
" Kak, aku harus balik ke Indonesia. Ada yang harus aku urus di sana. Kakak baik-baik aja ya, di sini. Papa Darwin dan Mama Lin Mei akan menemani kakak selama disini." Kata Juana. Namun, tak ada jawaban yang ia dapat.
Setelah beberapa lamanya ia berada di dalam kamar itu, Juana keluar dan mencari Dennis. Ternyata, kedua manusia beda usia itu, masih betah duduk di lantai menghadap layar besar pipih di depan mereka.
" Dennis!" panggil Juana
" Ya, Ma! bentar! tanggung!" sahut Dennis
" Ya, sudah. 15 menit lagi, Mama tunggu di kamar, ya!" titah Juana. Dennis hanya mengangguk tanpa melihat ke arah wanita yang begitu menyayanginya.
Juana memang wanita yang lemah lembut terhadap orang yang ia kenal dekat dan ia sayang. Tapi, ia juga seorang wanita dengan disiplin tinggi. Sejak kecil, Dennis diajar mamanya untuk selalu disiplin dan jujur. Dan, disinilah Dennis. 15 menit waktu yang diberikannya lewat, jadi saat ini, ia sudah duduk di depan meja belajarnya di dalam kamar.
" Dennis, Mama harus pulang ke Indonesia. Ada yang harus Mama kerjakan di sana. Dennis mau ikut atau di sini sama Om Darwin dan Tante Lin Mei?" tanya Juana
Dennis menatap mata Mamanya dengan kedua bola matanya yang begitu polos.
" Papa juga ikut, Ma?" tanya Dennis
" Papa tidak bisa, sayang. Papa harus istirahat," jelas Juana.
Ia memikirkan perkataan Sang Mama. Ia tak bisa jauh dari Papanya tapi ia juga terpisah dari Mamanya. Dennis menunduk. Ia tak tahu mana yang harus ia pilih.
" Ya, sudah. Begini saja, Mama berangkat sendiri dulu. Kalau nanti Dennis kangen Mama, Dennis bisa bilang sama Om Darwin, gimana?" Juana mengerti kegalauan putranya. Ia tak mau terlalu memaksakan kehendaknya.
" Iya, Ma." lirih Dennis
Juana mengusap lembut kepala putra semata wayangnya dan meninggalkan Dennis di kamarnya.
Juana mengepak pakaian dan segala kebutuhannya. Ketika ia melihat jam, ia segera meninggalkan apa yang ia lakukan dan berlari ke dapur. Di sana, ternyata Lin Mei tengah memasak makan malam.
" Ma, maaf, Juana gak lihat waktu," kata Juana
__ADS_1
Lin Mei tersenyum ke arahnya," Nak, tak apa. Mama juga malas kalau diam aja," ucap Lin Mei menenangkan kekhawatiran Juana.
" Na, sudah bicara sama Dennis? Dia ikut kamu atau di sini?" tanya Lin Mei seraya mengoseng bumbu.
" Dennis belum jawab, Ma. Juana tahu, dia bingung. Jadi, Juana gak maksa dia, Ma." jawab Juana dengan tangan yang sibuk mencuci peralatan yang telah selesai dipakai. Lin Mei mengangguk. Dia juga mengerti bagaimana Dennis, keponakannya itu. Ia sangat dekat dengan Papanya, tapi dia juga menyayangi Juana.
" Kalau dia mau di sini, biarin aja, Na. Nanti kalau dia rindu kamu, Mama antar ke Indonesia," kata Lin Mei yang diangguki Juana.
Dalam sebuah apartemen tak jauh dari kantornya, Radit kembali duduk termenung di atas tempat tidur yang telah lama ditinggalkan pemiliknya.
" Apa kabarmu sekarang, Na? Sudah hampir 9 tahun ... apa kau masih membenciku?" lirihnya seraya mengelus seprei yang ia duduki dan melihat sekeliling kamar yang tak berubah sejak hampir 9 tahun lalu.
Frame dan album foto yang dulu ia simpan di gudang, sudah kosong. Tak ada kenangan dirinya dan mantan istrinya. Ia tahu, Juana pasti sudah membuang atau membakarnya.
" Kamu tak meninggalkan sedikitpun kenang-kenangan buatku, Na, selain flashdisk dan ATM itu," lanjutnya dan tersenyum miris.
Tes
Pantas saja ia tak pernah menerima notifikasi penggunaan atau pengambilan pada ponselnya.
Jika saja saat itu ia tak memiliki masalah dengan Lia, ia tak kan masuk ke dalam kamar ini dan menemukan ATM itu.
" Na, maafkan aku. Kembalilah."
Radit membaringkan dirinya dan memeluk bantal yang pastinya pernah dipakai Juana.
" Aku menyesal, Na. Aku tak tahu kalau kau sangat berarti buatku," isaknya.
Sejak 5,5 tahun lalu, Radit kembali ke apartemen ini dan tak kembali ke rumahnya. Setiap malam, ia akan tertidur dengan memeluk bantal Juana.
Beberapa teman dan rekan Juana di kantor yang Radit tanyai, tak mengetahui kemana wanita itu pergi. Radit juga memakai jasa beberapa orang untuk mencari keberadaan Juana. Tapi, ia seperti ditelan bumi. Hasilnya selalu nihil.
__ADS_1
Orangtua Radit walaupun sudah menerima putranya kembali, tapi tetap, sikap mereka telah berubah padanya. Radit menerimanya, karena semua akibat ulahnya sendiri.
Hermawan akhirnya mengetahui kalau Juana telah menikah dengan Radir, tapi itu terjadi setelah 1,5 tahun Juana dan Radit bercerai. Kemarahannya memuncak. Ia merasa dilecehkan. Nadia mengambil kesempatan itu untuk membuat Hermawan mendepak Juana sebagai pewaris perusahaan Haditama.
Kini, perusahaan yang bergerak di bidang kuliner itu berganti nama menjadi Budiarto Food. Dengan Direktur Utama Dimas Budiarto. Perusahaan itu terus berkembang, tapi bukan karena kelihaian seorang Dimas, tapi karena Hermawan memanfaatkan fakta bahwa Radit menikahi putrinya tanpa persetujuannya, karena itu ia meminta kompensasi agar Radit menjadi investor Budiarto Food.
Radit yang tak mengetahui tentang hubungan Juana dan Ayahnya, menyetujui permintaan Hermawan untuk membayar rasa bersalahnya.
Juana membaca informasi seputar keluarganya dari map yang Darwin berikan. Senyum yang tak bisa diartikan tersungging di wajah cantiknya.
" Tunggu aku, Keluarga Budiarto."
Juana telah siap dengan kopernya. Ia menggeretnya keluar dan menatanya di ruamg tamu. Saat akan berjalan menuju dapur, ia melihat putranya, Dennis, sudah rapi dan ganteng dengan sebuah gitar di tangannya, duduk di atas koper antik milik Darwin.
" Nak, mau antar Mama? Gak usah, sayang. Mama nanti naik taksi kok." kata Juana.
" Dennis ikut Mama. Dennis sudah bilang Papa. Nanti, biar Papa sama Tante Lin Mei sama Om Darwin," ucap Dennis
" Baiklah, apa Dennis sudah siapkan barang-barang Dennis?" tanya Juana. Dennis mengangguk dan tersenyum
" Kamu tidak apa-apa, gak ketemu Papa lama, hmm?" tanya Juana lagi
" Papa banyak yang jaga, Mama cuma sendiri. Jadi, Dennis mau jaga Mama," kata bocah umur 5 tahun itu.
Juana terharu mendengarnya. Ia menarik Dennis dalam pelukannya dan mengelus punggungnya.
" Terima kasih, sayang." Ucap Emy sambil menciumi wajah putranya itu.
" Ih, Mama...stop! Dennis memang ganteng, tapi gak usah seperti ini." Narsis Dennis. Juana terkekeh mendengarnya. Anaknya itu memang ajaib. Pintar tapi juga suka bikin kesal orang.
__ADS_1