
Mungkin begini yang disebut lakon semesta. Rasa bahagia mendadak singgah, kehadirannya tanpa mampu diduga persis kapan bakal terjadi. Terkadang sedikit malu-malu bertamu.
Begitu juga luka, bertemu pada sebuah perjananan yang tanpa sengaja, kemudian meminta tinggal berlama-lama.
Seiring air mata yang landai membasahi pipi, mata Kinanthi nanar memandang segala penjuru, tersembunyi lakuna pada setiap kedipannya.
Sang sahabat, Anita yang sedari tadi cuma menjadi penonton drama kehidupan nyata dari kejauhan karena tak berani terlibat, kini beringsut mendekat. Meski bekerja pada lantai yang berbeda bisa dengan gampang ia mengetahui keadaan di sekitarnya.
Apalagi perseteruan yang baru saja menimpa Kinanthi dengan Nabastala Narendra seorang CEO handal yang namanya melambung di seantero penjuru Mega Mall. Ia merupakan pengusaha muda yang kondang disektor properti sekaligus founder Bentang Langit Development Tbk. Itu yang diketahui Anita sepanjang ia bekerja di mall elite tersebut.
Dipeluknya sang sahabat yang sedang terpuruk, dielus-elus pucuk kepalanya. Kemudian mulai menabur mutiara bijak di telinga sahabatnya. “Yang sabar ya, Kin. Semua pasti ada hikmahnya, kok!”
Kinanthi membatu, duduk bersedeku di atas lantai berbahan granit tile yang permukaannya sangat mengkilat. Gambar wajah bermuram durja samar-samar terlihat di sana.
“An—” Kinanthi tak melanjutkan kalimatnya, keresahan seperti sedang menggelayuti pikirannya.
“Kenapa?” Sebagai seorang sahabat baik tentu saja Anita memahami keresahan Kinanthi.
“Tolong jangan beri tahu Bapak sama Emak tentang kejadian ini, ya, An.” Ia pandangi wajah Anita lekat, memohon, sambil menunggu jawaban.
“Ehm ... tapi aku ndak bisa janji, Kin. Kamu juga tahu sendiri, mulutku ember. Kalau ngomong sering latah.”
Kinanthi memaklumi, permintaannya berat bagi Anita. Mulut Anita kalau sudah nerocos, seperti kaleng rombeng; gemelontang. Tak akan ada rahasia dalam kehidupannya, yang pasti juga seperti ember bocor bakal merembes di mana pun ia tengah berada.
Sehingga Anita tak memiliki banyak teman gara-gara mulutnya itu. Tapi bagi Kinanthi, Anita adalah sahabat yang cukup menyenangkan dan juga bisa diandalkan terlepas dari bicaranya yang jarang ter-filter.
“Untung saja si Bos Nabastala baiknya kek malaikat.” Seseorang yang tanpa diketahui kehadirannya, sudah berdiri di samping Kinanthi dengan suara dingin penuh keangkuhan.
Kinanthi menoleh, “Eh, si Bos.”
“Nih.” Tangan lelaki yang dipanggil Bos terulur, sesuatu yang ada dalam pegangannya diserahkan pada Kinanthi.
“Ini apa, Bos?” Kinanthi bertanya dengan keluguannya sambil ragu-ragu menerima sesuatu yang diulurkan. Sebuah kotak seukuran dus box ponsel.
“Dan ini lagi—” Si Bos menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu pada Kinanthi “Gaji lu seminggu. Besok kagak perlu dateng lagi.”
“Hah, aku dipecat ya, Bos?” tanya Kinanthi dengan ekspresi persis orang tulalit.
Lelaki yang dipanggil Bos berlalu meninggalkan keduanya tanpa menjawab pertanyaan Kinanthi yang memang tak perlu jawaban. Semua sudah jelas.
“An, apaan ya, kira-kira isinya? Jangan-jangan ada bomnya.” Pandangan Kinanthi beralih pada dus box, kemudian mengangkatnya dan memicing-micingkan mata, berharap pandangannya mampu menembus keberadaan isi kotak itu tanpa perlu membukanya.
Anita juga begitu penasaran dengan isi dus box yang baru saja diterima Kinanthi.
“Ndak mungkin bom, Kin. Coba sobek aja bungkusnya, biar nggak bikin penasaran.”
Seperti dikomando Kinanthi pun meloloskan bungkus dus box dengan sekali tarikan tangan.
Mata Kinanthi melotot, Anita yang berada di sampingnya pun merasa tak percaya. Bagaimana mungkin, Kinanthi mendapati pemberian seistimewa itu. Ponsel merk ternama yang sedang digandrungi para kawula.
“Gila, Kin! Elu tu sial, apa sialan, sih!” seru Anita menggapai isinya, langsung menimang-nimang ponsel berwarna pink kesukaan banyak perempuan. “Apel krowak, Kin!”
__ADS_1
Kinanthi tak peduli dengan semua itu. Ia hanya tak menyangka, karena dus box pembungkus ponselnya sudah diganti sedemikian berbeda.
Kini ekor mata Kinanthi lebih tertarik dengan sepucuk kertas yang juga berwarna pink, sengaja diselipkan pada bagian kotak paling bawah.
“Jangan senang dulu, semua ada harganya.”
Huh. Kinanthi mendengus kesal setelah membaca tulisan dalam kertas itu. Ia tahu, selalu ada udang di balik tepung yang mau digoreng persis seperti dugaannya.
“Kira-kira siapa ya, yang kasih ini, Kin?” celetuk Anita. Tangannya masih tetap menimang-nimang ponsel keren itu.
“Mana aku tahu.”
Dimintanya ponsel yang tengah dipegang sahabatnya. “Dibalikin aja, yuk! Kan, serem nerima ponsel dari orang yang kagak dikenal.”
Derttt ... derttt ... derttt.
Tiba-tiba ponsel bergetar pertanda ada panggilan masuk tanpa nada dering. Sebuah nama dengan huruf kapital semua tertera di layar ponsel yang tengah menyala. ‘SANG PANGERAN’.
“Cih. Apaan, coba?” Layar ponsel di tangan Kinanthi diarahkan ke wajah Anita.
Anita mengangguk-angguk, “Anggkat aja, gih!”
“Tapi aku takut, An. Ntar kalau pas diangkat, terus ponselnya meledak gimana?” jawab Kinanthi merasa ragu.
“Mana mungkin, lah, Kin. Ini kawasan mall elite. Penjagaan di luar sana juga sudah dilengkapi dengan handheld metal detector, nggak mungkin pembawa bom segampang itu bisa masuk.” Anita menjelaskan panjang kali lebar sama dengan luas cintanya untuk sang pujaan hati yang masih menjadi misteri hingga saat ini.
“Oh.”
Derttt ... derttt ... derttt.
“Dasar siput.” Terdengar suara seorang lelaki yang langsung memaki.
“Maaf, Tuan. Anda siapa?” tanya Kinanthi lembut tanpa terpengaruh makian dari seberang.
“Buruan ke lobi!” bentak lelaki itu kasar, tanpa menjawab pertanyaan Kinanthi.
“Sekarang, Tuan?”
“Iya sekarang. Masa harus nunggu siput bisa terbang.”
“Ba—”
Tuttt ... tuttt ... tuttt.
Sambungan telepon terputus.
“Nggak sopan,” teriak Kinanthi geram. Buru-buru ia membereskan barangnya. Bergegas menuju lobi.
“An ... makasih banyak, ya.” Dipeluknya sang sahabat yang dari tadi bengong mendengarkan pembicaraan Kinanthi.
“Kamu jaga diri baik-baik ya, Kin.” Anita menasehati, sambil melepaskan pelukan.
__ADS_1
“Jangan lupa, ehm ....” Tangan Kinanthi mengepal dengan telunjuk dan ibu jari saling bertemu. Digerakkan tangannya cepat membentuk arah horisontal dari kiri ke kanan monyong bibir.
“Iya, iya ....” Anita mengangguk tanda mengerti maksud sahabatnya itu.
“Aku pergi dulu.” Langkah Kinanthi tergesa. Ia menuju lobi di mana seseorang tengah menunggunya.
••••
Cahaya kilat terlihat saling menyambar di kaki langit, pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Di lobi, mata Kinanthi nanar mencari-cari sesuatu.
“Nona Kinanthi,” sapa seorang bapak yang baru saja mendekatinya dengan ramah.
“Maaf, Bapak siapa?” tanya Kinanthi ramah pula.
“Saya Herman, suruhan Tuan Nabastala. Beliau sudah menunggu Nona di mobil.”
Pandangan Kinanthi diedarkan menuju arah yang ditunjuk sang bapak. Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat sedang terparkir di sana.
“Mari, Nona,” ajak sang bapak begitu sopan.
Kinanthi menurut saja ajakannya. Ia mengekor di belakang tanpa banyak bertanya.
“Sila masuk, Nona.” Sang bapak membukakan pintu bagian depan.
“Tapi, Pak—” Kalimat Kinanthi menggantung.
“Kenapa, Nona?”
“Saya selalu mabuk kalau duduk di depan.” Mendengar penjelasan Kinanthi, sang bapak membuka pintu belakang. Melongokkan kepalanya sedikit ke dalam. Entah berbicara apa. Hal itu dilakukannya sebentar.
“Kata Tuan, Nona harus tetap duduk di depan.”
“Ogah,” jawab Kinanthi tegas.
“Ini perintah, Nona.”
“Perintah agar saya cepat mati, begitu?”
Tiba-tiba saja, sebuah tangan kokoh menggenggam lengannya, kemudian menyeret dan menjorokkan tubuhnya ke dalam jok belakang. Tentu saja hal itu membuatnya tersentak kaget. Setelah Kinanthi masuk dan dipastikan kakinya tak tersangkut, pintu pun dibanting dengan kasar.
Diliriknya lelaki yang tengah duduk di sampingnya. Penampilan fisik yang tak ingin disanggah oleh Kinanthi, tampan dan gagah. Wangi parfum yang menguar dari tubuhnya semakin menambah kesan maskulin tubuh yang atletis itu.
“Pakai seat belt-nya!”
“Oh.”
Kinanthi buru-buru menarik sabuk pengaman dan memeriksanya agar tidak terpelintir, kemudian memastikan sekali lagi kalau sabuk pengamannya sudah terkunci dengan benar.
Ekor mata Kinanthi menangkap jelas, lelaki di sampingnya itu sedang menyunggingkan senyum ketika memperhatikannya menggunakan sabuk pengaman.
“Jalan, Pak!” perintahnya pada si bapak tadi yang ternyata sopir pribadi sekaligus asisten sang Nabastala Narendra. Intinya tangan kanan alias orang kepercayaan.
__ADS_1
Kinanthi menyadari, ia telah memasuki gerbang kehidupan yang berbeda, dimana seorang iblis berwajah malaikat menjadi salah satu penghuninya. Iya, iblis di kehidupan manusia dengan bertopengkan ‘Sang Pangeran’ dan ia adalah pionnya.