
Di udara, atmosfer kemarahan menguar seiring tatapan netra yang semakin nanar.
Bi Idah dan Kinanthi saling menunduk setelah sempat melempar pandang satu sama lain beberapa detik yang lalu. Setelah itu keduanya tidak berani lagi mendongakkan kepala barang sebentar saja.
Takut kalau sampai beradu pandang dengan nyonya yang sedang mengamati kami lekat, akan wajah-wajah yang tengah menyembunyikan kecemasan itu penuh selidik.
“Kalian bilang aku jahat? Memang ada buktinya?” tanya nyonya setengah menghardik.
Perempuan dengan rambut gaya klasik sebahu yang dicatok rapi itu berdiri di ambang pintu dapur. Tangannya terus bersedekap layaknya orang kedinginan. Padahal mungkin saja, puncak kepalanya siap mengepulkan asap akibat kemarahan yang semakin meradang.
Jantung Kinanthi dan bi Idah terus berpacu. Terutama pada jantung bi Idah, kian bertalu-talu. Laksana tabuhan genderang perang pertanda sebentar lagi duel tanpa senjata bakal menggelandangnya ke tengah arena.
Tidak! Jangan sampai hal itu terjadi!
“Hei, jawab!” bentak nyonya kemudian.
Ia melangkah mengitari tubuh bi Idah yang berdiri semakin gemetaran.
“Kok masih diam saja?” Lagi-lagi nyonya membentak, “tadi berani ngomongin di belakang, sekarang kok malah persis keong diceburin kolam?”
“Duh, nyonya! Perkataan Anda maha benar. Mengapa juga kami lancang membicarakan Anda?” batin bi Idah mulai berkecamuk dipenuhi rasa bersalahnya.
“Lagian kenapa juga Anda tadi sampai mendengar percakapan kami? Dasar mulut ini kurang kerjaan maunya membicarakan kejelekan orang lain di belakang. Meskipun yang diomongin adalah fakta. Namun, tetap saja itu perbuatan yang tidak baik.” Perang batin telah menguasai pikiran bi Idah.
“Ma—maafkan kami, Nyonya,” kata bi Idah terbata akibat kegugupannya. Namun, ia masih terus menunduk. Tak berani mengangkat muka takut kalau sampai bersitatap dengan sepasang bola mata yang membelalak lebar.
“Tadi siapa yang suruh ngomong seenak jidat?” Sepertinya murka nyonya memang sudah menguasai puncak kepala. “Kalian keterlaluan! Nggak punya sopan, ngerti?”
Setelah kalimat makian itu terlontar, dan saking tidak terimanya nyonya terhadap bi Idah sebagai pemicu amarahnya, nyonya pun membuat perhitungan dengan caranya sendiri.
Tangannya terayun ke udara hampir mendarat ke wajah bi Idah, kalau Kinanthi tidak segera maju selangkah. Menepisnya. Namun, kejadian nyata selalu berbeda dengan serial drama televisi yang menjadi tontonan emak-emak kece berdaster.
Kinanthi yang berniat menjadi pahlawan, eh, justru ....
Plak!
Kenyataannya nyonya memang seagresif dari yang Kinanthi sangka. Tangan yang tadi tak sempat mengenai pipi bi Idah, kini mendarat telak menyentuh pipi chubby miliknya sendiri hingga sudut bibirnya berdarah.
Rasa panas dan perih langsung menjalari bekas tamparan. Rona merah pun membekas jelas, bisa menyisakan tanya bagi yang melihatnya.
“Kinan, kamu ndak apa?”
Bi Idah buru-buru membingkai pipi Kinanthi dengan kedua telapak tangannya, tak peduli pada pelototan nyonya yang nyaris membuat bola matanya sendiri melompat.
“Kinan, ini berdarah.” Tangan bi Idah yang kapalan itu mengusap-usap pipi Kinanthi hingga sudut bibir, berusaha menyeka darah yang keluar.
“Itu akibat dari mulut kalian yang lancang.” Nyonya terus memaki.
Dari arah ruang keluarga terdengar derap langkah yang mendekat. Membuat nyonya menghentikan makiannya. Menunggu siapa yang datang. Hingga raut wajah kemayu milik Mayang terlihat. Ia bergelayut manja pada lengan lelaki berusia akhir empat puluhan. Yang tidak lain adalah papanya sendiri.
“Kenapa sih, Tan? Kok dari tadi, Mayang dengar tante marah-marah terus?”
“Noh, gara-gara ntu, tuh?”
Telunjuk nyonya mengarah kepada Kinanthi dan bi Idah bergantian.
“Memang kenapa mereka?”
Mayang jadi ikut bergantian memandangi kedua orang yang menyebabkan tantenya marah besar. Kinanthi berusaha menegakkan kepalanya, ia memaksa hatinya untuk menyapa pak Herman. Agar suasana keruh di dapur segera terleraikan.
“Pak Herman, kok baru pulang? Sibuk apa saja selama ini, Pak?” tanya Kinanthi.
__ADS_1
“Heih! Emang kamu siapa? Kok minta diberi tahu segala dia sibuk apa? Heh?” Mayang menyahut angkuh.
Ah, Kinanthi! Kamu salah lagi, kan? Tidak seharusnya bertanya-tanya disaat segenting itu? Bisa-bisa kamu nanti dicincang halus sama nyonya, dijadikan bakso daging buat santap siang.
Jangan sampai, deh!
“Kinan! Sini kamu ikut bapak sebentar,” pinta pak Herman.
Aman. Lega rasanya mendengar permintaan itu. Ia bisa segera menghilang sementara dari pandangan nyonya yang mengerikan.
“Permisi, Nyonya.”
Dasar Kinanthi, ia masih sempat-sempatnya meledek nyonya dengan senyuman di sudut bibirnya. Kakinya mulai melenggang.
“Eh, sebentar!” Kinanthi berbalik lagi memastikan kembali apa yang baru saja dilihatnya. Ia berjalan mengitari nyonya yang tetap berdiri mengawasinya, kemudian berhenti tepat di belakang tubuh dengan pakaian yang serba kasual itu. “Ada kelabang nempel di baju,” teriaknya lantang.
“Bi Idah!” seru nyonya langsung kalap, ia ketakutan.
“Semangat, Bi!” Kinanthi mengedip dengan sebelah mata sebagai kode. Bi Idah mengangguk paham.
Dengan langkah lebarnya Kinanthi mengejar pak Herman yang sudah menjauh. Ada senyum puas yang tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.
“Kinan, kamu—”
Bibir nyonya komat-kamit seperti orang merapal doa, padahal dalam hatinya ia sedang merutuk tak karuan terhadap ulah Kinanthi barusan.
“Sudahlah, Tan! Jangan marah-marah terus nanti ubannya tambah semakin banyak, loh!”
“Mayang!”
Kini giliran Mayang yang dibentak. Bi Idah jadi berfikir, apa ini nyonya sedang PMS? Dari tadi marah-marah melulu. Ya, mungkin saja memang begitu. Makanya tingkat emosinya gampang banget meledak gara-gara masalah sepele.
••••
Sementara pak Herman meremas-remas jemarinya, menetralkan pikirannya. Membuat pandangan Kinanthi mulai tidak sopan, fokus pada jari-jari pak Herman yang terus dipelintir-pelintir.
Apa enggak sakit? Atau fobianya dekat-dekat dengan perempuan lain selain keluarganya belum sembuh?
“Kinan,” panggil pak Herman memulai pembicaraan, “kamu tahu keberadaan Tuan?” tanyanya kemudian setelah keadaannya dirasa cukup rileks.
“Hah?”
Kinanthi melongo, ia heran mendapati pertanyaan pak Herman yang terbilang ganjil. Kok bisa-bisanya beliau bertanya seperti itu? Apa ada dasarnya?
“Mana mungkin Kinan berani menyembunyikan Tuan, Pak. Sungguh.”
Pak Herman tersenyum satire, dan dibalas dengan senyum canggung oleh Kinanthi.
“Beneran kamu tidak tahu?”
Kinanthi menggeleng. “Tuan itu sudah besar, Pak. Mana mungkin mau Kinan sembunyikan?” Kinanthi benar-benar tidak tahu akan keberadaan tuannya.
Tadi pagi, sewaktu bangun tidur saja Tuan Nabastala sudah pergi. Dan belum sempat bertanya pada bi Idah, di ruang tamu ia sudah mendengar kabar kecelakaan yang dialami oleh tuannya.
Tentu saja Kinanthi semakin khawatir. Dan sekarang, pak Herman menanyainya soal keberadaan tuannya. Terus hubungannya dengan dia apa coba?
“Kamu tahu, jika mobil Tuan mengalami kecelakaan?”
“Iya, tahu. Tadi pagi orang dari pihak asuransi kendaraan datang mengabarkan mobil Tuan Nabas yang mengalami kecelakaan.”
“Kamu juga tahu, kalau Tuan tidak ada di dalamnya?”
__ADS_1
“Tahu. Orang dari pihak asuransi kendaraan juga bilang.”
Pak Herman termenung sesaat. Mengetuk-ngetukkan jemarinya pada meja marmer antik, yang terdapat pola-pola unik berbentuk garis-garis tak beraturan. Mungkin sedang memikirkan kemungkinan akan keberadaan Tuan Nabastala.
“Kok, Bapak bisa tahu, kalau mobil Tuan mengalami kecelakaan?” Kinanthi memecah lamunan pak Herman.
“Sama. Tadi pagi juga ada orang yang mengaku dari pihak asuransi kendaraan, mengabarkan Tuan mengalami kecelakaan.”
“Mungkin itu orang suruhan Tuan,” tebak Kinanthi.
“Kenapa harus nyuruh orang lain?”
Alis Kinanthi bertaut, mendapati pertanyaan balik dari pak Herman. Benar juga, kenapa Tuan harus menyuruh orang lain? Otak Kinanthi jadi nge-blank, akhirnya ia pun memilih diam. Takut juga jika salah berbicara nantinya.
“Kalau Tuan sendiri, kenapa nggak telepon kita langsung?”
Perasaan bingung menjalari pikiran Kinanthi, bersebelahan dengan rasa khawatirnya. Oh, Tuan! Di mana engkau gerangan berada? Dan apa yang sedang terjadi pada engkau di sana?
“Apakah kecelakaan ini sudah dilaporkan pada pihak yang berwajib?” Kinanthi kembali bertanya. Namun, kali ini dengan nada pelan penuh hati-hati.
“Sepertinya sudah.”
Sepertinya sudah? Kinanthi tak habis pikir, bagaimana bisa jawaban semacam itu terlontar dari bibir orang kepercayaan Tuan Nabastala sendiri.
“Tuan! Boleh Kinan tanya sesuatu?”
Kinanthi merasa menyerah dengan permasalahan tuannya. Lebih baik ia tak melibatkan diri semakin jauh terhadap urusan yang sedang menimpa Tuan Nabastala. Karena ia merasa ada konspirasi besar di balik kecelakaan yang sedang terjadi. Takut jiwanya bakal ikut terancam juga.
“Apa?” Pak Herman memandangi Kinanthi.
Sesaat keduanya beradu pandang, kemudian Kinanthi segera mengalihkan pandangan. Ia memilih mengamati potret di dinding yang tergantung dengan angkuhnya.
“Bapak selama ini ke mana? Kok setelah kepulangan Mayang dari rumah sakit, Bapak tidak pernah pulang?”
“Kamu nggak tahu?”
Pandangan keduanya kembali bertemu. Dan Kinanthi mencoba tersenyum sewajar mungkin. Meski, ia mulai diselubungi rasa kurang suka atas pandangan pak Herman yang menyelisik.
“Sungguh Kinan tidak tahu, Pak.”
“Oh,” desah pak Herman. “Tuan tidak pernah bercerita?”
“Tidak pernah,” jawab Kinanthi lirih.
“Sebaiknya kamu tanya langsung saja sama Tuan.”
“Kok, begitu?”
“Karena dia sekarang lebih mempercayai kamu ketimbang saya.”
Pak Herman menyingkap ujung lengan kameja cream polosnya. Memeriksa arloji yang melingkar di pergelangan tangan. “Sepertinya saya harus segera balik,” katanya kemudian.
“Loh, Bapak mau ke mana? Tidak tinggal di rumah ini lagi?”
Laki-laki di hadapan Kinanthi itu menggeleng lesu, seraya berdiri. Membuat Kinanthi semakin heran dengan perubahan wajah pak Herman. Pasti ada sesuatu yang tengah disembunyikan. Tetapi apa? Kinanthi tak mungkin mengorek keterangan langsung dari pak Herman.
Seandainya Tuan ada, Kinanthi pasti bisa bertanya banyak hal kepadanya. Lah, sekarang Tuan pergi entah ke mana. Lantas mau bertanya pada siapa coba? Cicak yang menempel di dinding?
Oh, Tuhan!
Seandainya lelaki menyebalkan yang telah menjulukinya siput itu ada, pasti ia akan membuatkan makanan kesukaannya; rendang hati ampela ayam. Sebagai bentuk gratifikasi dalam konotasi negatif. Dan setelahnya, ia bisa mengorek banyak hal. Sepertinya itu menjadi rencana yang sangat brilliant.
__ADS_1
Ya, semoga saja berhasil, Kinan!