
“Manusia hebat bukan ia yang diam-diam menyimpan luka terlalu lama, tetapi ia yang tak suka menyimpan dendam atas luka yang ditorehkan orang lain kepadanya.”
Desau angin malam menerobos seiring daun jendela yang sengaja Kinanthi buka. Hawa dingin menyergap tubuh mungilnya yang terbalut sweater berwarna ungu, ia tengah berdiri di sisi jendela.
Sudut netranya menggenang, bersaing dengan uap air di udara yang turun ke suhu titik dew point pada malam hari, sehingga berubah menjadi cair dalam bentuk embun yang menempel pada dedaunan.
Beraneka macam tanaman di halaman samping rumah dipandanginya bergantian. Demi mengalihkan perhatiannya untuk melupakan adegan reka ulang yang telah dilakukan Mayang kepadanya.
Dirabanya pipi sebelah kanan, mendadak rasa panas berdesakan memenuhi rongga dadanya. Ada perasaan marah pada dirinya sendiri yang terlalu lemah, membiarkan orang lain terus menindasnya begitu saja.
“Kinan,” bisik seseorang lirih tepat di samping telinganya. Seiring kedua tangan yang melingkari area perutnya.
Kinanthi hendak menghindar, tetapi tangan kokoh itu telah mengurungnya dalam pelukan yang sedemikian erat dari arah belakang.
“Tuan, jangan begitu,” ucap Kinanthi pelan.
“Kenapa?”
“Nanti ada yang lihat.”
“Kamu takut ketahuan?”
Kinanthi menjeda jawaban, menghela napas.
“Tuan.” Kinanthi berusaha memutar tubuhnya. Naluri lelaki yang pengertian muncul begitu saja, tangan kokoh itu melonggar, membiarkan tubuh Kinanthi bergerak leluasa.
Kinanthi mendongak, menatap wajah tampan yang akhir-akhir ini menyita perhatiannya.
“Kenapa Tuan lakukan semua ini?”
“Yang mana?”
“Sudahlah Tuan, jangan berpura-pura terus. Kinan capek diperlakukan seperti ini lagi dan lagi. Terkadang Tuan itu bagaikan dewa penolong, terkadang pula raga Tuan seperti kerasukan iblis tak berperasaan.”
Bwaha ....
Tawa sang tuan meledak, tubuhnya bergeser melepas pelukan, berdiri di samping Kinanthi. Hal itu semakin membuat Kinanthi kehilangan jalan pikirnya yang rasional. Dasar lelaki sinting, itu sekelebat kalimat yang langsung terlintas di benaknya.
“Tutup jendelanya gih, kamu nanti bisa masuk angin,” perintah sang tuan.
Sebenarnya Kinanthi enggan menuruti, tetapi ia tahu sang tuan selalu murka setiap titahnya tak terlaksana. Persis sabda raja adalah segala-galanya. Tidak boleh dibantah barang sepenggal alfabet saja.
Kinanthi pun menutup jendela dan menguncinya. Setelah itu ia hendak mengabaikan sang tuan, kembali ke kamarnya.
“Kamu dengar sesuatu?” tanya sang tuan tiba-tiba.
Mata Kinanthi terpejam, agar pendengarannya bisa fokus mencari arah suara yang tuan maksud.
“Dari arah kamar nyonya sepertinya,” risik Kinanthi.
Tuan Nabastala langsung bergegas menuju kamar nyonya yang terletak di sebelah kanan tangga, menghadap tepat ke ruang utama. Buru-buru Kinanthi mengikuti langkah tuannya.
BRAK.
Terdengar seperti meja digebrak dengan keras, seiring suara lelaki tengah mengancam. “Sudah kubilang, semua harus sesuai rencana. Kalau tidak, kamu harus menanggung semua akibatnya.”
“Suara pak Herman,” duga Kinanthi.
“Memang si Herman,” tegas sang tuan.
“Auh. Kamu keterlaluan, Man! Ini sakit,” raung nyonya dengan suara lantangnya.
__ADS_1
“Ingat! Jangan sampai Nabas tahu keadaan Mayang yang sebenarnya.”
Kami saling berpandangan, mencari tahu apa yang harus dilakukan. Tangan sang tuan hendak memegang handle pintu, tetapi segera diurungkan seiring kepala Kinanthi yang menggeleng.
“Pak Herman tidak mungkin menyakiti nyonya,” desis Kinanthi. “Sebaiknya kita pergi saja dari sini.”
“Tapi—?”
“Argh, Man. Kalem-kalem, napa?” pinta nyonya kini dengan suara lembutnya.
“Siapa suruh tadi bikin emosi?”
“Tapi sekarang sudah nggak lagi, kan?”
Kami kembali saling pandang. Alis Kinanthi bertaut, kerutan di dahi sang tuan terlihat jelas. Semua mengisyaratkan sebuah tanda tanya.
“Mereka sedang ngapain coba?” tanya sang tuan dengan keheranan.
“Udah gede, masih juga nggak paham urusan batin orang dewasa,” ketus Kinanthi sambil melangkah pergi.
“Heih, mau ke mana kamu?”
“Tidur lah, masa mau nguping orang lagi hoho-hihi. Kurang kerjaan.”
“Jadi mereka—?”
“Ya begitulah. Permasalahan orang dewasa itu gampang penyelesaiannya. Asal dibawa naik ranjang, kelar urusan.”
“Gila. Nggak ada cara lain, apa?”
Percakapan mereka terhenti, ketika langkah masing-masing berbeda arah. Kinanthi menuju kamarnya di samping dapur dan sang tuan menapaki anak tangga menuju lantai ke dua.
••••
Pukul tujuh tiga puluh, meja makan akan segera berisik dengan kehadiran sang nyonya yang seperti kompor gas berjalan, auranya bisa meleduk kapan saja kalau bertemu pemicunya. Pak Herman dengan sifat kalemnya tapi mampu menghanyutkan, sedang si Mayang yang cerewet sangat menyebalkan. Dan Tuan Nabastala yang ... ah, senyum Kinanthi mengembang ketika sedang memikirkan sang tuan.
“Apaan, sih?” desis Kinanthi menghalau pikirannya.
Menu sarapan terhidang dengan aneka varian. Dua piring telur orak-arik campur sosis dengan nasi, sepiring salad buah, sepiring scramble egg dengan waffle yang dilapisi mentega almond kesukaan sang tuan.
Ditambah segelas yogurt, dua gelas susu dan secangkir kopi espresso yang masih mengepulkan asap. Kinanthi belajar mati-matian untuk bisa menghidangkan semua masakan seperti itu tanpa komplain dari pemilik rumah.
Terkadang Kinanthi merasa iri terhadap pak Herman. Meski ia cuma seorang asisten, tetapi kedudukannya di rumah itu sama persis seperti anggota keluarga.
“Woi, pagi-pagi ngelamun,” bentak Mayang yang melintas di samping Kinanthi.
“Bisa kagak, nggak ngagetin orang kek gitu,” omel Kinanthi ketus.
“Kagak.” Mayang mencebik.
“Ribut mulu sih kalian,” teriak nyonya yang baru datang, langsung menghempaskan bokongnya di bantalan kursi kayu jati Belanda dengan ukiran unik pada sandarannya.
“Kinan! Katanya Tuan, sarapannya dibawa ke kamar saja,” perintah pak Herman yang baru muncul dan langsung nyeruput kopi panasnya.
“Aku aja yang bawa.” Mayang merebut nampan yang masih dipegang Kinanthi dengan paksa.
Beberapa menit kemudian Mayang kembali dengan bibir bersungut-sungut. Nampan yang dipegangnya digebrakkan ke meja dengan keras. Melihat hal itu Kinanthi cuma bisa memaklumi, sang tuan memang menyebalkan
“Kinan ...,” panggil sang tuan dengan lantangnya dari lantai atas.
Kinanthi tergopoh menaiki anak tangga.
__ADS_1
“Ada apa, Tuan?”
“Siapa yang suruh Mayang mengantarkan sarapan, hah?”
“Mayang sendiri yang ingin mengantarnya, Tuan.” Kinanthi mencoba menjelaskan.
“Sama aja kek kamu, dia juga nggak becus. Lihat, tuh!”
Mata Kinanthi membelalak, mulutnya melongo ketika melihat menu sarapan dan bekas susu yang tumpah berceceran di ranjang Tuan Nabastala. Untung saja gelas dan piringnya masih utuh.
“Waduh, kok begini, Tuan?”
Masih dengan pikiran tak mengerti, tangan Kinanthi segera bertindak. Memindahkan gelas dan piring, serta memunguti sisa-sisa menu dan memasukkannya ke dalam keranjang sampah. Kemudian mengganti seprai dan mengepel lantainya yang kotor. Butuh waktu dua puluh menit tanpa jeda untuk melakukan semua itu.
“Sudah, Tuan.” Kinanthi melapor dengan napas yang masih terengah-engah.
“Lain kali, jangan sampai orang lain yang mengantarkan sarapan ke kamar.”
“Baik, Tuan.” Kinanthi mengangguk, tanda mengerti dengan peringatan Tuan Nabastala.
“Buat lagi sarapan dengan segera. Jangan lupa ketuk pintu dulu sebelum masuk.”
“Iya, Tuan.”
Kinanthi benar-benar gadis remaja yang sangat penurut dan mudah mengambil hikmah dari setiap kesalahannya. Makin hari sang tuan memperhatikan Kinanthi dengan cara pandang yang berbeda.
“Kamu keluar sekarang dan jangan sampai ada yang boleh masuk. Termasuk Pak Herman. Ada rapat rahasia yang harus aku lakukan dengan dewan direksi,” titah sang tuan tegas.
Rapat? Itu bukan hal asing bagi Kinanthi, karena sepengetahuannya Tuan Nabastala memang orang yang begitu berpengaruh di dunia perbisnisan. Seperti beberapa waktu lalu Anita--sahabatnya--pernah bilang, kalau Tuan Nabastala itu seorang CEO di tempatnya pernah bekerja.
Namun, sekarang ini sang tuan hanya sendirian di kamar. Bagaimana mau mengadakan rapat?
Tuan Nabastala mendekat ke arah Kinanthi yang masih berdiri terbengong-bengong.
“Kenapa, memangnya?”
“Katanya Tuan meminta dibuatkan sarapan, kok malah mau pergi rapat? Kan ya percuma.”
Lama-lama gemas juga dengan sikap Kinanthi yang begitu polos. Eh, tunggu dulu ... itu polos apa bodoh? Tuan Nabastala sendiri bingung membedakannya. Diacaknya lembut rambut Kinanthi.
“Sekarang itu zaman era digital yang serba canggih. Semua bisa dilakukan hanya dengan duduk manis.”
“Caranya?”
“Kinan! Kamu itu pernah sekolah nggak, sih?”
“Ya pernah lah, Tuan. Meski nggak pernah ranking.” Wajah Kinanthi tersipu-sipu.
“Dengar, ya, Kinan! Di zaman modern era digital yang serba canggih, semua ada dalam genggaman melalui perangkat yang terlihat sederhana: ponsel, tablet, laptop contohnya. Semua bisa dilakukan dengan perangkat itu.” Tuan Nabastala menjeda kalimatnya, memandangi wajah Kinanthi yang begitu fokus mendengarkan ia berbicara. “Dan, setinggi apa pun seseorang belajar, ranking atau tidak, semua itu tidak bisa menentukan kesuksesan seseorang di masa depan.”
“Jadi?”
“Semua tergantung pada masing-masing individu, mempunyai niat untuk menjadi orang sukses atau tidak.”
“Ah, Tuan. Kalau begitu mah, Kinan juga paham.”
“Orang sukses bisa memikirkan sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh orang lain. Contohnya yang satu ini—” Sebuah kecupan mendarat cepat di pipi Kinanthi. Reflek Kinanthi terkejut, kakinya bergerak mundur.
“Ah, ini mah, Tuan sedang memanfaatkan kesempatan,” sungut Kinanthi kesal.
“Namanya juga peluang, harus dimanfaatkan,” timpal Tuan Nabastala.
__ADS_1
“Curang,” protes Kinanthi berlalu meninggalkan kamar Tuan Nabastala.
Seraut senyum, sering kali tak bisa diajak berkompromi tentang perasaan yang tengah disembunyikan. Bunga-bunga di taman hati Kinanthi bermekaran seiring rasa bahagia yang paling sederhana. Meski ia sendiri tak mengerti apa alasannya. Aneh. Tapi nyata-nyata ia sedang mengalaminya.