Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Prasangka


__ADS_3

Setelah melepas kepergian Tuan Nabastala yang hendak pergi ke kantor, bi Idah kembali melanjutkan tugasnya bermaksud menguras tampungan air di balkon belakang yang tadi sempat tertunda sebentar akibat apa yang sedang didengarnya. Sebuah konspirasi jahat antara nyonya dengan entah siapa.


Awalnya, pagi-pagi bi Idah sudah menggerutu saja, sewaktu mandi ia mendapati air yang mengucur dari kran sedikit keruh dan berbau. Kan aneh, nggak seperti biasanya. Ternyata pada tampungan terdapat banyak endapan yang cukup serius sehingga mengeluarkan bebauan yang tidak sedap.


Semua itu sepertinya disebabkan oleh kadar mangan (Mg) dan zat besi (Fe) yang berlebih sehingga saluran airnya pun mulai ikut terhambat.


Tak menyangka jika hal itu justru menjadi juru selamat bagi Tuan Nabastala sendiri melalui perantaranya bi Idah yang mendengar pembicaraan nyonya di telepon.


Selesai mengutak-atik saluran airnya, bi Idah langsung membuang seluruh isi dalam tampungan dan mengguyurnya lagi hingga bersih. Melihat kondisinya yang begitu kotor mungkin sudah bertahun-tahun tidak pernah dibersihkan.


Eh, tunggu dulu!


Ini kawasan Kemang, sebuah kota megapolitan. Bagaimana bisa tempat se-elite ini memiliki PDAM yang pelayanan pendistribusian airnya bisa sejelek itu, membuat bi Idah mulai berpikir yang aneh-aneh.


Eh, tunggu sebentar!


Di tampungan air, kan memang terlihat banyak sekali endapan. Ya, bisa saja kalau ternyata sudah bertahun-tahun tidak pernah dibersihkan. Sehingga kotoran yang mengendap makin lama semakin menumpuk banyak. Halaman saja yang tidak disapu berhari-hari pasti bakal kotor, lah ini? Jika benar bertahun-tahun tak dibersihkan salah siapa coba? Salah pihak PDAM atau pemiliknya yang jorok, sih? Yei!


Ah, sudahlah!


Semua itu sudah tidak penting lagi, yang terpenting sekarang tampungan airnya sudah bersih lagi. Dan lakon jahat nyonya juga bisa diketahui meski tanpa sengaja. Keuntungan dari menguras tampungan air ceritanya.


Wah, itu bi Idah pede amat, ya?


Berhubung sudah selesai bi Idah pun melenggang, melintasi depan kamar Tuan Nabastala untuk selanjutnya menuju tangga. Pas di depan kamar tuan, diingatnya kalau semalam Kinanthi tidak tidur bersamanya. Padahal kan, kamarnya sekarang ditempati Mayang. Jangan-jangan dia tidur sekamar bersama Tuan?


Ah, dasar si bibi yang emang super kepo. Kakinya mulai berjingkat, hendak mengintip di dalam kamar. Toh, ia tahu, jika Tuan Nabastala sudah berangkat kerja. ‘Kan enggak apa-apa kalau cuma mengintip Kinanthi saja. Langkahnya semakin pelan, tangannya siap memutar knop pintu.


Klik.


Suara yang bersamaan dengan daun pintu terbuka. Bi Idah ancang-ancang hendak melongokkan kepalanya.


“Bibi mau ngapain?” tanya nyonya yang kebetulan juga keluar dari kamar Mayang yang bersebelahan dengan kamar Tuan Nabastala.


Bi Idah jadi gemetaran. Sial. Aksinya kepergok nyonya. Ya, Tuhan, padahal ia tidak sedang merencanakan niat jahat. Kenapa begitu mudahnya bisa diketahui?


“Em ... nga-nganu, Nyonya.” Bi Idah gugup.


“Nganu apanya?” tegas nyonya penuh selidik.


“Mau bangunin Kinan, maksudnya.”


“Mau bangunin, Kinan?” Nyonya mengulang pertanyaan bi Idah, “memang Kinan tidur di kamar Nabas?”


Anehnya tubuh sedikit tambun itu justru semakin gemetar, seolah menandakan ia sedang bersalah. Padahal emang ia sedang bersalah hendak masuk kamar orang tanpa izin. Tapi bukan itu permasalahannya. Melainkan tak seharusnya ia bilang sama nyonya kalau Kinanthi sedang berada di kamar Tuan Nabastala. Ah ... bi Idah! Bisa berabe nih akibatnya.


“Nggak sopan,” maki nyonya dengan kasarnya.

__ADS_1


“Maaf,” jawab bi Idah sambil menunduk, “lagian Tuan juga sedang nggak ada di kamar.”


“Nggak di kamar? Emang dia ke mana?”


Rasanya seperti sedang diinterogasi saja. Padahal ia juga bukan tertuduh tindak kejahatan. Itu yang tertangkap di benak bi Idah. Apa ia harus berbohong saja? Ah, bohong itu bukan perbuatan baik. Itu berdosa.


“Minggir!” Nyonya merangsek masuk mendorong bi Idah agar tak menghalangi jalannya.


“Ih, dasar jahat! Main dorong orang tua aja,” batin bi Idah.


Karena juga penasaran dengan Kinanthi, Bi Idah pun mengikuti masuk ke dalam kamar. Di dalam terlihat Kinanthi masih bergelung di bawah selimut tebal milik Tuan Nabastala. Tubuhnya miring menghadap ke tembok, dengan dengkurnya yang teramat halus nyaris tak terdengar.


Nyonya sudah terlihat semakin geregetan saja ingin menyeret Kinanthi keluar dari balik selimut. Namun, langkahnya terhenti ketika netranya tertuju pada secarik kertas tertindih pulpen di atas nakas dengan segelas susu di sampingnya.


Bi Idah pun ikutan mengintip. Membaca.


“Jangan lupa susunya diminum, biar harimu selalu manis seperti susu ini.”


Cih!


Saking kesalnya, nyonya menarik kertas itu dan meremas-remas, lantas melemparnya asal. Semakin lama perasaan tidak sukanya terhadap gadis belia itu semakin menjadi. Bi Idah sebagai peran figuran memilih berdiri di belakangnya dan cuma mengamati saja, tak mau melibatkan diri dalam urusan ketidaksukaan terhadap perawan manis yang satu itu. Karena nantinya pasti berhubungan dengan Tuan Nabastala yang garang.


Kan, mending nggak usah!


••••


Segera saja ia beranjak ke kamar mandi setelah sebelumnya merapikan tempat tidur, melipat selimut hingga rapi. Pandangannya tertuju pada segelas susu di atas nakas. Apakah untuknya? Namun, ia tak berani meminum takut dibilang lancang.


Di bawah sana terdengar suara gaduh, sepertinya berasal dari ruang tamu. Entah apa yang sedang terjadi. Lekas-lekas ia segera menuruni anak tangga, ingin melihat apa yang sedang terjadi di sana.


Di ruang tamu, ada nyonya dan Mayang yang duduk bersebelahan. Seorang bapak-bapak sekitar usia 40 tahunan duduk berhadapan dengan mereka. Bapak tersebut mengenakan pakaian setengah formal. Sedang bi Idah berdiri mematung tidak jauh dari ketiganya. Semuanya terlihat jelas dari arah tangga yang sedang Kinanthi lewati. Raut wajah yang menampakkan kegelisahan.


Gadis belia itu enggan untuk masuk ke dalam ruangan, takut kehadirannya akan mengganggu saja. Ia lebih memilih bersandar pada tembok yang terlindung dari penglihatan semua yang ada di ruang tamu. Berencana menguping. Dih!


Suasana malah menjadi hening, tidak lagi terdengar percakapan sama sekali. Apa mereka tahu, kalau ada seseorang yang tengah menguping pembicaraan? Halah, itu mungkin perasaan Kinanthi saja, karena detik-detik berikutnya mulai diselimuti ketegangan.


“Jadi bapak serius nggak tahu, keberadaan pengendara mobil yang mengalami kecelakaan tersebut?”


“Maaf, Bu! Saya benar-benar tidak tahu keberadaan pengendara mobil tersebut.”


Mayang terdengar langsung menukas, “Kalau bapak tidak tahu, kok bapak bisa yakin kami adalah keluarga pengendara tersebut?”


“Maaf Nona, begini ... bisakah Anda mendengarkan penjelasan saya terlebih dahulu?”


Suasana hening sesaat, kemudian si bapak kembali melanjutkan ceritanya.


“Tadi pagi sekretaris saya mendapat telepon dari orang tak dikenal. Tentu saja kami pikir itu cuma penipuan semata. Namun, orang tersebut berhasil meyakinkan kalau ini murni kasus kecelakaan dan tidak ada indikasi penipuan.” Suara si bapak terjeda sebentar, untuk mengatur pernapasannya, kemudian melanjutkan kembali bicaranya, “seseorang yang menelepon sekretaris saya tersebut mengabarkan mobilnya sedang mengalami kecelakaan dan memberikan informasi dan data lengkap tentang mobil yang sedang dikendarainya.”

__ADS_1


Dada Kinanthi terasa berdebar-debar menunggu kelanjutan cerita tersebut. Benarkah Tuan Nabastala sedang mengalami kecelakaan? Dan, bagaimana keadaannya sekarang? Argh ... semoga saja bukan! Dan yang melintas itu hanya sekedar pikiran kotor Kinanthi saja.


Mayang lagi-lagi menyela, ia beneran tidak sabaran, “Terus bagaimana kelanjutannya, Pak?”


Uhk!


Bapak itu tersedak suguhan air putih yang sedang diminumnya. Terkejut dengan pertanyaan Mayang yang seolah-olah memintanya lekas melanjutkan cerita.


Melihat si bapak yang tersedak itu justru memaksa Mayang untuk segera meminta maaf. Dan si bapak pun melanjutkan ceritanya.


“Mobil yang diklaim mengalami kecelakaan tersebut terdaftar dalam perusahaan asuransi kami. Jadi itulah mengapa, saya selaku founder perusahaan terpaksa datang atas permintaan penelepon tersebut sesuai dengan alamat rumah yang telah diberikan. Demi memastikan jika mobil berplat B 1411 NN tersebut adalah milik keluarga ini.”


Kinanthi hampir melonjak kaget, ketika bi Idah tiba-tiba muncul dari ruang tamu. Memergokinya sedang menguping.


“Bibi apaan sih, ngagetin aja!” pekik Kinanthi tertahan.


“Helah, ngapain juga kamu di situ? Nguping?”


Kinanthi menyembunyikan senyumnya di balik telapak tangannya yang menutupi bibir. Ia tak bisa berpura-pura di hadapan perempuan yang sudah dianggapnya sebagai emak keduanya itu.


“Malah nyengir! Sini ikut!”


Bi Idah menggamit lengan Kinanthi dan mengajaknya pergi ke dapur. Kaki bi Idah melangkah dengan tergesa-gesa seolah ada yang sedang diburunya.


“Kenapa sih, Bi?” tanya Kinanthi keheranan.


“Nyonya itu ternyata jahat banget,” gerutu bi Idah.


Sesampainya di dapur bi Idah justru mondar-mandir. Seperti orang kebingungan tengah mencari atau malah memikirkan sesuatu.


“Jahat? Apanya yang jahat, Bi?” Kinanthi ikutan mondar-mandir persis orang yang kurang kerjaan.


“Ah ... bingung lah, harus dari mana memulai ceritanya.” Bi Idah mengeluh. “Intinya, nyonya itu sedang merencanakan niat jahat terhadap Tuan Nabastala.”


“Kok bibi bisa tahu?”


“Tadi pagi sewak—”


Bola mata bi Idah membeliak, merespons kehadiran nyonya yang sudah berdiri di ambang pintu. Apakah perkataannya barusan sudah didengar oleh nyonya?


Oh, tidak! Jangan sampai! Vakum sudah tugasnya jika pembicaraannya dengan Kinanthi sudah didengarnya.


Ah ... jadi bikin jantungan!


Lagian siapa suruh tadi ngomongin orang di belakang. Kalau memang niat, ngomongin orang itu di depannya. Kalau memang mau disembur, ya, biar disembur aja sekalian.


Bagaimana, berani?

__ADS_1


__ADS_2