Bila Cinta

Bila Cinta
Ketamakan


__ADS_3

Juana melangkahkan kakinya malas, masuk ke dalam halaman rumah besarnya, Oops... rumah Ayahnya. Karena saat ini rumah itu sudah beralih atas nama Ayahnya, bukan Bunda Juana lagi. Menghela nafas mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi di dalam, Juana menekan tombol bel rumahnya


" Non! Aduh non, akhirnya non pulang. Bibi kangen, non." Sambut Bi Sumi dengan senyum sumringah. Bi Sumi adalah asisten rumah tangga yang sudah melayani keluarga Juana sejak kakek Juana masih ada.


" Hai, Bi. Iya bi, aku juga kangen sama bibi. Bibi, apa kabarnya?" Sahut Juana sembari memeluk Bi Sumi erat.


" Bibi baik-baik saja, non. Ayo masuk, Bapak sudah nunggu dari tadi. Hati-hati ya, non." Bi Sumi mengantar Juana sampai ke ruang tengah. Di sana keluarga Budiarto, yaitu Ayah kandung Juana, Ibu tirinya, Nita dan Dimas saudara tirinya sudah berkumpul.


" Malam semua..." Sapa Juana tanpa ekspresi dan langsung mendaratkan bokongnya di salah satu sofa terjauh.


Semua memandang Juana dengan tatapan marah. Tapi ya, seperti biasa, Juana tidak memperdulikannya.


" Katakan kenapa kau tidak membantu kakakmu, Nita?" Ayah Juana memulai pembicaraannya tanpa basa basi.


Juana menaikan alisnya dan memandang jengah saudara tirinya, Nita.


" Maaf, maksudnya?" tanya Juana dan tersenyum tipis.


" Jangan pura-pura gak ngerti kamu! Ayah sudah bilang bantu Nita dekat dengan Radit, kenapa kamu gak bantu dia?"


" Apa... saya pernah bilang bahwa saya akan membantu Nita dekat dengan kak Radit?" Kilah Juana dan menatap Ayahnya datar.


" Kurang ajar kamu! Kau lihat, Nita sangat menyukai Radit. Kenapa kamu egois sekali?!"

__ADS_1


Bentak Ayah Juana, Hermawan Budiarto.


" Hmm... Maaf tapi itu urusan Nita, bukan Juana. Egois? Saya atau Nita, Pak Hermawan?" Sahut Juana enteng. Hermawan geram dengan perkataan Juana. Ia berdiri dan menghampiri putrinya bermaksud menamparnya. Tapi Juana justru berdiri dan memberikan pipinya untuk di tampar.


Tangan Hermawan berhenti di udara. Ia terus menatap geram putrinya lalu menurunkan tangannya berbalik membelakangi Juana lalu kembali berbalik menatap tajam putri satu-satunya alamarhum istrinya.


" Kau! Kenapa kau jadi seperti ini? Hah?! Jadi begini hasil kamu sekolah tinggi? Iya?!"


" Maaf, tapi Juana yang dulu sudah mati, saat Anda membawa keluarga Anda masuk ke dalam rumah ini." Ekspresi Juana terlihat biasa-biasa saja, tanpa emosi. Tatapan matanya... sama seperti almarhum istrinya, tenang.


" Kau! Nadia itu ibumu, dan mereka berdua adalah kakak-kakakmu. Kenapa kamu keterlaluan seperti ini? hah?! Apa perhatian kami masih kurang?!"


" Maaf, tapi sepertinya Anda lupa. Bunda saya cuma 1 dan itu Bunda Metha, dan dari rahim Bunda, hanya keluar 1 orang anak, dan itu saya.... Oh, ya... maaf tapi perhatian apa yang Anda maksudkan?" Jelas Juana menatap lurus ke arah Nadia dan kedua anaknya.


" Juana! Jangan kurang ajar sama Ayah!" Sentak Nita. Juana mengalihkan perhatiannya pada Ayahnya.


" Apa maksudmu? Aku selalu memberimu fasilitas yang sama dengan Nita dan Dimas!" Hermawan menatap Juana lalu berbalik menatap Nadia.


" Ehm... Ayah, sudahlah. Kalo memang Juana gak mau ngenalin sama Radit," Nadia segera berdiri mendekati suaminya. Ia merayu sambil memainkan jarinya di dada suaminya.


" Juana, aku tahu kamu juga suka sama Radit, tapi kamu kan masih kecil masih 19 tahun. Jadi pikirkan dulu soal kuliah, ya?" ucap Nadia menasehati Juana. Juana tersenyum melihat bagaimana ibu tirinya berusaha mengalihkan perhatian ayahnya.


" Kak Radit adalah kakak yang dikenalkan bunda. Dan ya, saya menyayanginya. Dia kakakku satu-satunya. Jadi, apa ada yang salah? Aku kuliah atau berpacaran, kenapa menjadi urusan Anda? Sejak SMP Anda sudah mengambil fasilitas saya secara sepihak. Saya membiayai hidup saya sejak Anda masuk ke RUMAH saya ini. Jadi, tolong jangan berpura-pura menjadi ibu saya yang baik." Tandas Juana menekankan kata "Rumah". Ia malas bersilat lidah dengan wanita seperti Nadia.

__ADS_1


" Membiayai hidupmu sendiri? Ayah selalu memberikan uang setiap bulan, kemana semua itu?" Hermawan kaget dengan penuturan Juana. Setiap bulan, ia selalu memberikan uang bulanan untuk Juana, tapi sekarang, Juana katakan dia membiayai hidupnya sendiri?


" Ayah... jangan..."


" Kenapa Anda menanyakannya pada saya? Kenapa tidak Anda tanyakan pada istri Anda tercinta? Sudahlah saya tidak mau berdebat. Tolong jangan libatkan saya lagi dalam drama keluarga kalian. Saya Amanda Juana Haditama, bukan Amanda Juana Budiarto. Saya permisi." Juana memang tidak membenci Ayahnya, tapi ia membenci tabiatnya. Karena ketamakan sang ayah, Bunda Metha, ibu Juana harus meregang nyawa sia-sia.


" Juana! Sekali kau keluar dari rumah ini, kau tidak akan mendapat apa-apa dariku!" Teriak Hermawan mengancam Juana yang hendak berbelok ke arah pintu keluar.


Juana berbalik tetap dengan senyumannya.


" Walaupun saya tinggal di sini, saya tahu Anda tidak pernah mau memberikan hak saya, itu sebabnya diam-diam Anda mengeluarkan saya dari kartu keluarga, bukan?" sontak Hermawan dan semua yang ada disitu kaget. Tak menyangka bahwa Juana mengetahuinya.


" Jangan kaget begitu. Jadi, tolong jangan minta saya melakukan sesuatu untuk memuaskan kalian. Saya, sejak umur 13 tahun memenuhi kebutuhan saya sendiri. Jadi, kalian tak punya hak apa-apa untuk mengontrolku." Juana yang hendak melangkah pergi, tiba-tiba berhenti dan berbalik dengan tersenyum.


" Nita, sebaiknya jangan ganggu aku lagi. Kalo mau kenalan dengan kak Radit, silahkan. Tapi itu bukan urusanku. Lalu, pak Hermawan, tolong jangan hubungi saya. Saya bukan anggota keluarga Budiarto lagi." Dengan santai Juana berjalan keluar dari rumah yang penuh dengan kenangan Bunda dan kakeknya.


Berat sebenarnya ia harus merelakan semua pada orang-orang tamak seperti mereka, tapi, sesuai dengan petuah Bundanya untuk tak memperpanjang suatu masalah. Harta kekayaan akan habis jika digunakan oleh orang tak bertanggung jawab, tapi kejujuran dan kelapangan dada akan menarik dan membawa rejeki itu datang tanpa di sangka-sangka.


" Bunda, apa tindakanku sudah benar? Aku sudah merelakan semuanya untuk mereka. Akar dari segala ketamakan, uang, harta. Semua sudah kurelakan, Bun. Aku hanya ingin hidup tenang, Bunda... hiks...hiks..." Tangis Juana sepanjang perjalanan kembali ke kontrakannya, yang berjarak 1 jam setengah dengan berjalan kaki. Hujan yang mendera, mengiringi langkah kaki wanita bertubuh langsing itu.


Nita berlari ke kamarnya setelah melampiaskan kekesalannya pada sang Ayah dengan gertakan-gertakan yang tajam. Hermawan menghela nafasnya kasar. Ia masih teringat perkataan Juana.


' Saya, sejak umur 13 tahun memenuhi kebutuhan saya sendiri.' Fakta mengejutkan yang baru ia dengar. Karena selama ini, ia tak pernah telat memberi uang bulanan, walaupun tak sebesar kedua anaknya yang lain.

__ADS_1


" Nadia! Nadia!" Panggil Hermawan pada istrinya yang tadi mengejar dan menghibur putrinya, Nita. Sementara Dimas entahlah sudah pergi kemana.


" Ada apa sih, yah? Kok teriak-teriak gitu?" Nadia menyahut menuruni tangga.


__ADS_2