
Tepat pukul sepuluh malam, mobil yang membawa Kinanthi berhenti pada sebuah rumah mewah bergaya eropa klasik dan modern. Terlihat lampu-lampu bohlam menyala di tiap-tiap sudut halaman yang dipenuhi aneka macam tanaman.
Mata Kinanthi seperti tak ingin berkedip melihat keindahan yang terhampar di hadapannya. Ia terpana. Decak kagum pun tanpa sungkan-sungkan ia lontarkan.
“Whasai ... kek istana pangeran dalam dongeng,” serunya sambil beranjak membuka pintu mobil.
“Cih, dasar ndeso,” ejek lelaki di sampingnya.
Kinanthi menoleh, kemudian tersenyum. “Saya memang ndeso. Memangnya kenapa, Tuan? Ketimbang An—”
“Nona Kinanthi, jaga tutur kata Nona terhadap Tuan.” Suara tegas sang sopir mengultimatum.
“Oh, maaf.”
Kinanthi menunduk, ia paham posisinya sebagai seorang budak bagi Tuan Nabastala. Ia memang tak boleh bersikap kurang ajar seperti itu terhadap tuannya.
••••
Di dalam ruangan yang mewah bak istana, mata Kinanthi tak henti-hentinya terpaku menelanjangi semua perabotan yang ditata sedemikian rupa. Berjajar begitu rapi. Di samping tangga, terletak sebuah guci antik besar berwarna kuning keemasan sebagai lambang kejayaan sang pemilik rumah.
Tangan Kinanthi rasanya gatal sekali ingin memegangnya, kemudian mengelus-elus. Ingin membanding-bandingkan halusnya permukaan guci dengan pipinya. Ah ... tanpa sadar kakinya pun berjalan ke arah guci antik diletakkan.
“Mau ke mana?” Suara dingin Tuan Nabastala bagai mantra, seketika menghentikan langkah Kinanthi.
“Ehm ... anu,” jawab Kinanthi sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Tuan Nabastala berpaling ke arah sang sopir berdiri, tanpa menghiraukan jawaban Kinanthi. “Pak Herman, tolong jelaskan ke dia apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di rumah ini,” perintahnya tegas, “saya mau istirahat dulu.”
“Baik, Tuan.”
Pak sopir yang bernama Herman itu, memang orang kepercayaan Nabastala Narendra di rumah sekaligus di kantornya. Bahkan semua urusan rumah harus melaluinya terlebih dahulu sebelum sampai ke tangan Tuan Nabastala.
Mata Kinanthi mengekor, memandangi langkah kaki Tuan Nabastala yang sedang menapaki anak tangga.
“Hust. Ndak boleh mandangi Tuan seperti itu, Nona Kinanthi.”
“He he ....” Bukannya takut, Kinanthi malah cengengesan. “Panggil aja Kinan, Pak! Biar ndak canggung kedengarannya.”
Pak Herman mengangguk, “Baiklah Nona Kinan, ... eh, maksud saya Kinan. Mari saya jelaskan tugas-tugas Nona ... eh, Kinan.”
Kinanthi tersenyum melihat tingkah pak Herman yang seperti orang gugup. Bisa-bisanya sang asisten sekaligus sopir pribadi Nabastala Narendra itu seperti orang ketakutan.
“Bapak ini ya lucu, kenapa harus gugup, Pak?”
__ADS_1
“Saya ndak biasa berhadapan dengan seorang wanita, Non,” jelas pak Herman sambil menunduk.
“Santai saja, Pak. Saya kan cuma budaknya Tuan Nabastala, ngapain juga bapak harus gugup?”
“Masalahnya bukan perkara Non Kinan pesuruhnya Tuan atau bukan. Masalahnya di sini, Non. Jantung bapak yang ndak mau kompromi.”
Kinanthi mengut-mangut sambil tersenyum lebar, ketika melihat pak Herman memegangi dada tengahnya agak sedikit ke kiri. Ia paham keluhan pak Herman. Maka ia pun menjaga jarak, agar pak Herman selalu berada dalam zona nyaman.
Sambil menunjukkan segala sesuatunya, menjelaskan secara detail tugas-tugas Kinanthi dan yang terakhir menunjukkan kamar tidurnya. Sebelum menyudahi tugasnya, Pak Herman meminta ponsel milik Kinanthi sendiri dan menyita semua barang pribadi termasuk identitas diri. Kemudian membiarkan gadis itu beristirahat karena malam hampir menepi.
Semangat, Kinan. Bisiknya dalam hati sebelum matanya terpejam, hingga membawanya pada mimpi aneh yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
••••
Pagi-pagi sekali Kinanthi sudah bangun, kemudian membereskan tempat tidurnya yang persis gudang itu. Ruangan 3×3 meter, di samping kanan dan kirinya hampir penuh dengan almari berisi perkakas dapur yang lama tak terpakai. Cuma menyisakan sedikit ruang bisa digunakan selonjoran satu orang saja. Tetapi Kinanthi tetap mensyukurinya.
Diraihnya handuk mini yang cuma mampu membalut tubuhnya dua inci dari ************. Ia bergegas membersihkan diri di kamar mandi seperti yang ditunjukkan pak Herman semalam.
Ia menikmati dinginnya guyuran air yang mengalir dari kran yang ditampung terlebih dahulu dengan menggunakan ember cucian sayur dari dapur. Ia merasa lucu sendiri, memandangi shower yang ada tanpa bisa memakainya.
Baju yang digunakan kemarin pun langsung dicuci, tanpa berfikir terlebih dahulu ia bakal punya baju ganti atau tidak. Yang diingatnya cuma pak Herman bilang, semua kebutuhannya sudah ada di kamar tempat tidurnya semalam. Ia pun cepat-cepat menyelesaikan mandinya.
Sudah pukul 07.30, tak henti-hentinya ia melirik jam tangan imitasinya. Dan terus berjalan mondar-mandir. Bingung harus bagaimana.
Kinanthi menjadi semakin panik.
“Kinan ... buka pintu!”
Kembali tangan kokoh Tuan Nabastala menggebrak-gebrak daun pintu.
Perlahan-lahan Kinanthi membukanya, nyaris tanpa suara. Dilihatnya Tuan Nabastala membelakangi daun pintu sambil berkacak pinggang.
“Kinan ... buka!” teriaknya lagi.
Nyali Kinanthi menciut, “Sudah, Tuan.”
Tuan Nabastala menoleh, kemudian mendekat ke arah Kinanthi. Dipandanginya tubuh mulus yang cuma terbalut handuk itu dari ujung kepala hingga kaki. Membuat jakun lelaki itu ikut naik turun. Gelagat lelaki normal pada umumnya.
“Maafkan saya, Tuan.” Kinanthi menghiba, “baju saya basah dan tidak membawa ganti. Katanya—”
Belum selesai ia berbicara, Tuan Nabastala dengan sekali sentakan telah mendorong tubuh Kinanthi ke sisi tembok di samping pintu. Dan mengunci tubuh imut itu dengan kedua tangannya yang berotot. Membuat Kinanthi terus menunduk, tak berani beradu pandang dengan mata tajam sang Tuan.
“Tuan mau ngapain?” bisik Kinanthi lirih.
__ADS_1
“Sarapan,” jawab Tuan Nabastala renyah.
“Hah, sarapan? Di sini?” Pandangan Kinanthi beredar. “Di sini tak ada makanan, Tuan.” Dengan polosnya ia memberitahu sang Tuan.
Wajah Tuan Nabastala terlihat memerah, emosinya siap meledak. Dijambaknya rambut Kinanthi yang basah.
“Argh ... sakit, Tuan.”
“Kamu itu bodoh atau apa, sih? Hah?”
“Maksud, Tuan?”
“Tubuhmu sepertinya mengenyangkan,” desis sang Tuan sambil melepaskan jambakan rambut Kinanthi. Tangannya beralih mengelus gundukan daging kenyal yang terlihat menyembul indah di balik handuk kekecilan.
“Tolong, jangan Tuan.” Kinanthi beringsut mempertahankan handuk yang melilit tubuhnya.
Tubuh Kinanthi seperti bergetar ketakutan melihat tangan tuannya semakin merangsek, “Buka,” bentaknya kasar.
Kinanthi menggeleng lemah. Ia terus berusaha melindungi tubuhnya dengan tangan mungil yang disilangkan menutupi dada. Meski sebenarnya ia sendiri tahu semua itu tak akan merubah keinginan sang Tuan Nabastala.
Sebuah ciuman kasar mendarat di bibir Kinanthi, membuat tubuhnya tersentak. Tangannya sekuat tenaga mendorong tubuh sang Tuan. Tetapi sia-sia. Tubuh kekar itu semakin mengeratkan tubuhnya ke tubuh Kinanthi.
Ciuman itu semakin mengganas, berkali-kali Tuan Nabastala menghisap bibir atas-bawah Kinanthi bergantian, sesekali menggigitnya.
Kinanthi mulai pasrah. Ia tahu cepat atau lambat semua itu akan datang padanya. Hanya bedanya, batinnya saja yang belum siap melepaskan satu-satunya hal yang tak pernah bisa kembali jika telah terenggut.
Melihat Kinanthi tak lagi melawan, batin Tuan Nabastala tergelak, merasa menang padahal tombak kejantanannya belum menancap di liang surgawi gadis perawan itu.
Handuk yang melilit tubuh Kinanthi pun luruh, teronggok di lantai. Tangan Tuan Nabastala semakin liar, menjelajahi lekuk-lekuk tubuh yang belum terjamah tangan lelaki mana pun. Lidahnya menyapu leher jenjang sang perawan, Kinanthi mulai menggelinjang.
Sebuah kemunafikan, jika ia tak merasakan kenikmatan pada tubuhnya yang digerayangi Tuan Nabastala sedemikian rupa.
Augh ....
Suara desahan khas lolongan kenikmatan, meluncur dari bibir mungil Kinanthi seiring ledakan hangat dari liang surgawinya.
Tuan Nabastala semakin liar, lidahnya terus menjelajahi lekuk-lekuk sensitif milik Kinanthi. Kini wajahnya mulai merunduk, sapuan lidahnya terhenti di sekitar pusar. Sedetik kemudian ia berdiri tergesa dan meninggalkan tubuh Kinanthi yang masih bersandar pada tembok.
Tentu saja membuat Kinanthi keheranan, merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sang tuan pergi meninggalkannya begitu saja, tanpa mengoyak selaput keperawanannya. Dipandangi tubuh telanjangnya. Tak ada yang aneh, semua terasa sempurna baginya. Kecuali ....
Kinanthi tertawa dalam hati. Geli mengingat kelakuan tuannya yang tiba-tiba menjauhi dirinya dengan membawa gairah yang sedang meledak-ledak di ubun kepalanya.
Ada tanda lahir tipis mirip kecoak di bibir kewanitaannya. Bayangkan! Tanda lahir mirip kecoak? Seperti apa coba? Dulu ia begitu benci setengah mati terhadap benda hitam tipis yang menempel itu. Ia selalu beranggapan tanda lahir itu sebagai pembawa sial, mengurangi jatah keindahan tubuhnya saja. Sekarang justru telah menyelamatkannya dari kerakusan nafsu sang tuan.
__ADS_1
Begitulah. Tuhan pemilik semesta selalu menciptakan segala sesuatunya dengan membawa serta fungsinya dari masing-masing yang Ia ciptakan. Namun, terkadang nalar manusia saja yang beranggapan Tuhan sedang berlaku tak adil padanya.