Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Hikmah Keadaan


__ADS_3

“Haiyo, semalam kalian ngapain?” gertak bi Idah sewaktu melihat Kinanthi telah melewati seluruh bagian anak tangga dari lantai atas.


Jelas saja ulah bi Idah membuat Kinanthi terkejut. Bukan sebab pertanyaan yang ia lontarkan, melainkan caranya yang mendadak muncul begitu saja.


“Ya ampun, Bi! Bikin kaget, aja!”


Merasa gertakannya berhasil, bi Idah jadi senyam-senyum sendiri sambil memutar-mutar kemoceng yang tengah dipegangnya, diarahkan ke badan Kinanthi bermaksud menggelitik.


“Serius, nih? Semalem kalian habis beraksi apa berantem?”


Dih, apa bedanya beraksi sama berantem coba? Aneh banget bibi yang satu ini.


“Bi! Bisa nggak, pagi-pagi nggak ngajakin bergosib? Ntar kalau Tuan tiba-tiba muncul, terus Kinan kena hukuman, gimana?”


Sebenarnya tak ada niatan untuk meladeni ajakan bi Idah bergosip ria. Namun, perempuan yang usianya hampir menginjak kepala lima itu terus memburu, mensejajari langkahnya. Membuat Kinanthi meyakini kalau ia tak bisa mengelak lagi.


“Nggak mau, Bi! Nanti kalau Tuan dengar dia bisa marah.”


Bi Idah bukanlah orang yang mudah menyerah, dikeluarkan jurus pamungkas demi menjinakkan kerasnya hati Kinanthi.


“Nggak, nggak! Tuan nggak bakal tahu,” bisik bi Idah berjanji. “Nanti bibi buatkan sup makaroni asam manis kesukaan kamu.”


Salah satu rayuan bi Idah yang selalu manjur melelehkan bongkahan karang es di hati Kinanthi, ya ... sup yang satu ini. Rasanya hem, pokoknya yummy banget. Enggak bisa didefinisikan hanya melalui kata-kata saja.


Dan, apa salahnya memanfaatkan keadaan demi sedikit keuntungannya. Lagian Tuan Nabastala tak akan mengetahui hal itu, selama ia sendiri menutup mulut dan Bi Idah pura-pura tak tahu.


“Benaran o, Bi! Sup makaroni asam manis.” Kinanthi mempertegas kata-kata yang baru saja diucap bi Idah.


Ia berjingkrak riang, senyumnya melengkung. Pertanda rasa bahagia sedang menguasai tahta hatinya. Seringkali hal itu dilakukan Kinanthi setiap merasa bahagia yang sedikit melewati batasannya.


“Pokoknya nanti malam bibi tungguin ceritanya,” tegas Bi Idah, “jangan sampai bikin orang tua ini mati penasaran.”


“Ehm,” dehaman Tuan Nabastala mengejutkan keduanya yang masih berdiri hendak melanjutkan kasak-kusuk. “Jangan lupa, bagian sup makaroni asam manisnya.”


“Tuan.” Toleh Kinanthi dan bi Idah bersamaan. Membuat keduanya berbisik-bisik, saling sikut menyikut. “Bibi, sih!” adu Kinanthi.


“Kok, jadi Bibi yang disalahin?” timpal bi Idah.


“La terus, siapa yang tadi ngajakin ngerumpi?”


“Ehm.”


Kinanthi dan Bi Idah menghentikan debatnya. Fokus pada dehaman yang bakal diikuti suara titah. Kinanthi menunduk, memandangi lantai granit yang ia pijaki.


“Kinan, ikut aku!” ajak sang Tuan menuju ke dapur.


“Tuh, kan! Kinan pasti dihukum lagi.”


Memang setiap tindakan selalu membawa konsekuensi untuk dipertanggungjawabkan. Tidak peduli pada besar-kecilnya yang telah dilakukan. Sudah sewajarnya jika kehati-hatian diikut sertakan dalam mengambil peran sesuai porsinya.


Tindakan yang hanya menuruti keinginan tanpa difilter terlebih dahulu merupakan bentuk kecerobohan yang sering menggiring bencana.


••••


Di meja makan, Tuan Nabastala tengah duduk santai sembari memandangi layar tablet fungsionalnya seperti biasa. Sambil menunggu menu sarapan yang akan dibuatkan Kinanthi. Menu sarapan yang terbilang nyeleneh bagi orang dewasa.


“Tuan serius?” Kinanthi kembali bertanya ketika Tuan Nabastala menyebutkan menu yang dipinta.

__ADS_1


“Iya, coco crunch tanpa susu. Tetapi pakai kuah santan yang direbus dengan gula merah. Memang nggak salah,” tegasnya.


Ini menu sarapan orang sinting apa? Sejak kapan bikin coco crunch jodohnya kuah santan? Ada yang pernah mencoba, kira-kira seperti apa rasanya?


Bukan hanya menunggu yang membosankan. Mencari juga sebuah hal menyebalkan. Apalagi yang dicari memang sebenarnya tidak ada. Namun, sebuah kepura-puraan menjadi bagian kamuflase sempurna menutupi sesuatu yang memang tidak ada.


Diubrak-abriknya seluruh isi almari penyimpanan, juga kulkas. Berharap apa yang dicari Kinanthi terselip di antaranya. Ternyata nihil. Enggak ada bungkusan yang namanya coco crunch apalagi santan instan.


“Tuan,” panggil Kinanthi dengan kesalnya.


Tuan Nabastala hanya memandang sekilas wajah yang sedang berdiri di depannya itu, terlihat raut cemberut. Tak dihiraukannya, ia kembali sibuk menggeser-geser layar tabletnya tanpa mengindahkan panggilan.


Merasa dicueki, Kinanthi tak habis akal. Mungkin saja Tuan Nabastala memang sengaja menyuruhnya membuat sarapan nyeleneh semacam itu. Kemudian punya alasan untuk marah-marah jika ia tak berhasil dengan menu yang diharapkan.


Dicarinya bi Idah untuk meminta bantuan. Perempuan paruh baya yang sedang mengelap jendela itu ia hampiri.


“Bi,” panggil Kinanthi pelan. Takut membuatnya terkejut.


Tidak ingin dianggap sedang balas dendam, memanfaatkan keadaan bi Idah yang sedang berdiri di atas kursi. Nanti kalau bibi dengan tubuh sedikit tambun itu oleng dan jatuh terus kenapa-napa, siapa juga yang bakal repot akhirnya. Jelas saja Kinanthi dapat imbasnya.


“Apa?”


Tanpa menoleh, bi Idah menjawab. Tangannya tetap sibuk dengap kain lap yang digosok-gosokkan maju mundur.


“Bi, boleh minta tolong nggak?”


“Minta tolong apa?”


“Bikinin coco crunch dengan kuah santan,” pinta Kinanthi ragu-ragu.


“Heem.”


“Tahu nggak, Tuan itu sedang ngerjain kamu.” Bi Idah memandang Kinanthi kasihan, “mana ada bikin coco crunch pakai santan, yang ada ya pakai susu.”


“Tapi Tuan mintanya pakai santan, Bi!”


Apakah salah, terlahir dari rahim keluarga biasa, yang mengenyam pendidikan juga biasa-biasa saja?


Apa harus, kehidupan yang serba biasa dipermainkan sesuka hati? Juga menuruti kehendak yang harus sesuai seleranya?


Oh, Kinan! Betapa malangnya nasib kamu terdampar di keluarga kaya raya yang membuatmu semakin menderita.


“Kinan. Mm.” Dagu bi Idah diangkat-angkat. Seperti memberi suatu kode.


“Mm ... itu dagunya kenapa, Bi?”


“Bukan dagunya Kinan. Tapi itu, Tuan!”


“Iya, itu tuannya kenapa, Bi?”


“Kinan. Kamu itu emang lola alias loading lama atau apa, sih?”


“Ya, habisnya Kinan emang nggak paham maksud, Bibi.”


“Tau, ah!” Bi Idah berlalu dengan jengkelnya meninggalkan Kinanthi, seiring perubahan raut wajah tak mengenakkan untuk di lihat.


Hidup dengan keterbatasan cara berpikir memang menyakitkan, ketika orang-orang seenak jidatnya mencemooh, melabeli kata ‘BODOH’ penuh penekanan seiring intonasi pengucapan. Seperti yang sering Kinanthi rasakan.

__ADS_1


Tanpa terasa bulir-bulir bening merembes membasahi pipinya. Pertahanannya untuk tak menangis jebol sudah. Ia menyeka air matanya dengan ujung jemari, tak berharap jika ada yang memergoki ia sedang menangis.


Kesedihan selalu bersanding dengan air mata, meski pada kenyataannya air mata yang tumpah tak pernah menyisakan apa-apa. Namun, kabar baiknya rasa sakit bisa sedikit berkurang setelahnya.


Dari arah belakang tubuh Kinanthi berdiri, seseorang memegang pundaknya. Membuatnya menoleh, tak menyangka Tuan Nabastala sudah berdiri ia punggungi. Beliau tengah menyodorkan tisu.


“Tidak perlu, Tuan. Terima kasih,” tolak Kinanthi, “saya tidak sedang membutuhkan.”


Langkahnya berderap menjauhi Tuan Nabastala yang masih berdiri mematung, memandangi kepergiannya dengan terheran-heran.


••••


Di meja makan sudah terhidang menu sarapan seperti yang dipinta Tuan Nabastala. Membuat Kinanthi jadi semakin bingung saja. Bagaimana bisa bi Idah membuat semua itu?


“Bi! Kok bisa bibi bikin semua ini,” seru Kinanthi. “Ini coco crunch pakai santan, ya, Bi?”


“Bukan.”


“Loh?”


“Kenapa?”


Bi Idah dengan terampilnya menuang jus apel pada gelas yang dipersiapkan khusus buat nyonya.


“Bibi bisa sulap, ya?”


“Ngaco.”


“Ya habisnya, tadi semua bahan yang dibutuhkan nggak ketemu sewaktu Kinan cari-cari.”


“Kamu aja yang nggak serius mencari. Noh semua lengkap di almari yang sebelah, ntuh!” Telunjuk Bi Idah menunjuk.


“Owh.” Bibir Kinanthi membentuk bulatan sempurna. Dipandangi almari kayu yang terletak berjejer dengan peralatan tempur di dapur “Eh, Bi! Bukannya almari itu tempat menyimpan perkakas tempur?”


“Semua isinya jarang dipakai, jadi ya, bibi pindahin aja ke kamar bibi biar ikut ngumpul sama kerabatnya,” jelasnya.


“Emang Tuan nggak marah?”


“Mana mungkin dia mau tahu.”


Kinanthi mendekat, volume suaranya dikecilkan, “Bi, boleh nggak Kinan tanya sesuatu?”


“Jangan tanya yang bukan-bukan!” ingat bi Idah.


Kinanthi mengangguk setuju. Kali ini ia hanya ingin mengorek keterangan mengenai Tuan yang jarang terlihat pergi ke kantor, dan juga nyonya yang hingga kini belum diketahui namanya.


Anehnya lagi, nyonya lebih suka mengurung diri di kamar, jarang berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Berbicara dengan Tuan Nabastala pun jarang sekali dilakukan. Padahal Tuan adalah putranya sendiri.


Bagaimana bisa seorang ibu begitu bersikap dingin dengan darah dagingnya sendiri?


Hal-hal semacam itu membuat Kinanthi merasa ingin tahu. Keberadaannya hampir genap dua bulan. Namun, masih banyak hal janggal ingin diketahuinya tentang keluarga Tuan Nabastala.


Dan bi Idah adalah koneksi menuju pengetahuan itu. Eh, tunggu dulu! Ngomong-ngomong bi Idah yang belum lama bekerja, kok bisa-bisanya tahu banyak hal tentang keluarga Tuan Nabastala?


Apa jangan-jangan ia dikirim sebagai mata-mata?


Oh, Kinanthi! Pikiran gila macam apalagi yang sedang meracuni otakmu?

__ADS_1


__ADS_2