
“Untuk kaki yang sedang melangkah, semoga engkau menemukan arah. Tidak limbung meski pikir terkadang linglung.”
Hidup adalah tentang keputusan yang harus diambil dan dijalani dengan kensekuensi masing-masing.
Kinanthi tengah berdiri mematung, sambil menunggu Tuan Nabastala menghabiskan santapan paginya. Pandangannya menatap lurus pada foto berbingkai keemasan dengan ukuran segede gaban, terpajang angkuh di tembok tepat di belakang Tuan Nabastala tengah duduk.
Menampilkan potret sesosok lelaki yang gagah penuh wibawa dan berkharisma, dengan balutan tuxedo berbahan sutra dipadankan kemeja berkerah sayap dan dasi kupu-kupu. Betapa beruntungnya ia yang terlahir dengan wajah begitu sempurna.
“Kinan.”
Pandangan Kinanthi bergeser, pada lelaki yang terkadang menyebalkan di hadapannya itu, “Iya, Tuan.”
“Bagaimana menurut kamu?”
“Apanya?” Dahi Kinanthi berkerut, ia tak bisa menangkap dengan cepat apa yang dimaksud sang tuan.
“Ganteng, nggak?”
Akhirnya Kinanthi paham kearah mana pembicaraan sang tuan, “Lumayan,” jawabnya polos.
“Hah, cuma lumayan?”
“Terus Kinan harus bilang apa? Ganteng banget, gitu?”
“Ya, mungkin saja. Siapa tahu kamu bakal memuji ketampananku.”
“Foto hanyalah sekedar pengabadian potret seseorang. Kita yang memandangnya tidak tahu persis bagaimana proses pengambilan gambar dilakukan. Ya, mungkin saja dengan kepura-puraan, misalnya.” Ada seringai sinis di bibir Kinanthi.
Tuan Nabastala tertegun sejenak mendengar kata-kata Kinanthi, “Ya mungkin saja begitu, tapi paling tidak yang terlihat kan bisa mewakili karakter pemilik foto.”
“Iya, perwakilan yang sering kali menipu pemiliknya sendiri.” Kinanthi bergumam.
Gumaman yang lebih mirip dengungan lebah itu masih mampu didengar dengan jelas oleh Tuan Nabastala. Membuatnya berfikir, mencerna kata-kata yang baru saja Kinanthi ucapkan.
Melihat hal itu, Kinanthi segera membereskan piring dan gelas kosong bekas sarapan sang tuan. Setelah itu buru-buru meninggalkan kamar, sebelum hal gila lain diperintahkan untuknya.
“Kinanthi,” teriak sang tuan dengan lantangnya.
__ADS_1
Tetapi Kinanthi masa bodoh, ia terus berlalu seolah-olah tak mendengar teriakan Tuan Nabastala.
••••
Ia baru menapaki beberapa anak tangga, di lantai bawah nyonya, pak Herman dan Mayang tengah duduk-duduk di ruang utama yang bisa di lihat dengan jelas dari lantai atas. Pandangan setiap pasang mata mengisyaratkan aura beratmosfer negatif ketidak sukaan.
“Kinanthi. Betul kan itu nama kamu?”
Langkah Kinanthi terpaksa berhenti, ketika Mayang sengaja menghadangnya pada anak tangga terakhir. Tangannya berkacak pinggang, seperti pak polisi yang menemukan mangsanya, si penjahat kelas teri tak berdasi.
“Iya, betul. Memang kenapa?”
“Aku peringatkan sama kamu, jauh-jauh dari Nabas. Ngerti,” bentak Mayang.
“Emangnya Anda siapa?” Kinanthi begitu tenang menghadapi perlakuan Mayang.
“Calon istrinya.”
Bwahah ... tawa Kinanthi hampir meledak, namun segera ditahannya. “Baru calon istri, kan? Iya kalau jadi, kalau nggak? Cih, pede amat jadi orang.”
Tangan Mayang mendarat kasar di pipi Kinanthi, menyisakan rasa panas serta ruam memerah. Tak disangka-sangka Mayang akan berbuat sekasar itu.
“Ngajakin berantem?” tantang Kinanthi masih dengan sifat kalemnya.
“Dasar pembantu,” teriak Mayang murka tepat di muka Kinanthi.
“Nggak apa pembantu, ketimbang situ,” cibir Kinanthi sambil berlalu.
“Lihat saja nanti, Nabas pasti bakal ngusir elu,” ancam Mayang dengan bibir bersungut-sungut kayak ikan lele lagi kelabakan cari mangsa.
Sepertinya hari-hari Kinanthi bakal lebih sengsara lagi setelah kehadiran si Mayang.
••••
Langit sore kota megapolitan terbesar di Indonesia terlihat mendung. Mungkin sebentar lagi semesta akan mengirimkan kabar duka, yang hadir bersama tumpahan air hujan mengguyur bumi pertiwi.
“Non Kinan,” panggil pak Herman ketika Kinanthi tengah menuang lauk ke dalam piring.
__ADS_1
Pak Herman mengawasi gerak Kinanthi yang cekatan dalam memasak, juga menyajikan makanan. Singguh kriteria idaman banyak lelaki.
“Iya, Pak.”
“Tuan sudah menunggu untuk makan malam, kamu cepat sedikit menyiapkannya.”
“Iya, Pak. Ini hampir rampung,” jawab Kinanthi tanpa menoleh.
Tergesa-gesa Kinanthi membawa piring-piring berisi aneka macam masakan bergantian. Sepiring besar ayam teriyaki, tumis jamur saus tiram, udang asam manis, semangkuk besar bakso brokoli kuah bening dan masih banyak yang lain. Terakhir ia membawa nampan berisi empat gelas jus apel.
Sedang fokus-fokusnya Kinanthi mengangkat nampan, si Mayang pengganggu datang dengan ulahnya. Mayang pura-pura mengambil botol air mineral dari kulkas, dan menjatuhkannya tepat di mana kaki Kinanthi tengah melangkah.
Tak bisa dibayangkan kecelakaan fatal yang menimpa Kinanthi. Kakinya terpeleset, nampan beserta isinya pun jatuh berserakan, jus apel dalam gelas pun muncrat ke mana-mana. Dengan tanpa dosa, Mayang mengambil botol air mineral yang dijatuhkan.
“Oh, sorry. Sengaja.” Seringainya sambil berlalu meninggalkan Kinanthi.
“Cih, dasar manusia licik,” desis Kinanthi.
“Kalau salah itu ya salah, nggak perlu cari kambing hitam.” Suara Tuan Nabastala mengagetkan Kinanthi.
“Tapi, Tuan—”
“Kerja yang becus. Bereskan semua. Dan sebagai hukuman karena kerjamu berantakan seperti ini, malam ini kamu tidak ada jatah makan.”
“Tidak ada jatah makan?”
Kinanthi tak menyangka sang tuan akan setega itu padanya. Tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan, bahwa semua itu bukan kesalahannya. Mayang ‘lah yang sengaja mencelakainya.
“Huh. Menyebalkan,” dengusnya kesal setelah Tuan Nabastala pergi meninggalkannya.
Meski hati Kinanthi tak rela diperlakukan seperti itu oleh Mayang, tetapi ia sendiri tak punya bukti untuk menyalahkan Mayang begitu saja. Dengan lesu, ia memunguti serpisah-serpihan gelas pecah. Sekali-dua kali tangannya tertusuk, darah segar mulai menetes dari jemarinya yang mungil itu. Namun, sakit hatinya tak sesakit jari-jemarinya yang terluka.
Mayang dan nyonya berdiri dari kejauhan, tersenyum penuh kemenangan menyaksikan langkah awal untuk menyingkirkan Kinanthi telah berhasil.
Dari lantai atas, diam-diam Tuan Nabastala mengamati kelakuan Mayang dan mamanya.
“Maaf, Kinan,” desisnya lirih.
__ADS_1