Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Kejutan Istimewa


__ADS_3

Perlahan-lahan perasaan itu mulai terkikis, seiring rasa sabar yang berdenyar kian ambyar. Hati dan luka bergandengan dalam melakonkan peran. Air mata pun luruh sebagai pertanda sakit yang lepuh.


Kinanthi tersedu-sedu di kamarnya. Hatinya bagai teriris-iris atas perlakuan Tuan Nabastala. Lelaki yang sifatnya sulit ditebak terkadang baik, terkadang juga garang yang kegarangannya melebihi serigala kelaparan. Sungguh aneh, tapi nyata.


Entah, takdir semacam apa yang telah menyeretnya hingga terdampar tak berdaya, Kinanthi hanya mampu pasrah meski tak memiliki arah. Disekanya air mata yang terus membasahi pipi chubby-nya dengan punggung tangan. Bibirnya mulai bergumam, “Semangat, Kinanthi. Kamu pasti bisa.”


Seraut senyum pun mengembang tipis, ia bangkit dan terus berjalan ke luar kamar. Terkejut ketika dilihatnya pak Herman tengah berdiri mematung di ambang pintu.


“Kok, Pak Herman ada di sini?” tanya Kinanthi ragu-ragu.


Sebelas hingga dua belas detik suasana dalam kecanggungan. Pak Herman masih diam, dan Kinanthi termangu menunggu jawaban.


Hah ....


Embusan napas kasar ke luar dari mulut pak Herman, sebagai pertanda beliau sedang menghalau keresahannya.


“Pak, Anda tak apa-apa?” tanya Kinanthi lagi.


“Semenjak ada Non Kinan, semua jadi serba rumit.”


Kinanthi melongo mendengar perkataan pak Herman. Rasa bersalah kembali menghinggapi perasaannya.


“Maafkan Kinan, Pak,” lirihnya.


“Kalau cuma bilang maaf, semua orang bisa melakukannya, Non.”


Sebagai seorang asisten yang terbiasa hidup dengan kediktatoran tuannya dengan berbagai macam perintah sepertinya kali ini pak Herman sedang berada dalam fase pesimisnya.


“Bapak tadi ke sini ada perlu?” tanya Kinanthi tanpa ingin berbasa-basi lagi.


“Tuan menyuruh Non Kinan untuk ke kamarnya. Dan juga, siang ini ndak perlu memasak.”


“Hah, yang benar saja, Pak? Nggak perlu masak untuk makan siang?”


“Heh.” Pak Herman mengangguk dan segera berlalu.


Kinanthi berjingkrak-jingkrak kegirangan dalam hatinya. Ia terbebas dari tugas memasak. Semesta memang lihai, begitu suka membercandai.


••••


“Tuan,” panggil Kinanthi dari arah pintu.


“Hem. Masuk.” Terdengar perintah Tuan Nabastala.


Pandangan Kinanthi beredar menyapu seisi ruangan. Dada Kinanthi berdebar, dilihatnya tubuh sang tuan yang hanya terbalut handuk sedang berdiri di depan cermin. Mungkin saja habis mandi. Kinanthi tak mau berpikiran yang bukan-bukan, karena bisa-bisa nanti meracuni alam bawah sadarnya.


Langkah kakinya terayun pelan, hingga tanpa suara. Ia berdiri kira-kira dua atau tiga jengkal dari tempat sang tuan berdiri.


“Kaki Tuan sudah baikan?” tanya Kinanthi sopan.


“Ehm.”


Tuan Nabastala tetap berkutat di depan cermin tanpa menoleh ke arah Kinanthi. Ia sibuk memandangi wajahnya, sesekali digerayangi dagu dan tulang rahangnya.


“Tadi, Pak Herman bilang, Tuan memanggil saya. Ada yang bisa saya bantu?”


“Sini.” Tuan Nabastala berbalik arah, memandangi Kinanthi.


“Tapi—” Reflek Kinanthi menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah.

__ADS_1


Tanpa disadari Kinanthi sang tuan sudah berdiri tepat di hadapannya, kemudian dipegangnya kedua pergelangan tangannya. Jelas-jelas membuat Kinanthi terkejut.


“Buka.”


Terkadang suara lembut Tuan Nabastala bagai mantra ajaib yang mendengung di telinga. Semua perintahnya dengan gampang selalu ia turuti. Seperti kali ini, tangannya perlahan terbuka, menampakkan senyum lelaki di hadapannya yang begitu memesona.


Lelaki dengan otot lengan berisi itu merengkuh tubuh Kinanthi. Memeluk ke dalam dada bidangnya. Bagai terhipnotis, Kinanthi cuma pasrah dengan mengikuti perlakuan Tuan Nabastala. Aroma wangi sabun masih melekat di tubuh sang tuan terendus indra penciumannya, membuatnya memejam mata menikmati sensasi yang berjejalan merasuki alam pikiran.


Kecupan lembut pun mendarat di kening Kinanthi. Kemudian Tuan Nabastala berbisik pelan di telinga Kinanthi, “ML, yuk!”


Glek ....


Pelukan merenggang, mendadak kening berkerut, mata menyipit, otak bekerja dengan teramat keras. Mencoba mencerna maksud dari kata-kata Tuan Nabastala.


“Maksud, Tuan?”


“Main lagi. Melanjutkan kemarin yang tertunda gara-gara kecoak kurang kerjaan yang nempel di ... itu.”


Kinanthi menggeleng kepala. “Jangan, Tuan,” rengeknya.


“Kenapa?”


“Kinan belum siap.”


“Terus kapan?”


“Tuan itu aneh.” Kinanthi tersenyum dengan kepolosannya.


“Hah. Aneh? Aneh apanya?”


“Masa iya ngajakin ML pakai negosiasi.” Tawa Kinanthi tak lagi dapat ditahannya.


Tubuh Kinanthi meronta-ronta. “Tuan, jangan ...,” pintanya merengek.


“Siapa tadi yang nantangin, hah?”


Tuan Nabastala semakin bersemangat, membaringkan tubuh Kinanthi di atas ranjang. Membuka paksa kaos yang tengah dikenakan Kinanthi. Namun, tak berhasil akibat tubuh mungil itu terus berontak, mencoba meloloskan diri.


“Bisa diam, nggak?” bentak Tuan Nabastala gerah dengan ulah Kinanthi yang terus meronta.


Kinanthi memanyunkan bibirnya, “Tuan itu memang aneh. Kadang baik, kadang galak kayak macan. Bikin Kinan takut, Tuan.”


“Apa kamu bilang?”


Tuan Nabastala terduduk di tepian ranjang, mencerna kata-kata Kinanthi baru saja.


“Ah, masa bodoh. Yang jelas hari ini kamu nggak bakal lolos dari terkaman macan yang lagi kelaparan ini.”


Tubuh Tuan Nabastala mulai bergerak, kedua tangannya sigap menggenggam erat kedua pergelangan tangan Kinanthi. Bibirnya mengambil perannya sendiri; leher jenjang Kinanthi. Diciuminya dengan penuh nafsu, lidahnya pun ikut menyapu.


Lagi-lagi semesta mengirimkan kejutan istimewa. Perempuan paruh baya tengah berdiri di ambang pintu. Menyaksikan permulaan adegan ranjang sepasang muda-mudi.


“Apa-apaan kalian?” teriaknya dalam kemurkaan.


Teriakan itu bagai gelegar petir yang menyambar di siang bolong. Pergumulan yang baru akan dimulai seketika terhenti. Tuan Nabastala menoleh ke arah suara, memungut handuknya yang telah terlepas, dan buru-buru mengenakannya kembali. Sedang Kinanthi membisu di ranjang duduk sambil memeluk lutut.


“Mama kapan pulang?” tanya Tuan Nabastala dengan wajah gugupnya. Ia mendekat ke arah mamanya berdiri.


“Siapa dia?” telunjuk perempuan yang dipanggil mama mengarah pada Kinanthi.

__ADS_1


“Dia ... dia ....”


Tuan Nabastala bingung harus menjawab apa. Takut jawabannya nanti akan semakin memperkeruh suasana.


“Dia siapa?” bentak mamanya semakin keras.


“Kinan, Ma. Calon istri Nabas.”


Sebuah jawaban yang lolos begitu saja dari bibir Tuan Nabastala, tanpa dipikir terlebih dahulu apa akibatnya. Kinanthi tak mempercayai pendengarannya. Calon istri, katanya.


“Jadi gara-gara perempuan itu, membuat kamu menolak Mayang, begitu?”


Kinanthi yang tak mengerti arah pembicaraan Tuan Nabastala dan mamanya, dalam kebisuan ia menjadi penonton yang baik.


“Ma ... berkali-kali Nabas bilang, Nabas nggak suka sama Mayang, Ma ....”


“Mama juga nggak mau tahu, pokoknya kamu harus menikah dengan Mayang. Titik.”


Dengan perasaan gusar mamanya beranjak meninggalkan kamar. Membuat Kinanthi merasa sedikit lebih lega. Ia meloncat turun dari ranjang, dengan senyum mengambang di bibirnya yang entah apa maksudnya. Mendekati sang tuan yang masih berdiri termangu di samping pintu.


“Itu tadi mamanya, Tuan,” tanya Kinanthi pelan.


“Udah tahu masih juga tanya.”


“Cuma untuk memastikan.” Kinanthi memandangi wajah Tuan Nabastala yang terlihat kalut. Tatapannya lekat, penuh selidik. “Mayang itu siapa, Tuan?”


“Kepo.”


“Jadi nggak boleh tahu?”


Terkadang kepolosan Kinanthi itu sungguh menyebalkan. Membuat Tuan Nabastala terus mengusap-usap rambutnya.


“Kinan.”


“Heh. Apa, Tuan?”


“Mau nggak jadi pacarku?”


“Pacar?”


“Pacar bohongan.”


“Lah, apa untungnya? Ogah.”


“Uang.”


“Tuan yakin?”


Sebuah anggukan kepala membuat beban berat di tubuh Kinanthi seketika terangkat. Otaknya langsung menyusun berbagai macam rencana. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


“Siap, Tuan.” Tangan Kinanthi merentang, memeluk tubuh kekar itu, membuat Tuan Nabastala dalam keterkejutan.


“Bocah pinter,” bisik Tuan Nabastala pelan seiring tangannya yang mengusap lembut rambut Kinanthi.


Membawa kami dalam keterhanyutan pikiran masing-masing. Terima kasih semesta, untuk kejutannya yang begitu istimewa.


“Tuan, kakinya sudah nggak sakit lagi?”


Bisikan gadis mungil itu justru bagai klakson mobil pada jalanan yang sepi, begitu mengejutkan. Namun, pertanyaannya ada benarnya juga. Bagaimana mungkin kakinya yang tadi terkilir bisa secepat itu sembuhnya?

__ADS_1


Dan, ia sendiri memang sudah tak merasakan sakit pada kakinya setelah hampir tergelincir untuk kedua kalinya di kamar mandi tadi. Hingga memaksanya untuk mandi kembali gara-gara senggolan tanpa sengaja pada gagang shower yang membuatnya basah kuyup.


__ADS_2