Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Jejak Tertinggal


__ADS_3

Suasana rumah kembali lengang, setelah semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Tuan Nabastala pergi entah ke mana. Ke kantornya, mungkin. Dan nyonya pun kembali membenamkan diri berkutat di dalam kamarnya.


Kinanthi sibuk membersihkan kamar tamu yang akan ditempati Mayang kembali. Katanya Tuan, dia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, karena kondisinya sudah semakin membaik. Sengaja ia mengganti seprai dengan yang bersih, supaya Mayang merasa betah dan nyaman ketika menempatinya.


Sementara bi Idah berada di tempat menjemur cucian yang baru diangkatnya dari mesin cuci. Wajah perempuan dengan tubuh sedikit tambun itu terheran-heran mendapati baju perempuan dicuci bercampur milik tuannya yang tak biasanya. Entah punya siapa.


“Celana dalam,” gumam bi Idah sambil mengangkatnya, kemudian digantung menggunakan jemuran khusus untuk pakaian dalam.


“Lah, ini ‘kan baju yang sering dipakai Kinan. Terus itu celana dalam juga—?” Bi Idah geleng-geleng kepala, merasa tak percaya dengan penglihatannya.


“Pantas saja, tadi pagi sewaktu mau membersihkan kamar Tuan tak ada pakaian kotor yang berserakan, seprai pun tinggal menggantinya. Sedangkan seprai kotornya sudah teronggok di samping mesin cuci. Pasti semua itu ulah Kinanthi yang selalu berantakan kalau bekerja.” Bi Idah terus menduga-duga. Dengan tangan cekatan bekerja.


Sehabis menjemur pakaian bi Idah pun buru-buru mencari Kinanthi. Meminta penjelasan apa yang sebenarnya sudah dia lakukan. “Kinan,” panggilnya dari ambang pintu.


“Kenapa, Bi?” jawab Kinanthi santai.


Beberapa detik berlalu, tak ada jawaban dari bi Idah. Memaksa Kinanthi menoleh pada perempuan baik hati yang terkadang cerewet itu. Dia masih berdiri mematung pada posisinya.


Kinanthi meletakkan lap kotor yang sedang digunakan untuk membersihkan meja rias. Segera menghampiri perempuan yang terus memandanginya itu. “Emang kenapa, Bi?” ulang Kinanthi.


“Kamu sekarang kok sembarangan, sih?”


Bi Idah penuh selidik mengamati perubahan raut Kinanthi yang terkejut dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.


“Maksud bibi apa?” Kinanthi berusaha memahami.


“Celana dalam warna pink bergambar Hello Kitty di bagian belakang itu punya kamu, ‘kan?”


“Kok, bibi bisa tahu?”


“Tuh, kan benar. Kamu ceroboh banget sekarang.”

__ADS_1


“Bentar deh, Bi! Maksudnya gimana sih? Bibi ngomongnya yang jelas.”


“Siapa yang nyuruh kamu meletakkan pakaian kotor milik kamu ke mesin cuci bareng cucian kepunyaan, Tuan?”


“Kinan nggak melakukan semua itu.” Kinanthi mengelak.


“Terus kamu pikir Tuan sendiri yang melakukan?” Bi Idah menatap garang.


Kinanthi terdiam beberapa saat tak menjawab. Memang bisa saja semua itu Tuan Nabastala sendiri yang melakukannya.


Masih diingat dengan jelas kejadian semalam di kamar Tuan Nabastala. Ketika seluruh pakaiannya lolos dilucuti dan berserakan di lantai. Hingga keduanya bergumul dikendalikan hawa nafsu yang sesat. Hampir-hampir mahkota kesucian Kinanthi terenggut sudah, seandainya ia tak lekas menemukan cara untuk meloloskan diri.


Dan semua pakaiannya yang terlucuti tak sempat ia punguti karena takut aktingnya keburu ketahuan.


Dan sekarang, bagaimana Kinanthi harus menjelaskan kepada bi Idah?


Tidak adakah cara untuk ia kabur dari prasangka yang menjengkelkan itu?


“Bi, bisakah hal ini nggak dibahas sekarang? Kinan masih sibuk banget, nih. Dan mungkin saja sebentar lagi Mayang segera sampai.”


“Alasan.”


“Ya elah, Bi! Nggak percaya amat sama Kinan?”


Meski usia bi Idah tak lagi muda, tetapi ia masih mewarisi keterampilan tangan yang benar-benar gesit. Tak butuh waktu sepuluh menit, kamar Mayang sudah disulap bagai kamar hotel yang nyaman. Semua sudah beres tertata rapi.


“Masih mau alasan lagi?”


Kinanthi hanya menunduk, apa ia harus bercerita tentang semuanya? Rahasia sudah tak bisa disebut rahasia lagi ketika sepasang telinga lain telah mendengarnya. Ia takut kenyamanannya di rumah Tuan Nabastala akan terenggut jika aibnya diketahui orang lain..


“Bi, maafkan Kinan. Kinan belum bisa bercerita sekarang,” ungkap Kinanthi hendak beranjak.

__ADS_1


“Sebentar.”


“Apa lagi, Bi?”


“Kamu semalam tidur sama, Tuan?”


Pipi Kinanthi mendadak merona dan hal itu sudah mewakili jawaban pertanyaan yang baru saja diajukan bi Idah.


“Jadi benar, kalian semalem sudah begituan?” tanya Bi Idah semakin bersemangat. “Pantas saja, pagi-pagi bibi lihat seprai di kamar Tuan sudah dilucuti. Jadi rupanya kalian sudah—?”


“Eh, Bi! Tunggu dulu, deh. Bibi bilang seprai di kamar Tuan sudah dilucuti? Siapa yang sudah melakukan?”


Wajah keduanya saling memandang. Rasa-rasanya hal itu mustahil jika Tuan sendiri yang melakukannya. Tetapi siapa yang bakal melakukan? Hanya Tuan sendiri satu-satunya tertuduh yang masuk akal.


“Tapi, Bi ....” Volume suara Kinanthi berubah jadi berbisik, “semua tak seperti yang bibi bayangkan, loh!”


“Emang bibi mau membayangkan apa?”


“Bi Idah pasti mikir kalau Kinan sudah tidur bareng sama Tuan, kan?” Kinanthi jadi senyum-senyum sendiri.


“Lah, terus kalian ngapain aja kalau bukan ngelakuin begituan?” Mata bi Idah memicing pertanda ia sedang heran.


“Yang jelas, ... Kinan masih perawan,” Kinanthi berbisik.


“Serius?”


“Ya serius toh, Bi! Masa iya hal begituan dibuat bercanda.”


“Terus kalian semalam ngapain aja kalau begitu? Berantem? Nggak mungkin juga, kan?”


Di luar kamar sepasang telinga tanpa sengaja mencuri dengar percakapan keduanya. Semacam rasa benci menelusup perlahan-lahan menguasai seluruh celah hati yang dimiliki untuk dikuasai. Begitukah cara dendam memulai aksinya?

__ADS_1


“Kesalahan terbesar hati manusia adalah memelihara prasangka berlama-lama seiring berlalunya waktu, tanpa mau menarik ulur benar atau tidaknya apa yang ia duga.”


Terus apa bedanya dengan menyiksa hati dengan sengaja?


__ADS_2