
Aroma petrikor menguar, seiring cahaya sang arunika menjelma menerobos kisi-kisi jendela. Netra Kinanthi menatap nanar ke luar. Dipandanginya kuntum mawar merah yang sedang indah-indahnya. Kumbang-kumbang pun beterbangan di antaranya.
Agrh ... Kinanthi memekik dalam hati, kemudian dirabanya dada tengah sebelah kiri. Ada nelangsa tak kasat mulai mengerak di sana.
Ingatannya melayang pada kedua orang tuanya yang sudah tua. Mereka menopang hidupnya dari hasil buruh tani, dan terkadang juga memulung barang-barang bekas demi dapur agar tetap mengepul.
Melihat keluarganya yang serba kekurangan, memaksa Kinanthi untuk mengadu nasib ke kota. Dan kini ia terdampar tak berdaya di rumah Tuan Nabastala akibat kecerobohannya.
“Non Kinan!” seru pak Herman dari kejauhan.
Mendengar seruan itu, Kinanthi pun menyeka bulir-bulir bening di pipinya, berusaha sekuat tenaga untuk selalu tegar. Disembunyikannya kesedihan rapat-rapat, supaya tak seorang pun melihatnya.
“Iya, Pak.”
Ia berjalan menuju asal suara, di mana pak Herman sedang berdiri. Di samping pintu ruang keluarga. Dilihatnya pula sang tuan tengah duduk penuh wibawa di dalam ruangan tersebut dengan pandangan fokus pada tablet fungsionalnya yang berwarna hitam.
“Non! Tuan minta dibuatkan kopi.”
“Kopi? Loh, bukannya tadi sudah, Pak?”
“Lihat!”
Telunjuk pak Herman menjadi pemandu, di lantai gelas kopi terbaring dengan isi tumpah berceceran di sekitarnya. Untung saja nasib gelas itu tak semalang isinya, ia masih utuh meski mungkin sedikit rapuh.
“Waduh, kok bisa?”
Pak Herman cuma menggeleng sebagai jawaban.
Kinanthi segera mengambil lap untuk membersihkan bekas kopi yang tumpah. Tangannya cekatan bekerja. Mata elang sang tuan melirik ke arah Kinanthi sedang berjongkok. Kaos oblong yang tengah dipakainya, tak mampu menyembunyikan belahan dadanya terlihat menggantung indah. Membuat sang tuan berkali-kali menelan saliva. Hingga membangkitkan sang kejantanan yang tengah bersembunyi di bilik sarangnya.
“Kinan.”
Wajah Kinanthi mendongak ke arah sang tuan, “Iya, Tuan.” Seiring senyum merekah dari bibir mungilnya yang tipis.
“Lain kali, naruhnya yang benar.”
“Baik, Tuan.”
Kinanthi berlalu untuk segera membuat kopi yang baru. Namun, ia sempat berpikir. Seingatnya gelas kopi tadi ditaruhnya di tengah meja, kok segampang itu bisa jatuh. Atau, jangan-jangan ....
“Ah, ndak boleh berprasangka buruk, Kinan.” Digeleng-gelengnya kepala sambil bermonolog. Tangannya mulai terampil meracik campuran kopi menjadi minuman istimewa dengan rasa yang memiliki karakter ditiap-tiap seduhan berbeda.
Hasil racikannya pun tak kalah dengan barista handal di coffee shop. Ia memang perempuan gigih dan juga pantang menyerah. Mudah beradaptasi dan belajar dengan cepat dari keadaan sekitarnya.
“Tuan, ini kopinya.” Kinanthi menyodorkan segelas kopi macchiato.
Butuh waktu tiga hari ia belajar meracik kopi macchiato. Mulai dari memberi sedikit sentuhan Eropa untuk kopinya, menambahkan krim keju yang foamy, mengganti gula putih dengan palm sugar. Semua ia lakukan dengan penuh perasaan, meski pada awalnya berkali-kali gagal. Memang, kalau merujuk dari arti namanya sendiri yaitu dengan bertitik noda, macchiato dalam arti simpelnya adalah kopi dengan sedikit “noda” susu.
“Mm. Terima kasih.”
Kinanthi berlalu meninggalkan sang Tuan dan pak Herman untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Ada banyak hal yang harus ia kerjakan di rumah mewah itu. Gampangnya bilang ya ... kini, semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawabnya seorang.
••••
Tepat pukul 10.30. Panas matahari mulai terasa menyengat kulit, guyuran air hujan semalam tak lagi menyisakan kesejukan. Dedaun mangga di samping halaman yang gugur telah mengering kembali terpanggang sinar matahari pagi, siap melayang-layang mengikuti tiupan angin kemudian membawanya melanglang.
Derttt ... derttt ... derttt.
Gawai Kinanthi pemberian sang Tuan bergetar. Segera dihentikannya kegiatan mengepel lantai. Ia merogoh saku celana kasual yang tengah dipakainya, setelah mengelap tangannya yang basah terlebih dahulu.
‘Sang Pangeran’, mata Kinanthi menatap layar yang menyala. Segera ia menggeser tombol jawab.
“Iya, hallo.”
__ADS_1
“Siput, ke mana aja sih, lama amat jawabnya.” Suara di seberang nun jauh langsung menggertak.
“Maaf, Tuan.”
“Dengar, ya! Nanti siang jam satu akan ada tamu datang. Segera bereskan semua pekerjaan kamu. Mengerti?”
“Baik, Tuan,” jawab Kinanthi sopan.
“Jangan lupa makan dulu, nanti pingsan lagi.”
“Iya, Tu—”
Tut ... tut ... tuttt.
Sambungan telepon diputus sepihak, tanpa menunggu Kinanthi menyelesaikan jawabannya.
“Heh, dasar orang kaya.” Kinanthi mengembuskan napas kasar, berharap bisa menghilangkan ketegangan yang tengah dihadapinya. Semangat! Semua pasti akan baik-baik saja. Teriaknya dalam batin.
Tangan cekatan itu kembali menari-nari dengan gagang pel tengah dipegangnya. Tubuh mungilnya begitu ringan mengikuti gerakan gagang pel mengarah.
Belum genap lima menit setelah sang tuan menelepon, derap langkah terdengar dari arah pintu. Kinanthi terpaksa menajamkan pendengaran. Siapa gerangan yang datang? Dengan sengaja Kinanthi meletakkan gagang pelnya sembarangan, hendak memeriksa.
Terlambat. Ia baru menyadari kehadiran pak Herman dan sang Tuan tengah berjalan tergesa-gesa melewati pintu samping. Gawat. Tuan Nabastala pasti ke lantai atas. Sementara anak tangga baru saja dipel dan belum kering benar, kalau dilewati bisa-bisa ....
“Tuan, aw—” Belum selesai Kinanthi berteriak.
Brugh.
Sang Tuan telah terpeleset dan jatuh. Sedangkan pak Herman yang mampu menguasai keadaan cuma limbung dan segera meraih tangga untuk pegangan.
“Maaf, Tuan. Anda tak apa-apa?”
Segera saja Kinanthi memburu Tuan Nabastala yang terjatuh. Berusaha membantunya bangun. Kinanthi ikutan meringis menyaksikan tuannya meringis-ringis kesakitan. Sepertinya kaki beliau terkilir.
PLAK!
“Kerja yang becus,” bentak sang Tuan dengan murka.
Kinanthi mengangguk sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
“Sepertinya Tuan harus ke rumah sakit,” usul pak Herman.
“Tidak perlu.”
Tuan Nabastala berjalan dengan terpincang-pincang dipapah pak Herman menuju lantai dua di mana kamarnya berada. Kinanthi terus memandangi punggung mereka yang semakin menjauh dengan perasaan bersalah.
Lekas-lekas ia menyelesaikan pekerjaan mengepelnya. Kemudian bergegas ke kamar sang tuan untuk melihat keadaan dan berniat mengobati luka di kaki tuannya.
Di depan pintu, Kinanthi justru mondar-mandir kebingungan. Masuk pasti dimarahi, nggak masuk ia merasa semakin bersalah. Seluruh keberaniannya dikumpulkan.
Tok ... tok ... tok.
Ternyata nyali Kinanthi lebih berani. Diketuknya pintu, tak lama berselang pintu pun terbuka. Pak Herman berdiri dengan wajah kusutnya. “Masuk saja,” perintahnya.
Tuan Nabastala tengah duduk berselonjor di sofa, dengan wajah muram tak mengenakan sama sekali untuk dilihat. Tangannya terus memegangi bagian kaki yang terkilir.
“Saya sungguh minta maaf, Tuan.”
Dengan sepenuh hati Kinanthi meminta maaf. Kemudian berjongkok, berusaha memeriksa kaki sang tuan yang terluka.
“Cih. Memangnya dengan minta maaf bisa merubah keadaan? Hah?”
Kinanthi tak berani menjawab, ia menggelengkan kepala. Sangat paham jika tuannya itu sedang marah besar, apa pun yang dikatakannya tidak akan merubah keadaan. Mata Kinanthi tertumpu pada beberapa luka memar di bagian kaki. Tangannya cekatan membuka kotak P3K yang ia bawa dari lantai bawah tadi.
__ADS_1
“Tidak perlu,” teriak sang tuan sambil melemparkan majalah yang ada di meja.
Kinanthi lagi-lagi meringis, merasakan sakit pada wajahnya yang menjadi sasaran lemparan majalah.
“Jangan sok pintar, kamu ngerti apa soal luka? Ngepel saja ndak becus.”
Mendapati semua perlakuan tuannya yang semakin kasar membuat Kinanthi tak mampu membendung air matanya. Ia menangis tanpa suara. Matanya tajam memandang sang tuan. Makian itu menyakitkan.
“Wei! Tatapan matamu itu terlalu liar, ngerti nggak?”
“Maaf, Tuan. Kinan mengerti, di rumah ini Tuan adalah seorang raja. Dan raja itu selalu benar. Maaf, juga. Jika Kinan tak punya sopan santun. Sekali lagi maaf, Tuan.”
Dengan penuh ketakziman hati Kinanthi meminta maaf, ia membungkukkan badannya lama. Setelah itu berjalan mundur, dan keluar dari kamar sang tuan.
Pak Herman yang sedari tadi menyaksikan perseteruan keduanya, merasa terharu dengan ulah Kinanthi. Buru-buru ia menyeka sudut matanya yang mulai mengembun sebelum terlihat oleh Tuan Nabastala.
“Dasar siput. Udah lelet kerjanya, lelet pula otaknya,” cela sang tuan sambil meringis-ringis. Mungkin menahan kakinya yang sedang sakit.
Pak Herman tak menanggapi, cuma berdiri mematung, memandangi tuannya dari kejauhan. Takut bakal kejatuhan sial; diomeli seperti Kinanthi.
“Pak Herman, lama banget sih dokternya datang?”
Tuh kan benar, ia pun segera dapat jatah omelan.
“Pak Herman,” bentak Tuan Nabastala kasar. “Kapan dokternya datang?”
“Mungkin sebentar lagi, Tuan. Tuan, kan juga tahu sendiri, jam istirahat siang jalanan selalu dipadati kendaraan.”
“Alasan. Telepon lagi, gih!”
“Oh.”
Cekatan tangan pak Herman menekan tombol ponsel untuk melakukan panggilan. Dan segera disudahinya.
“Dokter bilang, beliau terjebak macet, Tuan.”
“Cih. Tak ada alasan lain apa? Telepon lagi aja, bilangin, kakiku sudah sembuh jadi nggak perlu datang.”
“Tapi, Tuan—”
“Kamu dengar, nggak?”
Heh. Emang yang namanya tuan itu raja. Yang kata-katanya tidak bisa dibantah sama sekali. Tak peduli itu benar atau salah.
“Lagi .... Telepon juga klien yang akan datang, bilang kalau aku sedang tak enak badan. Dan juga, panggil Kinanthi.”
“Masih ada lagi, Tuan?”
“Kamu beli makanan untuk makan siang kami, biar Kinanthi nggak perlu masak.”
“Sudah, Tuan?”
“Ehm.”
Pak Herman beranjak ke luar kamar. Memenuhi permintaan sang tuan, dengan wajah ditekuk penuh kemuraman. Pertanda pada batinnya tengah bergejolak berbagai perlawanan yang tak diungkapkan.
Pelan diraih handle pintu, pak Herman hendak menutupnya. Tangannya terhenti, ketika sang tuan memanggilnya.
“Pak ....”
“Iya, Tuan.”
“Pintunya nggak perlu ditutup.”
__ADS_1
“Oh.”
Ketika uang berkuasa, manusia menjadi hal paling remeh yang lantas diperbudak keadaan.