
Kegelisahan mampu meringkus siapa saja yang dikehendaki tanpa terkecuali. Membawanya sejenak menepi, dari hiruk pikuk dunia. Membiarkan sunyi mengawinkan imajinasi yang berkeliaran pada benak-benak kesepian.
Untung saja, semesta terlalu piawai menyembunyikan peliknya permasalahan tak kasat milik makhluknya. Hingga pada gigiran rindu yang sengaja dijeda jarak, ia memilih berdiam mengeja kegamangan yang berkali-kali menghinggapi.
Dilihatnya jam beker di meja kamarnya, tepat pukul satu dini hari. Namun, matanya tak kunjung terpejam. Seolah di dinding kamarnya menyala gambar virtual yang menampilkan dua sosok sang malaikat; Emak dan Bapak tercintanya.
Kembali air matanya luruh berderai. Sebulan sudah ia tinggal di rumah Tuan Nabastala, belum sekali pun ia berkirim kabar untuk kedua orang tuanya. Sedang rindu di dadanya semakin tak terbendung saja, begitu menyiksa.
Kinanthi menyingkap selimut yang menutupi kakinya, beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Tenggorokannya terasa begitu haus dan sedikit gatal.
Ia menyalakan lampu dapur, meraih gelas bersih dan segera membuka pintu kulkas. Hawa dingin menerpa wajahnya, terasa begitu nyaman. Dihirupnya napas dan diembusnya perlahan.
Tangannya mengambil sebotol air mineral dan menuangkan isinya pada gelas yang tengah dipegangnya. Hampir saja gelas dalam pegangannya terjatuh akibat rasa kaget ketika didengarnya seperti sebuah gebrakkan begitu keras pada meja.
BRAK.
Kinanthi lekas menutup pintu kulkas, dan mematikan lampu dapur. Dengan perasaan was-was ia sigap mempertajam pendengaran. Lama, suasana lengang tanpa suara. Hanya deru napasnya, menjadi satu-satunya suara yang ia dengar.
“Sudah aku bilang, semua harus sesuai rencana,” bentak seorang lelaki dengan intonasi kasar.
Kinanthi belum bisa memastikan itu suara siapa.
“Tapi Nabas tidak mau dijodohkan, kamu kan tahu sendiri.” Seorang wanita dengan suara parau berbicara.
“Paksa dia.”
“Tapi—?”
“Kamu ingin, hubungan kita selama ini tersebar ke media? Hah?” Sepertinya lelaki itu sedang mengancam.
Dada Kinanthi berdebar-debar di persembunyiannya. Ia tak bisa memastikan mereka itu siapa. Karena suara tangis lebih mendominasi keadaan. Mungkin saja itu nyonya dan pak Herman. Tapi mengapa mereka harus menjodohkan Tuan Nabastala?
Kinanthi masuk kembali ke kamarnya, setelah situasi dirasanya cukup aman. Ia tak ingin terlibat kedalam permasalahan yang tak seharusnya ia ketahui. Pikirannya terus mencari-cari kemungkinan siapa mereka. Hingga rasa kantuknya menyergap tanpa mampu dihindari.
••••
“Kinan.” Suara panggilan mendengking seiring gedoran pada pintu berkali-kali.
“Kinan ... bangun!”
Kinanthi menggeliat, menggosok-gosok matanya yang baru bangun tidur. Langkahnya sedikit terhuyung.
“Tuan,” sapanya setelah membuka pintu.
__ADS_1
“Jam berapa sekarang? Heh?” dengus sang tuan kesal.
Kinanthi mengendikkan bahunya pertanda tak mengerti.
“Kinan.” Kini bentakannya semakin keras.
Kinanthi lekas-lekas menutup kedua telinganya dengan masing-masing jari telunjuknya.
“Apa sih, Tuan? Pagi-pagi main ngamuk-ngamuk saja. Gak jadi ganteng kapok.”
“Laper, tauk,” jawab sang tuan enteng.
“Hah?” Kinanthi bengong, “Jadi, Tuan belum sarapan?”
Sang tuan mengangguk.
“Sebentar, Kinan mandi dulu terus buat sarapan.” Kinanthi meraih handle pintu dan hendak menutupnya.
Tapi sang tuan justru menghalangi tangan Kinanthi, kemudian menerobos masuk. Membuat Kinanthi geleng-geleng kepala.
“Dih, apa-apaan sih, Tuan?” gerutu Kinanthi.
“Mau lihat kamu mandi,” bisiknya lirih sambil tergelak.
“Tuan berani?”
“Kalau begitu, Kinan nggak mau berpura-pura lagi jadi pacar boongan, Tuan.” Tangan Kinanthi bersedekap seolah ingin menantang.
“Kamu berani?” Mata sang tuan memelotot tajam.
“Siapa takut.” Kinanthi menghempaskan bokongnya pada kasur matras tempatnya tidur.
Melihat sikap Kinanthi yang super cuek tanpa rasa takut itu membuat Tuan Nabastala merasa heran. Ternyata perempuan sok polos di hadapannya itu punya nyali untuk melawannya. Dan baru kali ini ia menemui perempuan semacam Kinanthi.
“Kinan.”
“Hem.”
“Ya udah, deh. Nggak jadi ngintip, lagian geli lihat itu kecoak.” Seiring tawa sang tuan yang pecah.
Mata Kinanthi mendelik, tak suka dengan lelucon tuannya. “Dih, Tuan selalu begitu. Itu-itu mulu yang dibahas,” cebiknya sambil meraih handuk yang tersampir di pintu almari samping tempatnya duduk.
Tuan Nabastala pun melenggang ke luar kamar, setelah dihardik Kinanthi berkali-kali. Membawa sebuah kehangatan hati yang selama ini tak dirasakan, setelah penghianatan mantan pacarnya bertahun-tahun yang lalu.
__ADS_1
Waktu saja memang tak cukup untuk menyembuhkan luka. Sama halnya penyakit, luka juga butuh obat yang tepat sesuai dosis dan takarannya. Sepertinya, Tuan Nabastala telah menemukan obat untuk luka hatinya yang telah membeku sekian waktu.
••••
Dengan cekatan Kinanthi menghidangkan sarapan. Ia membuat scramble egg yang dicampur dengan waffle dilapisi mentega almond dan segelas susu tertata rapi di meja makan.
Ia memilih telur sebagai pilihan sarapan karena telur memiliki kadar protein lebih tinggi dibandingkan dengan protein di dalam gandum. Sedangkan susu kaya akan kandungan kalsium dan kalium yang bagus untuk menjaga kekuatan tulang, juga untuk mencegah osteoporosis.
“Mmm ....” Sambil kepalanya mengangguk angguk. ”Pinter juga kamu ternyata,” puji sang tuan sambil mencicipi sarapan yang dibuat Kinanthi.
“Terima kasih, Tuan.” Senyumnya terlihat menawan. “Berkat ini.” Kinanthi mengoyang-goyangkan gawainya.
“Ehm.” Suara seseorang berdeham.
Seketika kami menoleh ke arah suara. Pak Herman sedang berdiri tegap. Seorang perempuan sekitar umur dua puluh limaan berdiri di sampingnya. Senyumnya begitu memesona.
“Mayang,” panggil Tuan Nabastala.
Perempuan berparas cantik tinggi semampai, dengan tampilan rambut yang memiliki gradasi warna dirty bronde dan pirang emas yang mengkilap, menambah kesan kecantikannya. Sayang hidungnya sedikit terjerembab hingga tak bisa menyembunyikan identitas aslinya sebagai perempuan Indonesia.
Perempuan bernama Mayang itu dengan gaya centilnya lekas menghambur ke pangkuan Tuan Nabastala yang sedang menikmati sarapan paginya.
“Nabas, kok kamu nggak jemput aku sih, kemarin? Nomor kamu juga nggak bisa dihubungi. Nomor papa juga nggak bisa. Terpaksa deh, aku nginap di hotel dekat bandara.”
“Mayang ... jangan gitu ih, risih tauk.” Tuan Nabastala hendak beranjak dari duduknya, tetapi tangan Mayang justru mencegahnya.
Kinanthi yang merasa enek melihat adegan itu memilih pergi ke dapur. “Tuan, kalau sudah nggak ada yang dibutuhkan Kinan ke dapur dulu.” Cepat-cepat ia melangkah meninggalkan ruang makan.
“Kinan, tunggu sebentar.”
Terpaksa ia menunda langkahnya, mendengar perintah tuannya, segera membalikkan badannya.
“Tolong bawa sarapan ini ke kamar.”
“Baik.” Segera saja ia menaruh sarapan sang tuan beserta segelas susu di nampan yang masih dipegangnya, untuk di bawa ke kamar yang berada di lantai dua.
“Mayang, kamu istirahat dulu. Pasti capek.” Tuan Nabastala menasehati.
“Emm ... Mayang, istirahatnya di kamar kamu, ya?” rengek Mayang.
“Di kamar tamu,” tegas Tuan segera menjauh dari Mayang.
“Pa ... lihat tuh, Nabas,” teriak Mayang manja.
__ADS_1
Pa? Langkah Kinanthi mendadak berhenti, maksudnya Pa? Siapa? Ah, lagi-lagi jiwa kekepoannya yang suka berontak ingin mengerti langsung kambuh. Ia kembali teringat percakapan misterius tengah malam kemarin.
Rahasia besar apa lagi yang bakal ia ketahui. Ah, dasar Kinanthi.