Bila Cinta

Bila Cinta
Sah


__ADS_3

Juana menatap sahabatnya itu. Ada rasa iba di hatinya.


" Kak, aku..."


" Na, tolong aku. Pleaseee..." Potong Radit memelas.


Juana menghela nafasnya berat. " Kak, baiklah." Bibir Radit merekah.


" Tapi..." lanjut Juana, " Aku tak bisa memberitahu Ayah. "


" Kenapa, Na? Dia kan orang tua kamu." Tanya Radit. Juana hanya tersenyum getir dan membuang matanya ke arah lain.


" Na, ada apa?" Ada nada cemas dan kuatir pada suara Radit.


" Aku, sebenarnya sudah lama keluar dari rumah Ayah, kak. " Jawab Juana tertunduk. Radit tersentak mendengarnya.


" Tapi, kenapa?" selidik Radit.


Juana hanya menggeleng tanpa menjawab pertanyaan Radit.


" Kalau gitu, nanti siapa yang antar kamu ke altar? "


" Sudahlah, kak. Aku yang urus itu nanti. " Jawab Juana dengan senyuman.


Akhirnya, hari itupun tiba.


Dibantu keluarga Merlita, Juana bersiap-siap. Pada awalnya Merlita tidak menyetujui tindakan Juana. Tapi, demi kebahagiaan sahabatnya, Merlita pun mengalah.


Mama Merlita telah selesai membantu Juana merias wajahnya bersama dengan penata rias yang ia panggil. Juana tampak cantik dengan gaun pengantin berwarna putih dan penutup kepala, tanda kesuciannya masih terjaga.


" Nak, jadilah istri yang baik dan taat pada suamimu, ya? Aku yakin bundamu bahagia melihatmu dari surga, sayang. " Hibur Lin Mei (mama Merlita) yang sejak tadi melihat Juana murung. Tangan wanita paruh baya itu menarik tangan Juana dan memeluknya.


Juana terisak dalam pelukan wanita yang ia anggap sebagai pengganti bundanya itu.


" Ssshh...hei! Jangan nangis sayang. Lihat, make upnya luntur nanti, " ucap Lin Mei dan mulai memperbaiki make up Juana.


tok...tok...

__ADS_1


ceklek


" Hai, pretty bride! Are you ready? " Goda Merlita sambil menaik turunkan alisnya. Tak lama, Darwin (papa Merlita) ikut masuk dalam kamar Juana.


" Wohoo... Putriku cantik sekali. Papa jadi berat kasih kamu ke calonmu itu. " Kata Darwin cemberut.


" Terus kalau gak di kasih ke Kak Radit? " Celetuk Merlita.


" Ya, aku bikin anak laki-laki sama mama kamu. Jadi, Juana bisa terus jadi anak papa." Jawab Darwin enteng. Wajah Lin Mei merona malu mendengar ucapan suaminya.


Merlita dan Juana tertawa mendengar obrolan receh keluarga sahabatnya itu.


" Pa, Papa sama mama akan tetap jadi papa mama Juana. Ayah kandung Juana sudah membuang Juana. Sekarang, papa Darwin dan mama Lin Mei adalah orang tuaku. Terima kasih banyak. Karena sudah menerima Juana. Maafkan Juana, kalau sering membuat kalian cemas...."


" Sshhh... Dengar, nak. Kita keluarga. Walaupun tidak sedarah, kamu adalah anak kami. Sampai kapanpun itu, sayang. Benarkan, pa? " Potong Lin Mei. Darwin mengangguk mantap dan bersama istrinya ia memeluk Juana.


" Ikutt!" rengek Merlita. Mereka tertawa sambil berpelukan.


" Sudah, sudah. Sekarang, kita berangkat. Kita telat nanti." Darwin melihat sekali lagi wajah Juana dan menyuruh Lin Mei menutup kerudung Juana yang tadi sempat dibuka Juana.


" Ayo, berangkat!" Ajak Darwin. Lin Mei dan Merlita membantu Juana berjalan.


Darwin menggandeng Juana menuju altar. Di mana, Radit telah menunggunya sedari tadi dengan gelisah. Ya, ia takut Juana akan mundur dan tidak bersedia menikah dengannya.


Senyum Vina mengembang melihat putri sahabatnya kini berada di samping anaknya mengucap janji suci pernikahan.


" Apakah Anda, saudara Raditya Mahesa, menerima Amanda Juana sebagai istrimu saat suka maupun duka, saat sakit ataupun sehat, saat kaya ataupun miskin, bersedia dan bersumpah setia, mencintainya dan melindunginya dengan segenap hatimu sampai maut memisahkan kalian? " Ucap Pendeta.


" Saya bersedia." Sahut Raditya.


Bisik-bisik tetangga mulai terdengar.


" Lho, kok bukan Lia Amalia putri Tuan Danuarta?


" Iya, undangannya namanya Lia. Kok, orangnya lain."


Juana tertunduk, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Pendeta bahkan harus mengulangi pertanyaannya dua kali. Radit mulai gelisah, tapi ketika mendengar suara Juana akhirnya menjawab ; " Saya bersedia." Hatinya terasa lega.

__ADS_1


Radit yang sudah disahkan pendeta sebagai suami Juana, dengan gugup membuka kerudung Juana. Wajah cantik Juana kini terlihat jelas di depan matanya. Jantungnya berdebar tak menentu.


' Kenapa aku ini?' batin Radit. Lamunannya terpecah ketika sang pendeta memberinya ijin mencium mempelainya. Perlahan Radit mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Juana.


Selesai pemberkatan mereka semua berfoto. Vani mendekati Juana. " Nak, kenapa bukan Hermawan yang mengantarmu ke altar? "


Juana tersenyum getir, ia masih tak ingin menceritakan keadaan keluargamya pada orang lain.


" Ehm, tidak apa-apa, tante. Papa Darwin sudah Juana anggap papa Juana sendiri. Jadi, tidak masalah." Jawaban Juana belum dapat diterima Vina. Namun, sekarang bukan saat yang tepat karena banyak tamu yang harus ia sambut setelah ini.


Acara resepsi diadakan di sebuah hotel milik keluarga Radit. Banyak tamu undangan terkejut karena sang mempelai tidak sesuai dengan yang tertulis di undangan. Bahkan, fotonya pun berbeda. Tapi, hanya sedikit yang menanyakannya.


Selesai resepsi, Juana segera dibawa Merlita ke kamar hotel yang sudah disiapkan Vina, mertuanya.


" Na, gimana? Apa lo bahagia? " Tanya Merlita ketika ia membantu sahabatnya itu melepas semua aksesoris dan melerai rambutnya yang tadi sedikit disanggul.


" Entahlah, Mer. Aku tidak tahu. Sekarang, aku gak tahu gimana perasaanku. " Lirih Juana. Air mata kembali menetes membasahi pipinya.


" Na, kalau kamu mau mundur, aku..."


" Mer, aku sudah sah istri kak Radit di hadapan Tuhan dan negara, aku gak mungkin mundur lagi. Pernikahan itu suci. Bukan mainan..."


" Tapi, Na. Kalau kamu gak bahagia, gimana? Aku..."


" Mer, aku tetap harus jalani semuanya. Karna buat aku, pernikahan itu sekali seumur hidup. Kebahagiaan itu, saat kamu bersedia menerima keadaanmu dengan lapang dada."


" Oke, oke... Sekarang mandi aja dulu. Aku pergi, ya. Telpon aku kalau ada apa-apa, oke?" Pamit Merlita dan diangguki Juana. Setelah cipika cipiki, Merlita keluar dari kamar Juana enggan. Ia masih tak rela sahabatnya menikah dengan laki-laki yang tak mencintainya.


Juana sudah memakai baju tidurnya, tapi Radit belum juga ke kamar.


" Aku tidur aja, deh. Mungkin kak Radit sungkan. " Juana membaringkan tubuh lelahnya dan menarik selimut. Tak lama alam mimpi menyapanya.


Dini hari, Radit diam-diam masuk ke dalam kamar Suite, yang telah dipesan mamanya untuk malam pertama yang sedianya untuk pernikahannya dengan Lia. Tapi, takdir berkata lain.


Radit perlahan mendekati tempat tidur di sisi istrinya, Juana. Begitu pulasnya sahabat cantiknya itu tertidur.


" Na, maafin aku. Aku masih belum bisa menerimamu sebagai seorang wanita dan istriku. Beri aku waktu, ya. Aku harap, aku bisa membuka hatiku untukmu. Maaf, karena aku sudah menyeretmu dalam situasi ini." Gumam Radit. Ia tak menyadari, bahwa wanita yang telah menjadi istrinya itu, telah terjaga ketika ia membuka pintu kamar.

__ADS_1


Radit masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Sementara Juana, air matanya mengalir bebas di pipinya.


__ADS_2