Bila Cinta

Bila Cinta
Aku Memang Mencintaimu.


__ADS_3

Cerah mentari menyinari bumi, membawa kehangatan setelah gelap dan dinginnya bumi. Belaian cahaya sang surya di sela sela jendela, menggelitik lembut sepasang mata yang terpejam.


" Aaaaahhh...cepet banget dah pagi." Dengan malas ia bangun lalu merapikan tempat tidurnya.


Hai, semua! Namaku Amanda Juana Budiarto. Biasa dipanggil Juana. Tapi, aku lebih banyak tak memakai nama belakang keluargaku. Aku tak mau masalah datang, hanya karena nama itu. Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupanku sebagai seorang Amanda Juana. Aku bekerja paruh waktu sebagai pelayan di sebuah restoran cepat saji, dari sore hingga malam. Karena pagi sampai siang, aku harus kuliah.


Aku bukan anak yang pintar seperti temanku Merlita. Aku hanya memiliki otak pas-pasan tapi karena kerajinanku, aku bisa mendapat beasiswa. Hahaha, ya... aku hanya mengambil waktu tidur sebanyak 3 jam setiap hari, untuk belajar. Kenapa? Supaya aku masih bisa mendapat beasiswa.


Orang tuaku? Mereka memang orang berada, tapi aku tak mau merepotkan mereka. Aku tahu bagaimana posisiku di keluarga Budiarto sejak kematian ibuku. Ibu tiriku, Nadia, dia baik... tapi hanya di depan Ayahku. Sejak aku berusia 17 tahun, aku meninggalkan rumah, tentu saja dengan seijin ayahku. Aku tinggal di sebuah kontrakan yang kubayar dari hasil kerjaku di sebuah mini market sejak kelas 1 SMA.


Ayah tak memberiku uang saku seperti anak-anak lainnya yang mendapat uang saku dari orang tua mereka. Aku bekerja untuk diriku sendiri. Aku tak apa apa, dan aku merasa baik-baik saja. Apa aku membenci Ayah kandungku? Tidak, aku tak membencinya. Dia punya hak untuk memperlakukanku sesuai keinginannya. Aku bisa lahir dan hidup karena Ayahku. Jadi, aku tak punya alasan untuk membencinya.


Oh, ya... saat ini aku sudah mahasiswi semester 5, Jurusan Hukum. Dan saat ini aku berumur 21 tahun. Aku ingin menjadi seorang pengacara, seperti Bunda. Tak mudah untuk bisa sampai di sini, tapi karena ketekunan dan dukungan seorang sahabat, aku mampu bertahan.


Sahabatku, Raditya Mahesa, lebih tua 6 tahun dariku. Ia adalah seorang mahasiswa Pasca Sarjana. Awalnya, dia adalah putra tetangga keluargaku. Saat dulu Bunda masih ada, aku sering dibawa bermain ke rumah kak Radit. Lama kelamaan, kami menjadi seperti kakak- adik. Dan dia juga adalah seorang laki-laki yang penuh perhatian. Kami adalah sahabat. Itulah yang dikatakan kak Radit. Aku adalah sahabatnya sekaligus adiknya. Tapi tidak denganku. Aku mencintainya. Tapi aku tak pernah mengatakannya. Bukan tak berani, tapi karena aku tahu, kak Radit mencintai wanita lain.


Sebulan sebelum kematian Bunda, mereka pindah ke Australia. Dan saat aku kuliah di sini, aku ketemu lagi dengan kak Radit. Dia mengambil S2 jurusan hukum juga, karena di Australia dia sudah mendapat gelar MBA, dan sebentar lagi ia akan segera mengambil alih tugas Ayahnya, Perusahaan MS Group yang bergerak di bidang Real Estate, Perhotelan dan Minyak di Indonesia, maka sekarang ia harus menguasai hukum Indonesia. Perusahaan kak Radit bukan no.1 di Indonesia sih, tapi perusahaan ini juga masuk 5 besar perusahaan berpangaruh di Negara ini.


***


"Ana!" Juana menoleh mencari siapa yang memanggilnya. Seorang laki-laki dengan baju kotak-kotak, celana jeans biru dan sebuah ransel di bahunya berlari ke arah Juana.

__ADS_1


"Oh, kak Radit! Ada apa, kak?" Juana melihat Radit tak mengerti.


"Kamu tadi kemana? Aku cari-cari di kelas sama kantin gak ada, eh malah ketemu di sini," gerutu Radit, pria tampan berlesung pipit melihat Juana dengan nafas yang masih tersengal.


"Oh, aku tadi ke perpus, kak. Ada tugas, jadi ya gitu deh. Hehehe... Ada apa, kak? Tumben nyari aku. Biasanya juga, dah sama mbak Lia."


Radit tersenyum masam, ia menggosok tengkuknya dan menunduk.


"Lia lagi ngambek, An. Karena itu aku cari kamu."


' Jadi itu alasannya, kak? Makanya kakak ke sini cari aku. Aku terlalu berharap rupanya. ' Juana terseyum dan memandang wajah Radit. Tangan rampingnya, menarik Radit untuk duduk di kursi taman. Radit menurutinya.


" Kak, cerita dong kenapa kak Lia marah sama kakak." kata Juana sambil duduk menyamping agar dapat melihat Radit, saat mereka berbicara. Ya, begitulah. Setiap kali Radit dan pacarnya bertengkar, Juana akan menjadi pendengar yang baik bagi Radit dan menjadi pemberi solusi bagi laki-laki pemilik tinggi 189cm itu.


"Jadi, ehm... Lia kemarin mengajakku ke...hotel..." lanjut Radit dengan menyebut kata "Hotel" sangat lirih, tapi masih di dengar jelas Juana. Hati Juana serasa tercubit. Juana berusaha menetralkan jantungnya, memasang wajah biasa saja. Tapi ia menekuk erat jari-jari kaki di dalam sepatunya, ia tak mungkin mengepalkan tangannya. Ia tak mau Radit melihat aneh padanya.


"ehm... Lalu?" Juana menelan ludahnya, membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Agar suara yang keluar bisa senormal biasanya.


"Kami... tidak sampai melakukannya. Karena aku hanya mau melakukan sampai akhir, saat kami sudah menikah."


"Lalu?" kini Juana sudah bisa menguasai jantungnya. Ia bertanya santai pada Radit, sambil mengotak ngatik ponselnya.

__ADS_1


" Ya, dia mengajakku ke sana karena katanya..." Lagi Radit ragu mengatakannya pada Juana.


"Kak, kenapa sih kok ngomongnya kayak jalanan sudirman? Macet, jalan, macet, jalan... bosen, tahu!" gerutu Juana.


"Hehehe... Maaf, maaf... ehm tapi Lia bilang, alasan dia ngajak kakak ke sana, karena takut kehilangan kakak." lanjut Radit sambil bersandar malas dan memandangi danau buatan di depannya. Sebuah danau yang ada di area kampus.


"Lho, kak... Emang kakak ada yang lain gitu? Atau kakak dijodohin?" Kini perhatian Juana kembali ke arah sahabatnya itu.


"Nggak dua-duanya. Tapi, dia takut... kalau aku ninggalin dia karena kamu." Jawab Radit sambil memandang Juana dengan ekspresi tak bisa diartikan.


Deg


Jantung Juana berdebar. Hening. Mata Juana bertemu mata Radit. Tiba-tiba... Juana tertawa, ia melihat ke arah lain dan tertawa dan mengeluarkan air mata.


'Mana mungkin, kak Radit bisa kumiliki.' batinnya.


"An! Kok ketawa sih?" Runtuk Radit, tadi ketika Juana sempat diam, ia hampir percaya perkataan kekasihnya, Lia. Tapi, kini Juana seperti menertawakannya karena begitu bodoh percaya dengan ucapan cemburu wanita pujaannya.


Juana berbalik, menghapus air mata yang sempat turun.


"Ah, maaf.. srrt...srrt... Habis kakak lucu banget. Aduh, kak sampe air mataku keluar nahan geli. Perutku juga sakit. ih... kakak ini!" Juana bersandar dan mengusap perutnya. Radit yang melihat itu, menghela nafas lega.

__ADS_1


"Ah, syukurlah. Aku pikir kamu beneran suka sama aku. Hampir aja aku marah sama kamu, An.. sorry ya..." Radit mendorong pelan bahu Juana.


'Aku memang mencintaimu dari aku kecil, kak' batin Juana. Tapi ia mengeleng gelengkan kepalanya dan tersenyum paksa, sambil menunduk dan mengotal ngatik lagi ponselnya.


__ADS_2