
“Selalu ada jalan penyelesaian untuk setiap permasalahan”, kalimat itu berulang-ulang melintasi alam pikiran Kinanthi. Namun, pada kenyataannya otaknya terlalu dangkal untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang tengah dihadapinya.
Baru semalam ia masuk ke rumah Tuan Nabastala dan sekarang sudah terjebak oleh kebodohannya sendiri. Terperangkap dalam kamar yang lebih tepat disebut gudang dengan tubuh setengah telanjang. Tangannya bersedekap sekedar menghalau rasa dingin yang datang menyergap.
Hampir tiga jam terkurung di dalam kamar tanpa bisa menemukan solusi dari keadaannya. Arghhh ... Kinanthi mengerang, menjambak rambutnya sendiri. Ia merasa benar-benar bodoh dan mulai putus asa.
Tok ... tok.
Terdengar suara ketukan pada pintu, Kinanthi bergegas membukanya. Karena dipikirnya itu pak Herman, menilik dari caranya mengetuk pintu dengan sopan.
Kinanthi menyembulkan kepalanya pada pintu yang ia buka sedikit. Matanya membelalak, mendapati siapa yang tengah berdiri di hadapannya.
“Tuan,” desisnya lirih.
“Buka pintunya,” perintah sang tuan dangan nada tegas.
“Ehm.”
Kinanthi menyembunyikan separuh tubuhnya di balik pintu yang baru saja ia buka. Mengamati langkah sang tuan yang berjalan memunggunginya.
“Tutup pintunya.” Lagi-lagi sang tuan memerintah dengan suara tegasnya.
Tanpa menjawab, Kinanthi pun menutup pintu. Perasaan was-was kembali hinggap, jangan-jangan tuannya akan berbuat macam-macam lagi.
“Ngapain tetap di situ? Nih, pakai,” perintah Tuan Nabastala sambil meletakkan paper bag berwarna nude di atas tumpukan kardus yang berisi perkakas dapur.
Dengan perasaan ragu Kinanthi menerima pemberian sang tuan, tetapi urung membukanya.
“Buka, dan pakai!” teriak Tuan Nabastala kesal dengan ulah Kinanthi.
Kinanthi bergeming. Wajahnya tertunduk, dipandanginya lantai berbahan granit warna putih mengkilat yang mampu memantulkan bayangan wajahnya.
“Kinan,” teriak sang tuan lantang.
Tuan Nabastala gusar dengan kelakuan Kinanthi. Tangannya bersedekap dengan raut muka tengah murka. Ditendangnya botol galon kosong sebagai pelampiasan rasa kesalnya yang kebetulan berada di samping ia berdiri. Tendangan mengarah tepat pada tubuh Kinanthi.
Dang.
Kinanthi berusaha menghindar. Namun, sial. Gerakannya kurang cepat, dan botol galon kosong mendarat tepat di kakinya hingga menyisakan memar pada betis.
“Auhhh.” Kinanthi memekik kesakitan sambil memegangi bagian kakinya yang sakit.
“Dasar siput. Bisa nggak, bermanfaat sedikit saja?”
Tuan Nabastala semakin gusar, ia mulai muak terhadap Kinanthi yang sifatnya persis bocah ingusan itu.
“Maaf, Tuan,” lirih Kinanthi.
“Bicara maaf, memang ada gunanya?”
“Saya akan belajar supaya lebih baik lagi, Tuan?”
“Sampai kapan? Nunggu siput bisa terbang?”
Mendengar perkataan sang tuan, Kinanthi justru tersenyum dengan kepolosannya. Ia tak peduli meski sedang diejek. Kinanthi lebih suka melihat tuannya mengejek seperti itu ketimbang marah-marah.
“Kenapa tersenyum?”
“Ehm .... Suka aja melihat Tuan mengejek saya seperti itu, ketimbang ngamuk-ngamuk nendangin galon. Kan sakit ini yang terkena.”
__ADS_1
“Kamu itu sinting,” maki sang Tuan.
“Mungkin otak saya ikutan korslet, Tuan. Gara-gara ngadepin Tuan yang sukanya marah-marah melulu.”
“Kinan!”
“Maaf.”
“Heh, dasar bocah.” Ditariknya tangan Kinanthi kasar, dengan langkah lebar ia menuju ke arah pintu.
“Mau ke mana, Tuan?”
“Diam, Siput bawel.”
Kinanthi mengikuti langkah kaki tuannya yang entah akan membawanya ke mana. Ia tak berani bertanya, takut dibentak lagi.
“Selamat pagi, Tuan!” sapa pak Herman yang berpapasan sewaktu hendak menaiki anak tangga.
“Mm ... pagi,” jawab Tuan Nabastala ketus.
Kinanthi ikut menapaki anak tangga satu per satu. Napasnya memburu, ia tak sanggup menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah sang tuan yang gesit.
“Tuan,” desis Kinanthi.
“Mmm.” Sang tuan berhenti mengayunkan langkah, menoleh ke arah Kinanthi. “Kenapa?”
“Kinan, ndak sanggup, Tuan.”
“Ndak sanggup?”
“Iya—”
Tentu saja sebagai orang yang berpendidikan, sang tuan paham apa yang harus dilakukannya. Tanpa berfikir lebih lama dibopongnya tubuh Kinanthi menuju kamarnya. Dan itu menjadi momen pertamanya peduli terhadap orang lain.
••••
Mata Kinanthi mengerjap, dibukanya perlahan-lahan. Lampu kristal berwarna putih dengan kombinasi warna kuning yang konon mampu memberi efek rileks tergantung di langit-langit kamar.
Ia menoleh ke arah kiri, jendela kaca yang besar dengan view balkon penuh aneka macam tanaman hias. Gorden berwarna kuning, senada dengan kombinasi lampu kristal yang tergantung. Hati Kinanthi berdecak, mengagumi segala keindahan yang baru dilihatnya.
“Sudah siuman?”
Kinanthi menoleh ke asal suara, dilihatnya sang Tuan Nabastala yang tengah duduk di sofa sambil memegang tablet fungsional berwarna hitam. Ia merasa canggung, berusaha menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Hendak beranjak.
“Mau ke mana?” Diletakannya tablet fungsionalnya dengan hati-hati, kemudian duduk di samping Kinanthi
“Saya kok di sini, Tuan?”
“Memang mau di mana?”
Kinanthi mengacak rambutnya. Bingung harus menjawab apa.
“Jelek tauk.”
“Hah?”
“Lain kali jangan diacak-acak seperti itu rambutnya. Nggak enak dilihatnya.”
“Oh, maaf.”
__ADS_1
Kinanthi memang gadis yang masih polos, jiwanya belum terkontaminasi pergaulan kota yang nyeleneh. Itulah mengapa sang tuan mau menerima permintaan Kinanthi ketika ingin menggadaikan tubuhnya, sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Ketika berbagai karakter dari serial animasi berjudul Star Wars yang sudah langka, dengan harga fantastis pula baru saja diburu Tuan Nabastala dengan susah payah, dan dalam sekejap mata Kinanthi telah merusaknya.
Tentu saja hal itu membuat Tuan Nabastala kalap. Diingatnya adegan reka ulang dalam memori ingatannya ketika ia menjambak rambut Kinanthi. Membuat gadis itu meringis kesakitan. Tatapan wajah polosnya justru terlihat menggoda, sikapnya yang tenang dalam menghadapi masalah mencerminkan keanggunan hati yang ia miliki.
“Kinan.”
“Iya, Tuan.”
“Maaf.” Kalimat itu terdengar lirih, meluncur dari bibir Tuan Nabastala.
“Tuan minta maaf? Untuk apa?”
Lagi-lagi kepolosan Kinanthi tercetak jelas dari caranya memandang, kedua alisnya bertaut menggambarkan rasa penasaran yang mendalam.
Hingga keheningan menyergap, sang tuan masih terdiam. Dipandanginya wajah Kinanthi lekat-lekat, semacam mencari sesuatu dari wajah polos tanpa make up itu. Entah apa.
“Ehm.”
Seperti sengaja pak Herman berdeham di depan pintu yang sedang terbuka, melerai kedua pikiran absurd di antara keduanya.
“Masuk saja, Pak,” perintah Tuan Nabastala tanpa menoleh ke arah suara. Karena ia sudah hafal kelakuan asisten pribadinya itu.
“Tuan, ini bubur Non Kinan.”
“Lama amat?” tanya sang tuan dengan ketusnya.
“Kan bahannya harus belanja dulu, Tuan.” Pak Herman memberi alasan yang masuk akal. “Saya taruh di sini.” Semangkuk bubur sumsum putih diletakkan di atas nakas.
“Mm. Terima kasih, Pak.”
“Kalau tidak ada keperluan lagi saya ke luar dulu, Tuan.”
Senyum pak Herman melebar ke arah Kinanthi. “Buburnya jangan lupa dimakan, Non.” Persis cara seorang bapak mengayomi putrinya.
“Terima kasih, Pak.”
“Makan dulu, gih!” perintah sang tuan, sambil beranjak.
Kinanthi mengerti, ia cuma seorang budak di rumah mewah itu. Jadi tak boleh berharap lebih dari kebaikan Tuan Nabastala. Ia beringsut, menggeser perlahan tubuhnya ke arah tepi ranjang.
Matanya melebar, mendapati blouse berwarna biru dengan detail kancing belakang melekat indah di tubuh mungilnya, tanpa bawahan. Cuma celana dalam berwarna pink yang ia kenakan.
Apakah semua itu sang Tuan yang sudah membelikan?
“Tuan tadi—?” Mata Kinanthi beralih memandang tuannya yang juga sedang memandangnya.
“Hem. Ternyata itu tanda lahir, jelek sih. Tapi lebih baik. Karena awalnya kupikir kecoak yang nempel karena kamu jorok.”
Kinanthi melongo, terus dipandanginya sang tuan yang mulai tertawa lepas. “Menyebalkan.” Tangannya gesit melemparkan bantal yang ada di sampingnya. Tepat mengenai wajah tampan Tuan Nabastala.
“Habisin dulu buburnya, terus istirahat. Banyak tugas yang harus segera kamu kerjakan.”
Kinanthi mengangguk tanda mengerti mendengar ucapan tuannya itu sebelum meninggalkannya seorang diri di dalam kamar. Perasaannya pun ikutan menghangat seiring bubur sumsum yang ditelannya.
Ternyata seorang Nabastala Narendra tak sekejam yang ia bayangkan. Nyatanya baru saja diam saja ketika dilempar bantal, meski dengan maksud bercanda. Jika begitu, semuanya pasti akan berjalan dengan baik-baik saja.
Kinanthi tahu segala kehendak semesta tak ada yang bisa ditolak. Termasuk keberadaannya di rumah mewah milik Nabastala Narendra tempat ia menggadaikan dirinya.
__ADS_1