
Hari baru datang lagi. Juana sudah siap dengan baju kerjanya. Hari ini juga hari terakhir ia bekerja. Selanjutnya ia akan mengambil S2 di Belanda mengikuti keinginan Darwin.
Berat sebenarnya Juana melepas pekerjaan yang sudah ia jalani selama hampir 1 tahun itu. Bahkan, ia sudah menerima surat tawaran bekerja di firma hukum itu. Sebuah firma hukum yang paling terkenal di negara ini. Tapi, ia harus melakukannya. Ia mau menenangkan diri dan menata kembali kehidupannya.
Merlita mengantar Juana ke kantor. Ia bermaksud menunggunya karena ia tahu Juana hanya akan memberikan surat pengunduran diri dan bertemu pengacara perceraiannya, Devina.
" Lo langsung ngantor aja, Mer. Gue habis ini mau ke apartemen kak Radit lagi. Nanti gue WA kalo dah selesai. Gimana?" Tawar Juana
" Ya, oke deh. Tapi lo harus hati-hati, ya. "
" Iya... gue kan gak pergi perang, Mer." Jawab Juana lalu membuka pintu mobil dan melambaikan tangannya pada Merlita.
" Pagi, cantik!" Sapa Bima yang baru saja datang.
" Pagi juga, ganteng.." Balas Juana sambil tertawa. Bimo pun ikut tertawa, tapi ia tertawa senang karena ia menanggapi pujian itu dengan serius.
" Bim, aku ke ruangannya bu Devina, ya.." Pamit Juana saat sudah di persimpangan kantor.
" Oke.." Bima melangkah ke kanan dan Juana ke arah sebaliknya.
tok..tok..
" Masuk!"
Juana membuka pintunya perlahan.
" Eh, Na. Ayo, masuk!" Sambut Devina
Juana mengambil posisi duduk dan tersenyum
" Ini, suratnya. Kamu beneran siap, Na? Kamu masih muda lho, Na. Siap dibilang janda?" Tanya Devina
" Iya, bu. Saya hanya gak mau orang yang saya sayangi menderita karena saya. Dia tidak bahagia dengan kehadiran saya di hidupnya. Jadi, saya tidak mau memaksa, bu. Pernikahan kami memang seharusnya gak pernah terjadi." Jawab Juana berusaha tegar, walau air mata sudah mulai terkumpul.
" Saya tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan orang lain, bu." Imbuhnya. Kali ini isakannya mulai terdengar. Devina berdiri dan memutar keluar dari mejanya lalu memeluk tubuh kecil Juana. Beberapa saat lamanya, Juana menangis dalam pelukan seniornya.
" Sudah..sudah... Baiklah, Na. Kalau itu keputusanmu. Terus rencanamu selanjutnya apa?"
__ADS_1
" Saya mau kuliah di luar, bu. Oh, ya. Ini surat pengunduran diri saya. Memang sih saya cuma pegawai magang, tapi saya mau jadi formalitas aja, bu."
" Hmm... Baiklah. Saya akan sampaikan ke Pak Burhan. Ingat, Na! Kamu masih muda. Ini saatnya kamu meraih impianmu. Ya?"
" Iya, bu. Terima kasih. Saya permisi. Mau pamit juga sama yang lain.." Pamit Juana.
" Ok. Silahkan.." Devina mengantar Juana hingga pintu ruangannya dan menepuk bahu Juana memberi semangat.
Di ruangannya, Juana melihat rekan-rekannya sedang sibuk di depan komputer mereka.
" Temen-temen..." Sapanya. Pandangan 2 orang teman Juana akhirnya teralihkan padanya.
" Hari ini, aku mau pamit. Terima kasih banyak, ya... Kalian sudah baik banget buat aku. Maaf, kalau ada salah-salah..." Ucap Juana seraya membungkuk. Kedua rekan Juana saling memandang.
" Kamu bercanda kan, Na? " Tanya Bimo.
Juana tersenyum dan menggeleng. " Aku serius Bim.
" Kenapa, Na? Lo gak suka sama gue ato Bimo?" Selidik Desya.
Juana tertawa mendengar pertanyaan Desya.
" Ooh... suami lo emang ngijinin?" Tanya Desya lagi
" Pastinyalah...." Jawab Juana dengan senyum yang ia paksakan senormal mungkin.
Desya dan Bimo keluar dari meja mereka. Desya memeluk Juana dan mengucapkan selamat. Bimo juga memeluk erat Juana.
" Selamat ya, Na. Hati-hati di sana. Jaga diri baik-baik." Ucap Bimo. Ia begitu berat melepas Juana. Namun, ia tak memiliki hak melarang wanita itu pergi sementara suaminya mengijinkannya.
Juana melepas pelukan Bimo. Ia tersenyum dan memberikan cinderamata berupa ballpoint dengan nama keduanya masing-masing.
" Ini kenang-kenangan dari aku. Aku harap kalian suka. Gak mahal sih. Tapi, aku beli pake tabungan aku. Nih."
" Thanks, Na."
" Thanks, Na"
__ADS_1
Ucap keduanya. Juana membereskan mejanya, berpamitan sekali lagi pada kedua rekannya lalu pergi dengan diantar Bimo sampai ke depan pintu masuk kantor firma itu.
" Good Luck! Wish all the best, Na." Ucap Bimo dan sekali lagi ia memeluk erat Juana dan dibalas tepukan di punggungnya.
" Oke, deh. Bye!" Juana melepas pelukannya dan masuk ke dalam taxi online yang sudah ia pesan. Mata Bimo terus mengantar Juana hingga mobil itu menghilang di balik gedung.
" Relakan, bro! Kalai jodoh, kamu pasti ketemu lagi!" Suara dan tepukan di bahunya membuyarkan lamunan Bimo
" Bu Devina!"
Devina tersenyum dan kembali masuk ke dalam kantor. Bimo sekali lagi melihat ke jalan raya lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam firma tempat ia bekerja dan bertemu wanita yang berhasil mencuri hatinya.
Juana sampai di apartemen. Sebelumnya ia telah berbelanja sedikit bahan makanan di Supermarket dekat apartemen. Setelah menaruh semuanya di dapur, Juana mulai membersihkan seluruh apartemen kecuali kamar Radit yang selalu terkunci.
Mengganti seprei dan sarung bantal lalu mencucinya bersih. Menyapu mengepel dan mengelap perabotan. Selanjutanya, ia mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk masakan terakhirnya bagi Radit sebelum ia pergi.
Juana sudah mengirim pesan pada Radit agar pulang malam ini karena ada yang harus ia bicarakan dan Radit pun menyetujuinya.
Selesai memasak, Juana melihat jam, hampir jam 5.30. Ia segera mandi sekalian membersihkan kamar mandi. Ia juga memakai sedikit bedak dan lip gloss seperti biasa. Dirapikannya semua bajunya dan ia masukkan kembali ke dalam tasnya.
Tak lupa Juana menaruh ATM pemberian Radit di atas toalet kamarnya. Saat ia mengambil dompetnya, tanpa sengaja flashdisk terjatuh tanpa sepengetahuannya.
Juana segera keluar dari kamarnya ketika mendengar suara pintu dibuka.
" Ah, Kak. Sudah pulang. Kakak mandi dulu. Aku siapkan makan malamnya, ya." Ucap Juana. Radit pun masuk dalam kamarnya dan membersihkan diri.
Juana mengambil masakannya di dapur dan menatanya di meja makan. Makan malam kali ini, ada beberapa menu. Cah brokoli, Daging Ayam Bumbu Peking, Daging Sapi Masak Lapis, Sup Asparagus dan Oseng Jamur Pedas.
15 menit kemudian, Radit sudah rapi dengan baju rumahnya.
" Kak, sudah siap makan malamnya." Kata Juana ketika ia melihat Radit sudah keluar kamar dan menutup pintunya. Radit mengangguk dan menuju meja makan.
" Apa yang mau kamu bicarakan, Na? Ini... kok banyak sekali makanannya?" Tanya Radit
" Nanti aja, kak. Kita makan dulu. Ini aku masak khusus buat kakak...hehee.." Jawab Juana sambil mengambilkan Radit makan. Radit menelan salivanya dan mengangguk.
Makan malam mereka seperti biasa tanpa bicara. Tapi, sesekali Radit mencuri pandang Juana. Ia ingin memberitahu Juana tapi tak sanggup.
__ADS_1
Selesai makan malam, Juana mencuci semua peralatan makan lalu membuatkan Radit kopi dan menyuguhkannya. Juana juga duduk di meja makan, kali ini Juana memilih duduk berhadapan.
" Mau bicara apa, Na?" Tanya Radit setelah menyesap kopi buatan Juana.