Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Pesona Absurditas


__ADS_3

Bisa-bisanya ia menjelma bagai pesona paling absurd di kedalaman telaga pandang milik Kinanthi. Tanpa ragu ia hidang setuang candu pada bibir yang merangkai temu.


Terlihat pipi bersemu merah jambu, Kinanthi tentu malu-malu menahan sipu, jantungnya mendetak debar. Pada dada bidang setengah telanjang tubuh mungil itu menyatu seiring tangan yang mengeratkan pelukan.


“Bagaimana jika aku menginginkanmu?” bisikan itu menyapu indra pendengaran Kinanthi.


“Bukankah semenjak Kinan memutuskan masuk ke dalam rumah ini, tubuh Kinan sepenuhnya sudah tergadai, Tuan?”


“Tapi mengapa kamu tak mau melayaniku?”


Bibir Kinanthi membisu, ia tak punya alasan untuk menolak keinginan tuannya. Namun, dalam hatinya juga tak siap untuk kehilangan mahkota satu-satunya. Perdebatan sengit terjadi di dalam sana.


“Tidak adakah cara lain untuk melayani Tuan, selain—”


Wajah lugu itu termangu, memikirkan pertanyaan yang lebih tepat. Rasanya kurang etis berbicara mesum di hadapan Tuan Nabastala. Ia takut menyulut birahi yang bisa saja membakar gairah keranjingan lelaki super mesum itu.


“Selain apa?”


“Bersebadan,” jawab Kinanthi lirih.


Pelukan lelaki tampan itu melonggar, kemudian memilih membawa Kinanthi duduk di tepian ranjang. Dipandangi wajah gadis manis itu lekat-lekat, ada nelangsa yang ia sembunyikan di sana.


“Kenapa tak ingin melakukan? Kamu tahu, surga dunia itu ibarat candu. Sekali mereguknya, kamu bakal ketagihan setelahnya.”


“Justru karena itu, Kinan tak ingin mencobanya, Tuan. Takut terjerumus ke lembah dosa yang lebih nista.”


Sunggingan senyum dari sudut bibir sedang mengejek. “Cara berpikir kamu terlalu kolot.”


“Kinan hanya tak ingin kehilangan sebelum ikatan sakral yang legal,” tegasnya dengan suara sendu, cukup sebagai alasan mengapa ia tak ingin melakukan hubungan terlarang itu.


Sunyi melenggang, membawa keduanya tenggelam dalam alam pikiran yang hanya bisa dijelajahi masing-masing pemiliknya. Tuan Nabastala merasa gadis yang berada di sampingnya itu bukanlah perawan biasa. Caranya menjaga mahkota kesucian patut diacungi jempol.


Meski hidupnya berada pada arena kandang singa, ia tak pernah mengeluh apalagi mengaduh. Cuma sering terlihat merasa rikuh saja ketika berbincang perihal bersetubuh yang masih begitu tabu baginya.


Tak disangka tingkah pecicilan dan juga bibir yang sering berbicara latah itu, juga sifatnya yang tak mau mengalah hanyalah bentuk kamuflase untuk membuatnya selalu terlihat bahwa ia baik-baik saja. Padahal diluar itu, dirinya sekedar bidak catur alias pion yang hidupnya serba diatur.


“Tuan, lepasin!” teriak Kinanthi. Ia kembali meronta-ronta ketika lelaki di sampingnya itu mencoba membopongnya lagi.


“Kinan, kamu bisa diam, nggak?” bentaknya kasar.


“Nggak!”


“Terserah.”


Tuan Nabastala menghempas tubuh Kinanthi di atas spring bed ukuran king size dengan seprai berbahan beludru warna kuning gading. Bagai tawanan lepas dari bilik tahanan, Kinanthi langsung meloncat berniat kabur. Tetapi Tuan Nabastala lebih gesit mendahului gerakannya. Sehingga ketika Kinanthi mencapai gagang pintu, sang tuan telah berhasil mendahului menguncinya.

__ADS_1


“Dih, Tuan memang menyebalkan.”


Nggak ada jawaban, ledekan apalagi dengusan. Justru senyuman penuh kemenangan yang laki-laki itu perlihatkan.


“Diam saja di situ. Awas kalau bertindak macam-macam,” perintahnya dengan telunjuk mengarah tepat di mana Kinanthi tengah berdiri.


“Tuan mau ngapain?”


“Mandi.”


“Aiyoh, mandi lagi? Bukankah Tuan tadi sudah mandi di kamar Kinan?”


“Kenapa? Nggak sabar mau ngerasain sodokan pertama?”


Wajah Kinanthi melengos, tak suka mendengar sindiran tuannya yang super mesum.


Siulan merdu terdengar mengalun, pertanda ia sedang bahagia. Namun, berbeda halnya dengan Kinanthi, hatinya justru semakin disesaki perasaan kacau balau.


••••


“Sepertinya kamu memang anak yang patuh.” Tuan Nabastala mendekati Kinanthi.


Hanya butuh sekitar tujuh menit ia berada di dalam kamar mandi untuk melepas hajatnya yang sempat tertunda semenjak berada di kamar Kinanthi. Pertahanannya lumayan sempurna, untung saja nggak lepas kendali ketika ia membopong tubuh mungil yang terus meronta. Jika iya, entah apa jadinya?


Mungkin juga Kinanthi akan bersorak kegirangan melihatnya kacau seperti itu. Iuh ... jangan sampai terjadi!


“Yang ngerjain kamu juga siapa?”


“Tadi Tuan bilang apa coba? Tuan mengancam Kinan pakai awas-awas segala. Sekarang malah ngejekin dibilang anak patuh.”


Spontan bibir yang mulai cemberut itu berhadiahkan kecupan. Entah kenapa, Tuan Nabastala jadi gemes sendiri setiap menyikapi kebodohan yang ditunjukkan Kinanthi.


Mata gadis itu membulat lebar, sebagai reaksi tak menyangka akan mendapat serangan sebegitu kilatnya. Bahkan ia tanpa kuda-kuda. Alhasil kecupan lembut dari bibir Tuan Nabastala lolos menyentuh bibirnya.


“Kenapa melotot? Kek nggak pernah ciuman aja,” sindir sang tuan melihat tanggapan Kinanthi.


“Nggak merasa apa, ciuman pertama Kinan juga Tuan yang sosor,” cebik Kinanthi semakin cemberut.


“Hei! Yang benar aja, kamu belum pernah berciuman sebelumnya?” goda Tuan Nabastala.


Bibir Kinanthi jadi cemberut, kesal digoda seperti itu. Karena ia memang belum pernah merasakan yang namanya berciuman. Selain dengan lelaki yang berdiri di hadapannya itu


“Iya, maaf. Aku kan nggak tahu.”


Tuan Nabastala membingkai wajah Kinanthi dengan kedua telapak tangannya. Pandangan keduanya beradu, detak jantung pun berpacu. Hingga kecupan demi kecupan menyatu menghujani bibir. Sesekali gigitan kecil terasa pada bibir bagian bawah milik Kinanthi.

__ADS_1


“Mm ... Tuan!” Geleng Kinanthi dengan tangan memukul-mukul pundak pemilik tubuh atletis dengan pakaian setengah telanjang yang menjadi kebiasaan lelaki itu sehabis dari kamar mandi.


Anehnya, Tuan Nabastala juga merasa tak tega melihat Kinanthi yang begitu gigih memberikan perlawanan. Rasa tak ingin menyakiti timbul tenggelam. Namun, bagaimana dengan gejolak batin yang kian memuncak. Apa harus dibiarkan lunglai?


“Kinan, please! Mau ya?” rengek sang tuan manja.


“Apa harus?”


Kinanthi menyadari, cepat atau lambat semua bakal terjadi. Konsekuensi dari keputusan yang telah dibuatnya sendiri. Hanya saja, kenapa harus sekarang?


Jemari lentik itu mencoba meloloskan satu per satu kancing pada kameja yang tengah dipakainya. Ketika sampai pada pertengahan, jemarinya berhenti. Hatinya tak bisa merelakan.


Melihat hal itu sang tuan kembali memeluk erat tubuh Kinanthi. Ciuman panjang melanglang, lidah bertaut liar. Sulutan gairah semakin berkobar.


Satu, dua butiran bening jatuh membasahi pipi tanpa suara. Tuan Nabastala menghentikan aksinya, memandangi seraut wajah muram. Kemudian ia meminta Kinanthi duduk bersandar pada sandaran ranjangnya dengan kaki selonjor.


Tuan Nabastala memilih rebah di pangkuan Kinanthi, membenamkan diri merajut mimpi-mimpi. Melupakan letupan gairahnya. Ia akan menunggu sampai saat yang tepat, Kinanthi rela menyerahkan tanpa ia pinta.


••••


Si pemilik wajah tampan dengan bibir tipis manis sedang tertidur pulas, kepalanya merebah di pangkuan Kinanthi. Dengkur halus yang terdengar di telinga bagai irama mendayu, lama-lama bisa melenakan jiwa sang perawan.


Hampir dua jam Kinanthi tak bisa bergerak leluasa, kakinya seperti kebas. Apa yang harus ia lakukan? Membangunkan tuannya yang masih terlelap, jelas saja ia tak punya nyali untuk itu.


Kinanthi mencoba menggeliat, menggerakkan pinggangnya, yang juga terasa lelah. Oh .... Sial. Bibirnya lepas kendali, ia mendesah saking lega rasanya meregangkan otot-otot tubuhnya.


“Kenapa? Capek?” Pertanyaan Tuan Nabastala mengejutkan Kinanthi.


Kinanthi yang sedang menggeliat dengan pandangan masih terpaku pada wajah ganteng itu, langsung membuat pipinya merah merona.


“Tuan, sudah bangun?”


“Dari tadi.”


“Aiya .... Tuan, kok, gitu sih?” Bibir Kinanthi mengerucut sebagai pertanda merasa kesal.


“Menyesal nih ceritanya?”


“Nggak,” jawab Kinanthi cepat.


“Terus?”


“Kaki Kinan capek, Tuan.”


“Masa bodoh.” Ditelungkupkan wajah sang tuan memeluk paha Kinanthi.

__ADS_1


Melihat hal itu Kinanthi hanya bisa geleng-geleng kepala, tingkah lelaki yang sering kasar itu ternyata manja juga. Awalnya ia sendiri tak menyangka, jika kejadian yang menimpanya sepagian itu akan begitu dramatis.


__ADS_2