Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Salah Siapa?


__ADS_3

“Come on, Kinan!”


Suara panggilan yang tak ingin digubris sama sekali. Kinanthi justru merebahkan tubuhnya dengan santai. Menetralisasikan perasaan agar kepalanya yang terus berdenyut merasa lebih baik. Kepalanya terasa pening, gara-gara memikirkan ajakan tuannya yang mengharuskan ia untuk ikut pergi ke klub malam.


Tentu saja dengan tegas ia menolak. Takut pergi ke tempat tersebut. Karena seumur-umur belum pernah memasuki tempat semacam itu. Mendengar namanya saja sudah membuatnya merinding, apalagi kalau sampai menjejakkan kaki di dalamnya. Bisa-bisa jadi merinding disko dan benaran dibuat pingsan karenanya.


Ia begitu anti dengan yang namanya klub malam. Konon kata orang-orang terdekatnya yang pernah pergi ke tempat tersebut memang sangat horor. Bahkan, horornya melebihi pojokan bioskop, dimana sering terjadi kesalahan teknis pada sound system-nya. Suara yang ada tidak sinkron antara layar dan suara di pojok belakang. Kurang horor bagaimana lagi, coba?


Katanya lagi, klub malam juga sangat bising, melebihi bisingnya jalanan kota yang sedang dilanda kemacetan. Deru kendaraan dan suara klakson tumpang tindih bersahutan.


Namun, bagaimana dengan titah Tuan Nabastala yang jelas-jelas mengharuskan dirinya untuk ikut?


Sekarang dengan alasan apa ia harus menolak? Bagaimana kalau berpura-pura perutnya mulas saja?


Sepertinya itu alasan yang cukup klise. Dari tadi ia terlihat baik-baik saja, kok, sekarang mendadak mulas? Tuan Nabastala pasti dengan mudah bisa menebaknya.


Pura-pura ketiduran? Oh ... dasar si lola! Kapan sih, kamu itu bisa pintar?


“Kinan, lama amat?”


Gedoran pada pintu terdengar sangat keras. Pertanda sedang kesal.


“Kinan, buka!”


Gadis manis dengan kaos berwarna putih oblong muncul di balik pintu yang terbuka.


Di depannya berdiri Tuan Nabastala dengan kameja slim fit dan celana jeans panjang berwarna abu-abu dan sepatu semi formal. Outfit yang terbilang santai.


“Kenapa, Tuan?”


“Kok, kamu belum ganti baju?”


“Kinan kan sudah bilang nggak mau ikut.”


Wajah Kinanthi tampak cemberut. Ia tak suka dipaksa untuk hal yang satu itu.


“Ganti baju sendiri, apa aku yang gantiin?”


Tuan Nabastala tidak terlihat sedang bergurau dengan tawarannya. Membuat Kinanthi mengembuskan napasnya kasar. Ia kecewa.


“Tuan,” rengeknya kemudian.


“Nggak perlu merengek kek bocah. Bisa?”


Dengan gusar Tuan Nabastala merangsek, masuk ke dalam kamar. Membuka pintu almari. Dan memilih gaun yang sekiranya cocok untuk dipakai Kinanthi.


“Ganti! Dan cepat turun. Aku tunggu di bawah.”


Yang namanya tuan, ya, tetap saja tuan. Semua perintahnya wajib dituruti persis titah raja adalah sebuah keharusan.


Kinanthi memungut gaun yang dipilihkan Tuan Nabastala dan lekas memakainya. Dress tanpa lengan dengan belahan dada rendah berwarna merah menyala, dengan panjang sedikit di bawah lutut. Membuatnya tampil seksi sekaligus imut. Dipadu padan dengan sepatu kitten heels hak pendek sekitar 4.75 cm berwarna hitam. Perpaduan warna yang kontras.


“Kinan, ayolah!”


Teriakan Tuan Nabastala kembali membelah hening, menambah tingkat kegusaran di hati Kinanthi. Ia benar-benar merasa risi dan tidak nyaman dengan dress yang sedang dipakainya.


Dicarinya sesuatu dari dalam almari yang sekiranya bisa membantunya untuk menutupi lengannya yang cukup terekspos itu.


Bolero lengan pendek. “Keren,” gumam Kinanthi merasa puas.


Dengan perasaan semakin tak karuan, ia pun menuruni anak tangga. Suara ketukan pada langkahnya menimbulkan irama, membuat Tuan Nabastala yang sedang menunggunya menoleh tercengang.

__ADS_1


“Ada yang aneh?” tanya Kinanthi dengan wajah ditekuk.


“Nggak ada.”


“Lah, itu? Mata kenapa harus melotot?”


“Kamu cantik banget malam ini.”


“Mujinya nggak ikhlas, pasti ada maunya.” Kinanthi kembali memasang muka masam, nggak suka dipuji.


“Bukan. Bukan begitu maksudnya.”


“Terus apa maksudnya?”


Tuan Nabastala menjadi kikuk sendiri, merasa serba salah. “Berangkat saja, yuk!” Laki-laki itu memilih mengalihkan pembicaraan, sebelum semuanya menjadi berantakan.


Dengan segenap perhatian, Tuan Nabastala menggandeng lengan Kinanthi dengan mesra menuju mobil yang sudah terparkir di halaman.


“Modus,” teriak Kinanthi membatin.


••••


De Vilya Club. Yang terletak di sekitar area pusat perbelanjaan Cilandak Towsn Square, Jakarta Selatan. Sebuah klub malam dengan konsep interior unik yang cukup sulit digambarkan melalui definisi kata-kata. Dengan perpaduan warna violet bertabrakan dengan warna hijau yang menampilkan kesan catchy.


Salah satu klub yang sangat istimewa untuk dipilih, dan menjadi destinasi hiburan malam yang banyak dikunjungi anak muda yang keren dan bergaya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluhan menit tanpa suara, Tuan Nabastala langsung membawa Kinanthi memasuki area klub malam. Di mana ia sudah memesan sofa VIP di sana, dan tidak memilih private room karena tujuannya ya memang cuma sekedar untuk mencari suasana yang berbeda.


Setiap kehadiran pengunjung, pasti langsung disambut suara entakan musik mengalun. Memekakkan telinga, termasuk kami.


“Hei, Bro!” seru Tuan Nabastala mendapati kedua sahabatnya yang sudah duduk di sofa VIP pesanannya.


“Nabas!” Rangkul Mahika dengan tawa lebarnya.


Ketiganya tertawa renyah.


Kinanthi berdiri mematung menyaksikan Tuan Nabastala yang begitu semringah. Senyumnya tak henti-henti mengambang sempurna, menambah pesona ketampanan yang hakiki.


“Hei, Kinan!” sapa Mahika tersenyum dengan gaya khasnya. Sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Hei, juga.” Kinanthi membalas dengan sedikit malas. Hatinya masih menyimpan rasa dongkol terhadap tuannya.


“Duduk, gih!”


“Terima kasih.”


Kinanthi memilih duduk di samping Mahika, sedikit menjauh dari sang tuan.


Waktu berjalan tanpa terasa. Setelah pelepasan rindu yang menggebu tersalurkan. Tak peduli dengan semua yang ada di sekelilingnya, yang namanya sahabat meskipun sesama laki-laki, ya, tetap sahabat. Dan mereka juga punya caranya sendiri melepas rasa rindu.


Tuan Nabastala terus asyik berbincang dengan kedua sahabatnya yang jarang sekali bertemu. Karena terpisah lautan yang maha luas. Ehzan dan Mahika sedang melebarkan usaha kuliner khas Indonesia di luar negeri. Tepatnya di Tokyo, Jepang.


Saking asyiknya bercengkrama bersama sahabatnya, keberadaan Kinanthi pun mulai tidak diacuhkan, menjelma sosok tak kasat mata bagi mereka.


Inikah yang dinamakan having fun?


“Let's dance,” teriak Mahika dan disusul Ehzan di belakangnya.


Mereka menuju dance floor hanya untuk berjingkrak-jingkrak. Menyatu dengan lautan anak manusia dari berbagai kalangan, dan para bule tentunya. Menikmati iringan musik yang mengentak-entak.


Tuan Nabastala pun menyusul setelah menenggak habis minuman dalam gelasnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Kinanthi tidak tahu harus berbuat apa. Karena belum pernah masuk ke tempat ingar bingar semacam klub malam. Di mana ia dengan leluasa bisa melihat berpasang-pasang muda-mudi yang asyik masyuk tanpa merasa malu atau pun terganggu.


Tepatnya beranggapan bahwa dunia ini adalah milik mereka. Sedangkan pengunjung lain cuma sekedar lewat.


Sofa VIP yang dipesan Tuan Nabastala terhampar kosong. Ia duduk termangu menikmati kesendirian di antara entakan musik yang memekakkan telinga. Tidak tahu jika seseorang di seberang meja sedang memperhatikan gerak-geriknya.


“Sendirian aja,” sapa laki-laki yang sedari tadi memperhatikannya, mendekat.


“Em ... iya,” jawab Kinanthi. “Eh, tidak.” Buru-buru ia meralat.


“Boleh aku temani?”


“Maaf, sepertinya tidak.” Dengan sopan ia menolak.


Namun, laki-laki dengan balutan t-shirt dan celana jeans tersebut justru mengulurkan tangannya. “Devan,” sebutnya.


Kinanthi tak merespons. Ia tidak harus mengenal laki-laki asing di tempat bising tersebut.


Anehnya meski tidak diacuhkan oleh Kinanthi, laki-laki itu justru pasang muka badak. Tak peduli dan duduk semaunya di samping Kinanthi. Membuat gadis belia itu terpaksa bergeser sedikit menjauh.


“Hei! Biasa saja kali, nggak perlu sok alim.”


Mata Kinanthi melebar mendengar ucapan laki-laki asing di sampingnya itu.


“Kamu lucu.” Laki-laki itu tergelak.


Wajah Kinanthi memerah menahan amarah. Meskipun begitu, ia harus bisa mengendalikan diri jangan sampai terjadi keributan.


“Nggak perlu takut, gue nggak bakal gigit apalagi nyulik kamu,” imbuh laki-laki itu masih dengan suara tawa yang renyah.


“Maaf, bisakah Anda meninggalkan saya,” pinta Kinanthi sopan.


“It's, oke! Nggak masalah. Gue pergi.” Laki-laki yang bernama Devan bersiap menjauh. Segelas minuman yang tadi dibawanya disodorkan ke hadapan Kinanthi, “Buat kamu. Anggap saja sebagai permintaan maaf sudah mengganggu. Sorry!”


Dipandanginya punggung yang lamat-lamat menjauh. Batinnya menolak mengatakan laki-laki itu hendak berniat jahat. “Dia pasti orang baik.” Senyumnya mengembang tak mempercayai cara berpikirnya yang begitu polos.


Sejurus netranya memandangi gelas sloki mungil yang cuma berisi separuh. Apa salahnya menerima kebaikan orang asing? Toh, dia sudah pergi, kalau berniat jahat kan nggak mungkin?


Kinanthi langsung menenggak isi dalam gelas yang hanya separuh. Tidak berpikir lagi, kenapa cuma tinggal separuh, itu sisa atau bukan. Juga tidak peduli itu minuman berjenis apa. Alkoholkah? Yang ia pikirkan cuma niat baik dari laki-laki barusan, kenapa harus disia-siakan.


“Gila. Ini minuman atau apa?” pekiknya sambil memegangi tenggorokannya yang terasa panas seperti terbakar.


Dan tidak butuh waktu berselang lama kepalanya terasa berputar-putar, penglihatannya juga ikut berkunang-kunang.


“Tuan,” panggilnya lirih. “Tuan ke mana saja?”


Pandangan Kinanthi yang mulai mengabur terpaku. Laki-laki yang dipanggil Tuan tidak menyahut. Hanya tangannya yang bekerja sesuai naluri. Gadis di hadapannya itu sedang membutuhkan dirinya.


“Tuan, kita mau ke mana?” Kinanthi kembali bertanya.


Penglihatannya semakin kabur. Namun, ia masih bisa mengenali setiap koridor yang sedang dilewatinya. Ini bukan jalan masuk yang tadi ia lewati. Dan itu berarti?


Tuannya mau membawanya ke mana?


Klik.


Suara pintu terbuka. Dan tubuhnya perlahan diturunkan seperti di atas sofa yang panjang. Yang jelas bukan ranjang, karena rasanya terlalu sempit.


Sebuah sentuhan lembut membelai pipinya, menyibak rambut-rambut halus di keningnya. Dan sebuah kecupan mendarat cepat di bibirnya.


Bukan. Laki-laki yang barusan membopongnya itu bukan tuannya. Ia hafal betul ritual kesayangan Tuan Nabastala yang tidak akan melewatkan ciuman lembut di keningnya.

__ADS_1


Sial! Kinanthi mulai merutuki diri. Bagaimana dengan nasibnya sekarang?


__ADS_2