Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Gara-Gara Password HP


__ADS_3

“Tuan sepertinya perlu lihat yang ini dulu.”


“Apaan?”


Kinanthi berusaha menghilangkan rasa nervous dan menyodorkan gawainya ke hadapan Tuan Nabastala yang sedang duduk bersandar pada headboard ranjang dengan tangan bersilang ke belakang kepala.


Tujuannya hendak melaporkan niat jahat nyonya yang berencana mencelakai Tuan Nabastala. Kinanthi harus melakukan hal itu, karena sudah menyangkut hidup mati seseorang. Ia tidak mau ada penyesalan di kemudian hari.


Menurut Kinanthi perbuatan nyonya memang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Ada hukum yang harus dipertanggungjawabkan didalamnya. Entah nantinya Tuan mau percaya atau tidak, itu urusan belakangan. Yang terpenting dilaporkan terlebih dahulu.


“Tuan bisa lihat sendiri.”


Kinanthi tetap teguh dengan sodoran gawainya meski tidak lekas diterima. Hampir-hampir tangannya merasa pegal. Coba saja kalau dia bukan tuannya, mungkin saja ia tidak akan memperlihatkan tampang semanis itu.


“Tuan harus lihat,” tegasnya lagi.


“Aku capek. Nanti saja.”


“Tuan harus melihatnya sekarang. Kalau tidak, nanti bakal menyesal.”


“Yang benar saja?” Kedua alis Tuan Nabastala bertaut. Menandakan ketidakpercayaan dengan apa yang barusan diucapkan gadis berwajah chubby menggemaskan itu.


Kinanthi paham betul jika tuannya sangat keras kepala. Jadi tidak mudah untuk meyakinkan.


“Terserah Tuan.” Kinanthi meletakkan gawainya di atas nakas yang bersebelahan dengan ranjang. Dan bergegas dengan jengkelnya.


“Kinan!”


Belum juga Kinanthi menggapai gagang pintu, Tuan Nabastala sudah memanggilnya. Tadi saja sewaktu ia berdiri di hadapannya sampai lengannya kram, kakinya semutan diacuhkan begitu saja. Lah, sekarang ....


“Maunya apa sih, ini orang?” batin Kinanthi memekik.


Dengan terpaksa ia berbalik, menghadap tuannya yang sudah tiduran telungkup sambil memainkan gawai yang tadi disodorkan.


Dasar kutu kupret menyebalkan!


“Password-nya apa?”


“Waduh gawat,” gumam Kinanthi.


“What?”


“Bukan. Maksud Kinan, biar Kinan saja yang membuka password-nya.”


“Nggak! Bilang saja password-nya apa?”


Wajah Kinanthi rasanya panas memerah padam. Bukan karena terserang virus merah jambu, melainkan sedang menanggung rasa malu.


“Ah, dasar Kinanthi! Bisa-bisanya kamu bikin kata sandi yang bikin malu diri sendiri,” umpatnya terus memaki-maki dalam batin.


“Hello, Kinan! Kok malah bengong?”


“Em ... anu.”


Persis maling sandal di musala dan kepergok yang punya. Kinanthi merasa tak berkutik. Bingung sendiri gara-gara password isengnya.


“P**assword-nya ... em anu. Begitu?”


“Bukan. Bukan itu.”


“Terus?”

__ADS_1


“Biar Kinan saja yang bukain.” Kinanthi kembali menawar. Berharap hanya ia sendiri yang mengetahui kata sandi konyolnya itu.


“Kinan! Jangan riweuh. Bisa nggak?”


“Riweuh? Apa itu Tuan?” tanya Kinanthi melongo. Maklum ia perawan tulen asli Jawa Timur tepatnya kota Patria, Blitar. Mana tahu bahasa Sunda.


“Ribet.”


“Oh, ternyata ribet. Kirain apa.”


Kinanthi jadi garuk-garuk kepala. Pusing mencari padanan kata yang tepat agar tuannya tidak salah mengartikan kata sandinya nanti.


Sementara Tuan Nabastala semakin tidak sabaran ingin mengetahui password ponsel Kinanthi. Karena gadis di hadapannya itu mulai bertingkah aneh. Gelagatnya mulai mencurigakan, tentu saja bikin penasaran.


Dengan wajah semakin memerah padam menahan rasa malu, “I love you,” kata Kinanthi malu-malu.


“What? Nggak salah?”


“Nggak,” jawab Kinanthi ketus.


“Kamu nembak aku?”


Tuan Nabastala yang dari tadi memainkan ponsel Kinanthi, dalam sekali lompatan sudah berdiri tegap di hadapan Kinanthi.


“I love you too, Kinan,” serunya sambil merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.


Tuhan! Ini yang tidak Kinanthi inginkan. Tuan Nabastala pasti salah paham. Dikiranya ia ngajakin jadian. Oh, tidak!


Pantas saja tuannya itu sering menjulukinya ‘Siput Lola’, ternyata dirinya memang selola itu. Bisa-bisanya menjadi korban dari kata sandi buatannya sendiri yang nggak jelas jluntrung-nya. Ia pun terjebak dalam kebodohannya sendiri.


“Tuan, lepasin Kinan.”


“Kok dilepas. Kenapa?”


“Enggak. Nggak salah paham.”


“Jadi .... Tuan paham maksud Kinan?”


Kinanthi berusaha mendongak, mencari jawabannya sendiri dari tatapan Tuan Nabastala yang meneduhkan itu demi meyakinkan hatinya.


Dilihatnya sepasang bola mata kecokelatan yang biasa membuatnya tersesat karena terlalu lama membenamkan hayalan di sana. Tidak menunjukkan ada dusta di sana.


Jadi?


Kecupan hangat nan lembut mendarat di kening Kinanthi, sebagai ritual kesayangan Tuan Nabastala terhadap gadis manis di pelukannya itu.


“Padahal baru sehari nggak lihat kamu, tapi kok udah kangen,” bisik Tuan Nabastala.


Kinanthi tak menanggapinya. Ia lebih fokus pada detak jantungnya yang tak mau diajak berkompromi. Dag-dig-dug tak karuan seperti melompat-lompat mencari pijakan.


Apakah begini rasanya debaran jatuh cinta?


••••


“Ma! Bisa nggak jelasin, ini semua maksudnya apa?”


Tuan Nabastala meletakkan rekaman suara dari ponsel Kinanthi. Mamanya yang tengah duduk di sofa ruang keluarga, memandang angkuh seperti menantang putranya. Bahkan tak peduli dengan suara yang didengarnya.


“Oke. Jika mama tidak mau menjelaskan sekarang, biar mama jelaskan saja semuanya di kantor polisi,” ancan Tuan Nabastala.


“Kamu berani?”

__ADS_1


“Jangan pikir Nabas nggak berani, Ma! Sudah berkali-kali Nabas selalu memaafkan apa pun kesalahan mama, juga menyembunyikan banyak kejahatan mama. Nabas cuma berharap, suatu saat mama bakal berubah. Tetapi kapan, Ma?”


“Selama permintaan mama tidak kamu turuti. Selama itu pula mama akan tetap menjadi wanita jahat.”


“Ma ....”


“Sudahlah!”


“Baik. Tapi cuma 10% dari saham yang Nabas miliki.”


“Dua puluh persen.”


“Sepuluh persen atau tidak sama sekali. Terserah mama.”


Penawaran yang cukup menggiurkan sebenarnya. Namun, nyonya tetap bergeming. Pikirannya dipenuhi keinginan yang rancu. Baru kali ini Nabastala mau mengalah melepaskan beberapa persen saham yang dimilikinya di perusahaan, meski tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Dan itu cukup mengejutkan. Bagaimana mungkin?


Dulu, bertahun-tahun lalu nyonya pernah berusaha mati-matian untuk mendapatkan saham itu dan tidak pernah berhasil. Mulai dari memintanya secara baik-baik bahkan menggunakan cara paling tidak masuk akal sekalipun. Nabastala selalu bisa mengendalikan semuanya, pendiriannya pun tak pernah goyah. Sekali bilang tidak, ya, tetap tidak. Namun sekarang?


“Oke,” jawab nyonya akhirnya.


“Dengan beberapa syarat.”


Tuan Nabastala menoleh pada Kinanthi yang berdiri di sampingnya. Meminta berkas dalam map yang telah dipersiapkan khusus untuk nyonya. Kinanthi sendiri tidak tahu apa isinya.


“Ini. Mama bisa membacanya terlebih dahulu.”


Nyonya membaca dengan sangat teliti poin-poin dari syarat yang diajukan putra tirinya itu, yang terdiri dari tiga poin utama.


Harus patuh terhadap ketentuan perusahaan.


Tidak boleh mengganggu Kinanthi, apa pun alasannya.


Selekasnya meninggalkan rumah atau kasarnya bicara angkat kaki.


“Sudah kuduga,” ucap nyonya mencibir.


“Tidak mau, tidak masalah. Sepuluh persen memang tidak seberapa dengan iming-iming yang mama tawarkan terhadap Mayang.”


“Nabas. Kamu—”


“Tenang, Ma! Nabas tahu mana yang terbaik untuk Nabas lakukan.”


Dengan gusar nyonya meraih kembali berkas dalam map, dan menandatanganinya. Kemudian melempar kasar ke hadapan putranya.


“Puas, sekarang?”


“Tentu saja.”


Senyum Tuan Nabastala mengembang. Ia terlihat begitu sangat bahagia.


“Kinan, saatnya kita party.”


Tuan Nabastala menoleh gadis yang masih berdiri setia di sampingnya itu.


“Party? Party untuk apa, Tuan?”


“Perayaan kita jadian.”


Tawa Tuan Nabastala berderai, menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih.


Kinanthi hanya menggeleng-geleng. Bagaimana bisa cowok berusia seperempat abad lewat itu bisa bertingkah koyol persis bocah SD.

__ADS_1


Mungkinkah gara-gara faktor masa kecilnya yang kurang bahagia?


__ADS_2