
Ia bagaikan tawanan masa lalu, ribuan detik berlalu mengakrabi sunyi. Kegelisahan merutuki wajah gundah yang seakan tunduk dalam pasrah.
Namun, secepat itukah ambisinya akan patah? Setelah susah payah ia bergelung resah.
Atau, ada rencana lain yang lebih terbingkai arah?
Mungkin saja.
Seiring keheningan pagi buta yang telah disusupi gigil menggelitiki seluruh pori-pori, seorang perempuan dengan rambut mulai ditumbuhi uban mengenakan sweater berwarna merah marun melekat erat di tubuhnya, terus berjalan mondar-mandir dengan kaki telanjang.
Di dalam kamar mewahnya berukuran 4×5 meter persegi, lampu kristal menggantung indah di langit-langit menyala pendar, menerangi wajah berkalung gelisah. Benda berbentuk pipih persegi panjang juga menempel anggun di dinding samping meja rias sebagai pemutar waktu.
Angka 04.15 bertengger sempurna, sebagai pertanda kesempatan paling nikmat kembali menyusup di balik selimut tebal nan hangat. Melanjutkan mimpi-mimpi hingga mentari menerobos ventilasi membelai pipi. Namun, perempuan itu tak memilih melakukan hal itu.
Seluruh pikirannya sedang terombang-ambing tak karuan dari semalaman.
Ia merasa tak rela jika usahanya belasan tahun lenyap dalam sekedip mata. Gara-gara kehadiran Kinanthi gadis kemarin sore yang membuat Nabastala mati-matian membelanya.
Yang entah apa untungnya?
Dengusan kasar berembus dari hidung minimalis, melampiaskan kekesalan hati mengingat perkataan kasar putranya Nabastala. Bukan. Tepatnya putra tirinya.
Digapainya ponsel berwarna gold di atas ranjang, kemudian menekan angka-angka yang tertera di layar menyala yang sudah ia hafal di luar kepala.
Tak lama berselang, “Hallo.” Seorang perempuan menjawab dengan suara serak. Seperti baru terjaga dari tidurnya yang nyenyak akibat suara berisik dari panggilan di gawainya.
“May, bangun!”
“Apaan sih, Tan? Masih terlalu pagi juga.”
“Bangun. Dan cepetan turun!” Perempuan itu memerintah kasar.
“Iya, iya.” Dengan dongkol diakhirinya panggilan.
Lima menit berselang, perempuan berwajah kusut masai, rambut acak-acakan tergerai seperti nyak Kunti berjalan menuju kamar yang barusan memintanya turun.
“Tan, bukain pintu,” panggilnya seiring suara gedoran.
“Pelan-pelan bisa, nggak?” gerutu sang tante yang membuka pintu memandangi wajah Mayang sambil nyengir, “Berisik, tau!”
“Iya, maaf.”
Tubuh dengan balutan baju tidur babydoll, celana selutut berbahan katun motif Mickey Mouse itu melangkah masuk mengikuti jejak tantenya. Lesu ia merebahkan diri di kasur empuk yang berhasil menyita perhatiannya.
__ADS_1
“Mayang,” teriak sang tante.
Rasa kantuk yang masih menyerang, membuat Mayang tak menghiraukan gelegar teriakan. Dibenamkan kepalanya di bawah bantal agar suara-suara susulan tak begitu bergaung mengganggu indra pendengarannya.
Timpukan guling berkali-kali memantul di atas bantal yang membenamkan kepalanya. Lama-lama ia merasa terganggu juga, hingga rasa kantuknya ikutan melesap tergantikan rasa kesal bercokol angkuh.
“Tante, kenapa sih harus begini?” Mayang menggerutu.
“Siapa juga yang ingin?”
“Tante!” Gurat kekecewaan mendominasi wajah berbentuk oval putih bersih meski pemiliknya belum mencuci muka, “sudah cukup kita bermain-main drama kayak gini, Tan!”
“Drama kamu bilang?”
“Terus apa namanya kalau bukan drama? Mayang capek harus didikte begini-begitu terus-terusan oleh Tante. Kita ini sudah gila, Tan! Ngerti, nggak?”
Suatu ketika tante Ara pernah mendatanginya di apartemen milik kekasihnya--Gibran--yang tengah ia tempati. Perempuan itu bercerita panjang lebar mengenai surat wasiat yang ditinggalkan papanya Nabastala.
Tertulis: “Separuh harta warisan secara otomatis akan dipindah atas namakan istri Nabastala Narendra ketika sudah berkeluarga” tentu saja keputusan itu tak bisa diganggu gugat lagi. Karena sudah ditandatangani papanya Nabastala di hadapan notaris beserta dua orang saksi. Dan di mata hukum surat wasiat itu memiliki keabsahan.
Harta yang begitu menggiurkan untuk dimiliki manusia berhati serakah semacam Laura.
Eh, tunggu. Sebenarnya Laura tidak begitu serakah. Dia hanya ingin menuntut haknya saja, ketika dunia sudah berlaku tak adil kepadanya. Di dalam harta kekayaan yang diwariskan untuk Nabastala, di sana ada serta keringat jerih payahnya dalam andil membesarkan jaringan perusahaan.
“Mayang! Bantuin mikir!” pinta tante Ara kasar.
“Yaelah, Tan! Ngapain juga panik. Nggak mungkinlah Nabas beneran ngusir kita.”
Sebenarnya Mayang merasa malas membahas perkara kemarahan Nabastala yang meledak-ledak hingga mengancam akan mengusirnya. Pergi ya pergi, baginya nggak ada bedanya. Lebih baik ia memikirkan alasan kenapa ia sampai keguguran kalau Gibran kekasihnya sudah kembali nanti.
“Kok malah bengong?” Senggol tante Ara.
“Tante pernah cerita, ‘kan? Soal surat wasiat papanya Nabas. Apa mungkin Kinan cuma sebagai sarana untuk mempercepat mendapatkan harta warisan dari papanya itu? Secara Kinan kan patuh banget sama Nabas.”
“Terus?”
“Kita hasut saja Kinan, kalau Nabas itu cuma memanfaatkan dia saja.”
“Apa hubungannya?”
“Ya kalau Kinan pergi, kita kan lebih leluasa lagi mengendalikan Nabas. Secara, nggak mungkin kan dia bakal cepat-cepat nikah. Atau begini saja—” Mayang membisikkan sesuatu ke telinga tante Ara. Dan anggukan keduanya sebagai tanda sepakat dengan apa yang baru dibisikkan Mayang harus menjadi rahasia masing-masing.
Apa yang sedang mereka rencanakan?”
__ADS_1
••••
“Tuan, Tuan ... tunggu!” panggil bi Idah ketika melihat Tuan Nabastala tergesa-gesa hendak pergi.
Lelaki berpakaian formal itu menghentikan langkahnya. Menunggu bi Idah yang mengejarnya.
“Kenapa, Bi?”
“Tuan mau ke mana?”
“Oh. Ini mau ke kantor, Bi. Memang kenapa?”
“Sepagi ini, Tuan?”
“Iya. Barusan dapat telepon dari kantor, katanya penting, begitu.”
“Oh, kirain mau ke mana.”
Tuan Nabastala mengamati perubahan mimik muka bi Idah yang terlihat aneh. Seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan.
“Bibi nggak apa-apa?”
Sebelum menjawab, pandangan bi Idah mengedar ke sekeliling seolah-olah takut ada yang bakal mendengarnya. Kakinya bergeser sedikit mendekat ke samping Tuan Nabastala dan membisikkan sesuatu.
“Bibi, yakin?”
“Sebenarnya nggak begitu yakin, Tuan. Tetapi bibi bisa memastikan kalau mereka memiliki rencana yang tidak baik terhadap Tuan dan juga Non Kinan.”
“Terima kasih, Bi. Kalau begitu tolong jagain Kinan. Saya berangkat dulu.”
“Hati-hati, Tuan.”
Tuan Nabastala menjawab dengan bahasa isyarat. Kakinya melangkah lebar-lebar menuju garasi. Bi Idah yang memandangi dari kejauhan komat-kamit mendoakan keselamatan tuannya. Ia merinding sewaktu mengingat rencana jahat nyonya yang didengarnya tanpa sengaja.
“Pokoknya kamu harus memastikan Nabas pergi ke kantor hari ini,” tegas nyonya yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Pagi tadi, Bi Idah berniat memeriksa tampungan air di balkon lantai atas karena airnya terlihat sedikit keruh dan berbau. Dan secara tak sengaja mendengar suara nyonya yang tegas itu. Tentu saja membuat perempuan yang sedikit tambun itu mencari arah suara dan melanjutkan menguping.
Di teras belakang yang jarang sekali didatangi, tepat di bawah balkon di mana bi Idah sedang berada, nyonya dengan suara tegasnya berbicara pada seseorang di telepon.
“Biar mobilnya aku yang mengatur dari rumah,” tegasnya lagi.
Bi Idah semakin menajamkan pendengaran karena ia percaya ada rencana jahat dari suara yang sedang didengarnya itu. Sehingga ia tak ingin ada kesalahan yang berakibat fatal nantinya.
__ADS_1
Tak peduli apa pun rencana jahat nyonya, Tuan Nabastala harus tahu. Itu yang dipikirkan bi Idah.