
Pagi menyapa dengan mentari yang bersinar begitu indahnya. Juana sudah selesai membersihkan diri dan berganti baju. Ia duduk di depan kaca dengan tas kecil di atas meja di depannya. Polesan tipis bedak dan lip glos sesuai warna bibirnya sudah cukup membuatnya terlihat segar dan cantik.
Radit yang baru saja bangun, langsung menuju kamar mandi tanpa menoleh atau berkata apapun walau sekedar menyapa istrinya yang duduk memperhatikannya.
" Kak, kenapa begini?" Lirih Juana. Air mata mulai berancang-ancang keluar. Tapi dengan cepat Emy menghapusnya dengan tissue. Juana berdiri lalu merapikan tempat tidur dan menata kembali bajunya ke dalam koper.
" Kamu ngapain?" Tanya Radit tiba-tiba yang masih memakai jubah mandinya, mengagetkan Juana yang sedang merapikan kopernya.
" Oh, cuma ngerapin koper, kak. Kita balik hari ini, kan?"
" Hmm." Radit kembali masuk kamar mandi setelah mengambil bajunya.
" Ayo! Biarkan kopernya di sini. Nanti pak Jum yang bawa ke mobil. Mama sudah tunggu di restoran. Kita sarapan dulu." Setelah mengatakan itu, Radit langsung pergi meninggalkan Juana di belakang. Juana menyambar tas kecilnya dan berjalan cepat menyusul suaminya.
" Kok lama banget, sih?" Gerutu Radit saat Juana sudah berada di dekatnya menunggu lift.
" Maaf, kak."
ding
Pintu lift terbuka. Radit segera masuk diikuti Juana. Tak ada pembicaraan di antara keduanya.
ding
" Ayo!" Radit menarik tangan Juana kasar saat pintu lift terbuka. Langkah Radit yang lebar dan cepat begitu sulit diikuti Juana. Berulang kali wanita bertubuh kecil itu terjungkal. Tapi, tampaknya Radit tak mempedulikan itu.
" Hai, ma! Sudah lama nunggu?" Sapa Radit ramah pada Vina. Vina tersenyum lebar melihat putranya menggandeng istrinya begitu erat saat mendekatinya di restoran.
" Hai, sayang. Mama baru kok. Ya kan, pa?" Ucap Vina dan di angguki Johan yang duduk disampingnya tersenyum.
" Ayo, duduklah." Kata Johan. Radit segera mengambil posisi di depan papanya sedang Juana di depan mama mertuanya.
" Mau makan apa, nak?" Tanya Vina pada Juana.
" Apa aja, ma." Jawab Juana tersenyum. Vina mengangguk dan memanggil pelayan lalu memesan beberapa lauk yang tak begitu dimengerti Juana.
" Na, kamu sekarang magang, ya?" Tanya Johan memulai pembicaraan dengan menantu yang baru ia temui 3 kali ini.
" Iya, pa. Saya lagi magang."
" Di mana?"
__ADS_1
" Di Burhan Law and Firm, pa," Jawab Juana sambil menegak minuman yang baru saja disuguhkan pelayan
" Burhan Law and Firm?"
Juana mengangguk.
" Wah, hebat! Metha pasti bangga sama kamu." Puji Johan sambil mengacungkan jempolnya.
" Emang kenapa, pa?" Tanya Vina. Radit hanya terdiam dan melirik istrinya yang mulai sibuk dengan ponselnya. Ia tahu bagaimana reputasi firma hukum satu itu. Ia baru tahu kalau istrinya bekerja disitu sebagai pegawai magang
" Itu firma hukum terhebat, ma. Dari sana banyak banget mencetak pengacara-pengacara hebat. Dan masuk ke sana juga sulit banget, ma. Walaupun lewat koneksi, tetap harus tes dulu."
Vina mengangguk mengerti. Dia merasa bangga dengan Juana. Melupakan tujuannya untuk menanyakan Hermawan, ayah Juana.
" Wah, Na. Kamu hebat!" Puji Vina. Juana mendongak dan hanya tersenyum.
" Semua berkat Tuhan, ma. Juana hanya belajar dan mencoba." Jawab Juana merendah. Karena memang begitulah kenyataannya. Demi impiannya ia belajar mati-matian dan rela menukarnya dengan jam tidurnya.
" Sampai kapan magangnya?" Tanya Johan lagi.
" Sampai pertengahan Februari, pa. Karena Juana Wisuda Februari akhir."
" Masih 5 bulan lagi, ya? Hmm... Aku yakin kamu bisa, nak."
Selesai sarapan, Radit segera pamit untuk langsung ke apartemennya.
" Lho, gak kerumah dulu?" Tanya Vina.
" Nanti Radit pasti sering nengokin mama kok."
" Ya, setidaknya 1 atau 2 bulan tinggal di rumah gitu, Dit." Ujar Vina sedih.
" Sudahlah, ma. Mereka kan pengantin baru. Jadi, pengen sendiri. Masa, mama lupa? " Goda Johan. Vina memukul lengan suaminya dan tersenyum kecil. Sementara Juana menipiskan bibirnya dan Radit hanya menampakkan wajah datar.
" Ya, sudahlah. Kalian sering-sering nengokin mama, ya?" pinta Vina.
" Iya, ma. Kami berangkat dulu, ya?" Pamit Radit diikuti Juana. Radit memegang pinggang Juana mesra dan membukakan pintu mobil untuk Juana.
' Dia pintar sekali berakting!' Batin Juana.
Tak ada pembicaraan selama 45 menit mereka berkendara.
__ADS_1
" Ayo, turun!" Ajak Radit. Ia segera mengeluarkan 2 koper dari dalam bagasi dan memberikan 1 koper pada Juana. Radit berjalan lebih dulu sambil menyeret kopernya. Juana harus setengah berlari karena kakinya yang pendek tak bisa mengimbagi langkah suaminya.
Sampai di dalam lift, Juana harus mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Tapi Radit tak mengacuhkannya.
tit..tit..tit
Radit menekan beberapa nomor di depan pintu.
ceklek
" Masuklah!" Radit menggeret kopernya dan langsung masuk ke dalam kamar lalu menutupnya.
Juana berdiri di tengah apartemen. Melihat sekeliling apartemen mewah milik suaminya. Setelah pintu masuk, di sebelah kanan ada ruang makan dan di sebelah kiri dapur. Lalu ada ruang tamu dengan LED TV yang besar dan sofa besar yang pastinya mahal. Di sebelah ruang makan ada sekat berupa rak buku yang tinggi hingga ke plafon. Di balik sekat ada mini bar. Di depan mini bar terletak kamar Raditya.
" Na!" Panggil Radit. Menghentikan mata Juana mengedar lebih lagi. Radit berdiri dipintu kamarnya
" Ya, kak." Jawab Juana yang masih berdiri dengan kopernya di antara ruang makan dan ruang tamu.
" Itu kamarmu, dan itu kamar mandinya." Jelas Radit lalu kembali masuk dalam kamar. Juana mengangguk lalu melangkah menuju kamar yang ditunjukkan Radit. Kamar itu disisi kanan mini bar dengan kamar mandi diantaranya.
" Apa yang kuharapkan? Aku tahu ia tak kan mau berbagi kamar denganku." Gumam Juana setelah ia masuk dalam kamar dan duduk di atas tempat tidurnya.
tok..tok..
" Na!" panggil Radit.
" Iya, kak!" Juana segera berdiri dan membuka pintunya.
" Ada apa, kak?" Tanya Juana. Ia melihat Radit sudah rapi dengan setelan jas, kemeja dan dasi.
" Aku ke kantor. Kamu kalau mau makan pesan aja dulu, ya. Ini ATM buat kamu belanja terserah kamu. Oke? Aku pergi dulu. Gak usah tunggu aku."
Radit segera beranjak pergi. Juana berlari kecil mengantar suaminya hingga pintu.
" Hati-hati di jalan, kak. Semoga harimu baik." Ucap Juana tersenyum. Radit menoleh dan mengangguk tanpa ekspresi lalu berjalan masuk lift.
" Semoga kau juga mau membuka hatimu untukku, kak." Ucap Juana setelah ia melihat pintu lift tertutup.
Juana melihat kartu ATM pemberian Radit. Ia mengecek persediaan di dapur. Tak ada apapun. Karena ini adalah apartemen tempat Radit biasa istirahat jika ia lelah dengan pekerjaan kantor. Dan, ia jarang pulang ke apartemen itu. Jadi, wajar tak ada persediaan bahan makanan di sana. Hanya ada air mineral dan mi instan.
Di dalam mobil yang ia hentikan di depan apartemennya, Radit melihat keatas. Dimana, ia membawa Juana tinggal.
__ADS_1
" Maafkan aku, Na. Aku masih belum bisa menerimamu sebagai istriku." Gumamnya.
Sebenarnya ia mempunyai sebuah rumah yang ia bangun sebagai hadiah untuk Lia setelah mereka menikah nantinya. Tapi, semua gagal. Ia juga tak mau membawa Juana kesana. Karena menurutnya rumah itu hanya untuk wanita yang ia cintai. Dan, Juana bukanlah wanita itu.