
Ritual tanpa janji pada bahagia paling sederhana. Seiring menit-menit yang dijenuhi keheningan tanpa dialog, membawa Kinanthi semakin tenggelam dalam lautan penglihatan. Ia terbawa arus kesibukan Tuan Nabastala yang terus berkutat dengan dokumen-dokumen penting di hadapannya.
Ia juga sibuk berbicara di depan laptop berukuran 15 inci yang berwarna abu-abu. Entah berbicara dengan siapa. Mungkin saja para kolega bisnisnya, atau dewan direksi seperti yang pernah disebut-sebutnya.
Kinanthi tak begitu menyimak pembicaraan, karena isi pembahasan terdengar membosankan, ia lebih tertarik memandangi wajah publik sebuah perusahaan yang selalu dituntut serba profesional itu, aura kepemimpinan melekat di sana.
Dibukanya satu dua map dokumen bergantian, ditutupnya kembali. Dibuka lagi yang satunya, kemudian ditutupnya lagi. Berulang kali hal itu dilakukan Tuan Nabastala, Kinanthi yang duduk di sofa paling sudut termangu mengamati.
Dari sekian banyak pembahasan yang dilakukan oleh lelaki super tampan itu, Kinanthi cuma menyimak beberapa poin penting dari tugas seorang CEO.
Diantaranya merencanakan dan mengelola proses penganggaran, serta mengamati dan menganalisis apabila terjadi kejanggalan dalam kinerja perusahaan. Juga membuat kebijakan standar pada organisasi perusahaan.
Kerutan di dahi, alis yang terkadang saling bertaut di wajah Tuan Nabastala menampakkan ia sedang serius-seriusnya menyelesaikan urusan pekerjaan.
Katanya pak Herman, Tuan Nabastala sedang menjalani rawat jalan untuk trauma psikologis yang tengah dideritanya selama bertahun-tahun akibat kecelakaan yang menewaskan papanya. Waktu itu Tuan Nabastala duduk di samping papanya yang sedang menyetir. Pada jalan tol terlihat lengang, tiba-tiba sebuah sebuah truk bermuatan berat menghantam mobil mereka dari arah belakang, hingga mobil yang dikendarai papanya menghantam badan jalan.
Keajaiban selalu terjadi dibalik petaka yang tak terduga. Tuan Nabastala hanya mengalami luka ringan, sementara papanya tewas di tempat sebelum sempat dilarikan ke rumah sakit.
Akibat kejadian itu, trauma psikologisnya sewaktu-waktu bisa kambuh kembali tanpa bisa diprediksi kapan tepatnya. Sehingga ia terpaksa memantau seluruh urusan kantor dari rumah. Dan pak Herman sebagai tangan kanan, memegang amanah pelaksana lapangan yang harus bolak-balik kantor demi berkas-berkas yang perlu bubuhan tanda tangan sang CEO.
Kini, Tuan Nabastala sedang menjeda kesibukannya, mematikan sambungan panggilan pada laptop. Pandangannya terarah menuju Kinanthi yang begitu serius memperhatikannya. Netra kami beradu, rasa canggung pun menghinggapi perasaan, masing-masing segera mengalihkan pandangan.
“Serius amat?” tanya sang tuan.
“Apanya, Tuan?” jawab Kinanthi dengan kepolosannya.
“Itu, caramu memperhatikan.”
“Oh, maaf, Tuan. Kinan tidak bermaksud. Kinan cuma penasaran saja,” jelasnya sambil menunduk. Ia takut beradu pandang dengan tatapan elang sang tuan yang mampu menyelisik kedalaman hati Kinanthi.
“Itulah sebabnya aku menyuruhmu menunggu. Supaya kamu bisa belajar lebih banyak lagi tentang kehidupanku.”
“Maksudnya, Tuan?” Kinanthi merasa semakin penasaran.
“Ya ... supaya nanti kamu bisa membantu.” Sang tuan menaikkan kedua bahunya seiring napas berat yang ia embuskan. “Tambah berguna, begitu maksudku. Oh iya, sekarang kamu boleh turun. Dua jam lagi tolong bawakan kopi,” titahnya kemudian.
“Baik Tuan.”
Kinanthi berdiri dengan nampan berisi piring dan gelas kosong di tangan.
“Sebentar—”
Kinanthi menoleh, menunggu apa yang akan dikatakan sang tuan.
“Tolong, bawakan map itu ke mari.”
Tanpa menjawab, diletakkan nampan yang tengah dipegangnya, kemudian mengambil map yang ditunjuk sang tuan.
••••
Setelah rampung mencuci semua tumpukan perkakas dapur yang kotor, Kinanthi pun beristirahat di kamarnya. Suasana rumah terlihat sepi. Pak Herman pasti sudah pergi ke kantor. Sedang nyonya dan Mayang entah pergi ke mana. Ia tak peduli.
Tanpa ada mereka semua, tentu saja Kinanthi lebih bebas lagi, tak ada yang akan mengganggunya. Di kamar, ia rebahan sambil mendengarkan musik yang diputar tak terlalu kencang dari ponselnya.
Hidupnya terasa begitu damai, meski ada banyak hal yang telah menimpanya. Namun, ia memilih berdamai dengan keadaan, menerima dengan hati lapang untuk semua perlakuan mereka yang sudah menyakitinya.
__ADS_1
Mungkin baru sepuluh menitan ia mendengarkan musik. Matanya mulai mengantuk, tetapi ia berusaha untuk tetap terjaga. Jangan sampai ketiduran dan membuat sang tuan marah, karena ia lalai akan tugas yang sedang menunggu.
Dilipurnya rasa kantuk yang datang menyerang dengan kekuatan api, ia kobarkan gairah dalam bermain game. Baru juga menyelesaikan level tiga, ponselnya sudah memberi alarm peringatan; baterai lowbat. Sungguh menyebalkan.
Ting tong. Ting tong. Ting tong.
Berisik. Suara bel begitu mengganggunya, ia mengomel dalam hati meski tiada yang tahu, terkecuali Tuhan dan dirinya sendiri, segera ia membuka pintu. Melihat siapa yang datang.
Diamatinya seseorang yang berdiri di depan pintu pagar, lelaki dengan pakaian semi formal. Kinanthi tak mengenalinya. Namun, wajah itu seperti pernah ditemui, tapi entah di mana.
“Maaf, Anda mencari siapa?” tanya Kinanthi sesopan mungkin.
“Tuan Nabastala.”
“Mencari Tuan? Mm ... kalau boleh saya tahu, Anda siapa?”
“Saya Tristan. Disuruh pak Herman untuk menyampaikan beberapa berkas penting untuk Tuan Nabastala.”
“Ehm ... maaf. Saya tidak berani membuka pintu pagar tanpa seizin Tuan. Anda tunggu di sini sebentar, saya tanya Tuan dulu,” kata Kinanthi sambil membalikkan tubuhnya untuk segera masuk.
“Eh, tidak perlu.”
Kinanthi memandangi lelaki yang menyebut namanya Tristan itu. Perasaan ia memang pernah melihat pemilik wajah itu sebelumnya. Tetapi entah di mana?
“Non, Kinan,” panggil Tristan membuyarkan lamunan Kinanthi.
“Anda, tahu nama saya?
“Tentu saja. Mana mungkin saya lupa dengan Anda.”
“Non Kinan, ‘kan yang menabrak Tuan di mall beberapa waktu lalu.”
“Aa ... iya, sekarang aku ingat,” seru Kinanthi.
Tristan tersenyum melihat polah-tingkah Kinanthi. Kemudian disodorkannya beberapa map ke arah Kinanthi.
“Non, tolong sampaikan ke Tuan,” pinta Tristan.
“Ndak nunggu Tuan dulu,” tanya Kinanthi sambil mengulurkan tangannya menerima map-map dari tangan Tristan.
“Tidak perlu, Non. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat siang.”
“Iya, siang.”
Setelah mobil yang dikendarai Tristan melaju, menghilang dari hadapannya, dengan langkah riangnya Kinanthi membawa map-map di tangannya ke kamar sang tuan.
Satu ketukan pintu, Tuan tak menjawab. Dua, tiga ketukan lagi, masih juga tak ada jawaban. Ke mana si Tuan, pikir Kinanthi. Ia memberanikan diri memasuki kamar sang Tuan.
Ia melongok, Tuan tak terlihat. Oh, pantas saja, ternyata Tuan Nabastala berada di kamar mandi. Beberapa map yang dipegangnya segera beralih ke atas meja.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka.
“Waduh,” pekik Kinanthi seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Maaf, Tuan. Kinan ndak sengaja,” teriaknya panik.
__ADS_1
“Sudah dibilang, kalau mau masuk ketuk pintu dulu.”
“Tadi sudah. Malah tiga kali. Tuan ndak menjawab, jadi Kinan ya nyelonong masuk,” jawab Kinanthi berkilah.
“Sini,” panggil sang tuan membuat Kinanthi kebingungan.
“Ngapain, Tuan?”
“Namanya juga salah. Ya, harus dihukum.”
“Kinan, mohon! Jangan, Tuan,” pintanya masih dengan wajah tertutup telapak tangan.
Kepolosan Kinanthi justru membuat Tuan Nabastala ingin sekali menggodanya. Dituntunnya tubuh gadis belia itu ke sofa.
“Tuan mau ngapain?”
“Menghukum kamu.”
“Lah, Tuan. Kinan loh, ndak sengaja melihat. Ini juga mata Kinan juga masih tertutup.”
“Kalau begitu buka,” perintah sang tuan sambil merenggangkan kedua tangan Kinanthi.
Mata Kinanthi terbuka perlahan-lahan. Di hadapannya berdiri sosok Tuan Nabastala dengan tubuh terbalut t-shirt ketat. Kebiasaan.
Di udara aroma wangi parfum sungguh menyiksa. Matanya tak berkedip, memandangi seluruh lekuk sang tuan tanpa terkecuali. Ia tahu hal itu melanggar etika kesopanan, tetapi naluri hatinya tak bisa mengelak untuk tak mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang melekat di tubuh sang tuan.
“Jangan lama-lama, nanti bisa naksir.”
Kinanthi tersadar dari pandangannya. Ia tersipu malu, rona merah jambu yang menghiasi pipi tak mampu menyembunyikan perasaannya.
“Ah, Tuan,” desisnya lirih. “Kinan pergi dulu,” ketusnya ingin menghindar.
“Hei, mau ke mana? Nggak bertanggung jawab.”
“Lah, Kinan kan ndak ngapa-ngapain, Tuan?”
“Itu tadi sudah kamu pelototin. Sekarang malah mau dianggurin. Enak aja.”
Tangan kokoh itu menyambar tubuh Kinanthi, merengkuhnya ke dalam pelukan. Ciuman lembut mendarat di pundak Kinanthi. Gadis belia itu memejamkan mata, ada rasa bahagia dan juga takut berdesakan mengambil jatah masing-masing di hatinya.
“Kinan, mau nggak jadi kekasihku?” tanya sang tuan lembut.
“Kan sudah,” ledek Kinanthi dengan tersenyum.
“Maksudku yang sungguhan.”
“Mm ... Kinan mikir dulu.”
“Kok masih mikir, tinggal jawab aja mau atau nggak.”
“Ya, harus mikir dulu, Tuan. Dengan keadaan Kinan yang seperti ini, mungkin nggak untuk menolak?”
Bakal tersusun kisah-kisah rumit pada draf-draf rencana yang belum sepenuhnya jadi. Yang ia sendiri tak bisa menolak atau menyanggupi sepenuh hati. Ia hanya tahu, setiap perjuangan selalu menentukan hasil akhir yang berbeda.
Semangat berjuang! Semoga suatu nanti, engkau tak mengerang kesakitan pada draf tanpa rencana yang telah engkau gali sendiri Kinanthi.
__ADS_1