Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Tepat Pada Porsinya


__ADS_3

“KINAN!”


Teriakan Mayang memenuhi seisi ruangan hingga terdengar ke lantai atas. Berasa ada kesalahan fatal yang telah dilakukan seseorang yang sedang dicarinya itu.


“KINAN!”


Ia kembali berteriak dengan lantang. Sementara Kinanthi yang tengah berada di kamar Tuan Nabastala segera meluncur menuruni anak tangga.


“Lu ngapain lagi sih terus-terusan di kamar Nabas?” bentak Mayang penuh emosi.


Namun, hal itu tak menggubah apa pun di diri Kinanthi. Ekspesi wajahnya tetap anggun, penuh kesabaran dalam menghadapi polah tingkah Mayang.


“Tadi ada tamu yang memintaku untuk mengantarkan berkas-berkas ke kamar Tuan,” jelas Kinanthi.


“Halah, alasan,” maki Mayang dengan kemarahan meluap.


“Ya udah, kalau nggak percaya. Noh, tanya sendiri sama Tuan.” Kinanthi mengendikkan dagunya ke arah Tuan Nabastala yang tengah berdiri di ujung tangga.


Heh. Kinanthi mengembuskan napasnya berat, membiarkan Mayang melerai emosinya sendiri. Ia tak peduli dengan kemarahan yang ditunjukkan Mayang. Semua itu tak akan mempengaruhi keadaannya yang sedang menyembunyikan rasa bahagia.


Dari arah pintu, terlihat nyonya menenteng berbagai macam paper bag di tangan. Sepertinya mereka habis menghamburkan secuil harta kekayaan yang dimilikinya untuk pendapatan negara.


Loh, kok bisa? Lah, sebagian pendapatan negara ‘kan didapat dari pembayaran pajak barang mewah yang baru saja mereka beli.


“Saya bantuin, Nyonya.” Kinanthi menawarkan diri membantu.


“Nih. Bawa semua barang-barang ini ke kamar.” Nyonya mengalihkan semua paper bag ke tangan Kinanthi. “Di bagasi juga masih ada. Ambil juga sekalian.”


“Baik, Nyonya.”


“Lagi. Sehabis itu, buatkan jus mangga. Ngerti?”


“Siap, Nyonya.”


Dalam diri Kinanthi mengalir air cucuran atap yang jatuh kepelimbahan juga. Tak sia-sia kedua orang tuanya mendidik Kinanthi dengan penuh kasih sayang, sehingga tumbuh dengan budi pekerti luhur.


Langkahnya cekatan, tangannya terampil, tak suka mendendam meski diperlakukan dengan buruk. Di ujung tangga sang tuan mengamati perilaku Kinanthi, lama-lama hatinya semakin tertambat pada gadis belia yang pernah menawarkan diri sebagai budaknya. Tak disangkanya sama sekali, gadis itu memenuhi janjinya tanpa mengeluh.


Mayang semakin menggerutu dalam hati, ketika kehadirannya diacuhkan begitu saja oleh Tuan Nabastala, yang lebih fokus memperhatikan gerak-gerik Kinanthi.


“Nabas,” panggil Mayang dalam kegamangan.


“Heh.” Pandangan lelaki itu tak beranjak dari arah pintu, di mana Kinanthi keluar-masuk membawa barang-barang.


“Nabas,” rengek Mayang manja.


“Apa sih, May?”


“Aku tak suka kamu begitu baik sama Kinan.”


“Baik apanya?


“Kamu selalu meminta Kinan untuk ke kamar kamu. Ngapain aja berduaan?”


“Dia kerja,” ketus Tuan Nabastala.


“Yakin? Kalian nggak ngapa-ngapain?”


“Emang kerjaan bisa kelar tanpa ngapa-ngapain?”


Mayang melengos, rasa kecewa, marah dan benci bercampur menjadi satu, menjelma bongkahan-bongkahan dendam yang siap diluncurkan kapan saja, sekehendak ia mau.


••••


Semakin hari perasaan sedih yang Kinanthi sembunyikan tak lagi mampu menampung kepingan rindu kian bertalu-talu menghantam dadanya. Ia ingin berkirim kabar untuk kedua orang tuanya, hanya itu. Tapi bagaimana caranya?


Ponsel miliknya sendiri di sita pak Herman semenjak malam pertama ia tiba. Kinanthi ingin diam-diam menggunakan ponsel pemberian Tuan Nabastala. Namun, ia tak memiliki nyali untuk melakukannya, takut berakibat fatal pada dirinya sendiri.


Ia memberanikan diri meminta izin kepada sang tuan. Setelah jam makan malam, di lihatnya sang tuan tengah duduk santai di teras samping rumah. Kakinya hendak melangkah mendekat, tetapi Mayang telah mendahuluinya. Kinanthi pun memilih mengundurkan diri.


Mengurung diri di kamar, terus mencari cara agar bisa menghubungi orang tuanya. Anita--sahabat dari kampung--mungkin bisa membantunya. Tapi bagaimana cara menemuinya? Sedang ia juga lupa nomor ponsel Anita. Argh .... Menyebalkan. Diacak-acaknya rambut sesuka hati.


“Puyeng, ah,” desahnya berontak.


Malam kian menepi, hampir berganti pagi. Namun, mata Kinanthi enggan terpejam. Semalaman ia tak tidur, pikirannya terus melayang. Menggapai titik terjauh angannya mampu terbang. Wajah-wajah kedua orang tuanya yang semakin renta bergantian melintas, merasuki alam pikirannya.

__ADS_1


“Bagaimanapun, pasti ada cara,” pikir Kinanthi sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.


Diguyurnya tubuh kuning langsat miliknya, yang terlihat semakin kurus itu. Pesonanya sebagai gadis belia tak berkurang. Namun, hati kecil Kinanthi tak memungkiri, ia terlihat semakin ringkih.


Seperti biasa ia menyelesaikan tugas rumahnya tepat waktu, membuat menu sarapan yang berbeda di tiap paginya. Terkecuali ada yang meminta dibuatkan sama seperti hari kemarinnya.


Pagi itu, semua belum berkumpul di ruang makan. Entah naluri apa yang mengajari Kinanthi untuk lebih berani, ia membawa sarapan sang tuan tanpa diminta. Tujuannya satu, untuk meminta izin.


Tok ... tok ... tok.


Ia mengetuk pintu pelan.


“Tuan,” panggilnya dengan suara khas miliknya.


“Iya, masuk,” jawab sang tuan tegas.


Pintu terbuka, dilihatnya sang tuan sudah berkutat dengan laptopnya. Apakah lelaki di hadapannya itu semalaman juga nggak tidur?


“Sarapannya, Tuan,” kata Kinanthi sambil menaruh sarapan tidak jauh dari letak laptop.


Beberapa detik kemudian tubuhnya masih mematung, lidahnya terasa kelu, ia bingung mau berucap apa.


Melihat Kinanthi yang tetap berdiri tak beranjak, tentu saja mengusik pandangan sang tuan untuk beralih memperhatikan.


“Kenapa?”


Pandangan itu yang membuat hati Kinanthi semakin luluh, ia begitu menyukainya. Ada rasa perhatian yang mengalir dari sorot mata lelaki tampan yang sedang memandanginya.


“Mm nganu, Tuan,” jawab Kinanthi gugup.


“Nganunya kenapa?”


“Mm, begini Tuan. Bolehkan Kinan pergi sebentar?”


Tuan Nabastala menutup laptopnya, kemudian meraih gelas susu dan meneguknya beberapa kali tegukan.


“Mau ke mana?”


“Bertemu teman?”


“Teman? Cewek apa cowok? Di mana?”


“Kok malah diam?”


“Anu, Tuan. Kinan bingung cara menjelaskannya.”


“Anu, anu lagi. Inti pokok permasalahan kamu apa?”


“Kangen.” Reflek kalimat itu meluncur dari bibir Kinanthi.


“Mau ketemuan sama pacar?”


“Loh, Tuan! Apa hubungannya kangen sama pacar?”


Tuan Nabastala dibuat geleng-geleng kepala. Baru kali ini ia menemui seorang gadis yang polos, lugu, tapi oonnya sungguh kebangetan. Membuatnya semakin geregetan.


Jika diingat-ingat, berbeda jauh dengan mantannya si Luna, yang telah meninggalkannya pas lagi sayang-sayangnya. Mereka dua sosok berbeda cara pandang dan pola pikirnya. Mantannya seorang cewek ambisius yang berdiri di atas dukungan materi keluarganya. Tanpa itu, ia bukan siapa-siapa. Sedangkan Kinanthi, gadis yang hidup mandiri tanpa balutan materi.


“Tuan, boleh nggak?” Kinanthi membuyarkan lamunan Tuan Nabastala.


“Nggak,” jawab sang tuan membuat Kinanthi cemberut.


“Kinan mohon, Tuan!”


“Sekali nggak ya, nggak. Titik. Nggak pakai koma apa lagi tanda tanya.”


“Jahat,” gerutu Kinanthi tanpa beranjak.


“Apa lagi?”


“Tuan, kalau begitu Kinan boleh pinjam ponselnya?”


“Punya kamu ke mana?”


“Nggak ada pulsanya.”

__ADS_1


“Kan bisa pakai jaringan wi-fi.”


“Ya udah deh, nggak jadi.”


Langkah kakinya gontai, tak lagi bersemangat. Benar-benar pasrah, semoga kedua orang tuanya selalu baik-baik saja, hanya itu harapan sepenuhnya dari setiap dedoa yang mengangkasa.


Melihat perubahan drastis dari raut wajah Kinanthi, sang tuan tentu merasa heran. Diambilnya ponsel yang ia letakkan di samping laptop, kemudian berjalan menghampiri Kinanthi yang sudah bersiap-siap membuka pintu.


“Nih.” Lengan lelaki itu terjulur memberikan ponselnya, dengan tubuh dibelakangi Kinanthi.


Tentu saja, Kinanthi tak bisa percaya begitu saja. Ia membalikkan badannya berhadapan kurang sehasta, “Anda yakin, Tuan?”


Sebuah anggukan sebagai jawaban.


“Terima kasih, Tuan.”


Kinanthi tak serta merta mengambil ponsel yang masih terulur untuknya. Ia menghambur memeluk sang tuan. Hatinya sungguh merasa bahagia. Seagresif itukah dirinya sekarang?


“Dasar aneh,” gumam sang tuan.


“Kenapa, Tuan?” Lekas-lekas ia melepaskan pelukan.


“Jadi nggak?”


“Heem jadi.”


Dicomotnya ponsel dengan kecepatan kilat bagai membabat musuh. Langsung ditekannya nomor seseorang yang ia sudah hafal di luar kepala. Sambungan terhubung.


“Hallo, Pak Dhe Dirman. Ini Kinan,” serunya kegirangan.


“Kinanthi? Betul itu kamu,” jawab seseorang dari seberang.


“Benar, Pak Dhe. Ini Kinanthi.”


Mata Kinanthi terlihat berkaca-kaca saking senangnya. Ia tak membayangkan bisa berkirim kabar untuk keluarganya.


“Pak Dhe, bagaimana kabar sampeyan?”


“Pak Dhe baik semua keluarga baik, kamu sendiri?”


“Kinan sangat baik, Pak Dhe. Cuma—”


Sedetik kemudian keheningan menyelimuti, Tuan Nabastala yang sudah duduk kembali di depan laptopnya merasa ikut penasaran, ia menunggu jawaban Kinanthi.


“Kinan cuma sedikit kurusan, Pak Dhe.”


Tawa renyah, menghambur dari bibir Kinanthi. Ia mengelap sebentar sudut matanya yang berkaca-kaca. Di tempat duduknya Tuan Nabastala mengembuskan napas. Kenapa ia juga ikut merasa deg-degan menunggu jawaban Kinanthi tadi.


“Emak sama Bapak sekarang bagaimana keadaannya, Pak Dhe?”


“Mereka sehat-sehat, cuma terkadang mengeluh. Bingung mencari kabar kamu.”


Hati Kinanthi bagai tersayat-sayat mendengar pengakuan Pak Dhenya.


“Tolong bilangin sama Emak dan Bapak ya Pak Dhe, Kinan di sini baik-baik saja. Nanti kalau ada kesempatan, Kinan pasti pulang nengokin mereka. Titip salam buat Emak juga Bapak.”


Setelah pamit, sambungan segera diputus oleh Kinanthi, takut berlama-lama. Nanti sang tuan marah dan tidak mengizinkan ia menelepon lagi.


Hah. Ia merentangkan kedua tangannya, perasaannya sudah plong sekarang, tanpa beban.


“Terima kasih banyak, Tuan.”


Ponsel ia kembalikan di atas meja dekat sang tuan tengah duduk.


“Barusan telepon siapa?” tanya Tuan Nabastala dengan ekspresi datar.


“Pak Dhe,” jawab Kinanthi singkat.


“Siapa dia?”


“Kakak dari Emak Kinan.”


“Oh, kirain. Kok nggak telepon langsung ke Emak kamu aja?”


“Di tempat Emak, signalnya susah.”

__ADS_1


Setelah kejadian itu, Tuan Nabastala semakin menyadari bagaimana kehidupan Kinanthi yang sesungguhnya. Ia benar-benar salut terhadap gadis perawan yang semakin menawan hatinya itu.


Kinanthi terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ia ditempa kerasnya keadaan. Tidak ada istilah bermanja-manja dalam kamus kehidupannya. Itulah sebabnya ia bisa dengan mudah beradaptasi dengan keluarga yang sekarang ia tinggali. Tidak mudah terprovokasi oleh perbuatan Mayang dan nyonya yang sering keterlaluan.


__ADS_2