Bidak Catur Sang Pangeran

Bidak Catur Sang Pangeran
Sepenggal Luka Lama


__ADS_3

Isyarat luka tergelincir dari netra sang pemilik wajah tampan blasteran Indonesia-Belanda itu. Ia sangat beruntung mewarisi darah Belanda dari almarhum sang kakek. Sehingga tubuh setinggi 187 cm dan hidung mancung mencuat menjadi daya tarik yang acap kali digandrungi kaum hawa untuk bersanding memiliki.


Ia kini tengah duduk dengan kedua tangan saling menautkan jari-jemari tertumpu pada lututnya sendiri. Pandangan tertunduk lesu seolah tanpa gairah hidup seperti biasanya. Hatinya sedang terluka, mengingat kejadian 15 tahun silam ketika sang ayah dengan tega mencampakkan mamanya. Yang dalam keadaan sekarat tak berdaya akibat kanker otak stadium akhir yang tengah diderita sang mama.


Membiarkan perempuan berhati mulia bagaikan dewi surga itu tergolek lemah tak berdaya, di ranjang rumah sakit tanpa menengoknya barang sekali saja hingga ajal menjemput. Mengingat kejadian itu semua, luka lamanya kembali kambuh. Padahal ia sudah mati-matian belajar memaafkan papanya dan melupakan semua kejadian yang sudah menimpa mamanya. Menganggap sebagai takdir dari pemilik Sang Penguasa Semesta.


Namun, ungkitan mama tirinya baru saja seketika menyibak luka lama yang sudah dengan susah payah ia kuburkan.


Malam terus mendaki puncak sunyi, menawarkan gigil menari-nari pada angan yang kian menelanjangi ingatan; mengacak-acak segala kenangan. Memaksanya memasuki lubang lara yang tak terkira sekali lagi.


Di sampingnya, duduk gadis belia dengan perasaan ragu-ragu menemani. Meski jarak tak mengajak berseteru, kedua insan berlainan jenis itu memilih diam membisu. Namun, otak Kinanthi selalu tak mau diajak berkompromi, hingga ia tetap kalap dalam bimbang yang datang menyergap.


“Tuan,” panggilnya lirih.


Berharap ia mampu urun sepenggal kalimat, sekedar menawarkan kata-kata menghibur. Berharap apa yang tengah tuannya rasakan itu bisa teralihkan barang sebentar saja.


“Bisakah kamu diam saja?”


Kinanthi mengerti akan jawaban Tuan Nabastala. Lelaki itu lebih memilih hanyut dalam kekalutan batinnya sendiri. Kebisuan kembali menyatru, keduanya pun saling membisu. Hanya suara embusan napas menjadi satu-satunya irama yang bisa terdengar di telinga.


Hingga Kinanthi tersesat dalam kantuknya yang melesat terbuai keheningan. Kepala gadis itu meneleng tanpa sengaja ke arah tuannya. Dan lelaki itu beringsut mendekatkan diri, merelakan pundaknya untuk bersandar gadis belia yang tertidur di sebelahnya.


Tuan Nabastala sendiri menyandarkan kepalanya di sofa agar ia tak merasa begitu capek dengan beban kepala Kinanthi yang tengah bersandar.


Kembali ingatannya menyambangi kejadian suatu petang yang mulai remang. Di mana ia sedang di rumah seorang diri sehabis pulang dari kegiatan ekstra kurikuler di sekolahnya. Sedang mamanya tengah dirawat di rumah sakit, papanya pulang kerja membawa perempuan bernama Laura, ia tahu ketika perempuan itu memperkenalkan diri. “Laura Pratiwi. Biasa dipanggil Ara.” Begitu sebutnya.


Semenjak itu, papanya sering mengajak perempuan bernama Laura datang ke rumah. Bahkan tak sungkan-sungkan meminta perempuan seusia mamanya itu menginap. Di hadapan Nabastala mereka sok intim. Tak segan-segan memamerkan kemesraan. Parahnya lagi, berciuman di depan Nabastala adalah hal yang biasa mereka pamerkan.


Iuh, bisa dibayangkan. Bagaimana gejolak darah muda dengan pola pikir yang serba berantakan itu menyikapi tingkah papanya? Suatu malam ia berencana membunuh kedua manusia bejat yang telah menghancurkan keluarganya.


Sialnya, rencana yang telah disusun dengan sangat rapi berantakan gara-gara kabar dari rumah sakit yang memberitahukan berita duka. Mamanya telah berpulang. Tentu saja Nabastala langsung syok. Begitu reaksi pertama atas pendengarannya. Terpaksa ia pun memilih mengurungkan niatannya.


Empat puluh hari setelah kematian mamanya, perempuan bernama Laura itu berhasil menggantikan posisi mamanya hingga sekarang. Meski awalnya tak pernah rela, lambat laun seiring berjalannya waktu yang menahun, akhirnya ia mau berdamai dengan hatinya sendiri dan menerima mama tirinya dengan panggilan ‘Mama’.

__ADS_1


“Huh ....”


Lelaki yang kesehariannya terlihat begitu hebat itu mengembuskan napasnya. Mengusap kasar wajahnya berulang-ulang. Seandainya di sampingnya tidak ada Kinanthi yang sedang tertidur, bisa saja ia menendang meja yang berada di hadapannya itu.


“Argh ....” Akhirnya ia memilih mengerang seperti orang sedang kesakitan. Iya. Ia memang sedang kesakitan pada hatinya.


Kinanthi yang tertidur dengan bersandar pada bahu Tuan Nabastala merasa terganggu. Dan terbangun mendengar suara erangan itu. Gadis imut itu menggerak-gerakkan kepalanya, lehernya terasa sakit.


“Maaf.” Kinanthi mengerjap. Rasa kantuknya belum sepenuhnya menghilang.


“Sudah larut, tidur lagi sana!”


Ia tak menjawab perintah tuannya. Dikucek-kucek kedua bola matanya. Agar perlihatannya berfungsi sempurna sebelum melangkah.


“Tuan sudah nggak apa-apa?” Kinanthi bertanya sebelum meninggalkan tuannya.


“Seperti yang kamu lihat sekarang.”


“Kalau begitu, Kinan turun dulu. Tuan juga lekas beristirahat.”


“Hah?”


Tatapan Tuan Nabastala menukik tajam, menghujam kedalaman manik mata Kinanthi. Membuat gadis itu mencoba menggeser duduknya. Sayangnya, tangan kekar itu lebih mendahului meraih pinggangnya, tak memberinya kesempatan duduknya bergeser sedikit pun.


Pandangan yang semakin tak berjarak, mempertemukan bibir Tuan Nabastala dengan kening Kinanthi. Kecupan yang terasa hangat menyergap. Tubuh yang sedari tadi merasa demam itu bergetar.


“Kinan, kamu sakit?”


Kinanthi menunduk, tak menjawab pertanyaan. Jika ia mengaku seperti yang sudah-sudah, perhatian tuannya itu akan semakin berlebihan. Dan ia tak mau hal itu kembali terjadi. Namun, jika tak menjawab bukan berarti ia bisa terlepas begitu saja dari pertanyaan yang baru dilontarkan lelaki super ganteng di sampingnya. Ia harus segera menemukan cara untuk kabur, kalau tidak ....


“Kinan.” Tangan Tuan Nabastala sudah menyentuh kening Kinanthi terlebih dahulu, “kamu demam?”


Terpaksa anggukan kecil sebagai jawaban.

__ADS_1


“Kok, nggak bilang dari tadi? Kamu sudah minum obat?”


“Kinan hanya butuh istirahat, Tuan,” ucapnya lirih.


Dengan tangkas Tuan Nabastala membopong tubuh Kinanthi ke ranjang. Tak peduli pada gadis mungil yang berusaha meronta dalam dekapan. Ia merebahkannya dengan penuh kehati-hatian, bak porselen berharga mahal saja.


“Kamu istirahat dulu, aku ambilkan obat demam.”


Lelaki dengan t-shirt lengan pendek itu menjauh. Kinanthi tak berkedip memandangi punggung yang kian lamat-lamat, mau tak mau ia sedang mengakui hatinya kini telah tertambat.


Tuhan, mungkinkah lelaki itu sengaja Engkau kirimkan sebagai jodohku?


••••


“Minum dulu obatnya,” perintah Tuan Nabastala sambil menyodorkan gelas minum.


“Terima kasih, Tuan.”


“Tak perlu.”


Dengan penuh perhatian lelaki dengan pandangan sayu itu berusaha menyelimuti tubuh Kinanthi, setelah menaruh gelas berisi sisa minuman di atas nakas. Lagi-lagi ciuman hangat mendarat di kening gadis yang tengah berbaring. Terlihat layaknya sepasang kekasih sedang memadu asmara.


“Kinan, terima kasih.” Tuan Nabastala berbicara dengan bibir bergetar.


“Untuk apa, Tuan?”


Gadis polos seperti Kinanthi yang IQ-nya hanya rata-rata seperti manusia normal pada umumnya, seketika menurun drastis gara-gara sedang jatuh cinta. Hingga terlihat nyata sifat bodohnya.


“Terima kasih, telah membuktikan bahwa di dunia ini masih ada wanita baik-baik yang layak disebut baik.”


Bola mata Kinanthi membelalak, “Sebegitu pesimisnya Tuan terhadap perempuan?”


“Dulu seperti itu, tetapi sekarang tidak. Semenjak kehadiranmu telah mengubah cara pandang sempit itu.”

__ADS_1


Bibir keduanya saling melengkung, seperti menemukan kepingan puzzle yang saling melengkapi.


Rasa cinta memang bisa mengubah segalanya dalam sekejap. Seseorang yang awalnya pesimis bisa berubah menjadi optimis, begitu pun sebaliknya. Tergantung masing-masing individu, bagaimana ia meletakkan posisi cinta itu sendiri. Sebagai penyemangat atau justru sebagai penghambat.


__ADS_2