Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Konspirasi


__ADS_3

Aneh rasanya mendapat perlakuan yang tiba-tiba begitu istimewa. Padahal di hari-hari sebelumnya ia bagai bertaruh nyawa mendapati perlakuan tak mengenakkan. Kemarahan yang tiba-tiba meledak, tamparan bertubi-tubi menghampiri bagai ciuman di pipi bocah kecil yang menggemaskan.


Hampir seminggu Kinanthi diperlakukan bagai ratu di rumah sang Tuan Nabastala. Segala kebutuhan sehari-hari yang ia butuhkan tersedia di kamar baru yang kini ia tempati. Semenjak sepulang dari rumah sakit Tuan Nabastala menyiapkan kamar khusus untuknya. Tepat berada di samping kamarnya sendiri.


Kamar itu dulunya sering ditempati Luna setiap ia menginap. Setelah mereka putus kamar itu disulap menjadi gudang oleh Tuan Nabastala sebagai pelampiasan amarahnya. Tapi sekarang, kamar itu telah kehilangan kenangan dari masa lalunya setelah ditempati Kinanthi.


Tentu saja perlakuan istimewa Tuan Nabastala terhadap Kinanthi membuat Mayang semakin mendendam. Dari dulu ia diam-diam menyusun rencana jahat untuk mencelakai Kinanthi. Tetapi keberaniannya tak pernah semulus rencananya. Hingga ia menunggu waktu yang tepat.


“Semoga kali ini berhasil,” gumamnya sambil menuang cairan shampo di lantai kamar mandi.


Dua hari terakhir, Tuan Nabastala sedang sibuk dengan urusan pekerjaan di luar kota. Mayang diamanahi tugas menjaga Kinanthi untuk sementara waktu. Meski dengan hati dongkol, terpaksa Mayang menerimanya.


Merasa kesempatan itulah yang ditunggu-tunggunya selama ini untuk mencelakai Kinanthi. Mumpung Nabastala tak ada di rumah. Begitulah pikiran gila sedang merasuki otaknya.


“Kinan, mandi dulu gih! Air hangatnya sudah siap,” teriak Mayang dari dalam kamar mandi.


Kinanthi tak menyahut. Jujur ia risih sekali dengan perlakuan Tuan Nabastala yang kelewat baik terhadapnya. Sampai-sampai mencarikan suster khusus untuk menjaganya selama beberapa hari sepulang dari rumah sakit. Padahal ia merasa baik-baik saja dan bisa melakukannya sendiri. Namun, sang tuan bersikukuh dengan pendiriannya.


Tok ... tok ... tok.


“Siapa?” tanya Kinanthi dari dalam kamar.


“Bibi, Non,” sahut seorang perempuan paruh baya dengan suara khasnya.


“Masuk aja, Bi! Nggak dikunci, kok.”


Saking perhatiannya Tuan Nabastala terhadap Kinanthi, selain suster ia juga mencari pesuruh dari yayasan yang bersertifikat demi menggantikan semua tugas Kinanthi membersihkan rumah. Padahal dulu-dulu sang tuan tak pernah melakukan hal itu, sebab tak pernah mempercayai setiap orang asing yang tinggal di rumahnya.


“Non, Kinan,” panggil Bi Idah--nama pesuruh yang sengaja didatangkan sang tuan.


“Ada apa, Bi?”


“Tuan sudah kembali.”


“Tuan sudah kembali? Katanya seminggu ia pergi, lah ini baru juga dua hari.”


“Kalau soal itu, tanya langsung sama Tuan saja, Non!”


Bi Idah tersenyum meski sedikit ditahan-tahan. Takut menyinggung perasaan Kinanthi. “Tuan meminta Non Kinan turun sebentar,” imbuh bi Idah.


“Tapi Kinan harus mandi dulu. Air hangatnya nanti keburu dingin. Jadi, tolong bilangin begitu sama Tuan, ya, Bi!”


“Baik kalau begitu, Bibi turun dulu.”


Kinanthi memandangi punggung perempuan paruh baya yang terlihat begitu keibuan berlalu dari kamarnya.


“Kinan, lama amat sih?” Mayang menyembulkan kepalanya dari dalam kamar mandi, “airnya keburu dingin tauk.”


“Maaf.”


Diraihnya handuk yang sudah ia persiapkan di atas ranjang, kaki jenjangnya melangkah penuh kehati-hatian.


“Mayang, terima kasih banyak udah mau bantuin Kinan. Nanti aku bilang sama Tuan Nabas, agar kamu nggak perlu repot-repot lagi seperti ini.”


Handuk yang Kinanthi pegang ia kaitkan pada gantungan. Sementara Mayang bengong di tempatnya memegang gagang shower


“Mayang kamu kenapa?”


“Nabas sudah balik?” Cepat Mayang menjawab agar tak menimbulkan kecurigaan.


“Iya, barusan bibi yang ngasih tahu. Katanya aku disuruh turun dulu sama Tuan Nabas.”


“Lah, kenapa nggak turun dulu aja?”


“Sayang airnya keburu dingin.”

__ADS_1


Kinanthi hendak melangkah ke bathtub. Buru-buru tangan Mayang menarik tubuh Kinanthi agar menjauhi bathtub sebelum ceceran shampo yang sengaja ia tumpahkan terinjak. Tubuh mungil itu nyaris terhuyung atas ketidaksigapan tarikan tangan Mayang. Untung saja ia cepat menguasai diri.


“Kenapa sih, May? Aneh deh kamu itu.”


“Kamu keluar dulu gih, temui Nabas,” jawab Mayang dengan penuh penekanan.


“Aku udah bilang sama bibi kalau mau mandi dulu. Mungkin nggak apa-apa jika Tuan menunggu sebentar lagi,” jelas Kinanthi merasa santai. “Jadi, lebih baik aku mandi dulu saja.”


“Nanti,” bentak Mayang seperti orang sedang marah.


Keduanya terlibat adu mulut, Kinanthi hendak berebut masuk ke bathtub sedang Mayang melarangnya. Saking seruisnya bertengkar keduanya saling tarik menarik dan dorong mendorong. Mayang lupa dengan ceceran shampo di belakangnya.


Hingga, arghhh ....


Tubuhnya kehilangan keseimbangan, ia terhuyung dan jatuh tertelungkup. Hampir saja dahi Mayang terbentur pinggiran bathtub misal Kinanthi tidak lekas memburunya dan membiarkan lengannya sebagai tameng.


Jeritan histeris yang keras dan bersamaan membuat bi Idah dan Tuan Nabastala yang mendengarnya lansung berlari tergopoh ke arah suara.


Mayang tergeletak sudah tak sadarkan diri dengan kondisi kepala di pangkuan Kinanthi. Darah segar merembes dari balik rok yang dikenakannya. Kinanthi menangis sesenggukan tak mengerti apa yang sedang terjadi.


Tuan Nabastala dan bi Idah saling pandang atas apa yang sedang dilihatnya.


“Bi, segera telepon ambulans!” perintah sang tuan. “Segera, Bi!” tegasnya lagi.


PLAK!


Tamparan keras mendarat keras di pipi Kinanthi, ia sudah menduganya. Tuan Nabastala selalu berbuat seperti itu terhadapnya tanpa mau menelusuri lebih jauh keadaan yang sebenarnya terjadi. Sudah tidak mengherankan baginya.


“Kamu itu bisa nggak, nggak mencelakai orang-orang di sekitar kamu?” teriaknya dalam amarah, “percuma juga aku baik terhadapmu.”


Tak ada yang perlu dijelaskan, cukup air matanya saja yang mewakili setiap sakit yang tengah ia rasakan. Bibir Kinanthi terus mengatup rapat; membisu, terjahit keheningan luka batin.


Ia percaya, jika suatu saat nanti kebenaran akan terungkap dengan sendirinya. Jadi, tak perlu bersusah payah menjelaskan. Ia hanya butuh menunggu. Menunggu kebenaran itu terungkap.


••••


Hampir satu setengah jam Mayang berada di dalam IGD dengan pantauan perawatan sang dokter. Nyonya duduk di samping Kinanthi dengan raut kesedihan terpancar dari wajah cantiknya yang alami, kali ini tanpa polesan make up.


“Hust, kita bicara sebentar.” Pak Herman berbisik-bisik di dekat nyonya.


Tentu saja Kinanthi yang duduk bersebelahan mendengar dengan jelas tanpa perlu menguping.


Nyonya menggeleng, “Jangan sekarang.”


“Kapan? Sampai rahasia Mayang terbongkar?”


Sang nyonya pun beranjak mengikuti langkah pak Herman. Mereka berdiri agak menjauh dari tempat duduk Kinanthi, namun keberadaan mereka masih terlihat dengan jelas.


Pintu IGD terbuka, seorang dokter wanita berusia sekitar kepala empat dengan jas dinasnya melangkah ke luar.


“Anda keluarga dari pasien?” tanya sang dokter.


Tuan Nabastala mengangguk lemah.


“Anda yang sabar, janin dalam rahim istri Anda tak bisa diselamatkan lagi.”


“Maksudnya, Dok?”


Kinanthi yang tengah duduk bisa dengan leluasa memperhatikan perubahan sikap sang tuan. Kini matanya terlihat melotot seperti hendak melompat. Kinanthi sendiri berada pada fase yang tak jauh berbeda. Tak mempercayai pendengarannya.


“Jadi Anda belum tahu, kalau istri Anda sedang hamil.”


“Hamil?”


Bersamaan Kinanthi dan Tuan Nabastala mengucap pertanyaan yang sama. Dari kejauhan nyonya dan pak Herman mendekat.

__ADS_1


“Bagaimana kondisi putri saya, Dok?”


“Anda ayahnya?”


Pak Herman memberi anggukan, “Iya Dok, betul saya ayahnya.”


“Kalau begitu, kami membutuhkan persetujuan Anda untuk melakukan tindakan operasi,” jelas sang dokter wanita dengan ramah namun tetap tegas. “Putri Anda mengalami pendarahan hebat akibat terjatuh. Berhubung usia kandungan sudah memasuki angka 4 bulan lebih, maka tidak semua jaringan janin atau plasenta bisa luruh dengan sendirinya. Itulah mengapa kami memerlukan tindakan operasi untuk mengangkat sisa-sisa janin.”


“Dok, apa tidak sebaiknya dilakukan kuret saja?” tanya nyonya merasa ada sedikit kejanggalan dalam penanganan yang tengah dilakukan sang dokter. Apa iya, keguguran yang dialami Mayang sebegitu seriusnya?


“Kami mengambil banyak pertimbangan atas kondisi pasien saat ini. Menimbang satu-satunya jalan terbaik adalah dengan melakukan tindakan operasi, karena kalau cuma dengan tindakan kuret kami tidak bisa menjamin hasil yang lebih maksimal. Tetapi semua saya kembalikan pada keputusan keluarga. Permisi.”


Sang dokter berlalu, mungkin beliau butuh istirahat sejenak dari penatnya kesibukan sehabis menangani pasien.


“Dokter.” Pak Herman mensejajarkan langkahnya dengan sang dokter. “Lakukan saja yang terbaik untuk putri saya,” pintanya kemudian.


Sebagai sorang ayah yang baik, tentu saja selalu memberikan yang terbaik demi kesembuhan putri tercinta. Sama halnya pak Herman, ia pun ingin yang terbaik untuk buah hatinya.


“Kalau begitu mari ikut saya untuk menandatangani persetujuan tindakan operasi.”


“Baik, Dok.”


••••


Tuan Nabastala tak mempercayai pendengarannya, kabar yang dibawakan sang dokter bagaikan sebuah lelucon di musim penghujan. Meski tidak lucu sama sekali untuk ia dengarkan, namun mampu membuat tubuhnya menggigil gemetar.


Bagaimana mungkin Mayang sedang hamil? Sementara tanda-tanda kehamilan itu tak diketahuinya sama sekali. Apa kerena ia memang tak pernah peduli dengan Mayang, sehingga ia tak mengetahui kehamilan itu. Kinanthi pasti tahu sesuatu?


Tuan Nabastala berjalan mendekati Kinanthi yang tetap duduk tanpa bergeser dari tempatnya semula. Sebenarnya kami sama-sama terpukul dengan keadaan Mayang. Tapi bisa apa, kecuali berdoa pada Sang Maha Kuasa agar Mayang selalu dalam lindungan-Nya. Ya ... meski Mayang itu menyebalkan juga tak baik jika harus mendoakan yang buruk-buruk untuknya.


“Kinan, kita harus bicara?” Seret Tuan Nabastala menjauhi ruangan IGD.


Kinanthi meringis-ringis menahan sakit pada lengannya yang digelandang sang tuan.


“Nggak usah drama, gitu aja meringis kek anak kecil.”


Iya mengerti, Tuan Nabastala tak tahu tentang kondisi lengannya yang biru lebam karena menjadi tameng untuk menghindari benturan dahi Mayang yang hampir menghantam pinggiran bathtub.


“Kamu tahu Mayang hamil?” tanya sang tuan penuh selidik.


“Tidak,” jawab Kinanthi lemah.


“Yakin?”


“Tuan tidak percaya?” Kinanthi balik bertanya.


Lantas keduanya saling membisu dengan alam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Kinanthi teringat percakapan misterius dengan nyonya yang sengaja kami curi dengar pada suatu malam.


“Tuan masih ingat?”


“Apa?”


“Ancaman seorang lelaki terhadap nyonya malam itu?” kata Kinanthi antusias.


“Kapan?”


“Sewaktu kita mencuri dengar pembicaraan mereka.”


“Jadi—?”


“Ya mungkin saja ini sebuah konspirasi.” Kinanthi mengerucutkan bibirnya hendak mencibir sang tuan.


Sang tuan tak bereaksi atas ulah Kinanthi, dalam hatinya ia justru membenarkan perkataan Kinanthi. Selama ini mamanya memaksa untuk menikahi Mayang. Bisa jadi semua itu sebagai kedok untuk menutupi aib Mayang dan menjadikannya sebagai ayah dari anak yang tengah dikandung. Ini ide gila siapa coba? Dan ancaman pada percakapan malam itu apa maksudnya?


“Atau, kamu memang sengaja mencelakai, Mayang?” tanya sang tuan tiba-tiba.

__ADS_1


“Apa? Tuan masih waras?”


__ADS_2