
Senja mulai bergulir menepi, seiring kerling siluet jingga nan manja mengepak sayap, terbang, menggapai gulita malam yang selalu berjibaku dengan jubah sang hitam.
Aroma pekatnya keheningan semerbak menguar di udara, membiarkan hidungnya kembang kempis menghidu. Sejenak matanya memejam menelanjangi kedamaian paling damai, yang entah kapan terakhir kali ia merasakan.
Hingga wajah polosnya menjelma bagai pesona paling jujur yang pernah direstui semesta.
Di lantai sembilan, pada rooftop cafe La Viyu dengan suguhan pemandangan indah kawasan elite di Menteng. Tempat bertemunya para asitektur Batavia kuno dengan pemukiman-pemukiman mewah di sekelilingnya.
Kinanthi duduk bertafakur. Sang netra sedang memuji segala keindahan ciptaan Tuhan yang tersaji di hadapannya, selama ini belum pernah terekspos oleh mata telanjangnya sampai usia remaja yang sebentar lagi ia tanggal.
Tuan Nabastala mengajaknya ke tempat itu. Katanya, ada kolega bisnis yang mengundangnya makan malam. Tentu saja Kinanthi menurut perkataan sang tuan, meski awalnya ia menolak. Takut nantinya hanya akan membuat malu saja.
Memang tak menutup kemungkinan, hal itu akan Kinanthi lakukan. Sehingga Tuan Nabastala memberikan sedikit arahan dan ia pun meyakinkan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.
Kami berdua tiba pukul 6.30. Setengah jam sebelum cafe La Viyu dibuka. Berhubung Tuan Nabastala adalah orang yang cukup berpengaruh di dunia pebisnisan, maka untuk sekedar masuk cafe itu sebelum waktunya dibuka merupakan hal sepele baginya.
Menilik pembicaraan yang dicuri dengar oleh Kinanthi, ternyata Tuan Nabastala telah mem-booking tempat itu beberapa hari sebelumnya.
Dipilihnya tempat VVIP paling ujung yang jauh dari pengunjung kebanyakan. Dengan view sempurna. Mata bisa dengan leluasa jelalatan menjelajahi berbagai pemandangan. Gedung-gedung mewah mencakar langit, taman kota dengan gemerlap lampu-lampu hias yang menyala terlihat jelas dari ketinggian. Dan juga, langit bertaburan kerlap-kerlip gumintang yang bagai kunang-kunang.
“Kinan,” panggil seseorang dengan suara cemprengnya.
Merasa namanya dipanggil, Kinanthi berhenti mengamati pemandangan yang begitu menakjubkan. Ia menoleh. Senyumnya seketika merekah, layaknya kuncup bunga tengah mekar.
“Anita,” pekiknya histeris.
Dua sahabat yang lama tak bertemu itu akhirnya saling berpelukan. Melepas rindu.
Anita berkali-kali mencubiti pipi Kinanthi, seolah tak percaya akan pertemuan mereka. Kemudian mereka memilih tempat duduk yang sedikit menjauh dari sang tuan agar leluasa bercerita.
Kinanthi dan sahabatnya saling cekikikan, ketika menceritakan kisah masing-masing.
“Yang benar, aja?” tanya Anita disela-sela cerita Kinanthi.
“Sungguh. Dia itu mesum banget. Predator kelas kakap dah pokoknya.” Dengan wajah bersungut-sungut Kinanthi menimpali.
“Dia pernah ngapain aja sama kamu?”
“Halah, bukan pernah lagi. Sering malah.”
“Sering? Berarti kalian sudah pernah ngelakuin yang itu?”
“Hust! Jangan ngaco!”
“Terus? Kamu bilang dia itu predator mesum. Jadi bisa aja kan, dia memangsa kamu.”
“Untungnya nggak pernah sampai ngelakuin begituan.”
“Serius?”
Tawa lepas keduanya berderai. Sebuah ekspresi kebahagiaan yang sempurna.
__ADS_1
“Tapi dia ganteng, loh! Lihat tuh postur tubuhnya, idaman banget ....” Anita terlihat gereget memandangi sang tuan dari tempatnya duduk. “Kamu pernah dikasarin, nggak?” tanya Anita lagi.
“Nih, pipi!” Tangan Kinanthi membingkai wajahnya, “bosan rasanya bersinggungan dengan kulit tangan dia,” dengusnya kesal.
“Sebegitunya?”
“Heem.” Kinanthi mengangguk.
“Nggak jadi idaman deh, kalau kasar kayak gitu.” Anita begidik.
Seorang pelayan yang cantik parasnya bak model papan atas yang biasa tampil di sampul majalah dewasa datang menghampiri. Menyodorkan dua gelas mango coconut smoothie minuman favorit di cafe tersebut.
“Kami nggak memesan,” kata Kinanthi sopan.
Pelayan itu tersenyum, “Tuan yang duduk di sana, yang memesankan untuk Anda,” jawabnya sambil memandang ke arah Tuan Nabastala tengah duduk.
“Oh. Kalau begitu terima kasih,” timpal Kinanthi.
“Sama-sama. Selamat menikmati.”
Buru-buru mereka menyedot isi dalam gelas, setelah pelayan berlalu.
“Eh, ngomong-ngomong kok kamu tadi bisa di sini,” tanya Kinanthi kemudian. Tentu saja ia merasa heran. Karena cafe yang dikunjungi mereka merupakan cafe elite para konglomerat.
“Kebetulan. Tadi lagi nemenin si Bos. Dan nggak sengaja lihat kamu sama dia.”
Kinanthi tertawa melihat monyong bibir Anita yang dimaju-majuin, menunjuk ke arah Tuan Nabastala.
“Yah ....”
Kinanthi mendesah kecewa, belum juga rasa kangennya terobati, sahabatnya sudah mau pergi lagi.
“Beneran sorry, harus balik kerja, nih.”
“Ya udah, deh.”
Rasanya juga tak tega, kalau sampai Anita diomeli sama bosnya yang galak itu. Sebuah pelukan hangat sebagai tanda perpisahan.
“Jaga diri,” pesan Anita sebelum melangkah pergi.
Kinanthi memandangi kepergian sahabatnya dengan tatapan kosong. Ia merasa, kehidupan Anita selangkah lebih beruntung ketimbang dirinya.
••••
Hampir tiga jam sudah Kinanthi berdiam diri, pandangannya tenggelam dengan lautan keindahan di depan matanya. Ia harus menunggu tuannya yang sedang menikmati santapan makan malam bersama seorang perempuan cantik. Tiba-tiba ia merasa keliyengan, kepalanya pusing sekali. Mungkin tubuhnya tak bersahabat dengan hawa dingin yang mulai menyambangi. Apalagi pakaian yang tengah ia kenakan berbahan tipis dan cuma selapis.
Sang tuan kini tengah berdiri di tepi rooftop setelah menyelesaikan makan malamnya. Masih sibuk berbincang dengan seorang perempuan muda kisaran seusia Mayang. Tetapi yang ini parasnya lebih cantik lagi.
Tubuhnya terbalut kaos putih ketat dengan cardigan motif kotak-kotak salur tanpa lengan, ikat pinggang berwarna cream melingkar sebagai bentuk aksesoris. Dengan panjang cardigan dua inci di atas lutut yang mampu menyembunyikan celana super pendek yang tengah ia kenakan. Keduanya terlihat asyik.
Kinanthi mendekati sang tuan, berdiri tiga langkah di belakangnya. “Tuan,” panggil Kinanthi lemah.
__ADS_1
Tuan Nabastala menoleh, diiringi sang cawek.
“Youh. Lu ke sini bawa baby sister segala?” sindir cewek yang bersama Tuan Nabastala.
“Kinan.”
“Oh, jadi dia? Cewek yang baru saja elu ceritain itu? Emang, apa istimewanya? Keknya nggak punya, deh.”
Kalimat sindiran meluncur dari bibir bergincu merah menyala. Aura ketidak sukaan tersorot jelas dari pandangan mata sang cewek. Tetapi Kinanthi tak peduli. Ia cuma mau bilang, ia sudah tidak tahan.
Tubuhnya terhuyung ke depan, menubruk perempuan cantik di hadapannya. Melihat hal itu, tentu saja membuat sang tuan murka. Dikiranya Kinanthi sedang mencari gara-gara.
“Apa-apan kamu ini?” Tuan Nabastala merasa emosi. Di dorongnya tubuh Kinanthi hingga terjengkang tanpa perlawanan.
“Cih, dasar pembokat. Memalukan,” bentak sang cewek kasar.
Tuan Nabastala merasa terhina atas kelakuan Kinanthi, ia beranjak pergi meninggalkan Kinanthi yang masih tersungkur tanpa peduli. Ia menyangka, Kinanthi bakal lekas beranjak mengikutinya. Digenggamnya tangan wanita yang berdiri di sampingnya erat.
“Sorry!”
“Nggak apa. Yang penting sekarang lu udah nyadar, kalau pada dasarnya dia itu cuma pembokat yang nggak berpendidikan.”
Keduanya berjalan beriringan, dengan jari-jemari saling bertautan. Lengkungan senyum terlihat dari sudut bibir perempuan cantik itu.
Kinanthi tak berdaya, kalah dalam mempertahankan kesadarannya. Tubuhnya luruh ke lantai berubin dingin, semua yang dilihatnya terasa berputar-putar. Setelah itu, tak ada lagi yang bisa diingatnya seiring matanya yang mengatup rapat.
••••
Di pelataran parkir, seorang satpam berlari tergopoh menghampiri Tuan Nabastala. Dengan napas tersengal-sengal ia bertanya, “Apa betul, Anda yang bernama Nabastala Narendra?”
“Iya, memangnya kenapa?”
Orang terpandang seperti Tuan Nabastala selalu menyelisik, menggunakan insting kekuasaannya memandang rendah orang-orang seperti pak satpam.
“Dia siapa?” tanya wanita cantik yang sedang bersamanya.
“Entahlah.”
Bersamaan gelengan kepala, menunjukkan sang tuan memang tak mengenali siapa orang yang berseragam satpam di hadapannya itu.
“Perempuan yang bersama Anda di-rooftop tadi, jatuh pingsan,” jelas pak satpam.
“Pingsan?”
Seperti terkana hantaman ombak, dadanya merasa bergemuruh. Ia berjalan tergesa meninggalkan parkiran, meninggalkan wanita yang baru digandengnya. Rasa sesal menyelimuti kenapa ia memperlakukan Kinanthi begitu saja tanpa menunggu penjelasannya. Kenapa tubuh dia serapuh itu?
“Gila. Dia tadi belum makan,” umpatnya seiring langkah kaki yang semakin melebar. “Nabas, Nabas ... apa yang sudah elu lakuin ke dia?” Mulutnya ikutan menggerutu.
“Nabas ... terus gue gimana?” teriak cewek yang tadi bersama Tuan Nabastala. Namanya Luna--sang mantan yang pernah meninggalkannya beberapa tahun lalu ketika lagi sayang-sayangnya. Kini dia kembali, berharap bisa balikan.
“Terserah,” teriak balik Tuan Nabastala yang kian menjauh.
__ADS_1