
Pesona embun jatuh melesap, seiring sinar sang mentari menyibak tirai-tirai mimpi pagi buta. Desau angin bergesekan pada reranting rapuh, bersinggungan hingga luruh, patuh akan ketentuan semesta tanpa perlu sesal tertinggal.
Pada ranjang nyaman, tubuh itu membenamkan diri di balik selimut bermotif beraneka bunga mawar. Hawa dingin datang menyetubuhi berkali-kali, lolos dari bingkai jendela yang terbuka. Kadang ia suka lalai menutupnya sewaktu senja mengajaknya bercengkrama di tepian jendela.
Cahaya sang arunika menerobos, membelai pipi Kinanthi yang semakin terlihat chubby, gegara perlakuan istimewa dari Tuan Nabastala.
Kata ‘aneh’ menjadi kalimat pertama yang mengusik pikirannya meski kesadaran belum sepenuhnya terkumpul. Sejak kapan ruang makan yang tepat berada di tengah ruangan besar itu terkena cahaya matahari? Atau mungkin? Ia semalam salah tempat ketika menggelar tikar.
Ia menggeliat, netranya menyipit silau terkena sinar mentari. Dipandanginya langit-langit kamar, plafon dengan ornamen bulan sabit besar-kecil tersusun tumpang tindih pada bagian tengahnya. Cat berwarna pink muda dipadu padan abu-abu menjadi warna kesukaannya. Dan semua itu berhasil menyita pandangan pertama pagi itu yang dilibatkan sang indra penglihatan.
Kemudian ditelengkan kepala ke kanan ke arah jendela. Bingkainya sedang terbuka, membuat tirai transparan berwarna pink motif bunga mawar 3D tengah berkibar-kibar layaknya Sang Saka Merah Putih di tiang bendera arena upacara. Dan itu berarti?
Semua yang dilihatnya, reflek membuatnya segera terduduk, hampir saja melompat dari ranjang saking kagetnya. Bagaimana bisa itu terjadi? Perang batin langsung berkecamuk.
“Sudah bangun!” sapa Tuan Nabastala yang menyembulkan kepadanya dari balik pintu kamar mandi.
“Tuan!” teriaknya lantang, “kok bisa?” Rasa heran langsung menyeruak.
Padahal seingatnya, semalam Kinanthi berniat hendak tidur di kamar bi Idah. Sayangnya bibi sudah terlelap dan pintu kamarnya dikunci, maka ia pun memilih mengurungkan niatannya.
Kinanthi menggelar tikar di samping meja makan. Dipikirnya lebih aman karena tak ada yang bakal melintasi tempat tersebut kecuali si bibi kadang lupa terhadap sesuatu di meja makan.
“Kok bisa apa?”
“Kinan kok bisa berada di kamar?”
Meski ragu-ragu Kinanthi mengatakan apa yang sedang ia pikirkan. Ogah berlama-lama memendam hasrat penasaran.
“Kenapa nggak bisa? Kamu ngigau terus jalan sendiri ke kamar. Nggak nyadar apa?” ledek sang tuan sambil senyam-senyum.
“Nggak mungkin.” Kinanthi menepuk jidatnya sendiri sambil geleng-geleng kepala.
“Apanya yang nggak mungkin?”
Sang tuan membungkuk, menyejajarkan pandangannya dengan wajah Kinanthi yang sedang duduk di ranjang. Kedua tangan kokohnya tertupu pada spring bed untuk menopang tubuh atletis miliknya.
“Tuan pasti bohong,” teriak Kinanthi lantang.
Ia tak mau percaya begitu saja dengan kata-kata tuannya itu. Mana mungkin ia mengigau terus berjalan sendirian ke kamar. Emang ada orang mengigau hafal kamarnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan menyebalkan terus berkelindan di benak Kinanthi.
“Pagi-pagi sudah ribut.” Nyonya yang mendengar adu mulut diantara keduanya masuk ke dalam kamar, yang kebetulan pintunya tidak terkunci.
“Ma ....”
“Nyonya.”
“Kalian—”
Bibir ketiga-tiganya saling memanggil. Kinanthi yang merasa malu pagi-pagi kepergok berada sekamar dengan Tuan Nabastala dibuat semakin salah tingkah.
“Saya mandi dulu.” Kinanthi berusaha menghindari kecanggungan.
Buru-buru ia turun dari ranjang, kakinya segera melangkah ke kamar mandi. Tak lupa menyambar handuk yang berada di hadapannya.
“Tunggu!” teriak nyonya menahan langkah Kinanthi.
“Kalian tidur sekamar?”
Keduanya mengangguk. Eh bukan. Setelah mengangguk Kinanthi berusaha menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu pasti keadaan semalam yang sebenarnya. Karena ia tertidur begitu pulas setelah seharian mondar-mandir di rumah sakit nungguin Mayang. Kakinya terasa pegal sekali.
“Yang mana sih yang benar?”
__ADS_1
Keduanya bergantian saling pandang. Sang tuan melangkah mendekati mamanya. “Kenapa sih, Ma? Bukannya mama sudah tahu hubungan kami yang pernah itu.”
Tuan Nabastala mengungkit kembali hubunganya dengan Kinanthi sewaktu mamanya baru datang. Bukankah beliau pernah memergoki kami yang sedang, ah ... pokoknya yang itulah.
“Kamu nanti pasti menyesal, Nabas!” ancam mamanya.
“Nabas lebih menyesal lagi kalau sampai menikah dengan Mayang dan cuma dijadiin tameng untuk menutupi aibnya saja, Ma!”
“Kamu—”
Terlihat raut kekesalan pada wajah perempuan yang rambutnya mulai ditumbuhi satu, dua uban itu. Beliau begitu kecewa dengan keputusan putra semata wayangnya yang memilih Kinanthi ketimbang menikahi Mayang untuk menjaga nama baik keluarganya.
Tunggu dulu! Nama baik keluarganya? Ah, bukan. Tepatnya nama keluarga Mayang.
••••
“Kinan,” panggil Tuan Nabastala, “lama amat di kamar mandi?”
“Emang kenapa, nggak boleh?” seru Kinan tak jelas. Sepertinya ia sedang berkumur-kumur sehabis menggosok gigi.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Itu handuk aku yang kamu pakai.”
Mendadak dunia mereka berputar dalam keheningan, hanya terdengar suara jangkrik mengerik di kedua telinga masing-masing entah dari mana datangnya. Kinanthi oh Kinanthi, betapa cerobohnya dirimu.
••••
“Maaf, nggak sengaja,” Kinanthi mengulurkan handuk milik sang tuan yang tanpa sengaja telah diambilnya.
“Tuan! Demen banget ih, ngajakin Kinan berantem?”
“Habisnya kamu asyik.”
“Hah, Tuan bilang asik? Emang asik apanya?”
“Ya pokoknya asik dikerjain, lah!”
“Tuan!”
Hampir-hampir Kinanthi melotot kalau tak ada suara ketukan pada pintu.
“Masuk aja,” perintah Tuan Nabastala.
“Ada apa, Bi?” tanya keduanya bersamaan.
“Anu.” Si bibi senyum-senyum sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh hangat. “Pesanan, Tuan.”
“Terima kasih.”
“Saya letakkan di sini, Tuan.”
Ditaruhnya nampan pada meja bundar kecil di samping jendela. Kemudian bibi pun undur diri untuk melanjutkan pekerjaan yang lain.
Sewaktu memandangi bibi menaruh nampan, timbul perasaan aneh menghampiri benak Kinanthi. Bukan perkara apa menu sarapan yang diminta sang tuan. Melainkan, sejak kapan ia yang statusnya hanyalah seorang budak yang sengaja dibawa pulang. Kok, tiba-tiba menjelma sebagai tuan putri yang tidak mengerjakan apa-apa? Sinting kamu Kinanthi.
“Maaf, Tuan. Sepertinya saya harus mencuci handuk Tuan terlebih dahulu.” Kinanthi segera berbalik menjauh.
“Kinan, tunggu dulu.”
__ADS_1
Langkah Kinanthi terhenti, “Ada apalagi, Tuan?” tanyanya gugup. Perasaan aneh menelusup.
“Sarapan dulu, gih. Selagi buburnya masih hangat. Nanti kalau dingin jadi nggak enak.”
Bingung Kinanthi harus apa, menolak tentu saja nggak enak, menerima apalagi. “Nanti saja, Tuan. Kinan cuci ini dulu, nanti keburu siang nggak kering.” Asal saja ia membuat alasan.
“Kalau dibilangin jangan ngeyel, siniin handuknya!” perintah sang tuan tegas. ”Pakai jasa laundry kan gampang.”
Orang kaya mah selalu bebas, apa-apa bisa sekehendak hati. Dengan terpaksa Kinanthi menghabiskan semangkuk bubur beras merah bercampur ubi jalar. Lumayan enak sih, tetapi berasa makan MPASI si dedek bayi.
“Dasar manusia aneh,” maki Kinanthi dalam hati.
Kelar menghabiskan semangkuk bubur, tentu saja Kinanthi harus mengembalikan mangkuk kotor dan mencucinya. Namun, lagi-lagi tuan ganteng yang aneh itu melarangnya.
“Duduk saja, biar bibi nanti yang mengambilnya.”
“Kok bisa begitu?”
“Emang kamu nggak penasaran, kok bisa pindah ke kamar?”
Tentu saja Kinanthi langsung pasang ekspresi penasaran tinggat tinggi. Setinggi menara Eiffel di tepi sungai Seine, Paris.
“Kok, bisa?”
“Bi Idah yang melihatmu pertama kali tidur di lantai ruang makan.” Sang tuan memulai bercerita, “Bi Idah mendengar suara igauan kam—”
“Separah itu Kinan ngigau?”
“Dengerin dulu kalau ada orang ngomong, itu!”
“Kamu mengigau begitu keras, meminta-minta maaf sama pak Herman.” Tuan Nabastala meneruskan cerita bi Idah, “terus tubuh kamu menggigil. Tentu saja bibi khawatir dengan keadaan kamu.”
“Dan bibi membangunkan, Tuan?” tebak Kinanthi.
“Mm.”
“Jadi, Tuan yang membawa Kinan ke kamar?”
“Menurut kamu siapa? Pak Herman? Dan satu lagi kamu harus ganti rugi,” tegasnya.
Aiya ... bertambah lagi permasalahan Kinanthi. Baru saja tertimpa kemalangan bertubi-tubi karena kecerobohan juga sifat egoisnya. Sekarang apalagi yang akan menimpanya? Coba saja semalam nggak ngambek dan kabur dari kamar, memaksa diri tidur di ruang makan. Pasti semua itu nggak bakal terjadi. Ya, Tuhan ....
“Ganti rugi apa?” Kinanthi mengerutkan dahinya.
“Ganti rugi temani aku tidur.”
“Hah! Tuan nggak salah bicara??” teriak Kinanthi kalap.
“Nggak.”
“Tuan! Kinan mohon jangan yang itu, yang lain napa? Terserah Tuan, dah, apa aja.”
“Nggak ada negosiasi.”
Dengan tubuh meronta, Kinanthi mencoba melepas diri dari bopongan tangan kokoh yang membawanya ke kamar pribadinya. Tamat sudah jika dengusan liar itu menjadi saksi luluhlantaknya sebuah citra yang masih melekat dalam tubuhnya sebagai perawan tulen.
Ia tak ingin terperangkap kesesatan jiwa dalam lolongan emosi hentakan sesaat. Apalagi terpenjara selepas aksi kejantanan durjana.
Argh .... Jangan sampai nantinya Tuan Nabastala melabeli stigma pada dirinya yang sudah tak perawan.
“Jangan sampai ...,” teriak Kinanthi memaki-maki dalam hati.
__ADS_1