Bila Cinta

Bila Cinta
Akan Bercerai


__ADS_3

Raditya POV


2,5 bulan lalu selesai memeriksa berkas-berkas dan proposal, aku memutuskan untuk keluar mencari makan siang. Kuputuskan untuk pergi ke Cafe dekat kampus dulu. Aku kangen dengan masakannya.


Aku melahap makanan didepanku. Belum selesai aku menikmati makananku, aku melihat seseorang yang aku rindu sedang berdiri di trotoar menelepon seseorang.


Kuhampiri dia setelah kubayar makananku. Betapa terkejutnya aku saat melihatnya di dekatku. Kupeluk dia dan kukatakan betapa aku sangat merindukannya.


" Dit! Kamu?" Panggilnya


" Lia, kemana kamu selama ini? Kenapa kamu ninggalin aku?" Tanyaku. Airmataku deras mengalir. Tangannya begitu lembut menghapus jejak air mataku.


" Maaf, panjang sekali ceritanya." Ucapnya.


Kubawa wanitaku itu masuk ke dalam mobil. Aku begitu bahagia menemukannya. Sampai di pantai Anyer, aku dan dia mulai bercerita.


Dia pergi karena Bram yang dulu menyukainya mengancam akan menghancurkan perusahaan Ayahnya jika ia menikah denganku. Ia terpaksa menuruti laki-laki brengsek itu dan menjadi istrinya. Namun, baru 2 bulan menikah, Bram sudah meninggalkannya dan mengusirnya.


Aku begitu geram mendengarnya. Aku akan pastikan laki-laki itu akan mendapat balasannya.


Sejak saat itu sepulang kantor aku menghabiskan waktuku bersamanya. Aku kasihan pada Juana, tapi aku tak bisa menahan perasaanku. Aku masih mencintai Lia.


Selama 2 bulan ini aku sudah kembali bersama Lia. Masa-masa bahagia kami seperti dulu telah kembali.


Namun, setiap aku mengantarnya pulang, ada rasa berat di hatiku untuk melepasnya. Ingin kumiliki dirinya sepenuhnya, tapi aku tak bisa. Aku sudah menikah, dan tak mungkin lagi aku menikahinya.


Setiap kali Lia mendesakku untuk menikahinya. Keluarganya, terutama kakaknya menolak hubungan kami karena aku sudah beristri.


Dilema menderaku. Aku pun tak bisa menceraikan Juana. Ia yang sudah begitu baik padaku dan kini...


Ahhh... sungguh aku bingung. Akhirnya, aku putuskan membawa Lia ke rumah yang kubangun untuknya dulu. Aku selalu menemani kekasih hatiku di sana. Menikmati kebersamaan kami yang tertunda. Kami terpaksa diam-diam menjalani hubungan.


Kemarin, saat aku bersama Lia di rumah kami, aku menerima sms dari Juana bahwa ia akan wisuda. Aku tak tahu harus berkata apa padanya. Lia akan marah jika aku bersama Juana.


Lia harus pulang ke rumah orang tuanya hari ini. Jadi, aku memutuskan kembali ke apartemen. Sudah 5 hari aku tak pulang.


Sampai di apartemen, Juana ternyata belum tidur. Entah kenapa, dia masih saja baik padaku. Kutolak tawarannya membuatkanku kopi, walau aku ingin sekali menyesap kopi buatannya yang terasa pas di lidahku. Rasa bersalahku semakin besar padanya dan membuatku kian jauh dari gadis yang selalu ada buatku itu.


Flashback off


Selesai memasak sarapan untuk Radit dan dirinya, Juana segera memanggil suaminya.


Tok...tok..

__ADS_1


" Kak! Sarapan sudah siap!" Panggil Juana


ceklek


" Hmm, ayo makan!" Ajak Radit. Juana berjalan mengikuti suaminya.


Sebagaimana layaknya tugas istri, Juana mengambilkan makanan untuk Radit.


Tak ada pembicaraan selama mereka sarapan. Hanya dentingan piring dan sendok. Selesai sarapan, Juana membuatkan suaminya itu kopi.


Melihat suaminya sudah rileks dan membaca koran, Juana memberanikan diri bertanya.


" Ehm, kak. Apa aku boleh tanya?" Tanya Juana ragu.


" Hmm,"


" Kak, aku besok wisuda, apa besok kakak bisa datang?"


Radit membeku. Lidahnya kelu tak tahu bagaimana ia menjawab pertanyaan Juana.


" Ehm, kak. Gak papa kok kalau gak bisa. Aku cuma tanya aja. Hehehe..."


Rasa bersalah Radit kian bertambah. Ia menyesap habis kopinya dan kembali masuk ke kamarnya. Tak lama, ia sudah keluar dan berpamitan.


" Aku berangkat dulu ya, Na." Pamit Radit tanpa melihat Juana.


Juana mengerti, Radit tak mungkin datang ke acara penting untuknya. Karena buat Radit, ia hanyalah aksesoris.


Belum sampai Radit menutup pintu, Radit berhenti.


" Maaf, Na. Aku gak bisa datang. Maaf, ya." Kata Radit.


" Eh, iya kak. Gak apa apa...heee.." Jawab Juana menahan tangisnya. Radit telah menghilang di depan pintu.


Juana tak bisa lagi menahan kesedihannya. Ia masuk ke kamar dan menumpahkannya di sana.


Beberapa saat kemudian, ia pergi ke kamar mandi, membasuh wajahnya dan berdandan tipis.


Juana memesan ojek online dan berangkat ke kantornya. Sesampainya di kantor. Ia tak langsung masuk ke ruangannya tapi ke ruang seniornya.


Tok..tok


" Masuk!"

__ADS_1


Juana membuka pintu kaca itu dan masuk. Membungkuk sedikit dan duduk setelah ia melihat isyarat tangan seniornya.


" Ada apa, Na? Jangan bilang kamu mau minta cuti..." Goda Devina. Seorang wanita berusia 40-an yang elegant. Ia memutuskan tak menikah setelah kematian suami yang sangat ia cintai 2 tahun yang lalu.


" Hahaha... gak, kak. Aku, aku mau minta tolong, kak." Sahut Juana ragu.


" Minta tolong..." Devina mengangkat alisnya tak mengerti.


" Aku... sepertinya akan bercerai, kak." Jawab Juana menunduk dan mulai menangis. Ia terus berusaha menghindari kata "Cerai" karna sangat bertentangan dengan keyakinannya tapi, ia juga tak mau egois. Ia tahu suaminya tak nyaman bersamanya.


" Na, kenapa kok tiba-tiba?"


" Tidak apa-apa, kak. Hanya saja, jika itu terjadi. Bi-bisakah kakak yang mengurusnya untukku?"


" Apa karena suamimu berselingkuh, Na?"


Pertanyaan yang menghujam tepat di hatinya


" Ka-kakak..." Juana menatap Devina bingung


" Karna aku sering melihatnya, Na. Dia dan selingkuhannya tinggal satu kompleks denganku. Dia gak tahu aku. Tapi, aku tahu dia suamimu karna aku juga datang kan ke pestamu." Jelas Devina.


Tinggal serumah? Hati Juana serasa hancur mendengar itu. Ternyata pengorbanannya tak pernah dihargai laki-laki yang begitu ia cintai itu. Laki-laki itu telah benar-benar menghancurkannya.


" Aku bersedia menjadi pengacaramu, Na. Katakan saja kapan kamu mau melakukannya, ya? " Jawab Devina seraya memegang tangan Juana. Gadis itu mengangguk mengerti. Ia berpamitan dan kembali ke ruangannya.


Semua mata memandangnya. Karena mata yang sembab dan wajah yang pucat.


" Na, kamu kenapa?" Tanya Bima


" Iya, ada apa, Na? " Tanya Desya.


Kedua rekan magang Juana yang sangat baik padanya. Bahkan, saat Nita dan Dimas, kedua saudara tirinya itu mengganggunya ketika mereka bertemu di sebuah cafe saat makan siang, kedua orang itulah yang membelanya.


" Gak papa. Cuma lagi kangen bunda aja." Lirih Juana. Dan sepertinya kedua rekannya itu percaya.


Menyebut "Bunda" membuatnya rindu sekali akan sosok ibundanya itu. Dipandanginya foto ibundanya yang selalu ia simpan di dompetnya.


' Bunda, mungkinkah aku sanggup menjalani pernikahan seperti ini?' Rintihnya dalam hati.


Malam kembali datang. Juana telah memasak makan malam. Tapi hingga jam 12 malam, yang ia tunggu ternyata tak kunjung datang.


" Mungkin kak Radit sama perempuan itu." Lirihnya lalu memutuskan untuk mencuci muka, menyikat gigi dan memberi sedikit pelembab ke wajahnya lalu berbaring.

__ADS_1


Pagi yang Juana tunggu datang. Subuh ia sudah selesai sarapan, ia bergegas mencuci piring lalu mandi. Merlita sudah menunggunya di lobby.


Pukul 5.30 Juana sudah berada di mobil Merlita yang akan membawanya menuju salon langganan Merlita.


__ADS_2