
Pemilik wajah pucat itu masih tergolek lemah tak berdaya di ranjang ruangan rumah sakit VIP Deluxe Suite Kemang. Sebuah rumah sakit swasta yang terkenal dengan kemewahan di bilangan Jakarta Selatan. Dengan selang infus terpasang di punggung telapak tangan kirinya.
Entah apa yang tengah merasuki pikiran Tuan Nabastala sehingga begitu royal menghambur-hamburkan sebagian duitnya demi pengobatan Kinanthi yang sakitnya terbilang sepele itu.
Bulu mata lentik itu terlihat seperti bergerak-gerak. Tuan Nabastala yang tengah duduk di kursi di samping ranjang terus mengawasi. Mungkin sebentar lagi Kinanthi akan siuman, begitu pikir sang tuan. Dan benar saja mata itu mulai mengerjap.
Tuan Nabastala yang masih kurang percaya mengucek-ucek kedua bola matanya. Takut ia masih berada dalam tingkat kehaluan.
“Kinan,” panggilnya lirih seraya membungkukkan tubuhnya tepat di hadapan wajah Kinanthi, “kamu sudah siuman?”
Tak ada respons. Mungkin pasien masih butuh mengkondisikan keadaannya dengan suara-suara di sekitar, jadi ia tak bisa selekasnya menjawab pertanyaan.
Beberapa menit kemudian tangan Kinanthi bergerak-gerak lebih stabil, hendak menggapai selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia sedang menggigil.
“Di–ngin,” rintihnya nyaris tak terdengar.
“Dingin?” tanya Tuan, memastikan.
“Mm.”
Tentu saja, tangan Tuan Nabastala langsung merapikan selimut yang digunakan Kinanthi hingga sebatas bahu. Tanpa berpikir panjang lagi, segera dilepasnya jaket yang membalut tubuh kekar dengan perut six-pack idaman para wanita itu, ia tambahkan untuk melimuti tubuh yang tergolek lemah.
“Begini, masih dingin?”
Kelopak mata dengan bulu lentik yang menghiasi akhirnya terbuka sempurna. Bibirnya bergetar hendak mengatakan sesuatu. Tetapi urung. Seperti ada perasaan ragu menghinggapi.
“Kenapa?”
Melihat hal itu, sang tuan mendekat mengarahkan telinganya ke samping bibir Kinanthi.
“Di–dingin banget, Tu–tuan.”
Sang tuan paham apa yang harus dilakukan, ia merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, meniadakan sekat di antara keduanya. Setelah terlebih dahulu ia menekan salah satu tombol yang ada di dinding kamar, di atas ranjang Kinanthi. Sebagai pertanda pasien sedang membutuhkan pertolongan.
Sebuah pelukan sungguh bagai obat mustajab bagi tubuh Kinanthi yang tengah menggigil kedinginan. Hawa hangat tersalurkan begitu saja dari tubuh sang tuan, dalam diam Kinanthi pun menikmati pelukan itu.
Ketukan pada pintu terdengar, Tuan Nabastala menggerakkan kepala, menoleh. Kemudian berdiri, seorang lelaki paruh baya dengan menggunakan ‘snelli’ berlengan panjang--jas kebesaran berwarna putih bagi seorang dokter--mengulum senyum setelah berdiri berhadapan dengan Tuan Nabastala.
“Apa yang dikeluhkan pasien?” tanya sang dokter ramah.
“Dia menggigil kedinginan, Dok.”
“Hanya itu?”
Sang dokter tak langsung memeriksa, pandangannya justru mengedar karena merasakan suhu ruangan persis mesin pendingin. Kemudian ia tertawa, membuat Tuan Nabastala mengernyitkan dahi. Heran dengan ekspresi tawa tak wajar seorang dokter.
__ADS_1
“Kok, Dokter malah tertawa?”
“Anda itu lucu,” jawab sang dokter di sela tawanya. “Mungkin Anda terbiasa tidur dengan suhu ruangan yang dingin, sedang dia tidak. Tentu saja tubuhnya merespon hawa dingin yang berlebihan dengan menggigil,” imbuhnya lagi.
Tuan Nabastala masih kurang paham dengan penjelasan sang dokter. Bukankah suhu ruangan yang dingin dengan berselimut tebal justru membuat tidur lebih nyenyak, itu yang selama ini ia rasakan.
“Kamu lihat, remote kontrol AC yang menempel di dinding di atas nakas itu?” Tatapan mata sang dokter mengarah, “suhu ruangan yang ditunjukkan alat itu 17°C. Baginya itu terlampau dingin, karena tidak terbiasa.”
Tuan Nabastala tercengang dengan apa yang dilihatnya. Pantas saja, Kinanthi menggigil begitu hebatnya. Meski ia sendiri tak merasakan, karena hari-harinya sudah terbiasa berada di ruangan ber-AC.
“Mm. Maaf, Dok!” Tuan Nabastala tersipu. Tak menyangka akan berada pada kondisi sebodoh itu, padahal ia orang terpelajar. “Kira-kira, pasien kapan boleh pulang, Dok?” tanyanya kemudian, sekedar menghalau rasa canggung atas kesalahannya.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi pasien sudah membaik. Mungkin besok boleh pulang. Tapi, ingat! Harus makan teratur supaya maagnya tidak kambuh dan lagi—” Sang dokter menjeda sambil melihat kembali buku laporan pasien yang tengah dipegang. “Sekarang memasuki musim pancaroba, mohon untuk diperhatikan juga pakaiannya, biar nggak gampang masuk angin.”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
Diantarnya sang dokter hingga ke pintu. Tepat ketika Tuan Nabastala membuka pintu, di depan pintu telah berdiri si Luna. Ditunggunya sampai dokter yang memeriksa Kinanthi berlalu, baru ia menyapa Luna.
“Ngapain kamu ke sini?”
Perasaan heran bercampur kesal melingkupi. Kenapa juga dia muncul di rumah sakit. Mengganggu saja.
“Emang nggak boleh? Ini kan tempat umum,” jawab Luna ketus. Dengan kebiasaannya dia nyelonong masuk tanpa meminta izin.
“Hei, Kinan! Apa kabarnya, kamu? Sudah baikan?” sapa Luna sok akrab.
Kinanthi tersenyum canggung dan mengangguk tanpa membalas sapaan Luna.
Tentu saja membuat Luna merasa tak suka diabaikan seperti itu, “Hiuh, sombong amat! Pantas aja suka nyosor laki orang,” sindirnya.
“Luna! Apa-apaan sih kamu?” bentak Tuan Nabastala.
“Maaf, Kak! Kinan tak bermaksud seperti itu,” jelas Kinanthi.
Tuan Nabastala merasa perlu menyeret lengan perempuan cantik yang dulu pernah mencampakannya itu ke luar segera, tak ingin melihat perempuan itu tinggal berlama-lama di rumah sakit.
“Keluar!” bentak Tuan Nabastala semakin keras.
“Tuan, jangan begitu,” pinta Kinanthi dengan suara memelas.
“Halah, sok cari perhatian,” ejek Luna.
Tanpa menggubris ejekan Luna, Kinanthi mencoba bangun. Tubuhnya masih terasa sangat lemah, tetapi ia tak suka dengan adanya Luna yang terus menerus merakit bom waktu yang siap meledak kapan saja dari mulutnya yang menjengkelkan itu.
__ADS_1
Dicabutnya paksa selang infus di punggung tangan kirinya. Darah segar merembes dari bekas jarum yang disematkan pada selang infus.
“Kinan, apa yang kamu lakukan?”
Tuan Nabastala lekas-lekas memburu Kinanthi, ia begitu panik melihat ulah yang konyol itu.
“Kapan sembuhnya kalau begini?”
“Hiuh, dasar muka drama,” ejek Luna yang tak suka dengan tontonan di hadapannya itu.
Kinanthi kembali tak menggubris kata-kata yang dilontarkan Luna. Baginya hal itu seperti kudapan sehari-hari yang sudah biasa ia dengarkan di rumah.
Namun, dalam hati siapa yang tahu? Tuan Nabastala sebenarnya merasa tersinggung mendengar ejekan Luna. Namun, sifat temperamennya kali ini tergolong tenang, sehingga ia masih mampu menahan amarah sementara waktu.
“Kamu tekan terus tisu ini jangan dilepas dulu sampai darahnya tak merembes lagi. Aku panggil dokter dulu.”
Kecupan kilat mendarat di kening Kinanthi yang tertutupi poni rambutnya yang berantakan. Rona pipi menyiratkan rasa malu-malu. Sedang Luna tak percaya dengan penglihatannya. Mana mungkin Nabastala berbuat serendah itu?
“Kalian!?” Kakinya mengentak-entak.
“Keluar kamu sekarang!”
Sorot mata lelaki itu menampakkan aura kemarahan tertahan. Sebenarnya bukan hal asing bagi Luna melihat kejadian semacam itu. Dulu juga sudah sering dilakukan mantan kekasihnya sewaktu masih berpacaran.
“Nabas! Kenapa sih kamu memilih perempuan udik itu ketimbang aku?” Luna merajuk, tangannya mulai bergelayut.
“Jangan kamu pikir dengen merengek seperti itu bisa meluluhkan perasaanku.”
“Nabas, kamu kok jahat, ih!”
“Jahat mana? Kamu yang pergi meninggalkan aku, ketika aku lagi sayang-sayangnya, hah?”
“Kejadian itu sudah lama sekali, Nabas. Lagian aku juga sudah meminta maaf. Kok, kamu masih mengingatnya.” Luna menunduk, tak menyangka ulahnya dulu begitu membekaskan luka di hati Nabastala.
“Kamu pikir, kalau aku lupa terus kamu bisa menyakiti aku lagi? Tidak akan pernah, Lun! Pergilah sekarang, aku tak ingin kamu berada di sini.”
Luna tahu, kalimat yang meluncur dari bibir Nabastala barusan bagai sebuah keharusan. Ia tak bisa menolak, nanti hanya akan menimbulkan pertikaian tak mengenakkan.
“Nabas,” panggil Luna lirih, “peluk sebentar boleh?”
“Apa perlu pak satpam yang menyeretmu keluar dari sini?” bentak Tuan Nabastala penuh ketegasan.
Terkadang orang-orang menyamaratakan luka meski masing-masing penderita berbeda. Khususnya penyakit patah hati. Mereka bilang, toh, sama-sama sakit hati. Lama-lama akan sembuh seiring berjalannya waktu.
Namun, pada kenyataannya tidak bagi Nabastala. Ia masih menyimpan luka lama yang ditorehkan sang mantan hingga kini.
__ADS_1
Meski sudah bertahun-tahun berusaha menyembuhkan sakit hatinya. Berbagai metode pun dilakukan, beberapa hal konyol juga ia coba; patah hati obatnya cari pengganti. Begitu saran sahabatnya Mahika.
Justru sebaliknya, bukannya mampu melupakan ia malah semakin dalam merayakan kehilangan. Hingga ia bosan dengan sendirinya dan akhirnya bertemu Kinanthi. Gadis belia yang kini mulai menawan hatinya, perlahan-lahan mengobati lukanya.