Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Karena Tugas


__ADS_3

Tiba-tiba waktu berubah jadi sangat menyebalkan. Apa-apa yang hendak dikerjakan seperti tak ada benarnya. Umpatan demi umpatan dalam hati terus ia teriakkan. Namun, siapa yang mau disalahkan, kalau bukan dirinya sendiri.


Rasanya ingin memaki Tuan Nabastala saja, seandainya ia punya keberanian. Kenapa juga kemarin mengajaknya pergi menemui kedua sahabatnya. Coba saja jika tidak, pasti ia tak akan menyaksikan langsung skandal yang dilakukan sang sahabat--Anita.


Tentu saja rekam jejak penglihatannya tak akan terus berputar laksana gambar visual menyala. Membayangi ingatannya seperti sekarang. Dan itu merupakan hal yang sangat menyiksa batinnya.


“Sudah, Kinan! Cukup,” Bi Idah memperingatkan.


Pikiran Kinanthi yang sedang ambyar entah kemana tak mengindahkan peringatan bi Idah. Ia terus menerus menaruh garam dapur pada sayur sup yang sedang dimasaknya untuk makan siang.


“Kinan!”


Mendengar teriakan yang mendengking keras di samping telinganya, spontan Kinanthi menjatuhkan toples wadah garam yang sedang dipegangnya.


“Ya ampun, Bi! Kenapa sih teriak-teriak, jatuh nih jadinya.” Kinanthi justru gantian mengomeli bi Idah.


“Apa sih yang sedang kamu pikirin?” tanya bi Idah keheranan dengan sikap Kinanthi yang tak seperti biasanya.


Buru-buru Kinanthi mengambil sapu dan membersihkan ceceran garam yang terjatuh tanpa menghiraukan pertanyaan dari bi Idah yang melongo memandangi dirinya. Pikirannya benar-benar tersesat di antara riuhnya ingatan tentang sahabatnya.


“Sekalian buang juga itu sayur supnya,” ingat bi Idah.


“Dibuang?”


“Siapa juga yang mau makan sayur asin, kek gitu?”


“Asin?” Masak, sih?” Kinanthi segera mencicipi sayur sup buatannya. “Biuh, asin banget, Bi!”


Tuan Nabastala sudah berdiri di ambang pintu dapur, gara-gara mendengar dengkingan bi Idah memanggil Kinanthi. Ia juga ikut merasa heran melihat semua keanehan pada gadis perawan yang rela menawar diri sebagai budaknya itu. Sikapnya yang acuh tak acuh, membuat bi Idah jadi geleng-geleng dibuatnya.


“Kinan kenapa, Bi?”


“Entahlah, Tuan. Bibi juga enggak ngerti.”


“Sejak kapan Kinan begitu?”


“Sepertinya tadi pagi,” jawab bi Idah mengira-ngira.


Tuan Nabastala memberi isyarat pada bi Idah untuk ke luar dapur sementara. Kemudian mendekati Kinanthi dengan pelan-pelan. Melingkarkan kedua tangannya pada pinggang, memeluk tubuh yang berdiri sibuk menuang sayur sup buatannya untuk dibuang.


“Apaan, sih!”


“Sssttt. Jangan teriak-teriak, berisik,” bisik Tuan Nabastala.


“Tuan!”


Anehnya Kinanthi justru berteriak keras setelah mendengar bisikan itu. Sang tuan lekas melepaskan pelukan dari tubuh Kinanthi. Tak mau bi Idah datang dan melihat kelakuannya.


“Sini, ikut aku!” perintahnya tegas.


Kinanthi menurut. Meski rasany ia ingin sekali melampiaskan kekesalannya pada objek yang kini berada tak jauh darinya.


Perasaan yang selalu jungkir balik dengan permasalahan, aneh tapi nyata tengah Kinanthi rasakan. Kenapa sebegitu kesalnya ia pada Tuan Nabastala, hanya karena telah mengajaknya pergi. Sehingga netra dengan bulu mata lentik itu tanpa sengaja melihat sesuatu yang tak seharusnya.


Kenapa? Iya, kenapa ia harus merasa kecewa?


Bukankah polah tingkah yang dilakukan setiap individu itu pilihan masing-masing dan juga memiliki konsekuensi masing-masing pula. Terus dengan alasan apa, Kinanthi harus terus menerus memikirkan sahabatnya?

__ADS_1


“Kinan.”


“Hah, iya, Tuan.” Gelagap Kinanthi.


“Masuk,” perintah sang tuan.


Ia merasa aneh dengan ruangan yang berada di sekitarnya. Sejak kapan dirinya berdiri di ambang pintu dengan tanpa kesadaran ketika hendak masuk.


Pandangannya mengedar, menyapu seluruh ruangan. Kinanthi dibuat takjub dengan apa-apa yang dilihatnya. Sebuah ruangan dengan berbagai perabotan kuno berjajar rapi pada rak besi yang menopang kokoh barang-barang antik tersebut. Selama di rumah Tuan Nabastala baru kali ini Kinanthi melihat ruangan istimewa itu.


“Masuk,” perintah itu kembali terdengar.


“Tuan nggak takut ngajakin Kinan ke sini? Kinan kan suka banget bikin ulah.”


Dengan ragu-ragu kaki Kinanthi melangkah memasuki ruangan yang terang dengan bantuan cahaya lampu menyala. Ia mulai fokus pada langkahnya. Takut jika ceroboh sedikit saja, bisa fatal akibatnya. Dan Kinanthi tak ingin hal itu terjadi.


Seolah mengerti jalan pikiran Kinanthi, akan keraguan yang sedang menghinggapi perasaan gadis itu, tangan Tuan Nabastala terulur, “Kamu ‘kan juga bukan bocah lagi, ngapain juga harus takut.”


Benar juga kata Tuan Nabastala, kenapa harus takut? Hanya orang-orang yang berbuat salah yang seharusnya merasa takut, sementara ia tak bersalah. Atau tepatnya belum. Akhirnya Kinanthi pun menerima uluran tangan sang Tuan.


Keduanya berjalan beriringan di antara lorong ruangan yang dipenuhi benda-benda kuno. Dan kebanyakan dari benda itu adalah guci-guci antik dengan berbagai macam jenis dan coraknya.


••••


Sebuah taman minimalis dengan aneka jenis dan warna bunga tumbuh subur di sana. Pertanda si pemilik rajin merawatnya. Ayunan besi yang kokoh sedang menunggunya untuk berayun-ayun. Seperti sebuah keajaiban, bagaimana mungkin taman seindah itu ada di rumah sang tuan.


Diingat-ingatnya jalan masuk menuju lorong yang baru dilewatinya tadi, “Ia masuk melalui samping kamar tamu, berbelok ke kanan, ada sebuah pintu. Di situ, yah ... pintunya pasti dikunci,” desah Kinanthi akhirnya.


Merasa putus asa tak mungkin bisa ke taman itu lagi sendirian tanpa sepengetahuan sang tuan adalah mustahil. Karena lelaki itu menjadi satu-satunya akses untuk masuk.


“Pemandangannya bagus banget,” jawab Kinanthi berbohong.


Ia berjalan mengitari beberapa pohon palem yang termasuk dalam famili pinang-pinangan sudah tumbuh menjulang sekitar dua meteran atau bahkan lebih. Dengan bonggol besar membulat.


“Kamu simpan.”


Kinanthi memandangi wajah Tuan Nabastala dengan tercengang. Bagaimana bisa sang tuan memahami jalan pikirnya. “Kok, Tuan bisa tahu kalau Kinan pingin ke sini lagi?”


“Sudah hafal sama cara berpikir kamu. Nih, ambil!”


“Sampai sebegitunya?”


Sifat centil Kinanthi mulai kambuh. Dengan senang hati, tangannya terjulur menerima pemberian sang tuan. Sebuah kunci dengan gantungan bentuk hati yang dibelah paksa.


“Mungkin lebih.”


“Lebih apanya?”


“Lebih ngertiin kamu. Buktinya tanda lahir itu aku masih ingat dengan jelas.”


“Tuan!” teriak Kinanthi merasa malu setengah mati ketika mengingat kejadian waktu itu sehingga rahasia terbesar dalam hidupnya diketahui tuannya yang super mesum.


Sang tuan tersenyum simpul. Meninggalkan Kinanthi yang masih berdiri di bawah pohon palem.


Bingung harus berbuat apa, akhirnya Kinanthi pun mengekor mengikuti langkah sang tuan yang menuju ayunan.


“Tuan, bisa nggak melupakan hal itu?” pinta Kinanthi.

__ADS_1


“Mm ... bisa nggak, ya?”


“Tuan, please! Lupain!”


“Kenapa juga harus dilupain?”


“Kinan kan malu jadinya,” rengek Kinanthi menghiba.


“Kenapa harus malu? Lagian cuma kita kan yang tahu? Atau ada orang lain yang juga tahu?”


Tuan Nabastala meledek Kinanthi.


“Tuan! Nggak mungkin orang lain bisa tahu, kecuali orang tua Kinan.”


“Lah, itu bapak kamu juga tahu. Kok nggak malu?”


“Ya beda lah, Tuan. Mereka kan tahunya dari Kinan kecil.”


Muka Kinanthi memerah layaknya kepiting rebus, menahan malu akibat diledekin terus. Rasanya ingin berlari menjauh saja, meninggalkan lelaki yang sedang duduk berayun-ayun. Tetapi sayang, taman itu terlalu indah untuk diabaikan.


“Nggak capek berdiri mulu?” Tuan Nabastala mengalihkan pembicaraan.


“Emang boleh ikutan duduk di samping, Tuan?”


Saking gemasnya dengan pola pikir gadis imut menyebalkan di hadapannya, seketika sang tuan berdiri menarik tubuh Kinanthi hingga tepat ke dalam pelukannya.


“Auh,” pekik Kinanthi.


“Sakit?”


Bukan jawaban yang keluar dari bibir Kinanthi, melainkan pipi yang merona sebagai pengganti jawabannya.


Ciuman lembut mendarat di kening sang gadis, kemudian merambat turun pada bibirnya. Lama kedua bibir itu saling beradu. Kinanthi yang seringkali mendapati ciuman Tuan Nabastala, mulai terbiasa pula merasakannya. Ia berusaha mengimbangi ciuman sang tuan, meski masih terasa kaku.


“Witing tresno jalaran soko kulino” pepatah Jawa yang masyhur, mencintai itu sebab terbiasa. Mungkin seperti itu pula kondisi hati keduanya.


Mendung menggantung di atas sana, menjadi saksi kedua insan yang kian tenggelam dalam gelora birahi tak terbendung. Tangan kekar itu mulai liar, menelusup nakal di balik rok selutut yang tengah dikenakan Kinanthi.


Detak jantung mulai berpacu dalam ritme seperti mengentak-entak. Rabaan kasar tangan itu berhenti pada area bukit berbulu. Wajah Kinanthi mendongak, setelah meronta melepaskan lidah yang terus menyapu seluruh rongga dalam mulutnya.


Ia menggeleng, sebaiknya disudahi saja semuanya. Mungkin begitu arti dari gelengan kepala Kinanthi. Sang tuan mengerti. Meski batang kelelakian di bawah sana telah siap menghujam, namun, sesegera ia tahan-tahan.


“Maaf,” bisik lembut sang tuan sambil membelai-belai rambut Kinanthi yang tergerai, akibat ikatan rambutnya yang telah dilolosnya.


Kembali kecupan bibir sang tuan mendarat hangat di bibir Kinanthi. Setelahnya keduanya memilih duduk di ayunan, meski kecanggungan terlihat begitu kentara.


“Kinan marah?”


Wajah keduanya beradu, “Kenapa harus marah? Bukankah ini juga bagian dari tugas Kinan?” Gadis itu mengulum senyum getir di sudut bibir.


Rasanya bumi mendadak berhenti berputar untuk sepersekian detik. Tuan Nabastala tak mengira akan jawaban jujur yang meluncur dari bibir perempuan yang semakin menambatkan hatinya itu. Tugas, begitu katanya.


“Maafkan aku Kinan, sungguh maaf!”


Kinanthi tanpa reaksi atas pelukan yang dilakukan sang tuan lagi, ia memilih diam. Mungkin itu lebih baik dari semua jawaban. Walau ia punya seribu alasan untuk menenangkan hati sang tuan atas kata maaf yang mungkin sedang khilaf sewaktu terucap.


Belum kelar ia memikirkan tentang sahabatnya, kini bertambah lagi satu masalah yang tengah dihadapinya. Ketar-ketir terhadap rasa hatinya sendiri terhadap tuannya Nabastala.

__ADS_1


__ADS_2