Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Amarah


__ADS_3

Pesona senja yang mulai mengambang, tiba-tiba lenyap ditelan gulungan awan menghitam. Bersama rinai gerimis satu per satu mulai berjatuhan. Menimpa tubuh mungil yang sedang berdiri di ambang pintu pagar. Ia sedang menunggu kehadiran seseorang. Meski begitu, yang ditunggu-tunggu bukanlah orang special. Namun, tetap saja membuatnya bergeming dari rinai yang mulai membasahi.


Tugas adalah tugas, begitu amanah dari nyonya pemilik rumah.


Hampir setengah jam ia mematung dalam kebisuan. Sedang yang ditunggu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan kemunculannya. Rintik gerimis telah berganti hujan, datangnya selalu main keroyokan dengan membawa serta bala tentara yang sekejap membuatnya kewalahan hingga basah kuyup. Emang kalau sendirian nggak berani apa? Ih, dasar hujan!


“Kinan, masuk dulu,” teriak Bi Idah dari teras depan.


Kinanthi yang sudah berteduh di gasebo cuma melambaikan tangan, sebagai pertanda penolakan. Ia tak mau membuat ulah yang bisa menyebabkan nyonya marah-marah.


Dikibas-kibaskan rambutnya yang telah basah terkena air hujan. Tubuhnya pun terasa menggigil kedinginan. “Sebegini gilakah permintaan nyonya, demi penyambutan kepulangan Mayang dari rumah sakit?” batin Kinanthi bergolak, akibat rasa tak nyaman terkena dinginnya air hujan.


Din ... din.


Klakson mobil terdengar dari luar pagar. Kinanthi langsung memburu, membelah hujan demi membuka pintu pagar.


Mobil berwarna merah mengkilat segera melaju memasuki garasi. Buru-buru ia menutup pintu pagar kembali dan menghampiri Mayang beserta nyonya yang sudah menunggunya di dalam kendaraan berplat B tersebut.


“Selamat datang kembali, Mayang,” ucap Kinanthi lemah lembut ketika jendela kaca sudah terbuka.


Sang nyonya melotot. Melihat reaksi seperti itu, Kinanthi langsung meralat kembali ucapannya.


“Selamat datang kembali, Non Mayang.”


Mendapat penyambutan dari Kinanthi, Mayang merasa senang bukan kepalang. Tak peduli gadis itu bersungguh-sungguh atau tidak dalam menyambutnya.


“Mulai sekarang panggil Mayang dengan sebutan Nona, mengerti kamu Kinan?”


“Baik, Nyonya. Kinan paham.”


“Kamu masuk dulu ganti bajumu yang basah, sehabis itu antar Mayang ke kamarnya di lantai atas.”


“Kamar lantai atas?” Kinanthi merasa tak paham dengan maksud nyonya.


“Kamar kamulah. Emang Nabas nggak bilang?”


Tentu saja Kinanthi menggeleng, karena ia memang tak mendapat perintah seperti itu. “Terus Kinan nanti tidur di mana?” Ia harus bertanya demi kejelasan nasibnya.


“Sok polos ah kamu, Kinan.” Mayang menimpali.


“Gelar tikar kan juga bisa.” Nyonya mencibir, “cepetan ganti baju dan bawain barang-barang Mayang!”


Kinanthi merasa kalau keduanya sedang bersekongkol untuk membalas dendam atas apa yang telah diperbuat putranya sewaktu Kinanthi sakit dulu terhadap Mayang. Padahal semua itu bukan ia yang meminta, dan jelas-jelas balas dendam itu bukan hal yang baik.


Tapi mengapa mereka harus melakukannya?


Meski begitu tak membuat gadis belia berparas ayu menolak perintah nyonya. Malah dengan senang hati ia melayaninya. Ia memperlakukan Mayang bagai tuan putri dalam negeri dongeng.


Setelah semua barang-barang Kinanthi dikemas dalam koper bekas pemberian nyonya, kemudian ditaruhnya kembali ke gudang semula ia tidur yang sekarang ditempati bi Idah. Semuanya berjalan sesuai keinginan sang nyonya.

__ADS_1


••••


Tubuh mungil yang kian menggigil itu tak ia hiraukan. Tugasnya yang belum tertunaikan masih bejibun. Menyediakan makan malam Mayang, mengantarkan ke kamarnya dan harus menunggu beberapa saat lagi setelahnya, baru memberikan obat.


Tetapi tubuhnya bukan robot yang bisa ia perintah sesuka hati. Ada fase dimana ia harus mengistirahatkan beberapa fungsi anggota tubuhnya. Berhenti bergerak sebentar saja, misalnya.


Namun, Kinanthi terus memaksakan kehendak. Berharap tugasnya lekas rampung, dan ia bisa beristirahat dengan tenang.


“Kinan, wajah kamu pucat sekali?”


Bi Idah yang sedang mengambil piring makan menghentikan sebentar pekerjaannya, mendekati Kinanthi yang sibuk menuang sayur pada mangkuk berukuran sedang.


“Kinan, badan kamu panas. Sepertinya demam.” Bi Idah meraba kening Kinanthi. Lagi-lagi perempuan itu begitu perhatian layaknya perlakuan seorang ibu yang perhatian terhadap putrinya.


“Nggak apa kok, Bi. Nanti istirahat sebentar juga baikan.”


Kinanthi pun berlalu meninggalkan bi Idah, membawa nampan besar berisi sepiring nasi, semangkuk soto ayam berkuah bening, juga beberapa butir telur rebus dan segelas jus buah. Ia sedang menuju kamar Mayang. Langkahnya penuh kehati-hatian, tak berharap ada kesalahan kecil yang bakal berakibat fatal nantinya.


Diakui atau tidak, keberadaannya di rumah mewah itu hanyalah sebagai pelayan. Tidak peduli betapa baiknya Tuan Nabastala terhadapnya, tetapi tidak dengan penghuni lainnya. Jadi Kinanthi harus tetap sadar diri, tetap berbuat sepatutnya seorang pelayan melayani sang majikan.


Tok ... tok.


“Masuk saja,” sahut suara dari dalam.


“Non, makan malam sudah siap.” Kinanthi meletakkan nampan berisi makanan di atas meja bundar kecil yang masih cukup menampung semua isi dalam nampan.


“Ntar aja, masih males,” jawab Mayang tetap sibuk dengan gawainya.


“Kamu itu bawel amat, sih?”


Tak menyangka, perempuan dengan rambut sepinggang itu akan berkata-kata kasar. Kinanthi menunduk, tak lagi membantah perkataan Mayang. “Kalau begitu, saya turun dulu, Non,” pamit Kinanthi.


“Tunggu!”


Perempuan yang sedang asyik memainkan gawai, tangannya menunjuk ke meja bundar tanpa melepaskan pandangan dari benda pipih yang tengah dipegangnya, “Jusnya bawain ke sini dulu.”


Diambilnya permintaan Mayang, “Ini, Non.”


Rasa-rasanya kesabaran Kinanthi semakin diuji saja. Semakin lama keberadaannya di rumah itu, tugas-tugasnya pun semakin berat-berat saja. Apakah ia akan mampu melalui semua itu?


••••


Badan Kinanthi semakin menggigil hebat. Setelah makan malam ia segera beristirahat tanpa membantu Bi Idah merampungkan cucian perkakas dapur yang kotor.


Ia meringkuk di atas matras berselimut tipis. Keadaannya kembali seperti semula ia baru tiba. Juga tak ada obat yang bisa ia minum untuk meredakan demamnya. Lama-lama matanya pun terpejam.


Mungkin baru satu setengah atau dua jam kurang sedikit Kinanthi tertidur. Dari arah ruang keluarga terdengar orang beradu mulut membuat Kinanthi terbangun. Dengan langkah gontai ia melihat apa yang sedang terjadi.


“Ma, sudah Nabas bilang berkali-kali. Jangan mengganggu Kinanthi,” teriak Nabastala dengan nada emosi. Bahkan namanya Kinanthi saja ia sebut lengkap dengan intonasi penuh penekanan.

__ADS_1


“Emang dia siapa? Dia cuma budak di rumah ini, tidak lebih, ‘kan?” Dengan nada tak kalah sengit, nyonya membentak balik putranya.


Kinanthi sedang menyaksikan diam-diam, merasa tak suka dengan pertengkaran yang dilihatnya. Ia melihat sosok durhaka dari Tuan Nabastala yang sedang berdiri tegap di hadapan mamanya.


“Di rumah ini, semua aku yang mengatur, tanpa terkecuali. Suka tak suka mama tak berhak ikut campur.”


“Mama berhak ikut campur dengan semua urusan di rumah ini, Nabas.”


“Dengan alasan?” Mata elang itu menukik tajam, “apa hak mama di rumah ini?”


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat telak di rahang kokoh milik putranya Nabastala. Lelaki itu meringis sambil mencibir.


“Nabas, kamu—”


“Kenapa? Mau menampar lagi? Nabas sudah bosan, Ma.”


Kinanthi memegangi dadanya, ada debaran nyeri di sana. Ia tak menyangka Tuan Nabastala bisa sekasar itu terhadap mamanya demi membela orang yang bukan siapa-siapa dalam hidupnya.


Bi Idah yang terlihat habis mandi menghampiri. “Kinan, ngapain di sini?”


Sebenarnya Kinanthi tak perlu menjawab, Bi Idah yang juga sudah tahu. Adu mulut antara anak dan mamanya itu memang terdengar sengit, sementara suara gemericik air di kamar mandi cukup mengganggu. Namun, tak mengurangi kenyataan pertengkaran di antara keduanya.


“Ma, suruh Mayang kembali ke kamarnya, atau aku sama Kinan yang keluar dari rumah ini.” Tuan Nabastala berkata dengan penuh ketegasan dan penekanan dari setiap kata yang diucapkan.


“Nabas!”


“Terserah mama, mau pilih yang mana.”


Tuan Nabastala beranjak meninggalkan mamanya yang masih berdiri mematung. Aura kemarahan terpancar jelas dari wajah yang masih menyisakan kecantikan semasa mudanya itu.


“Kinan itu cuma perusak!” teriak mamanya kalap.


Lelaki dengan tubuh atletis itu berhenti seketika, berbalik memandangi wajah mamanya. Dengan geram ia berkata, “Setidaknya Kinan lebih terhormat ketimbang Anda yang tega merusak rumah tangga orang.”


“Nabastala Narendra, jaga bicaramu! Sudah berkali-kali papamu menjelaskan, dia lebih memilih aku ketimbang mamamu yang sudah sakit-sakitan itu. Apa itu kesalahanku?”


Senyum getir melengkung dari bibir yang terlanjur dipenuhi amarah. “Lebih baik Anda segera angkat kaki dari rumah ini. Kalau tidak, saya tidak segan-segan menyeret Anda ke luar. Paham?”


BRAK!


Dengan kasar ditendangnya guci antik berwarna keemasan di samping anak tangga. Pecah berserakan menjadi kepingan-kepingan tak beraturan. Tangan lelaki itu mengusap kasar rambutnya, mengacak-acak sebentar. Terus berlalu menapaki anak tangga.


Mayang yang tengah berdiri di tengah-tengah anak tangga menyaksikan pertengkaran mereka barusan pun tak luput dari kemarahan, “Minggir,” bentaknya menggema.


Kinanthi dan Bi Idah yang melihat jelas dari kejauhan hanya bisa membungkam mulut masing-masing dengan telapak tangan. Baru kali ini dilihatnya kemarahan yang tak tanggung-tanggung dari seorang Nabastala Narendra.


“Dia yang terlihat hebat, bukan dia yang mampu menahan amarahnya. Karena marah itu manusiawi, selama pada situasi dan cara yang tepat.”

__ADS_1


Namun ingat setelahnya, kemarahan hanya akan merusak apa-apa yang telah kamu bangun dengan susah payah. Maka, kendalikan emosi biar pasukan api tak gampang datang menyerang.


__ADS_2