Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Yang Tak Terduga


__ADS_3

Jam digital berbingkai klasik pada sisi-sisinya sedang menunjukkan pukul sebelas malam. Benda itu menempel anggun pada dinding berwarna orange kekuning-kuningan yang mirip dengan warna buah aprikot. Tetapi sedikit lebih pucat dari warna buah tersebut.


Sementara kegelisahan terus berjibaku menghampiri setiap wajah yang duduk di dalam ruang keluarga, termasuk Kinanthi dan bi Idah di antaranya. Masing-masing dengan pikiran saling mengembara; mengantah-berantah.


Meskipun sudah seharian berkutat dalam pencarian, kecemasan terus mengekor pikiran maunya menempel terus sangking demennya atas apa yang tengah dirisaukan yang tak pula kunjung menemukan jawaban.


Tuan Nabastala yang dikabarkan mengalami kecelakaan hingga kini masih belum ada kabar beritanya. Ia bagaikan lenyap ditelan bisingannya kota Jakarta.


Kinanthi duduk tafakur sambil memeluk bantal sofa mencari kehangatan di sana. Sementara di tangannya menggenggam erat gawai pemberian Tuan Nabastala, ia sangat berharap jika tuannya itu akan menghubunginya atau setidaknya ada pesan masuk yang mengabarkan keberadaannya.


Namun, penantian gadis itu sepertinya akan berakhir nelangsa, karena tak ada tanda-tanda jika laki-laki yang sering membuat hatinya geregetan itu menampilkan kabar.


“Mungkin lebih baik kita beristirahat dulu.” Nyonya menyarankan, “agar besok, kita semua punya stamina lebih untuk melanjutkan pencarian kembali.”


Mayang pun berdiri. “Mungkin lebih baik begitu,” timpalnya antusias.


“Kamu Kinan?” Bi Idah melempar pandang, seakan meminta pendapat.


“Bibi istirahat duluan saja,” saran Kinanthi, “biar saya menunggu sebentar lagi,” imbuhnya.


Semua berlalu menuju kamar masing-masing, meninggalkan gadis dengan rambut bergelombang sepinggang itu seorang diri di ruang keluarga yang begitu luas.


Keheningan merayap, seiring suhu udara malam yang semakin jatuh pada titik terendah. Membawa gigil merasuki tubuh Kinanthi yang hanya terbalut kaos oblong berwarna hitam polos.


Segera ia beranjak mengambil selimut agar tak membeku gara-gara kedinginan. Cukup para penghuni freezer saja yang membeku, hati para jomblo mah jangan sampai ikutan.


Dan Kinanthi pun memilih meringkuk kembali di atas sofa. Mau tidur di kamar pun juga sama saja. Sama-sama meringkuk sendirian.


Dalam penantian yang selalu mengajarkan rasa sabar, membuatnya merasakan waktu yang seperti berhenti dalam kejenuhan. Namun, semampu mungkin ia terus bertahan. Sampai akhirnya rasa kantuk pun datang menyergap. Tanpa sadar Kinanthi telah terlelap dalam satu atau bahkan dua jam lamanya.


Hingga sayup-sayup suara di luar sana memaksanya terjaga. Dengan rasa malas, membuatnya mendongakkan kepala. Meneleng ke asal suara. Siapa tahu di luar sana ada maling yang kepergok, terus digebukin warga, dan ia bisa ikutan nonton keseruannya. Begitu harapnya.


Sunyi senyap. Tak ada suara apa pun. Kecuali deru jalanan dengan satu-dua kendaraan yang melaju kencang.


“Ah, mungkin perasaanku saja,” batinnya.


Ia kembali merebahkan kepalanya, membetulkan letak bantal sofa di leher agar tidurnya lebih nyaman.


“Sudah aku bilang, jangan sampai gagal!”


Kinanthi kembali meneleng, “Itu suara nyonya dan tak salah lagi,” batinnya memastikan.


Demi semesta dan segala isinya, yang sulit dimengerti. Kinanthi dengan sifat keingintahuannya bangkit dan berjalan merayap-rayap di kegelapan. Meski nanti ada harga yang harus dibayarnya jika sampai ketahuan, ia tak peduli. Yang terpenting ia harus tahu rahasia apa yang sedang menunggunya itu.


Perlahan ia terus mengendap-endap, bersembunyi di samping jendela yang gelap dengan tirai menutup sempurna pada tubuhnya. Untung saja lampu ruang keluarga sengaja ia padamkan sehabis mengambil selimut, sehingga keadaan ruangan tersebut gelap gulita membuat keberadaannya sekarang terlindungi.


“Jangan bilang, Nabas menghilang akibat kerjaan kalian yang nggak becus!”


“Apa kamu bilang?”


“Bukan Nabas yang mengendarainya? Kamu yang benar saja?”


Di balik persembunyian, Kinanthi terus fokus mendengarkan percakapan nyonya yang sedang berbicara di telepon. Entah dengan siapa. Tak ada clue yang bisa membawanya pada titik terang.


Meskipun Kinanthi bukan gadis pintar, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukannya. Tak lupa ia membuka aplikasi ‘Voice Memo ’ pada gawainya yang terdapat pada folder berlabel ‘Extras’. Untuk mendapatkan bukti kejahatan nyonya. Meski Kinanthi sendiri juga tidak begitu yakin dengan apa yang sedang diperbuatnya.


“Tristan! Aku tak mau tahu, kalau sampai rencana itu bocor, kamu sendiri yang menanggung akibatnya.”


Sewaktu nama laki-laki itu disebut, Kinanthi langsung lemas tak bertenaga mendengarnya. Suara nyonya yang tegas, cukup jelas melewati indra pendengarannya.


“Konspirasi macam apalagi ini?” desis Kinanthi. Ia sungguh tak percaya dengan pendengarannya. Bagaimana mungkin, justru orang-orang yang berada di sekitar Tuan Nabastala sendiri yang berniat melenyapkan tuan nya itu.

__ADS_1


Kinanthi tak dapat membayangkan jika tuannya tahu akan keadaan yang sebenarnya. Bagaimana mungkin nyonya tega merencanakan pembunuhan itu terhadap Tuan Nabastala?


Padahal mereka telah hidup bersama selama bertahun-tahun. Apakah tak ada perasaan saling mengayomi? Ah ... dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa juga yang tahu?


Klik.


Lampu ruangan sempurna menyala. Terang benderang. Membuat Kinanthi menyipitkan pandangannya. Dalam sekejap berhenti pula angannya menjelajah dunia lamunan, terseret kembali pada kenyataan.


“Ngapain kamu di situ?”


Sial!


Gara-gara lamunannya Kinanthi lupa beranjak pergi dari tempat persembunyiannya.


Kini, nyonya sudah berdiri tidak jauh dari hadapannya. Kinanthi menyingkap tirai yang digunakan untuk menutupi tubuhnya ketika bersembunyi. Gawai yang digunakan untuk me-record pun masih menyala.


“Oh my God! Kenapa kamu seceroboh itu, Kinan?” ledek nyonya dengan senyum mencemooh.


“Pasti ada jalan keluar,” pikir Kinanthi. Ia tak mau menyerah hanya gara-gara sudah ketahuan.


“Berikan ponselmu!” perintah nyonya kemudian.


Pandangan Kinanthi melirik sekelebat sosok di kejauhan. Semoga dia sengaja dipilih Tuhan sebagai dewa penolongnya.


“Berikan! Dan aku akan mengampunimu.”


Kinanthi berdiri dengan tubuh gemetarnya. Secara perlahan, bahkan sangat perlahan ia bergeser merapat pada jendela di belakangnya yang sedang terkunci rapat. Supaya tak begitu lekas menimbulkan kecurigaan. Ia sedang merencanakan sesuatu.


“Ma—maaf, Nyonya.” Suara Kinanthi terdengar gagap.


“Maaf? Oke. Asal berikan dulu ponselmu!”


Klek.


Kinanthi mengacungkan ponselnya sambil senyum-senyum. “Sekarang mari kita lihat.”


Sesegera tubuh Kinanthi berbalik membelakangi nyonya menghadap daun jendela yang sudah terbuka.


Bugh.


Terdengar suara benda jatuh.


“Ayo bersenang-senang. Selamat mencari!” seru Kinanthi tersenyum penuh kemenangan.


“Kinan!”


Dari arah dapur, bi Idah mengacungkan jempolnya. Kinanthi hampir melempar senyum. Namun, segera diurungkan, takut jika nyonya melihatnya.


Merasa kesal telah dipermainkan Kinanthi, nyonya segera melangkah pergi, bergegas menuju semak-semak tanaman di mana Kinanthi melempar ponselnya.


Tak lupa, “Ikut!” perintah nyonya kasar.


Demi kerahasiaan agar tetap terjaga, Kinanthi harus menurut saja.


••••


Hampir dua jam, Kinanthi mengitari taman yang tak seberapa besarnya itu. Disisirnya seluruh daun-daun kecil yang melata, disibak dedaun yang tumbuh lebih subur di kanan-kirinya. Hasilnya tetap nihil.


Nyonya mulai terlihat uring-uringan, karena pencarian belum juga mendapatkan hasil. Dan hati Kinanthi bersorak dalam kemenangan.


Eh, jangan senang dulu kamu, Kinan!

__ADS_1


Hingga hari menjelang Subuh, langit mulai menampakkan cahaya putih yang sangat redup. Kemudian cahayanya menguning, berganti merah ketika matahari telah mendekati ufuk.


Hoam .... Kinanthi menguap. “Kinan ngantuk, Nyonya!”


“Masa bodoh!”


“Nanti Kinan cari lagi, sekarang istirahat dulu, ya,” pinta Kinanthi.


“Pokoknya terus cari!”


“Dasar nyonya gendeng!” maki Kinanthi dalam hati.


Ditendangnya kerikil kecil sebagai pelampiasan kekesalannya.


Tak.


Tepat mengenai kaca jendela, dan memantul kembali hampir mengenai seseorang yang sedang berjalan menghampirinya.


“Tuan!” seru Kinanthi membelalak.


Lelaki yang dipanggil tuan mengangguk. Dengan gaya cool-nya ia mengacak rambut Kinanthi. Membuat gadis itu terkesima sesaat.


“Ngapain jam segini mengacak-acak taman? Kurang kerjaan?”


“Atau yang kurang kerjaan itu, Mama?” Tolehnya pada mamanya yang berdiri dalam kebisuan.


“Kamu sudah pulang?” sahut nyonya lemah.


“Kenapa? Mama nggak bakal menyangka, kan?”


“Bukan begitu maksudnya, Nabas.”


“Terus?”


“Ih, ini apaan sih! Baru juga pulang, sudah berantem, aja.” Kinanthi dengan berlagak berani melerai. “Tuan juga pasti capek, kan? Sebaiknya beristirahat dulu saja.”


Tuan Nabastala meninggalkan mamanya diikuti Kinanthi dari belakang.


“Tolong buatkan teh hangat. Bawa sekalian ke kamar.”


“Siap. Sarapannya juga, Tuan?”


“Nggak perlu.”


“Oh.”


Kinanthi memandangi tuannya berlalu menapaki anak tangga. Ada sesuatu yang aneh dari sikapnya yang terlihat begitu dingin.


“Kinan!”


“Hah, iya Tuan.”


“Cuci!” perintahnya sambil melempar jas yang sedari tadi tersampir di pundaknya.


Action-nya melempar jas itu, oh, semakin menambah pesona kegantengannya saja. Bikin hati Kinanthi tambah meleleh rasanya.


“Baik, Tuan.”


Tangan mungil Kinanthi dengan sigap menunggu lemparan jas yang menuju ke arahnya. Namun, ya ... begitulah. Bisa ditebak. Kinanthi kurang gesit dalam menangkapnya.


He-he ... tawa Kinanthi berderai. Malu karena tangkapannya tak berhasil. Dan sudut bibir lelaki yang sedang menapaki anak tangga itu melengkung sepersekian detik.

__ADS_1


Di balik sebuah kegagalan, di sana pasti ada orang yang tersenyum menertawakan.


Tidak apa. Demi Tuan Nabastala itu pengecualian tersendiri bagi Kinanthi. Sepenuh hati ia rela, kok!


__ADS_2