Bila Cinta

Bila Cinta
Hanya Numpang


__ADS_3

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Kini 6 bulan sudah Juana tidak bertemu Radit. Walau merasa kehilangan, Juana selalu berusaha menutupinya dengan kesibukan dan senyuman. Ya begitulah Juana, ia tak kan menampakkan isi hatinya pada orang lain. Bukan karena gengsi, tapi ia tak ingin mengacaukan hari orang lain. Cukup ia sendiri yang merasakan.


Merlita selalu mengunjungi Juana di tempat kerjanya. Menunggu beberapa jam sambil menikmati nikmatnya ayam goreng dan burger.


" Mer, lo gak bosen apa, makan itu terus tiap hari?" Tegur Juana.


" Eh, harusnya lo itu seneng. Dagangan lo laris, eh.. kok lo malah protes?" sahut Merlita yang asyik menikmati makanannya.


" Gue sih seneng-seneng aja, cuman gue kasian ama perut lo. isinya JUNK semua!"


Mata Merlita mendelik sementara Juana dengan wajah tanpa dosanya balik menatap Merlita seolah matanya berkata " Tu liat depan lo!"


" Astaga!" seru Merlita. Ia memandang tak percaya tumpukan tulang ayam dan bungkus burger yang menumpuk di mejannya.


" Hihihi... belum makan 3 hari bu..." kilah Merlita.


***Buk...


Aauuww***...


Timpukan celemek Juana berhasil mendarat di kepala Merlita.


" Lo, kagak makan 3 hari? Trus yang 5 hari berturut-turut pesan ke gue, trus makan ampe kagak ada sisa, ITU SAPA? Setan?" Cerocos Juana.


" Waduh, lo bener-bener ya, Mumun! Ngatain temen yang cantik jelita tiada tara, body aduhai gini, setan," dengus Merlita.


" Tuh si cantik jembatan Ancol body ama mukanya sama ama lo..." Juana segera berlari kembali ke balik counter, meninggalkan Merlita dengan bibir mengerucut.


tring..


Bel pintu masuk restoran cepat saji kembali berbunyi. Juana sedang menghitung penjualan hari ini, saat suara yang familiar tertangkap radar pendengarannya.


" Yooo... siapa ini? Nona Amanda Juana, hmm... Jadi elo pelayan di sini? Ckckck..." Wanita dengan baju sobek di sana-sini bersandar santai di counter dan tersenyum sinis. Juana membuang nafasnya kasar, memasang senyum dan bersiap melayani wanita itu.


" Selamat malam, mau memesan apa?" Tanya Juana sopan.

__ADS_1


" Hmm... Sayang, gimana kalo kita beli aja resto ini, hmm?" rayu wanita berambut ikal itu mesra pada laki-laki di sebelahnya.


" Lia! Cukup! Jangan kayak anak kecil," sergah Radit.


" Radit! Kamu belain cewek miskin kayak dia?!"


" Diam!" Bentak Radit lagi. Menolah ke arah Juana, Radit tersenyum.


" An, maafin ya, gue pesan paket Hot Deal 1 tambah french fries yang large 2, ya?"


Juana tersenyum dan mengangguk, melayani pesanan lelaki yang ia rindukan selama ini.


Geram dengan sikap Radit, Lia segera beranjak dan duduk di meja terjauh. Ingin rasanya ia keluar dari resto itu, tapi, ia yakin itu akan memperparah kemarahan Radit. Mau tidak mau ia harus mengalah.


" Ok, Mau makan sini atau bawa pulang?"


" Makan sini aja."


" Ok, semua 170rb"


Juana menerima dan memberi kembalian pada Radit. Juana dan Radit mengobrol sebentar sembari Juana menyiapkan pesanannya. Semua tak lepas dari netra Lia dan membuatnya semakin terbakar api cemburu.


" Ini sayang... ayo kita makan!" Ajak Radit tanpa melihat mata Lia yang memandangnya curiga. Radit menatap balik kekasihnya. Ia tak tahu apa yang ada di dalam pikiran pujaan hatinya sekarang.


" Ada apa lagi?" Tanya Radit malas dan mulai mengigit ayam goreng. Tanpa menjawab, Lia pun melahap burger dan kentang goreng dengan kesal. Radit tak ingin berdebat. Ia sengaja mengacuhkan tingkah Lia hingga membuat wanitanya itu semakin kesal.


Buk


Lia melempar burgernya ke atas piring Radit. Ditatapnya lelaki yang sudah di pacarinya selama hampur 3 tahun itu dengan kesal.


" Radit! Kamu itu sebenarnya sayang gak sih sama aku?"


Bosan dengan pertanyaan yang sama setiap kali bertengkar dengan Lia, Radit juga melempar burger yang sempat akan masuk ke mulutnya ke atas piring. Meraih jaket dan kunci mobil, Radit meninggalkan Lia yang terbengong dengan sikapnya.


" Radit!" Panggil Lia. Ia segera berlari menyusul kekasihnya, tapi yang ia lihat adalah mobil Radit yang melaju meninggalkannya di halaman resto.

__ADS_1


" Aaaarrghhh... Semua selalu karena Juana! Aarrghhhh..."


" Hei, mak lampir! Enak aja lo suka nyalahin orang. Kan lo sendiri yang salah!" tegur Merlita, yang kebetulan juga keluar menuju parkiran.


" Hei! Lo kagak usah ikut campur urusan gue, ya! Emang lo siapanya si Juana murahan itu? hah?!" sergah Lia


" Sekate-kate lo, yang murahan itu elo! Emang Juana ngelakuin apa ke elo? Hah?! Lo ditinggal kak Radit, bukan karena Juana, tapi karena sikap elo yang kayak celengan cempreng, berisik, tau gak?!" Balas Merlita. Puas dengan luapan amarahnya, Merlita segera kembali ke dalam resto dan menunggu jam kerja Juana yang sebentar lagi selesai.


" Awas lo ya, Merlita! Gue bakal bikin lo nangis darah di depan gue!" Teriak Lia.


Di kediaman keluarga Budiarto, Hermawan yang mengetahui fakta bahwa Nadia yang tak memberikan uang bulanan Juana, amarahnya meledak. Nadia dibuat ketakutan olehnya. Selama ia mengenal dan tinggal bersama Hermawan, tak pernah suaminya itu marah besar seperti ini.


6 bulan yang lalu, saat ia menginterogasi Nadia, ia sempat luluh dan mempercayai setiap kata dari wanita yang sudah bersama dengannya lebih dari 20 tahun itu. Tapi, secara diam-diam ia meneruskan penyelidikannya. Dan hasilnya, ia tak dapat lagi menahan amarahnya.


" Ayah... maaf, maafin aku, Yah...hiks hiks.." Nadia terisak dan memeluk pinggang suaminya, berharap Hermawan mau berhenti menghancurkan perabot rumah.


" Dasar kau mata duitan, ya?! Berani-beraninya kamu ambil uang itu! Jangan lupa kamu itu HANYA NUMPANG kekayaan Juana, Nadia!"


Nadia yang mendengar itu melepas pelukannya dari pinggang suaminya.


" A-apa maksudmu numpang? Semua ini sudah jadi milik kita dan anak-anak kita, Apa maksudmu numpang, Ayah?!" Mata Nadia melebar menatap suaminya meminta penjelasan.


" Apa kau pikir setelah kau memperlakukan Juana seenak perutmu, dia tidak akan menuntut haknya atas kekayaan Bundanya? Hah?! Pikir dong, pikir! Aku kasi dia uang, supaya dia masih mikir kalo aku masih merhatiin dia, supaya posisi aku aman! Kamu tahu, gak?!" Sorot tajam dan telunjuk Hermawan kini tepat di depan Nadia.


Mendengar penjelasan Hermawan, Nadia jatuh terduduk dengan lemas. Ia tak menyangka, perbuatannya justru membuat posisi suami dan dirinya terancam.


" Ta-tapi Ayah, ki-kita sudah mencoret dia dari kartu keluarga. Jadi ia tak punya hak lagi." Bela Nadia.


" Kau itu memang bodoh! Aku heran, kenapa aku bisa jatuh cinta dengan wanita sebodoh kamu!"


" Apa kau bilang?! Dengar ya, Hermawan, wanita bodoh ini sudah melahirkan 2 anak buat kamu!"


Hermawan menatap sinis istrinya. Mengambil kunci mobil lalu pergi. Nita yang sejak tadi mendengarkan, berlari turun dan memeluk ibunya.


" Bun, terus gimana ini? Kalo Juana nuntut haknya, trus aku sama Dimas gimana, Bun?" rengek Nita. Semakin pusing dengan rengekan putri pertamanya, Nadia segera pergi dan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2