Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Setitik Rahasia


__ADS_3

“Satu-satunya hal yang dapat begitu cepat berlalu adalah waktu.” Sebuah quote, entah siapa yang telah menulisnya. Namun, bagi Kinanthi quote itu seperti lecutan semangat untuk hari-hari yang ia lalui di rumah Tuan Nabastala.


Kali ini ada yang berbeda, tiba-tiba hatinya mendadak sunyi di antara ingar semesta kala senja tenggelam berganti malam. Meski sebenarnya rasa gelisah tengah terkapar tak berdaya karena peliknya sebuah kebohongan.


Di ruang keluarga, sambil menikmati tontonan televisi Tuan Nabastala tengah duduk berhadapan dengan mamanya. Mereka terus berdebat tanpa henti sejak makan malam. Bahkan Kinanthi pun dibawa-bawa serta dalam perdebatan.


Sedang Kinanthi sendiri masih berkutat dengan urusan dapurnya. Namun, telinganya terlalu penurut untuk diajak berkompromi. Percakapan mereka mampu didengarnya dengan begitu detail, tanpa perlu takut ketahuan mereka yang terus beradu argumen tanpa mau mengalah.


“Please, Nabas. Sekali ini saja kamu dengerin perkataan, Mama.”


“Ma, perasaan itu tak bisa dipaksakan.”


“Nabas, cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.”


“Ma, Nabas itu nggak suka dipaksa-paksa, apalagi dijodoh-jadohin sama Mayang.”


“Mayang itu kurang apa, Nabas? Dia sudah cantik, baik, berpendidikan pula. Kurang apa coba?”


“Kurang makan buah, Nyonya.” Kinanthi nyeletuk sambil menyodorkan sepiring buah-buahan segar yang sudah dikupas. Berharap kehadirannya mampu menghentikan perdebatan mereka.


Tuan Nabastala langsung mencomot potongan buah apel dan mengunyahnya. “Mm ... manis. Manis kayak kamu.” Dikedip-kedipkannya netra sang tuan ke arah Kinanthi.


Kinanthi hanya menanggapinya dengan tersenyum geli. Sekilas pandangannya melirik nyonya yang memperlihatkan rona wajah mulai tampak keruh. Sebagai pertanda tak menyukai kehadiran Kinanthi.


“Sayang! Sini, duduk.” Tangan Tuan Nabastala menepuk-nepuk sofa yang ada di sampingnya.


Kinanthi menggeleng dan hendak beranjak.


“Ish. Mau ke mana sih, Sayang?”


Tangan kekar itu lebih cekatan meraih pergelangan tangan Kinanthi, dan membimbingnya duduk di sampingnya. Seperti layaknya sepasang kekasih.


Menyaksikan hal itu, tentu saja nyonya menjadi semakin marah. Diambilnya potongan buah nanas, diloloskan lemparannya ke wajah Kinanthi.


Melihat gelagat tak beres itu, tangan Tuan Nabastala langsung sigap menangkap lemparan mamanya.


“Ah, Ma! Ngapain juga dilempar-lemparin. Dimakan kek gini kan lebih enak.” Tangkapan potongan buah nanas langsung masuk ke dalam mulut. “Hap. Emm.”


“Nabas,” teriak mamanya murka. “Kinanthi itu cuma pembantu.”


“Ma, yang penting kan Nabasnya suka sama Kinan, Ma,” jawabnya tegas.


“Kamu itu ya, kalau dibilangin selalu saja ngeyel. Mama menyesal balik ke Jakarta.”


“Nabas kan juga nggak nyuruh Mama balik, lagian Nabas sudah terbiasa hidup sendirian, Ma.”


“Heh. Kamu itu sekarang berani banget membantah Mama. Pasti gara-gara perempuan kampungan itu.”


Kinanthi menunduk, pandangannya menghindari telunjuk nyonya yang mengarah ke wajahnya. Ia tahu diri ngapain juga harus terpancing emosi, kan, ia cuma pacar bohongan Tuan Nabastala.


Ia benar-benar gadis yang polos. Masa iya, bisa-bisanya di tengah arena kemarahan anak dan mamanya itu senyumnya mengembang begitu saja.

__ADS_1


“Tuh, lihat! Perempuan yang kamu bilang cinta itu sudah sinting.” Telunjuk nyonya lagi-lagi mengarah ke wajah Kinanthi. “Orang dimarahi malah senyam-senyum sendiri. Kalau bukan sinting apa namanya?”


“Ma, apaan, sih? bentak Tuan Nabastala keras.


“Nabas. Kamu, ya! Huh.”


PRANG ....


Piring berisi buah-buahan di atas meja kaca bergeser cepat oleh libasan tangan mamanya, pecah berkeping-keping seiring isinya yang berhamburan. Tubuh perempuan paruh baya yang masih menyisakan kecantikan semasa mudanya itu beringsut meninggalkan kami berdua.


Tentu saja Kinanthi terkejut. Kedua telapak tangan refleks menutupi telinganya. Tak disangka-sangka kalau mamanya Tuan Nabastala akan semarah itu.


“Kamu nggak apa-apa?”


Pandangan kami beradu, Kinanthi memandangi wajah tuannya dengan tatapan intens, di dalam manik kehitaman itu ia merasakan ada sebuah kecemasan yang tersimpan untuknya.


“Terima kasih, Tuan.”


“Untuk apa”


“Terima kasih, Tuan begitu peduli terhadap saya.” Kinanthi menunduk, kemudian berdiri untuk segera membersihkan lantai.


“Sini aku bantuin.”


“Tidak perlu, Tuan.”


“Biar drama kita terlihat semakin sempurna.” Seiring senyum melengkung di bibir Tuan Nabastala.


“Tuan kok jahat banget sih sama nyonya?”


“Ini bukan jahat Kinan, ini tegas namanya.”


“Tegas?”


“Mm. Suatu hari nanti kamu akan mengerti maksudnya.”


“Tapi Tuan, kasar terhadap orang tua itu sebuah tindakan yang tidak baik.”


••••


Di kamar mewah milik Tuan Nabastala, kini Kinanthi tengah berdiri. Sang tuan sedang duduk bersandar di sofa bermodel klasik yang memiliki ukuran besar dengan rangka kokoh dan ujung lengannya menggulung.


“Kinan, duduk.” Suara sang tuan memecah hening.


Kinanthi bergeming.


“Kinan,” panggil sang tuan lagi.


“Tidak, Tuan. Biar Kinan berdiri saja.” Tolaknya halus.


Keheningan kembali menguasai keadaan. Masing-masing tengah sibuk dengan alam pikiran yang berbeda.

__ADS_1


Tok ... tok.


“Tuan.” Pak Herman masuk begitu saja sebelum diizinkan, karena pintunya memang sedang terbuka.


Tuan Nabastala mengangguk-angguk tanda mengerti apa yang dibisikkan pak Herman. “Ehm. Paham. Kalau begitu segera jemput dia.”


Pak Herman pun mengangguk hormat tanda mengerti perintah sang tuan, kemudian ia berjalan meninggalkan kamar.


Dalam batin, Kinanthi penasaran dengan apa yang baru saja mereka bicarakan. Tetapi ia tak memiliki kuasa untuk bertanya, maka ia pun menahan diri untuk tak bertanya.


“Kinan, tolong ambilkan minuman dingin. Rasanya haus banget.”


“Baik, Tuan.”


Kinanthi segera mengundurkan diri, untuk mengambil minuman yang dipesan sang tuan. Baru juga ia menapaki lima hingga enam anak tangga, dilihatnya pak Herman terburu-buru memasuki kamar tamu.


Aneh. Tak biasanya pak Herman berbuat seperti itu, begitu pikir Kinanthi. Ah ... itu mah bukan urusannya. Ia terus menapaki anak tangga tanpa menghiraukan apa yang baru saja dilihatnya.


Sewaktu langkah kakinya hendak berbelok menuju dapur, telinganya menangkap kejanggalan dari arah kamar tamu tersebut. Terdengar suara yang begitu berisik. Tentu saja, gejolak jiwa muda Kinanthi mulai berontak; penasaran. Maka ia pun memutuskan untuk menguping. Langkahnya berjingkat-jingkat, mengendap-endap seperti maling di siang bolong, pendengarannya semakin dipertajam.


“Pelan-pelan saja, Herman. Nggak perlu terburu-buru.”


Alis Kinanthi bertaut. Bukankah itu suara nyonya? Ngapain mereka? Ditempelkannya telinga Kinanthi lekat-lekat pada pintu.


“Ah, kamu masih tetap seperti dulu. Meski usiamu mulai senja, tapi inimu tak berubah. Tetap kenyal.”


“Kamu itu memuji apa menghina. Mulai senja, katamu?”


“Ayolah, jangan marah napa. Jarang-jarang kita punya kesempatan seperti ini. Sekarang kita tak bisa leluasa seperti dulu lagi, Nabas sudah dewasa.”


“Iya juga, sih.”


Rasa penasaran semakin merasuki pikiran Kinanthi. Pak Herman dan nyonya, mereka sedang ngapain? Jangan-jangan— Kinanthi langsung membekap mulutnya. Jangan sampai ia mengeluarkan suara.


Semenit kemudian keadaan lengang. Kinanthi hendak beranjak. Takut juga kalau nanti mereka memergokinya. Atau Tuan Nabastala berteriak-teriak memanggilnya.


Baru selangkah kaki Kinanthi bergerak, suara percakapan mereka kembali terdengar.


“Kamu yang atas.” Samar-samar suara pak Herman terdengar.


“Nggak mau ah, kalau di atas kurang bisa menikmati,” jawaban nyonya terdengar lebih jelas.


Apa-apaan ini, bisik Kinanthi dalam hati. Mereka mau ngapain coba? Main kuda-kudaan?


Suara berisik kembali terdengar. Kali ini justru kaki meja yang berderit-derit seperti terkena dorongan. Semakin lama semakin kencang dan terus berulang.


Bulu kuduk Kinanthi terasa meremang. Ada perasaan geli menghinggapi pikirannya. “Ah ... pelan-pelan.” Suara nyonya kembali terdengar seiring desahannya yang liar.


Kinanthi mangut-mangut pertanda mengerti. Ia sudah cukup dewasa untuk memahami situasi yang sedang terjadi. Buru-buru menjauh, meninggalkan setitik rahasia yang tak seharusnya ia ketahui.


Tidak selamanya rahasia itu bisa disebut rahasia, ketika sepasang telinga telah mendengarnya. Tidak peduli, meskipun telinga itu cuma kebetulan mendengarnya.

__ADS_1


Dan, bersyukurlah ketika Sang Maha Kuasa dengan segala kuasanya menjadikan mata terbatas jarak pandangnya, juga telinga terbatas jarak tempuh pendengarannya. Begitulah salah satu cara Ia menjaga aib makhluknya.


__ADS_2