mau nungguin di sini?”
Sebagai pemilik rumah, Tuan Nabastala tentu saja punya hak untuk melakukan hal-hal yang dikehendakinya tanpa persetujuaan siapa pun. Termasuk menunggu Kinanthi sedang mandi.
“Gila,” gumam Kinanthi sebelum masuk ke kamar mandi.
••••
Hampir satu jam Kinanthi berendam dalam bathtub. Tak dipedulikannya gedoran pada pintu yang dilakukan sang tuan berkali-kali. Terakhir kali gedoran pintu kamar mandi didengarnya sekitar lima menit yang lalu.
“Tuan keluar sebentar, biarin Kinan ganti baju, kalau nggak—”
“Nggak apa?”
“Kinan nggak bakal ke luar.”
“Cepetan!”
“Lima menit lagi.”
Dan, lima menit pun berlalu. Kini dilihatnya sang tuan sedang berdiri di luar kamar berkacak pinggang memunggungi pintu. Tawa Kinanthi pecah, ia terpingkal-pingkal. Baru kali ini melihat sang tuan bisa berbuat segemes itu.
“Sebenarnya ada apa sih, Tuan?” tanya Kinanthi disela-sela tawanya.
Namanya juga sang tuan, tentu saja suka berbuat sekehendak hati. “Masuk,” perintahnya.
Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Kinanthi pun menurut saja. Juga ketika sang tuan menyuruhnya menutup pintu, lagi-lagi menurut.
“Duduk, gih!”
“Tuan, ada apa sih? Kelakuan Tuan aneh, deh.”
“Duduk!” ulangnya keras.
Kinanthi tak lagi membantah, ia pun duduk di tepi ranjang. Sementara sang tuan berdiri memandanginya, membuat jengah.
“Kinan.”
Indra pendengaran Kinanthi menangkap frekuensi suara yang berbeda, pasti ada maksud tersembunyi dibaliknya.
“Maafkan aku, Kinan.” Kalimat itu meluncur bebas dari bibir sang Tuan Nabastala. Hampir-hampir Kinanthi tak mempercayai pendengarannya.
Ia mendongak. Pandangan Kinanthi beradu, saling menelisik mencari sesuatu di antara telaga manik masing-masing. “Tuan meminta maaf? Untuk apa coba?”
Tangan Tuan Nabastala meraih kursi puff berbentuk bundar warna pink dengan diameter 40 cm dari kolong meja rias, kemudian mendudukinya tepat di hadapan Kinanthi.
“Bibi sudah menceritakan semuanya.” Tuan Nabastala mulai bercerita.
Kinanthi terkesima dengan setiap gerakan bibir Tuan Nabastala. Ia memang tak begitu fokus mendengarkan penjelasan. Namun, intinya ia paham, kalau Mayang telah sengaja menumpahkan cairan shampo di lantai samping bathtub. Bisa diduga agar lantainya menjadi licin dan bisa membuat Kinanthi terpeleset hingga jatuh sewaktu hendak mandi. Cara klise mencelakai seseorang.
Dan juga tentang kehamilan Mayang, Kinanthi percaya jika tuannya benar-benar tidak mengetahui sebelumnya.
“Jadi?” Kinanthi sengaja memotong penjelasan yang diutarakan.
“Maaf, sudah berburuk sangka terhadapmu.”
“Kinan sudah kenyang,” jawab Kinanthi enteng.
“Maksudnya?”
“Kenyang diperlakukan seperti itu.”
Setiap orang memang bisa saja dengan mudah percaya pada apa yang sedang dilihatnya, meski pada kenyataannya tak seperti yang sedang terlihat. Sebuah kesalahpahaman sering bermula.
Kinanthi melangkah meninggalkan kamar, ia berencana tidur di mana saja. Selama matanya yang sudah ngantuk berat itu segera terpejam. Ia tak ingin berpura-pura lagi menahan serangan kantuknya. Tak peduli sang tuan yang memicingkan mata memandanginya dengan sejuta tanya.
BRAK!
__ADS_1
Pintu ditutupnya dengan keras sebagai pelampiasan kecewa yang mendalam. Iya, Kinanthi merasa kecewa terhadap Tuan Nabastala yang tidak mempercayai omongannya.