
“Kau ... kau, siapa?” tanya Kinanthi dalam separuh kesadarannya.
“Tenang gadis manis. Abang tak akan menyakiti kamu, kok!”
Tangan laki-laki di hadapan Kinanthi terus bergerilya, menelusuri setiap jengkal wajahnya. Rasa hangat menjalar. Membuat jantungnya berpacu semakin cepat memompa aliran darah ke seluruh tubuhnya.
Aneh!
Bukankah dia orang asing? Kenapa perasaan semacam itu justru bisa muncul? Bahkan membuatnya merasakan sensasi yang menggelitik pada area vitalnya.
Kinanthi menggeliat seperti cacing kepanasan, suhu udara di ruangan terasa semakin panas, ia merasa kegerahan. Pikirannya yang setengah sadar mulai berhalusinasi.
“Sepertinya kamu kegerahan?” bisik laki-laki itu lembut. Embusan napasnya cukup menggelitik rongga telinga. “Aku lepasin jaket kamu, ya.”
Sepertinya laki-laki itu tak butuh menunggu jawaban Kinanthi. Tangan kokohnya sudah berusaha melolos bolero yang menempel erat.
Tubuh Kinanthi yang dipaksa setengah duduk merasa begitu lemah semakin tak berdaya. Seperti hidup tidak hidup, sedang mati pun tidak mati.
“Tuhan! Tolong bantulah, Kinan,” ratapnya memohon dalam hati.
Dan, demi Tuhan pemilik segala kebaikan, semesta sedang bermurah hati kepadanya. Doa yang baru mengangkasa, segera disambut oleh ijabah-Nya.
BRAK!
Suara benturan keras terdengar dari arah pintu. Seseorang pasti sedang mendobraknya.
Tidak lama berselang ....
“Kinan!” pekik seseorang. Panggilan itu begitu familiar bagi telinga Kinanthi.
“Tuan,” sebutnya lirih.
“Heh! Lu siapa?” teriak laki-laki yang bersama Kinanthi dengan lantang. Ia terlihat sedang sibuk melepas bolero yang dikenakan Kinanthi.
“Berani-beraninya menyentuh wanita gue,” bentak Tuan Nabastala tak kalah lantang.
Sebuah tendangan mendarat tepat mengenai perut laki-laki berwajah ovel yang memakai t-shrit berwarna navy. Membuatnya terpental membentur tembok.
“Bangke, lu manusia,” makinya sarkas.
Mendengar makian tersebut, tentu saja makin menyulut emosi Tuan Nabastala. Tinjunya yang sudah mengepal hampir melayang, kalau Mahika yang baru datang tidak segera menahannya.
“Nabas, cowok tengik itu serahin ke gue.” Dicekalnya pundak sahabatnya yang sedang tersulut amarah, “lu tolongin Kinan dulu,” sarannya kemudian.
Meskipun kemarahan sedang menguasai separuh jiwanya, Tuan Nabastala masih bisa membedakan mana yang lebih penting, dan mana yang cuma pelampiasan amarah. Kinanthi sedang membutuhkan dirinya.
__ADS_1
“Kinan! Hei, Kinan!”
Tak ada sahutan. Tuan Nabastala mengguncang-guncang bahu Kinanthi lagi. Terus memanggil-manggil namanya.
“Kinan ... bangun, Kinan!”
Masih tak ada reaksi.
••••
Rumah sakit Deluxe Suite, Kemang.
Badan Kinanthi terbaring lemah tidak sadarkan diri di salah satu ruangan rumah sakit tersebut. Seorang dokter perempuan yang terlihat masih sangat muda sedang memeriksanya.
“Dia tidak apa-apa kan, Dok?” tanya Tuan Nabastala merasa cemas.
“Dia tidak apa-apa. Cuma pengaruh obat Rohypnol atau lebih dikenal dengan nama lain Roofies. Sejenis obat berwarna putih yang cepat larut dalam air yang terkandung di dalam minumannya,” jawab sang dokter menjelaskan dengan ramah.
“Obat? Bagaimana mungkin?”
“Bagaimana tidak mungkin?”
Dokter perempuan yang diketahui namanya Sarah, dari ID card yang ditempel menggantung pada saku jas kerjanya memandang Tuan Nabastala dengan tatapan heran.
“Eh, bukan. Bukan begitu maksud saya, Dok.” Tuan Nabastala jadi salah tingkah. “Maksud saya, kok bisa dia meminum obat tersebut?”
Senyuman dokter Sarah begitu menawan. Menampakkan deretan gigi gingsulnya yang putih, bersih. “Tenang! Anda nggak perlu grogi, mungkin sebentar lagi dia bakal siuman.”
Apa? Dokter barusan menyebutnya grogi? Tuan Nabastala tersenyum walau sedikit dipaksakan. “Terima kasih, Dok. Kira-kira kapan pasien diperbolehkan pulang?”
“Kita lihat perkembangannya nanti, ya ....”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
“Oke. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Dokter Sarah segera meninggalkan ruangan, melanjutkan pekerjaannya memeriksa pasien lain yang masih tertera dalam daftar periksa.
Dan Tuan Nabastala mematung. Ia merasa IQ-nya mendadak turun di bawah standar IQ rata-rata, setiap berhadapan dengan Kinanthi dan permasalahannya. Gejala penyakit, kah?
••••
“Gimana keadaan Kinan sekarang? Dia nggak apa-apa, kan? Atau ...?” Mahika segera mencecar dengan berbagai pertanyaan ketika masuk ke dalam ruang rawat Kinanthi.
“Njir! Jangan nanya kek polisi lagi interogasi penjahat, napa?”
__ADS_1
Tuan Nabastala yang sedang berdiri sambil bersedekap di samping sahabatnya itu tersenyum kecut. “Ini semua gara-gara gue,” umpatnya kecewa.
“Jangan nyalahin diri sendiri. Sudah takdir, Bro!” Mahika menasehati.
“Andai saja gue nggak nurutin kemauan lu pada, mana mungkin gue bawa-bawa Kinan!” sungutnya bertambah emosi. “Eh, tunggu bentar! Ngomongin soal lu pada, Ehzan ke mana?”
Ha-ha-ha. Mahika tertawa ngakak.
“Hust! Berisik. Gangguin Kinan!”
“Oh, sorry ... sorry, Bro!”
“Kenapa lu ketawa?”
“Lu barusan tanya soal Ehzan, itu yang bikin gue ngakak.”
“Emang kenapa?”
Akhirnya Mahika bercerita tentang Ehzan yang ngajakin clubbing sebelum mereka kembali lagi ke Jepang. Tentu saja nggak ada masalah. Oke. Eh, ternyata dia mengajak juga si Anita sahabatnya Kinanthi.
“Terus?”
“Ya, gue nggak mau apes, dong! Makanya gue ngajak elu sama Kinan, biar bukan cuma gue yang jadi korban.”
“Njir! Puas lu sekarang?” Tangan tuan Nabastala meneleng kepala sahabatnya, kemudian menunjuk tubuh Kinanthi yang sedang terbaring dalam keadaan belum sadarkan diri.
“Sorry. Kita kan juga nggak tahu kalau kejadiannya bakal seburuk ini.”
“Dasar Munyuk!”
“Sorry, Kampret!”
Kedua tangan laki-laki dewasa itu mengepal, melayang di udara. Saling menghantam dada masing-masing sahabatnya.
“Terima kasih, mau jadi sahabat gue.”
Sebuah adegan dramatis di ruangan rumah sakit, Mahika merangkul sahabatnya.
“Dan gue, juga thank‘s.”
Tawa keduanya berderai. Keadaan Kinanthi yang masih belum sadarkan diri tidak begitu mempengaruhi suasana hati keduanya.
Namun, di dalam hati Tuan Nabastala terus melangitkan dedoa, semoga Kinanthi cepat sadar.
“Eh! Lu tadi belum bilang, Ehzan ke mana?”
__ADS_1
“Ya ampun, Bro ...! Lu nggak ngeh, juga?”